Jumat, 21 November 2008

Rumah Nenekku

  No comments    

(Posted : 20 Nov 2008 on my Facebook)
Alkisah almarhum Nenekku adalah anak dari seorang saudagar kaya di kampungnya. Sebagai seorang anak perempuan dari keluarga Minang, ayah Nenekku sewajarnya memberikan segalanya untuk Nenekku. Maklum saja, anak perempuan adalah penerus dinasti keluarga di Minangkabau.

Maka ketika Nenekku menikah dengan Kakekku, dibangunlah sebuah rumah oleh ayah Nenekku sebagai hadiah pernikahan. Rumah batu, orang-orang menyebutnya. Disebut rumah batu karena rumah itu satu-satunya yang berdinding tembok atau batu. Masa itu rumah orang-orang di kampungku pada umumnya terbuat dari anyaman bambu. Hanya orang-orang terpandang dan berduit yang bisa memiliki rumah batu kala itu. Tidak heran kalau di kampungku akhirnya hanya terdapat dua buah rumah batu waktu itu. Milik Nenekku dan adik perempuannya.

Singkat cerita, Nenekku meninggal dunia menyusul Kakekku yang sudah terlebih dahulu berpulang puluhan tahun yang lalu. Meninggalkan tujuh orang anak yang sudah berkeluarga dan merantau keluar kampung selayaknya orang Minang. Tinggallah rumah Nenekku kosong melompong. Dikelilingi sawah milik Nenekku yang luas namun tidak tergarap. Alangkah sedihnya...

Rumah Nenekku yang dulu berdiri angkuh dan megah seantero kampung, kini tidak lebih dari rumah keropos yang sudah lapuk dimakan waktu. Ternyata batupun tak selamanya kuat. Pada waktunya, dia pun akan habis dimakan jaman.
Rumah Nenekku punya nasehat...tak ada yang pantas untuk sombong di muka bumi ini, bahkan batu sekalipun. Karena pada akhirnya tak ada yang bisa menandingi kuasa Tuhan melalui masa.

0 comments:

Poskan Komentar