Minggu, 17 Januari 2010

Malam Ini Aku Ingat Papaku

  No comments    


Papaku adalah contoh sosok paling bersahaja yang pernah kukenal seumur hidupku. Sahaja dalam tindakan maupun ucapan.
Entah mengapa malam ini aku teringat padanya. Jarakku tak jauh darinya. Namun aku merasa rindu padanya malam ini.
Kalau kalian fikir hanya tinggal segerak tangan ke arah pesawat telepon dan aku bisa mendengar suaranya. Percayalah, bukan itu yang aku rindukan.
Papaku tak pernah berucap banyak. Kuingat pernah dia berkata 'Jangan terlalu banyak bicara'. Aku masih belia saat itu dan nalarku tak sepanjang aliran sungai untuk dapat mencerna kalimatnya. Dia pun tampaknya tak ada niatan untuk melanjutkan kalimat itu dengan sebuah penjelasan untuk anak bodohnya ini.
Bertahun Papa biarkan kalimat itu menggantung dan sempat tertimbun hal lain dalam ruang otakku. Sampai hari ini aku merasa rindu padanya dan teringat kembali akan ucapannya. Saat lagu itu mengalun lembut membuai mataku mengajak ke peraduan....

All the times that i've cried
Keeping all the things i know inside
It's hard but it's harder to ignore it

'Keeping all the things I know inside'....Tepat seperti itulah Papaku. Tak ada yang pernah tahu apa yang ada dalam pikirannya. Apakah dia sedang bahagia atau bersedih. Semua sebisanya disimpannya sendiri. Jika kebahagiaan yang menghampiri kami, dia hanya tersenyum dan berucap 'Alhamdulillah'. Tak ada teriakan gembira dan tawa terbahak-bahak. Jika pahit yang tiba pada kami dia hanya diam dan berucap 'Inna lillaahi'. Tak ada ratapan ataupun penyesalan meluncur dari mulutnya. Jika tersakiti hatinya oleh orang lain, dia hanya diam dan istighfar. Tak pernah dia memaki atau menyumpah.

Kadang aku heran, terbuat dari apakah hatinya? Begitu ringannya dihadapi segala sesuatu dalam hidupnya. Seolah tak ada yang dapat membuat hatinya bergejolak emosi apalagi dilanda euforia. Jangan diharap! Sampai akhirnya setahun yang lalu Papa terkena serangan jantung. Kami semua seperti ditampar. Tak ada yang menyangka kalau Papa bisa jatuh sakit tak berdaya. Selama ini bahkan dalam sakit pun Papa tak pernah merintih. Namun kali ini lain. Tentu sangat yang dirasa sakit di dadanya sampai menetes keluar air matanya menahan. Bagaimana mungkin kami tidak melihat gejala awal penyakit Papa? Lihai sungguh Papa menyimpan sakit. Dan kami semua tahu mengapa disimpannya sendiri sakitnya selama ini. Karena Papa adalah Papaku...Papa kami...Yang tidak banyak bicara...Yang tidak pernah mau membuat hati kami susah memikirkannya. Biarlah selama masih bisa disimpannya sendiri, maka tersimpanlah segalanya sendiri dalam dirinya.

Papaku tak akan pernah berubah. Dia akan selalu menjadi Papaku yang bersahaja dalam diamnya. Tapi paling tidak kini aku tahu apa yang harus aku lakukan untuknya. Aku hanya ingin mengajaknya bercakap-cakap. Memancingnya mengeluarkan tawa walau sekilas. Aku tak ingin terlambat. Entah aku atau Papa yang akan pergi lebih dahulu. Yang terpenting waktuku tak terbuang hanya memandang wajahnya dalam diam. Yang terpenting waktuku tak terbuang hanya untuk berkeluh kesah tentang aku, aku dan aku padanya. Aku hanya ingin Papa tahu kalau aku bahagia punya Papa seperti Papa dan mencoba memastikan diri kalau Papa bahagia akan kami, keluarganya.

0 comments:

Poskan Komentar