Senin, 19 September 2016

Risiko Punya Anak Jahil dan Kreatif

  17 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Mungkin beberapa fans temen-temen udah pada tau gimana Safina (7 tahun), anak perempuan saya, sejak kecil sering banget nanya yang aneh-aneh dan ngerjain orang serumah berkali-kali. Dia ini dari umur 3 tahun udah keliatan bakat jahil dan kritisnya. Semua yang di rumah udah sering kebagian keisengannya. "I'm the master of prank, mom!" katanya. Bangga. Hhhh ....

Ngagetin orang yang baru masuk rumah dari balik pintu udah gak keitung lagi berapa kali. Yang blo'on, saya masih aja sering kaget. Mbok ya, belajar dari pengalaman gitu, lho maaak! Punya anak usil itu harus waspada 24 jam. -_- 


Pernah sekali waktu, saya lagi anteng banget kerja di meja makan. Saya taunya Safina lagi main di lantai atas sama si mbak. Suasana sepi. Tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang menjalar pelan di betis saya. Spontan saya menjerit kenceng banget dan nendang bawah meja. Wuastagaaah, jantung rasanya mau puput. Tekanan darah langsung ngedrop, lemes total, jendral! Terus kedengeran suara ketawa cekikikan dari kolong meja. Anak jail itu lagi ngikik-ngikik di sana. Untung gak ketendang tu anak. Langsung saya sidang, becanda boleh tapi jangan keterlaluan. Kalau mukanya yang ketendang tadi, kan berabe. :( Dan wakti-wanti paling utama adalah, "Don't ever try to prank Atuk, Jidah and Kakek! Got it?" 

Dia ngerti sih dibilangin. Tapi hasrat jahilnya kayanya gak bisa dibendung, terutama sama kita sekeluarga di rumah (termasuk si mbak, sering jadi korban juga). Kirain makin gede, bakal makin berkurang. Yah, seenggaknya mulai belajar pencitraan gitu, kek. Ternyata tidak! 


Itu baru keisengan dia ngerjain kita di rumah. Belum lagi kalau dia mulai nanya-nanya kritis tentang sesuatu yang kayanya sebenernya sepele, tapi entah kenapa sampai di dia, ada aja yang ditanyain dan bikin saya mingkem, bingung cari jawabannya.

Konon, anak model Safina gini dikategorikan sebagai anak yang tingkat kreativitasnya agak sedikit di atas anak-anak seusianya pada umumnya. Dan menghadapi anak kreatif memang gak bisa sama dengan menghadapi anak yang normal pada umumnya. Harus bisa cari jalan lain untuk menjelaskan sesuatu yang sebenarnya gampang buat dijelasin. Karena biasanya mereka punya perspektif beda dari kebanyakan orang. 

Contohnya kemarin, saya lagi coba ngajarin dia tentang apa yang harus dilakukan kalau ada orang asing yang membujuk untuk ikut.

"What would you do if a stranger pull your hand and make you come with him or her?"
"Wait. Is the stranger a guy or a woman?"
"It could be a guy or a woman. A stranger is someone you don't know."
"I know that!"
"Then? What would you do?"
"Run!"
"And scream so people will help you, OK?"
"Wait. People who help me, do I know them?"
*perasaan mulai gak enak*
"Maybe no. Just scream so people near you can help."
"But, if I don't know them, then they're also strangers, right?"


Atau lain hari dia juga pernah nanya ke saya soal kosmetik. 

"Double Wear All Day Glow. Why does it say Glow?"
"Because it makes your face glowing."
"IN THE DARK?! AWESOME!"
Yakale, muka mamakmu bercahaya dalam kegelapan. Macam senter. -_-

Mungkin ya, mungkin lho, ini genetik juga kali, yak? Tapi bukan dari saya, ah. Pasti dari bapaknya, nih! Jadi inget tiga tahun yang lalu, waktu saya baru menang lomba blog ASEAN, pak suami ngomong, "Wah, hari ini patut kita rayakan!" Saya udah GR, mau merayakan kemenangan saya, tapi pura-pura nanya, "Merayakan apa?" Terus dijawab, "Merayakan harga pete turun!" Heu euh, suamiku pemuja pete. -_- Kalau sama saya, mungkin kesamaan Safina itu ada di tukang tidurnya. :p



Safina sering juga nunjukin trik aneh-aneh kayak di video ini. Dapet dari mana? Dari mana lagi kalo bukan dari Youtube. Hahhaha. Yang ini sukses bikin saya ngakak njengkang. 

video



Tapi alhamdulillaah, Safina pernah juga kena dikerjain sama bapaknya. Lah, kok alhamdulillaah? Hahaha. Abis kocak, jarang-jarang kena dikerjain tu anak

video

Enihouw, walaupun challenging banget punya anak kritis, kreatif dan dudul kayak si Safina ini, tapi gak bisa dipungkiri, jadi obat awet muda banget. Sumber bahan ngakak semua orang di rumah selalu dari dia. Walaupun kadang suka bikin kesel abang sama mbak-nya karena usil, tapi beneran deh, gak-ada-loe-gak-rame banget ni anak. :v 

Saran saya buat mamah-mamah muda cantik kayak saya di luar sana, yang punya anak model-model Safina gini, jangan kalah kreatif. Banyak belajar dan latihan biar trampil ngeles kalau kepepet. Hiyahahaha. Dan yang paling penting, nikmatilah keisengan anak, karena itu obat awet muda paling manjur. :v

Sebagai penutup, ini keusilan terbarunya yang sukses bikin saya dan mbaknya jerit-jerit karena dia lempar-lemparin ke kita. Hiiiiyyyyyh!!!! >.<






Selasa, 06 September 2016

Lettering Service: Mirror Lettering di Casa 19 Cilandak

Assalamu'alaikum.

Balik lagi, ini catatan kegiatan lettering service saya. Bulan lalu saya dapat kesempatan untuk mencoba media baru untuk lettering, yaitu di cermin, setelah sebelumnya chalk lettering di tembok cafe Ruangopi. Ami, pemilik rumah kost/penginapan di Cilandak menghubungi saya untuk minta cermin di dapurnya diberi sentuhan lettering. Tadinya saya agak ragu nerima, karena belum pernah coba lettering di cermin sebelumnya. Tapi, ya balik lagi, Emak Gaoel pantang dikasih challenge. Langsung ngubek-ngubek internet, cari tutorial dan referensi. Hihihi.


Setelah dapat beberapa tips, trik dan tutorial, cermin di rumah pun jadi korban percobaan. Beli beberapa jenis cat dan marker yang direkomendasikan oleh beberapa artist mural dan lettering, lalu mulai deh coret-coret di kaca dan cermin rumah. Wah, seru. Wkwkwkwk.


Setelah beberapa kali percobaan dan menemukan alat tempur yang menurut saya paling cocok, baru deh saya berani ke tempat Ami untuk menggarap cermin dapur yang ukurannya lumayan banget, sekitar 1,5 m x 1 m. Sebelumnya di rumah saya udah urek-urek sketsa dulu di kertas. Ami udah kasih quote yang dia inginkan sejak lama emang. Yang bikin rada ribet itu justru bukan masalah teknisnya, melainkan masalah jarak dan cari waktu yang pas. Maklum yah nek, Bekasi - Cilandak itu kalo lagi betingkah bisa kayak New York - Madagaskar. -_-



Peralatan tempur untuk mirror lettering di Casa 19 Cilandak ini lumayan agak ribet. Karena saya masih artist pemula, saya belum punya yang namanya proyektor. Kalau ada proyektor sebenarnya membantu banget, supaya saya bisa langsung eksekusi media vertikalnya (cermin). Berhubung gak pake proyektor, saya harus menyalin sketsa saya ke cermin dengan menggunakan skala. Bayangin ribetnya. Penggaris panjang, cat akrilik, kuas, marker putih, alkohol, thinner, kain lap bersih sampai kapas, semua dibawa ke Cilandak sebagai alat tempur.


Modal utama lettering di dinding, cermin atau media yang letaknya vertikal begini sebenarnya adalah stamina. Pegel, bo! Apalagi kalau letaknya agak tinggi. Sebenarnya bisa diakalin dengan melepas cermin dahulu. Tapi sama aja pegelnya ngerjain di lantai atau di tembok. So, ngapain menambah keribetan lagi dengan bongkar pasang cerminnya, kan? ;) 


Langkah awal adalah membersihkan cermin dengan sapuan alkohol. Berhubung kaca ini letaknya di dapur yang lembab, ternyata udah agak jamuran di bagian pinggir. Saya gak siap dengan kemungkinan itu, jadi gak bisa diapa-apain juga itu jamur. Dihapus pakai alkohol pun nggak mempan. Pake apa ya kalau mau membersihkan jamur di kaca itu? #nanya


Setelah cermin bersih mulai deh saya ukur-ukur skala pakai penggaris, bikin outline huruf, menebalkan huruf, menggambar ilustrasi baru finsihing. Alhamdulillaah, kemarin itu bawa asisten (adik saya), jadi agak ketolong urusan yang manjat-manjat dan bersih-bersihin cerminnya. Hehehe. Total waktu mengerjakan cermin ukuran segitu (termasuk break setengah jam) sekitar 5 jam. Mayan. #pijetpunggung 


Sebenarnya saya masih deg-degan gak tau hasilnya bakal kayak gimana waktu lagi ngerjainnya. Masih belum keluar visualisasinya di otak saya. So, ketika semua selesai, saya juga ikutan norak lihat hasil kerja sendiri. Eh, ternyata cermin cakep juga ya kalau dikasih lettering/mural. Hihihihi . Tapi bukan nggak ada kendala waktu mengerjakannya. Karena cermin itu ngasih bayangan, jadi kadang ukuran bisa nggak precise karena "tertipu" bayangan di cermin. Lumayan buat olahraga mata. 


Bottomline, for first attempt, I'm happy with the result. The most important thing, Ami and her hubby are also very happy. Walaupun belakangan Ami request tambahan sentuhan warna hitam. Tapi Ami bilang sendiri kalau dia puas. Thank you Ami, for trusting me with this project. Seneng banget karya saya bisa ikut mejeng di rumah cantik itu. Asli, rumahnya keren banget. Love it! 

Buat teman-teman yang pengen rumah atau tempat usahanya saya coret-coret, kontak saya aja via email, FB atau IG, ya. 

Senin, 05 September 2016

Women's Project, Kiprah Empat Macan Ternak

  8 comments    
categories: , ,
Assalamu'alaikum.

Mulai akrab dengan istilah "Macan Ternak"? Mama Cantik Anter Anak Sekolah? Aish, saya juga udah lama klaim kalau saya masuk dalam golongan ini. Tiap hari mondar-mandir rumah, sekolah, tempa les, minimarket, toko buku de el el de es be. Soal cantik, ya relatiplah, ya. Tergantung tingkat kepede-an si mamak. Hahaha. Yang jelas, mama-mama tukang anter anak tiap hari itu jangan dianggep remeh potensinya.


Contohnya empat teman saya ini. Mereka (Ila, Elga, Dewina dan Diana) adalah empat orang mama yang setiap hari nganter anak ke sekolah dan kadang nungguin anak-anaknya di sekolah. Emak-emak kalau nungguin anak di sekolah tuh ngapain, sih? Buang-buang waktu amat? Yoih, miring bener itu yang punya pendapat kayak gitu. Saya pribadi, udah lama punya pendapat kuat soal mama-mama "tukang nungguin anak di sekolah ini: "Jangan pernah meremehkan potensi perempuan, apalagi kalau udah ngumpul lebih dari dua orang. Big things can happen. Just wait!" 


Ila, Dewi, Elga dan Diana contoh nyatanya. Setelah akrab selama beberapa bulan di sekolah sambil nungguin anak, mereka mulai berpikir untuk melakukan sesuatu yang bisa memanfaatkan waktu menunggu anak-anak di sekolah, bermanfaat buat diri sendiri, plus bermanfaat buat orang lain. Terwujudlah yang mereka namakan Women's Project


Basically, Women's Project ini adalah rintisan usaha mereka berempat di lini muslimah fashion. Untuk saat ini mereka masih berkutat di hijab. Jualan jilbab? Yaelah, biasa banget! Ngik, jangan buru-buru mencibir. Women's Project ini judulnya memang digawangi oleh 4 ibu-ibu, tapi mereka sangat terorganisir dan memiliki plan untuk setiap langkah. Masing-masing, sejak awal sudah punya bagian yang harus mereka pegang dengan serius. Ila dan Diana fokus mengurus fashon side dari Women's Project, mulai dari mencari bahan, memilih warna, menciptakan model hijab sampai belanja ke sana ke mari. Elga fokus memegang semua urusan social media dan online Women's Project. Dan Mbak Dewina kebagian tugas di bagian produksi alias berurusan dengan para penjahit dan mengawasi proses pengerjaan agar hasilnya berkualitas.


So, jadi macan ternak bukan berarti nggak bisa bikin sesuatu yang keren, ya. Buktinyaaa, saya udah coba beberapa produk shawl dari Women's Project. Tiap potong hijab dijahit dengan sangat rapi. Potongan yang rapi, bahan yang memang pilihan dan juga ukuran yang nggak pelit, alias lebar. Tiap beberapa periode mereka selalu rembug-an untuk mencari sesuatu yang baru lagi untuk diproduksi. Yang bikin tambah kagum sama mereka, semua diawali dengan modal pas-pasan, dan sekarang mereka sudah mulai punya beberapa pekerja (penjahit dan tukang potong bahan). Terharu mendengar cerita kalau mereka bisa juga memberi manfaat buat orang lain, memberi lahan pekerjaan untuk yang memiliki keahlian tapi kurang mendapat kesempatan. 


Bocoran aja, akun IG Women's Project sekarang lagi ngadain giveaway supaya bisa mendapat ekpose lebih banyak di social media, terutama Instagram. Buruan, yang doyan gratisan, ikutan. Cuma sampai tanggal 8 September. Siapa tau beruntung, bisa ikut eksis kece pake jilbab produksi para macan ternak ini. Hihihihi. Oh iya, akun IG mereka nggak melulu jualan hijab, kok. Kalau mau dapet inspirasi tutorial memakai hijab berbagai model, juga ada. Selain itu, mereka juga selalu post kegiatan mereka dalam menjalankan bisnis, misalnya waktu lagi rempong belanja kain, atau waktu lagi meeting di sela-sela waktu menunggu anak di sekolah. Jadi seru aja ngikutiinnya. ;)


Rabu, 24 Agustus 2016

Hop On Hop Off Keliling KL

Assalamu'alaikum.

Tentu saja bukan Emak Gaoel namanya kalo gak ada yang ketinggalan. Yep, ini salah satu postingan ketinggalan dari perjalanan Eat Travel Doodle 2016 saya ke Kuala Lumpur beberapa bulan yang lalu. Hihihi. Maap. Tapi dijamin, masih sama serunya sama cerita-cerita saya sebelumnya di sini.




Hari terakhir di Kuala Lumpur, masih dalam rangka memenuhi undangan dari Kementerian Budaya dan Pariwisata Malaysia dan Gaya Travel, rombongan kami yang terdiri dari blogger dan media dari Indonesia, Malaysia, , Filipina, Brunei Darussalam dan Inggris start pagi di kantor Motac (Malaysia Tourism Center). Sempet kalap liat brosur keliling Malaysia boleh diambil gratis. Hahaha. Dodol banget, liat brosur yang emang gratisan aja girang. Soalnya saya sukaa banget liat-liat brosur perjalanan karena biasanya foto-fotonya cakep dan informasinya lengkap. 


Dari kantor Motac, kita menuju halte bus di depan kantor tersebut, mau naik bus Hop On Hop Off (HOHO) keliling kota Kuala Lumpur. Waaa, senaaang dan norak! Karena busnya bertingkat dan di bagian atas tempat duduknya terbuka. Bodo amatlah KL pagi itu lagi panas centil, kita tetap semangaattt! Gretong soalnya. Kalau beli tiket, harganya itu untuk dewasa RM 45 dan untuk anak-anak RM 24 untuk rentang waktu 24 jam. Ada juga pilihan rentang waktu 48 jam dengan harga berbeda, tapi tiketnya berlaku dua hari, kan. Soalnya belum tentu juga semua 23 perhentian bus HOHO ini bisa kita nikmati dengan leluasa dalam waktu sehari. Kalau rencananya kamu cuma pengen lihat-lihat aja, saran saya sih beli tiket yan rentang 24 jam, dan nggak perlu turun naik di tiap perhentian. Bisa pilih mau turun di mana. Nanti kalau mau meneruskan perjalanan lagi, bisa naik bus HOHO selanjutnya di halte yang disediakan. 



Interval kedatangan antar bus sekitar 20-30 menit. Jadi nggak usah takut gak bisa pulang ke hotel. Si Olip yang ketinggalan di Istana Negara aja berhasil balik dengan utuh ke kantor Motac, kok. Huahaha! Deramah! Yang drama tuh sebenernya yang ada dalam bus. Kitanya panik pas nyadar Olip ketinggalan. Sementara Olipnya malah asik foto-foto sampe puas sambil nunggu bus HOHO selanjutnya.


Dari 23 tempat menarik seputar KL, semuanya menarik, karena punya kekhasan masing-masing. Kita diajak melihat gedung-gedung cantik seperti KLCC dan KL Convention Centre, sampai ke pasar tradisional seperti Chow Kit Market. Mulai dari KL Tower sampai tempat pusat kerajinan tangan khas Malaysia. Mulai dari Kampung Baru sampai Kampung India. Mulai dari museum sampai tempat ibadah bersejarah. Lengkap, komplit, puas. Tinggal atur aja di itinerary kalao gemes mau ekplore semuanya. Yang jelas, buat harga tiket segitu, sepadan banget. Lagian kita nggak perlu susah-susah cari transportasi keliling kota KL lagi, kan. Tinggal cari halte dengan tanda HOHO aja. Mau naik dan turun kapan pun, silakan.




Untuk informasi lengkap bisa dilihat di sini, ya. Sementara rombongan kami begitu sampai kembali di kantor Motac, langsung makan siang dan pengumuman pemenang doodle serta penutupan program Eat Travel Doodle 2016. Huaaa, senang dan sedih! Senang, saya kebagian jadi juara 3 doodling. Dapet hadiah duit sama voucher. Hihihihi Sediih, karena baru aja enjoy jalan-jalan bareng temen-temen baru, sekarang sudah harus berpisah. Ah, seperti kata pepatah, kalau Tuhan berkeehendak ntar juga kita ketemu lagi. Pepatah ngarang, tapi bener. Aamiin. ^_^ 




Senin, 22 Agustus 2016

Lettering Meet Up, Yuk Weekend Ini!

  7 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Galaw karena trafik blog turun drastis? Alexa rank terjun bebas? Klout Score makin imut? Santai, mamen! Sekarang udah bukan jamannya blogger galaw sama yang begituan. Cari terapi untuk menenangkan diri, gih! Soalnya, kalau cuma gara-gara itu doang kamu panik, aku khawatir sama kesehatanmu, MZ. :v




Terapi apa yang menenangkan dan kekinian? Duile, tetep harus kekinian ya, mak? Hyaeyyalaah! Kan nggak banget kalo Emak Gaoel terapi jiwanya cuma makan tahu bulat digoreng dadakan limaratusan gurih-gurih, nyooi! *umpetin tahu bulat* Pernah denger lettering? Ish, kalau nggak pernah denger, jangan ngaku blogger or Instagramer gawwol, deh ya. #digaplok #paketahubulat #mangap . Setelah setahun mendalami hand lettering dengan basic kuas/brush dan juga mural dengan cat dan kapur, saya menemukan kalau hand lettering ini adalah salah satu terapi yang bisa bikin jiwa adem dan anteng. Gak cepet galaw, apalagi panikan kalau liat orang lain sukses. Hahaha. Penyakit jiwa bener itu yak, puyeng liat orang lain seneng. Baca selengkapnya soal lettering ini di sini, ya.

Minggu lalu, setelah mulai agak percaya diri membagi sedikit pengetahuan tentang hand lettering, saya berani menyambut ajakan Mbak Rini Rusli untuk ngajarin beliau (((BELIAU))) praktek hand lettering. Berhubung Mbak Rini bersedia datang ke Bekasi, ya hayuk ajah sayah. Seperti biasa, iseng aja nulis status mau lettering meet up di Facebook. Ternyata ada beberapa teman yang pengen ikutan. Mbak Devi dan Rahmah, putrinya komen pengen ikutan. Dan satu lagi, follower IG saya, Mena, yang saya juga baru kenal. Wah, asik. The more the merrier. :D


Kami bertemu di Food Park, Grand Galaxy Park Mall dan langsung main-main kuas dan cat. Alhamdulillaah, Food Park sore itu sepi, jadi kita serasa workshop di tempat private yang adem, meja gede, dan banyak makanan dan minuman (beli sendiri). Gak terasa, saking asiknya latihan main-main kuas, waktu udah hampir magrib. Padahal kita mulai dari sekitar jam 4. Waktu 2 jam ternyata kurang. Mbak Rini yang tadinya paling semangat latihan pakai kuas, berakhir dengan itikad tidak mau pake kuas, mending pake brush pen, katanya. Huahaha. Dudul! Rahmah, putri Mbak Devi, ternyata lebih lihai dengan kuas. Dari cerita Mbak Devi, Rahmah ternyata suka melatih teman-temannya lettering di rumah. Wah, kereeen! Dan Mena, OMG, anak baru lulus SMA ini semangat banget belajar. Saya yang tadinya cuma tau kalau Mena adalah salah satu followers saya di IG, jadi terharu dengan semangatnya. Makasih, ya Mena. :*


Dan emang biasa banget deh, begitu saya posting foto-foto kegiatan lettering meet up di FB, banyak yang protes, pengen ikutan. Yahelah, padahal sebelum berangkat ke GGP sorenya saya udah pasang pose poll banget ala-ala OOTD  sambil halo-halo, siapa pun boleh join. Hihihihi. Yawdahlahya, emang susah menyenangkan fans yang banyak ragamnya ini. Tapi Emak Gaoel suka susah hati dan susah tidur kalau belum bisa menyenangkan fans emak. Maka dari itu, dengan tidak tahu malu, weekend ini, hari Sabtu dan Minggu, saya persembahkan dua workshop lettering untuk para penggemar teman-teman yang mau belajar basic lettering bersama saya. Yuk, cusss.


Yang pertama, hari Sabtu, 27 Agustus 2016. Jam 09.00 - selesai. Tempatnya di Smesco Gallery. Ini adalah kelasnya doodle-nya Mak Tanti Amelia. Yah, saya mah apa atuh, cuma bisa numpang tenar sama Mak Tanti. Hahaha. Sesi lettering saya pagi, ya. Siangnya baru sesi doodling dari Mak Tanti. Untuk kelas ini berbayar Rp 75.000. Tapi para peserta akan dapat banyak dari kegiatan ini, karena ini kegiatan bersponsor. Tenang ajeh, pulang balik modal, malah lebih, kok. :p Daftar ke nomor di banner ini, ya. 


Workshop kedua diadakan oleh komunitas kesayangannya akoh, Akademi Berbagi Bekasi. Inget kaan, dulu kala, saat Emak Gaoel masih muda jelita, Emak Gaoel pernah ngisi kelas Akber Bekasi, lho. Di sini ceritanya. Worshop ini gratis tis tis! Asalkan kamu udah daftar terlebih dahulu. Ini link pedaftarannya. Jangan lupa cek TL @AkberBKS di Twitter untuk keterangan lengkapnya, ya. Karena untuk workshop ini, peserta diminta membawa peralatan sendiri. Jangan khawatir, alatnya gampang dan murah, kok. Cuma kertas, buku kotak-kotak, kuas Lyra nomor 00 dan tinta cina botol kecil. Kalau ditotal, paling cuma abis 15.000 untuk semua.


Jadi, jangan pada protes lagi nggak bisa ketemu saya tahu kalau ada workshop lettering, ya. Awas kalo nggak ikutan. He? Apa? Tinggalnya jauh? Ppffttt, saya udah dari sebulan lalu lho kasih live demo di fanpage Emak Gaoel. Ayo! Update! Update!

Whew, sebelum saya digaplokin karena makin lama makin bikin emosi, kita udahin aja, ya. Saya tunggu weekend ini, ya! Dandan yang cantik, siapa tau ketemu jodoh. Eh. 

Jumat, 12 Agustus 2016

Lettering Service: Ruangopi Bekasi

Assalamu'alaikum.

Apa kabaar, dunia blogger Indonesia? Gak kangen sama Emak Gaoel? (Cih!). Gile bener, keasikan sama yang baru, lupa nulis di blog, padahal blog ini kan modal saiah buat cari nafkah. *jujur banget, mak!* Hahaha. Nggaklah, beneran kangen banget ngeblog lagi. Hampir dua minggu nggak posting, rasanya seperti ada yang hilang. #ngintipdompet #tetepbalikkeduitlagi 

Ruangopi (pic. courtesy: Turi Kaliandra-owner of Ruangopi)

Kamyu pasti penasaran kan saya lagi sibuk ngapain sih sampe lupa posting di blog? *mulai ngeselin* Saya lagi seru banget nih merintis usaha baru. Mulai banyak ditanggap buat ngasih lettering service ke acara dan tempat usaha/rumah teman. Lettering service? Appaan, noh? 

Semoga udah pada follow akun IG saya ini ya, biar nggak perlu cerita dari awal lagi. Heuh. Atau baca postingan saya tentang hobi lettering yang mulai saya tekuni sekitar setahun yang lalu di sini. Ternyata saya keranjingan banget bikin-bikin hand lettering di gelas, frame dan karton. Terus, dari sana banyak terima pesanan. Alhamdulillaah, rejeki ada aja. Allah Maha Baik. Termasuk kemudian saya banyak mau, pengen nyoba lettering di tembok. Tapi tembok siapa yang bisa jadi korban? Itu masalahnya. Hahaha. Ada gitu yang rela rumah atau cafe-nya saya coret-coret? Siapa elu? (Lah, elu siapa?) 


Beruntung sekali, saya dan Pak Suami punya teman baik yang rumahnya dekat rumah kami dan buka "warung kopi" unyu di rumahnya. Namanya Ruangopi. Ya ampun, kalo kalian ngaku pecinta kopi dan warga Bekasi, belum ke Ruangopi, plis deh. Ini tempat cozy dan homey banget. Kopinya juga kopi serieus. Mau yang jenis apa, dari daerah mana, mau diroasting di depan kita langsung, mau yang acidity levelnya berapa, tinggal ngomong sama Mas Turi dan Mbak Ratna (owner Ruangopi).  Termasuklah saya dan suami jadi pelanggan setianya, karena jaraknya juga cuma tinggal ngesot doang dari rumah. 

Iseng-iseng, setelah mengumpulkan keberanian selama beberapa hari, saya nanya ke Mas Turi, "Mas, boleh gak temboknya saya tulisin pake kapur?" Soalnya saya lihat emang waktu itu chalking di tembok Mas Turi masih ala kadarnya. Saya rasa bukan karena Mas Turi nggak bisa, ya. Hew, dese seniman desain grafis! Pasti karena nggak sempat ngegarap. Gayung bersambut, lanjut mandi. (Lah?) Mas Turi kasih ijin saya buat coret-coret salah satu sisi temboknya di Ruangopi. Huaa, girang tak kepalang. Btw, kepalang itu artinya apa, ya? *problem*

Penampakan sebelum digarap

Mas Turi mengijinkan saya untuk re-make Coffe Acidity Level Chart yang udah dia buat sebelumnya.. Sambil deg-degan, ditungguin suami, saya mulai garap chalk lettering di Ruangopi. Karena masih project pilot, ternyata banyak banget hal yang tidak terduga muncul. Mulai dari cara menghapus kapur yang tricky banget. Sampai membagi space di tembok supaya align bisa center gitu. Kalo di laptop mah enak, tingga klik center, lah ini di tembok! Klik jidat gue bagian tengah, gitu? 

After! :D

Karena ini tempat usaha, saya juga mikir, gak bisa asal-asalan mentang-mentang baru pertama kali. Sebelum ke sana, saya sampai buat beberapa sketsa untuk jadi panduan. Ndilalah, pelajaran lainnya yang saya dapat, sketsa boleh keren, tapi eksekusi belum tentu. Huahaha. Menggambar di kertas, begitu dituangkan ke dinding atau media vertikal beda banget feel-nya. Sama persis kayak bikin lettering mug, yang notabene permukaannya melengkung. Nggak bisa disamain kayak nulis di kertas biasa. 


Total 2,5 jam plus coffee break, saya rampung ngerjain temboknya Ruangopi. Makasih banget sama Mas Turi dan Mbak Ratna yang udah ngijinin saya urek-urek di cafe kerennya. Makin happy lagi, karena Ruangopi makin hari makin ramai. Mulai banyak yang datang kesana, jadi makin banyak yang melihat hasil karya chalk lettering akuuuw. Uwuwuwuw! 


Next story, saya akan cerita tentang lettering service untuk wedding, mirror lettering dan mural. Total sampai saat ini, sudah ada 4 project lettering service yang saya kerjakan. Makin banyak, makin terasah. Begitu katanya. Mbuh kata siapa. :v Btw, kalau mau lihat video pendek proses chalk letttering di Ruangopi bisa ke sini, ya! ;)

Ruangopi (pic. courtesy: Turi Kaliandra-owner of Ruangopi)

Minggu, 10 Juli 2016

Anakku Jagoan Kandang

  15 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Baru beberapa minggu yang lalu anak saya, Safina (7 tahun) ngomong, "Mom, sometimes I don't know what to do or say when I'm in the crowd." Safina ini, dulunya bisa dibilang jagoan kandang. Di rumah bawel dan petakilan, sampai di luar pemalu dan penakut banget. Kayak anak kurang PD. Kadang suka gemes sendiri karena kita tahunya dia sebenarnya pintar dan bisa. Saya yakin, banyak orang tua yang juga menghadapi masalah yang sama. Dulu, Fadhil (abangnya Safina) juga begitu. Sekarang, alhamdulillaah keduanya udah mendingan banget. Ini nggak ujug-ujug, lho. Saya tahu, membangun rasa percaya diri anak nggak bisa instan. Selain itu, banyak hal yang mempengaruhi juga. Saya coba share beberapa hal yang saya lakukan untuk membangkitkan keberanian anak-anak saya saat berada di tengah orang banyak. Tahapan mereka memang belum terlalu luar biasa kayak anak-anak yang memang suka tampil, ya. Ya, itu tadi, kan banyak hal yang mempengaruhi. Minimal, sekarang kalau ditanya orang, mereka udah berani menjawab tanpa menyurukkan kepala ke ketiak emaknya. Hihihi.

Anak jagoan kandang? Di rumah bawel, tapi di luar "cemen"?



 Anak terlalu pemalu ketemu orang lain selain keluarga inti?


Anak cenderung takut berada di tengah orang ramai?


Coba beberapa langkah ini. 


Pahami dulu, perlu waktu dan kesabaran untuk mengajar dan menanamkan rasa percaya diri ke anak. Diceramahin aja nggak akan berpengaruh, justru membuat mereka makin tertekan. Coba diulik dulu, kenapa mereka takut ketemu orang asing? Kenapa minder ketemu teman sebaya? Mungkin mereka merasa kurang dari teman-temannya? Kalau mereka punya minat dan bakat, eksplor di sana, supaya mereka punya kelebihan yang bisa mereka banggakan. Misalnya main musik, menggambar, dan lain-lain.


Jangan paksa mereka untuk bisa langsung berani di tengah orang banyak. Perhatikan mimik wajahnya, apakah mereka terlihat khawatir saat kita dorong-dorong untuk mau bergabung dengan anak-anak lain? Kalau iya, jangan dipaksa. Temani dulu.


Kadang ini kesalahan orang tua, begitu sudah sampai rumah, ngomel. "Heran deh, kamu di rumah pemberani banget, giliran di luar kok penakut gitu, sih?" Nggak usah diomelin aja, mereka udah tertekan lho itu. Hiks.


Cari tahu minat dan bakatnya, yang mereka merasa kuasai. Safina sekarang sudah tahu kalau kemampuannya dalam berbahasa Inggris adalah kelebihannya. Dulu dia menganggap itu justru bahan cemoohan karena banyak yang "nanggep" dia bicara bahasa Inggris dan jadi tontonan. Dulu dia nggak tahu kalau sesungguhnya orang-orang sedang mengagumi kemampuannya. Di rumah sering saya bilang, jangan malu karena itu bukan hal yang memalukan. Justru mereka suka sama dia karena kemampuannya itu. Lama-kelamaan, sedikit demi sedikit, kepercayaan dirinya mulai tumbuh. Kalau dulu diajak bicara bahasa Inggris, mulutnya langsung terkunci (which is jujur emang bikin gemes emaknya, karena saya tahu sebenarnya dia mengerti), sekarang dia sudah berani menjawab dengan spontan.


Kalau anak mendadak mogok di depan orang banyak, jangan diketawain sambil bilang, "Hahaha, emang nih, jagoan kandang!" Heuheueheu, gimana mau PD, emaknya sendiri ngenyek. :(


Ini cocokkan lagi sama kelebihan yang dimiliki anak. Misalnya, anak udah bisa menghitung sampai 20, pancing dengan ajakan, "Dek, tante itu pengen denger lho adek berhitung sampai 20." Karena dia tahu dia sudah bisa, dengan dipancing begitu begitu mudah-mudahan keberaniannya muncul. Lagian kan nggak lucu juga kalo nggak ditanya atau dipancing, ujug-ujug dia ngitung sampe 20. Ya, gapapa juga sih, cuma agak aneh aja. Hihihihi


Anak perlu dipuji atas prestasinya. Semua orang tua pasti senang memuji anaknya di depan orang banyak. Tapi bijaksana sedikit. Kadang memuji anak secara berlebihan di depan orang lain, malah bikin si anak salah tingkah. Suasana bisa berubah canggung, dan sistem defensif anak jadi terbentuk. Yang wajar aja.


Sering-sering ajak anak ke acara yang membuatnya banyak ketemu orang. Nggak harus acara tersebut mereka yang jadi pusat perhatian, kok. Ajak ke acara pengajian atau arisan sesekali. Atau ke kantor papanya. Buat latihan ketemu lingkungan dan orang baru.

Sekali lagi ....


Hasilnya nggak bisa instan. Butuh waktu, usaha, konsistensi dan ...


kesabaran.


Selamat mencoba. Semoga berhasil. Kalau pun ternyata anak ternyata kelihatannya lebih merasa nyaman untuk sendiri, mungkin memang sudah karakternya introvert. Hanya yang perlu diberitahu kepada mereka, mereka harus punya kepercayaan diri dalam mengemukakan pendapat ke orang lain. ;) 

This article is also posted on my fanpage, here.