Selasa, 13 Oktober 2009

Peace....

  No comments    

Sudah sebulan ini saya berusaha menahan diri untuk tidak ikut terjebak dalam euforia emosi terhadap tari Pendet yang katanya di-klaim Malaysia sebagai tarian mereka. Saya berusaha menjaga perasaan pihak-pihak tertentu, terutamanya adalah keluarga saya sendiri karena kebetulan saya memiliki ipar asli orang Malaysia.
Saya berusaha berdiri sendiri tanpa miring ke kiri atau ke kanan. Tidak mendukung ataupun menantang. Saya perbanyak membaca, mulai dari status teman-teman Indonesia, Malaysia, keluarga dan teman Indonesia yang mencari nafkah di Malaysia, maupun note-note yang bersliweran di wall hampir semua orang, termasuk wall teman Malaysia saya dan yang pasti tulisan-tulisan orang-orang yang kompeten terhadap permasalahan ini.
Kesimpulan saya cuma satu. Media kita sungguh sadis. Untuk permasalahan tari Pendet itu sendiri, sudah beratus penjelasan beredar baik di media cetak, elektronik maupun dunia maya bahwa itu adalah murni kekeliruan Discovery Channel. Pihak Malaysia sama sekali tidak terkait dengan tampilnya iklan Enigmatic Malaysia (or Asia?) yang mereka tayangkan tersebut. Namun respon masyarakat kita sungguh luar biasa. Dari awalnya kesalahan satu stasiun televisi, merembet menjadi masalah nasional yang bergerak ke arah tindakan anarki.
Semua geram dan melontaran kata-kata makian terhadap mereka. Ancaman sweeping terhadap warga negara Malaysia yang ada di Indonesia bergema dimana-mana. Terus terang saya bergidik. Beginikah cara kita menyelesaikan suatu masalah (yang notabene sebenarnya tidak ada masalah)?
Saya tidak membela satu pihak. Dan yang pasti saya tidak memulai suatu perdebatan dengan munculnya tulisan ini. Karena terus terang saya bukanlah orang yang paham akan permasalahan ini. Yang saya rasakan hanyalah miris.
Dalam sejarahnya kita (Indonesia dan Malaysia) adalah satu daratan. Sangatlah mungkin kebudayaan kita mirip atau bahkan sama (saya tidak spesifik mengatakan tari Pendet karena semua orang juga tahu tari Pendet asli dari Bali, Indonesia). Contoh yang paling konkrit terjadi sendiri pada saya dan keluarga. Ketika abang saya menikahi seorang gadis Malaysia, keluarga kami bertemu dan bercakap-cakap. Subhanallaah, bahasa yang mereka pergunakan sama persis dengan bahasa yang digunakan nenek saya yang asli dari kampung Halaban, Payakumbuh Sumatra Barat! Saya pun tak bisa menjelasannya, karena, sekali lagi, saya bukan orang yang kompeten untuk menjelaskan hal ini. Tapi ini kenyataaan.
Belum lagi kenyataan kalau kita sama-sama negara yang mayoritas berpenduduk muslim. Sebagai pemeluk Islam, kita sama-sama tahu bahwa kita adalah saudara. Sesama saudara saling bertikai itu biasa. Apalagi saling berebut suatu 'permainan'. Tapi kita pun tahu dan paham bagaimana menyelesaikan suatu masalah secara Islam, yaitu dengan jalan damai.
Saya tidak membuka forum dalam note ini. Silahkan anda memberi komentar sesuka hati anda, saya tidak akan mereply, karena saya juga tidak tahu bagaimana menjawab kalau anda mulai mempertanyaan bagaimana dengan batik? wayang? nasib TKI kita disana? Sipadan dan Ligitan? Saya bukan siapa-siapa yang pantas untuk menjawabnya. Apalagi dengan pertanyaan, apakah kita mau diam saja diinjak-injak oleh mereka (Malaysia)? Kembalikan pertanyaan kepada diri kita sendiri, apa iya mereka 'menginjak-injak' kita? Apa buktinya? Kalaupun memang ada satu atau seribu kasus TKI kita diperlakukan sewenang-wenang disana, lebih pantasnya kita sebut pelakunya itu oknum, bukan? Untuk Sipadan dan Ligitan pun mungkin jawaban saya yang hanya orang biasa ini adalah, sedangkan sendal jepit di masjid saja kalau tidak dijaga bisa hilang diambil orang, apalagi pulau?
Jangan mudah terpancing, teman. Kita bersaudara. Setidaknya saya merasa begitu, dengan ada atau tidaknya ikatan pernikahan antara abang saya dan istrinya itu.
Media kita sungguh ganas. Media kita berada pada satu level yang paling agung di negeri ini dalam dunia jurnalistik. Dimana semua yang dikatakan media kita telan bulat-bulat tanpa berusaha mengunyahnya lebih dahulu. Akibatnya apa? Kita keseleg sendiri kan? Blingsatan sendiri karena sesak nafas. Padahal kalau kita bisa melihat semuanya dengan pikiran jernih, mata terbuka, hati yang tenang serta penelitian yang imbang dan tidak berat sebelah, semuanya bisa kita 'telan' dengan nikmat dan elegan.
Mohon maaf apabila teman-teman ada yang tersinggung dengan tulisan ini. Ini bukan tulisan seorang profesional. Ini hanya tumpahan resah hati saya, sebagai orang biasa yang tidak atau belum menyumbang apa-apa juga untuk negara yang saya cintai ini.
Wassalam.

0 comments:

Poskan Komentar