Kamis, 08 Desember 2016

[Jogja Trip, Part 2) Meleleh di Pantai Indrayanti dan Foto-Foto Manja di Hutan Pinus Imogiri

  5 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Yang belum baca Part 1 dilarang baca yang ini. Maksa harus baca semuanya. :v

So, hari kedua di Jogja, sewa mobil dari pagi karena mau ke Wonosari. Dari jauh-jauh hari anak-anak udah ribut mau ke pantai pokoknya. Nanya-nanya sama Mbak Irma (owner Pesona Jogja Homestay, tempat kami menginap) dan googling, katanya di Wonosari berjejerlah pantai-pantai syantiex berpasir putih. Ada beberapa pilihan, tapi akhirnya pilihan kami jatuh ke Pantai Indrayanti, salah satu pantai yang paling populer di jejeran pantai komersil di wilayah Wonosari.


Perjalanan dari kota Jogja kurang lebih makan waktu 3 jam. Safina sempet mabok di mobil karena ngelewatin jalan agak belok-belok, turun-naik. Maklum, bocah rumahan, hahaha. Kondisi jalan overall sih bagus, cuma di beberapa titik agak sempit sehingga kadang kalau papasan sama bis gede, terpaksa ngalah. 

Kami berangkat jam 9 pagi, dari rencana mau jalan jam 6 pagi. Yeah, right, jam 6 pagi. -_- Begitu masuk di area pantai komersil Wonosari, kami harus membeli tiket seharga Rp 9.500/orang. Pilihan pantai ada beberapa nama, dan itu bisa didatangi semua dengan tiket seharga itu. Pas dilihat-lihat, nama Pantai Indrayanti ternyata gak tercantum di tiket. Ternyata kata Dimas, guide kami, pantai Indrayanti memang bukan milik Pemda, melainkan milik pribadi, jadi tidak tercantum di tiket yang dikeluarkan Pemda. Tapi kita tetap bisa ke sana, kok. 


Mama cantik makin cantik waktu tepat jam 12 siang sampai di pantai, cwuyyn! Meleleh paripurna. Duhai! Tapi demi apalah, gak peduli foundation udah jadi bubur MPASI rasa kacang merah, pantainya tsakeeeppppp! Pasirnya banyaaak! Warnanya putiiih! Airnya biruuuu! Langitnya biruuu! Ombaknya indaaah! Dan ada bukit kecil di area kiri untuk yang pengen foto ala-ala memandang lautan dari ketinggian, sambil merenung, "Jodoh, di mana kau gerangan?"



Ah, pokoknya cucoklah Pantai Indrayanti. Anak-anak kayak gak ngerasain panas sama sekali, langsung jebar-jebur, main pasir, mondar-mandir gak tau ngapain aja. Akuh berteduh di bawah pos lifeguard, pakai topi lebar dan berharap hujan turun. Tapi doa saya tidak makbul. Seharian itu cerah banget, nyaris ngeselin panasnya. Saking aja lagi piknik, pantang kesel. Telen aja itu keringet rasa garem. 


Hayati hanya mampu bertahan sampai jam 2 siang, bukan karena kepanasan aja, tapi juga laper. Widhi kemarinnya ngusulin abis dari Wonosari, kami bisa melihat Hutan Pinus di Imogiri, gak jauh dari situ. Akhirnya kita bubar dan siap-siap cari makan sambil menuju Hutan Pinus di Imogiri. 





Alhamdulillaah, karena udah sore, plus suhu udara di Hutan Pinus ternyata lumayan sejuk. Lumayan buat ngadem sambil foto-foto. Nggak bayar kok masuk ke sana, cuma bayar parkir aja. Cantik beneran hutannya. Tapi ya, cuma itu aja sih. Adalah tempat foto di atas pohon model yang lagi nge-heits itu. Cuma Safina nggak mau naik, takut katanya. Ada hammock-hammock warna-warni terpasang di pohon pinus yang menjulang tinggi kurus, lagi-lagi, cantik buat foto-foto. Hihihihi. 

Hari ini, mission accomplished. Anak-anak happy, emak meleleh, bapak tepar. Besok lanjut lagi.

(Bersambung)

Rabu, 07 Desember 2016

Menyebar Inspirasi Lewat Hobi Lettering Art

  11 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Bismillaah.

Cerita ini berawal dari sebuah kegelisahan. Satu pertanyaan yang selalu terlontar dari ibunda sejak tiga tahun yang lalu, "Umur sudah hampir 40 tahun. Harus sudah berubah jadi lebih baik, atau kamu nggak akan berubah selamanya." 


Saya gelisah. Dan bingung. Sepuluh tahun terakhir ini bisa dibilang justru saya banyak membuat prestasi-prestasi penting yang harusnya membuat Mama bangga pada saya. Kenapa pertanyaan itu terlontar dari beliau? Apa menurutnya saya masih belum membuatnya bangga? Apa prestasi-prestasi saya selama ini, yang saya klaim sebagai kerja keras saya sendiri untuk menunjukkan jati diri saya sebagai seorang ibu dan perempuan, kurang besar baginya? 

Udah 40 tahun. nih. :)

Saya tanyakan pada diri saya sendiri, "Kamu bahagia, kan?" Saya berusaha tersenyum untuk menjawab, "Ya!" Lalu saya pandangi wajah polos anak-anak saya. Terlintas wajah Mama dan Papa. Lalu teringat sebuah nasihat yang begitu sering saya dengar dan baca, "Anak adalah pintu sorga kedua orangtuanya. Didiklah anakmu mengenal Allah, mereka akan jadi penyelamatmu di hari akhir." 

Tersedak. Kembali saya pandangi wajah kedua anak saya. "Duhai, akankah kalian menjadi penyelamatku kelak, anak-anakku? Cukupkah ilmu yang kusampaikan pada kalian sehingga menjadikan kalian mengenal Allah?" Apakah saya sudah cukup mengenal Allah? Lalu bagaimana nasib kedua orang tua saya nanti? Mereka tentu juga memiliki harapan yang sama atas diri saya, seperti saya kepada anak-anak saya. Bisakah saya menyelamatkan mereka di hadapan Allah kelak?


Tepat satu tahun yang lalu, setelah hampir dua tahun Mama meminta saya untuk mulai membaca Al Qur'an dengan rutin, memahami artinya, menghayati tafsirnya dan mempelajari semuanya, untuk kebaikan saya sendiri. Saya mulai membuka kembali Al Qur'an terjemah yang sudah lama saya miliki. Walaupun tidak setiap hari, tapi saya biasa membaca Al Qur'an itu. Hanya membaca, mengaji kalau kata orang kita. Sedikit pun tidak saya baca terjemah berhuruf kecil-kecil di samping jejeran huruf hijaiyah dalam Al Qur'an itu. Semata karena saya merasa kewajiban membaca Al Qur'an saya sudah tuntas hanya karena saya sudah menyelesaikan membaca satu juz dalam setelan rally. 

Saya mulai membaca perlahan arti tiap ayat yang saya baca. Terlintas sebuah keinginan untuk bisa menghafalnya. Dengan menghafal arti ayat-ayat suci itu, setidaknya saya tahu apa yang sedang saya baca. Tapi daya ingat saya sudah makin payah. Usia tidak lagi muda, penyesalan cuma akan membuang-buang waktu. Saya harus menemukan cara yang efektif dan menyenangkan agar proses ini bisa saya jalani. 


Hobi saya sejak kecil adalah menulis. MENULIS dengan tangan, memakai kertas dan pulpen. Entah berapa jumlah buku harian yang penuh saya tulis sejak saya berusia 12 tahun sampai sebelum menikah. Hobi itu terhenti ketika saya menikah dan punya anak. Waktu saya tersita dan internet menggantikan gerak tangan saya menggores tinta di atas kertas. Saya mulai lebih mahir menekan-bekan tombol huruf di keyboard komputer ketimbang menulis di atas kertas. Tiga novel yang diterbitkan menjadi saksinya. Blog ini juga salah satu hasilnya. 


Sementara itu, keinginan untuk bisa sedikit demi sedikit memahami arti ayat dalam Al Qur'an makin membuncah. Saya mulai mengambil selembar kertas dan sebuah pena. Menyalin arti tiap ayat yang saya baca dengan tulisan yang seindah mungkin yang bisa saya buat. Dimulai dari surat Al Fatihah, tekad saya bulat; ingin tuntas menyalin semua arti ayat dalam Al Qur'an mulai tahun 2016. Saya tahu ini terdengar ambisius sekali. Entah pun saya bisa memenuhinya atau tidak, tapi hati saya begitu berdebar karena semangat yang tidak terbendung. Lembar demi lembar penuh dengan tulisan tangan saya. Menyalin arti dari ayat demi ayat suci itu membuat saya mulai paham beberapa hal yang tadinya belum pernah saya tahu. Sedikitnya, beberapa ayat yang sering saya dengar, saya bisa hafal artinya. 

Ini tulisan tangan terjemah Al Qur'an paling pertama yang saya buat bulan Desember 2015

Lembar-lembar tulisan tangan saya itu saya kumpulkan ke dalam satu album di Facebook milik saya, sebagai penanda hari saya memulainya, dan semoga ada teman yang mau menemani perjalanan baru ini. Saya tidak menyangka sama sekali, dari sana terbuka sebuah pintu besar yang tadinya bahkan saya tidak tahu kalau ada pintu itu dalam hidup saya. Allah Maha Kuasa. Semudah itu bagiNya membuka dan menutup jalan hambaNya. Tanggapan dari teman-teman di Facebook sangat positif dan membuat haru, membakar semangat saya menjadi makin berkobar untuk menyelesaikan tantangan ini.

Tidak menunggu lama, beberapa teman mulai memesan tulisan/lettering saya. Tadinya saya jengah, apa iya mereka serius mau membeli? Sebagus apa sih lettering saya yang baru mulai ini? Saya pun mulai tertarik untuk melihat-lihat lettering art artist-artist di Instagram. Melongo-melongo sendiri melihat keindahan karya tangan mereka, lalu mulai sedikit-sedikit mencuri ilmu mereka dari video-video tutorial yang mereka bagikan. Allah memberkahi mereka yang ikhlas berbagi ilmu.


Pintu-pintu yang dibuka oleh Allah melalui niat awal saya yang ingin bisa menghafal arti Al Qur'an begitu banyak. Sampai saat ini saya masih merutinkan membuat lettering art terjemah ayat Al Qur'an setiap hari, sambil menjalankan apa yang sekarang malah menjadi bisnis hobi yang menyenangkan sekali dilakukan dari rumah.

Souvenir




Wedding Signs





Home Decoration




Mural for Business





Mengisi Workshop





Kids Fun Art Club
 


Satu hal baru yang saya pelajari setelah beberapa saat mendalami lettering art, alat yang digunakan ternyata tidak banyak yang menjual secara offline. Beberapa brand malah merupakan produk import yang hanya bisa ditemukan di online shop. Saya mulai rajin mencari-cari alat gambar yang spesifik di online shop. Daripada saya ke mana-mana, saya selalu mencarinya di Bukalapak, karena di sana berkumpul banyak online shop dari berbagai kategori.

Alat untuk lettering itu banyak banget macamnyaaa!

Hanya dengan mengetikkan kategori alat yang saya cari, semua online shop yang menjual alat tersebut langsung terbuka. Saya lebih leluasa memilih dan menimbang-nimbang harga. Selain itu, di Bukalapak saya selalu merasa transaksi yang saya lakukan aman, karena pelapak/penjual baru akan menerima uang yang saya bayarkan saat saya sudah mengkonfirmasi barang sudah diterima di tangan.




Bukalapak membantu kelancaran pekerjaan saya sekarang. Semoga bisnis yang diawali dari hobi ini kelak bisa berkembang dan yang paling penting selalu diberkahi Allah. Saya banyak belajar di HIJUP Magazine seputar perempuan-perempuan inspiratif yang sukses merintis bisnisnya (sambil kadang suka khilaf belanja jilbab sekalian, hehehe). Semoga niat saya selalu terjaga dan banyak orang yang ikut merasakan manfaatnya, syukur-syukur terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Saya terbuka banget lho kalau ada yang mau mengajak untuk belajar bersama. Sekarang ini saya sudah menyusun sebuah modul latihan untuk di rumah berupa Brush Lettering Starter Kit. Yuk, belajar lettering art! ;)

Starter Kit yang saya susun untuk latihan lettering sendiri di rumah.


Selasa, 06 Desember 2016

Kenapa Didorong, Padahal Harusnya Ditarik?

  12 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Jadi kan, saya ngakak baca status Papap Rauf di Facebook:


Astaga! Ternyata ada juga yang ngerasa terganggu sama yang satu ini. :v Jadi kita bahas, nih? Semacam penting? Hahaha.

Gak tau kenapa, dari duuluuu saya selalu patuh sama aturan-aturan yang tertulis dan terbaca. Misalnya, lihat tulisan, "Dilarang buang sampah di sini," ya patuh. Gak bakalan berani buang sampah di situ. Atau misalnya ada tulisan, "Periksa lagi barang-barang milik anda sebelum meninggalkan taksi," saya mah beneran ngecek. Bukan karena takut ada barang yang ketinggalan, tapi karena merasa ada dorongan wajib mematuhi aturan yang gak sengaja kebaca di taksi.


Kepatuhan ini termasuk juga tiap kali melihat tulisan "Tarik" atau"Dorong"di pintu-pintu masuk minimarket atau gedung. Beberapa tulisan memang ada yang dalam bahasa Inggris; "Pull" dan "Push". Alhamdulillaah, saya nggak kebingungan bedainnya sih, padahal bedain kiri sama kanan saya masih suka ketuker.

So, kalau masuk minimarket sempet saya lihat orang lain enak aja maen dorong padahal tulisannya "Tarik" saya suka gemes pengen cubit-cubit pipinya. Halah. Kalau anak saya yang begitu, pasti langsung saya koreksi, karena kadang mereka suka gitu juga.

Saya paham sih, energi yang keluar untuk mendorong mungkin terasa lebih kecil ketimbang saaat menarik pintu. Apalagi pintu-pintu kaca tebal seperti di minimarket itu kan suka rada berat, ya. Tapi, kan itu ada tulisannya, masak dicuekin ajaa? Huaaa, Hayati baper.


Coba pikir deh, aturan pasti dibuat untuk menciptakan ketertiban. Kalau yang di dalam ruangan dengan tulisan "Dorong" patuh, dan yang di luar dengan tulisan "Tarik" cuek, kebayang yang terjadi? Dorong-dorongan pintu, gak kebuka-buka sampe lebaran unta. Atau lebih parah, yang di dalam baru sampai depan pintu, belum sempat dorong pintu, yang di luar dengan cueknya dorong pintu yang tulisannya "Tarik". Bisa bikin orang celaka. Lebih riweuh lagi, kalau ada petugas lagi nurun-nurunin barang berkotak-kotak.

Setelah pasang status tadi, terungkaplah beberapa alesan teman-teman saya yang ngaku masih suka cuek sama urusan Tarik-Dorong ini.  Alesannya macem-macem. Mulai dari:

"Bingung bedain Push sama Pull."

"Enakan dorong daripada tarik."

"Yang tulisannya "Tarik" lebih gampang didorong."

Hahahaha, dudul, ih. Terserah kaliyyan deh, terseraaah. *lah, kok pundung?* Sekalian masukan aja sama minimarket-minimarket, kalau emang niat kasih aturan Tarik-Dorong di pintu, sekalian aja kasih door-stopper, biar gak pada bandel. Wkwkwkwk. Di beberapa tempat saya pernah juga kok nemuin yang model gini. Yang "Push" gak bisa ditarik, yang "Pull" gak bisa didorong. Adil sejahtera, yang bandel terpaksa nurut. Hihihihi.

Maaf yah, ini tulisan gak ada intinya banget. Cuma omong kosong belaka yang sekadar menuh-menuhin postingan di blog. Semoga abis ini banyak yang ngelirik blog ini dan ngasih job bermilyar-milyar. Klik like dan aamiin.

Selasa, 29 November 2016

[Jogja Trip, Part 1] Punya Rumah di Jogja

  5 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

Haloo! Kangen pasti ya sama akyuu! Hahaha. Akhirnyaaa, Emak Gaoel piknik juga ke Jogja, shaaay! Girang bener, persis kayak orang jarang piknik. Yah, seperti ituuh. -_-

Let's go, pasukan! Kita piknik ke Jogjaaa! :D

Tanggal 11 November kemarin, alhamdulillaah ya Allah, sekeluarga akhirnya bisa juga jalan-jalan ke Jogja. Padahal beberapa minggu sebelumnya si Safina nih baru aja komplen, "Why I never went to any places?" Heh? Ape lu kate, bocah? Gini nih akibat ngajak anak piknik pas umur masih kekecilan. Lupa! Padahal dia udah pernah dibawa ke Singapur segala, ke Universal Studio, di sini ceritanya. Tapi ya itu, gara-gara masih kecil banget, dia gak inget, dong. Dan nuntut, mau piknik pokoknya. Ya Gusti, belom masuk jadwal vekesyien juga. Mana ni anak-anak kan baru selesai check -out dari hospital kemaren. Piye carane?

Allah Maha Mendengar. Mbak Irma, sahabat blogger sejak jaman kuda belum lebaran (eh) kontak saya dan nawarin jalan-jalan ke Jogja dan stay di homestay-nya yang baru buka beberapa bulan yang lalu. Sekalian, ada kerjaan buat mural/lettering service di sana. Alhamdulillaah, bisa liburan sambil kerja. Mbak Irma ini kok tau aja, ya? *towel ah*


Maka, seperti biasa, kisah traveling keluarga Emak Gaoel, gak akan jauh dari keculunan-keculunan akibat jarang piknik. Dari awal kita udah itung-itung budget yang ngepas banget buat pergi ber-empat. Mau naik pesawat? Coret! Naik kereta api? Mungkin. Tapi pilihan paling murah itu ya bawa mobil sendiri. Langsung ditolak metah-mentah sama suami. Hahahaha. Dia ogah bener pulang dari cuti badan pegel-pegel gara-gara kelamaan nyetir. Yo wes, naik kereta api tut tut tut aja. 

Masih inget cerita culun waktu saya pesan tiket ke Singapur ini? Kejadian lagi dong waktu pesen tiket kereta. Demikian. -_- Intinya, saya salah pilih tempat duduk, akibatnya kita berempat dapat tempat duduk di 4 gerbong terpisah. Huahaha, yang boneng aja luh? Akhirnya terrrpaksa ngurus ke stasiun, bayar ekstra 25% dari total harga tiket. Mayan, yah. Belom sampe Jogja, dompet udah mangap. Halah. 


Akhirnya kita sampai Jogja dengan selamat. Dijemput sama staff dari Pesona Jogja Homestay yang namanya Widhi (yang segera begitu ketemu langsung jadi kesayangannya aku di Jogja). ^_^ 

Aaah, Jogja. Mau mulai dari mana kita? "Kapan terakhir ke Jogja, Mbak Winda?" tanya Widhi dalam perjalanan menuju homestay. Saya dan suami langsung mesem-mesem. Terakhir ke Jogja adalaaah .... 14 tahun yang lalu, waktu kami honeymoon. Hahaha. Makin kuat dakwaan sebagai orang jarangg piknik. :p

Whatever. Pokoknya, begitu ada kesempatan untuk traveling sama keluarga gini, apa pun yang terjadi di depan, kita hadapi dengan hati senang dan ketawa-ketawa aja. Nanti di postingan lain aja ya saya cerita tentang tempat-tempat yang kami kunjungi. Kali ini saya kheuseus mau cerita tentang Pesona Jogja Homestay yang-ya ampun, sumpah- bikin males balik ke Bekasi. Hihihi. 

Pesona Jogja Homestay (PJH) ini basically seperti semacam cluster di tengah-tengah perkampungan penduduk yang lokasinya di tengah kota Jogja. Jadi, gak heran juga begitu saya sampai sana, mendadak saya ngerasa jadi orang Jogja, terus ngomong dimedok-medokin. PJH ini ada 6 rumah yang salah satunya difungsikan sebagai kantor. Kalau traveling sendiri atau cuma berdua, bisa pesan satu kamar aja. Kalau sekeluarga kayak saya, lebih ekonomis dan praktis pesan satu rumah. Oh iya, hari ketiga di sana, Mama Papa saya nyusul soalnya, jadi emang pas banget waktu saya dikasih rumah Prambanan yang berkamar tiga di PJH. 





Yang bikin makin betah di PJH adalah, staffnya semua ramah buangeeeetttt. Sopan buangeeeettt. Baik buangeeeet. Ya ampun, saya harus sering-sering ke Jogja biar hati adem ayem tentrem. Sungguh manusia-manusia yang menyenangkan hati. No wonder, orang betah banget di Jogja. Saya selalu jatuh cinta setiap ke kota ini. Btw, total ini kedatangan saya yang ke-lima kalau dihitung dari jaman sekolah dulu. Hihihihi. Jadi gak usah khawatir kebingungan di PJH. Semua staff di sana siap membantu, kapan pun. Mau ngibrit ke minimarket beli sikat gigi, dianterin. Mau makan pecel, dipesenin. Mau pinjem sendal jepit, dipinjemin. Makasih ya, Wid, sendal jepitnya. :v Termasuk, mau pesan mobil untuk keliling Jogja, dibantuin urusannya. Btw, driver/guide yang bawa kami sekeluarga keliling Jogja kemarin kerenlah. Namanya Dimas. Baik, sopan, rapi dan informatif. Recommended! Dimas oye! Pokoknya tinggal bilang, urusan beres. Warbiyasak. Safina sampe pengen ekstend di Jogja. Huehehe, sekolah, neng! 



Layaknya rumah, tiap rumah di PJH udah lengkap sama ruang tamu, ruang makan, dan dapur. Jadi kalau mau masak-masak sendiri juga bisa. Kamar mandi juga ada air panasnya. Gak usah khawatir kehabisan air, dispenser ada, kak. Tivi juga ada di tiap kamar. Dan saya senang bisa terima tamu di PJH, karena berasa kayak nerima tamu di rumah sendiri aja. Alhamdulillaah kemaren kedatangan beberapa teman di Jogja. Jadi nerimanya di ruang tamu rumah Prambanan-ku, dong. Hahahah, serasa nyonya rumah, beud. Makasih ya, Ndonz, Mbak Endah, Rian, Elsa dan Marul yang udah mampir ketemuan. 





Yang lucu, tiap saya mau keluar, saya selalu pesan kamar gak usah diberesin. Ya percuma, ntar juga berantakan lagi. Tetep aja diberesin sama Mbak Endang. Oh, I love you so much Mbak Endang dan kopimu. Dan berhubung saya sekalian kerja bikin mural buat PJH (nanti proses bikin muralnya saya ceritain di postingan lain juga, ya), bisa ditebak dong kalau saya begadang terus di sana. Tengah malam, butuh kopi, dibikinin juga, kakaaak. Ini tamu kok ngerepotinnya maksimal bener, ya? Fun fact paling bikin sirik adalah, di Jogja gak ada nyamuk. Begadang sampe subuh, pintu ngejeblak lebar, gak masalah. Hah! Hayati sirik, bang. Di Bekasi nyamuk kok keroyokan, ya? :( Kalau buat anak-anak, highlite stay di PJH adalah, lokasinya deket banget sama Malioboro, Museum de Mata dan De Arca. Jadi sempat juga ngerasain naik andong dan becak waktu kita di sana.


Kalau kamu gak mau ribet, lebih baik booking dulu kamar atau rumah di PJH lewat booking.com atau Traveloka. Simple banget, kok. Malah di booking.com kamu gak perlu bayar duluan. Seriuslah saya, kalau kamu pengen ngerasa punya rumah di Jogja selama liburan, stay di Pesona Jogja Homestay. It's more about the feeling you get inside when you're there. Pada saat kita sudah harus pulang nanti, tiba-tiba kita jadi merasa sedang akan pergi dari rumah. Ahelah, bikin baper nih. Pengen balik lagiiii!

-BERSAMBUNG-