Selasa, 13 Juli 2010

Resep Si Onis : Bye Misako (Part 29)

  No comments    
categories: 
BYE MISAKO

Pagi ini sangat...sangat...sangat...huaah...tidak bisa digambarkan. Perutku sudah melilit tidak karuan sejak aku berangkat dari rumah. Kucium tangan Mami lebih lama dari biasanya.

"Kenapa sih? Lama amat nyium tangannya? Mami kan baru megang ikan. Gak bau?" tanya Mamiku heran melihat kelakuanku yang tidak seperti biasanya.

Aku meringis mendengar ucapan Mami. Memang tercium bau amis ikan dari tangan Mami, tapi aku tidak peduli. Entah kenapa, sepertinya aku mendapat kekuatan ekstra setelah mencium tangan Mami pagi ini.

Semalam aku tidak berhasil berbicara dengan Tanabe san. Tapi aku mengirim pesan singkat tentang apa yang terjadi. Aku hanya mengatakan ada e-mail yang salah terkirim ke alamat e-mail miliknya dan Dian. Aku tidak mengatakan kalau itu e-mail dari Onis. Aku hanya mengatakan ada kesalahan pengiriman e-mail yang seharusnya bukan ditujukan untuk Dian atau pun dirinya. Aku tidak mau Onis terseret. Aku takut Onis akan dipecat, sedangkan dia pasti sangat membutuhkan pekerjaan ini. Kukirim pesan singkat itu ke Tanabe san hanya sekedar untuk berjaga-jaga supaya dia tidak terlalu terkejut kalau hari ini dipanggil menghadap Fujiyama san. Dia tidak membalas pesanku.

Onis tidak masuk hari ini. Perasaanku tidak enak. Aku khawatir sekali dia akan melakukan ‘itu' hari ini. Mudah-mudahan dugaanku salah, doaku dalam hati. Kantor masih sepi. Sengaja aku datang pagi-pagi untuk mempersiapkan mental menghadapi hari ini.

Beberapa teman kantor sudah datang dan melewatiku dengan pandangan aneh. Aku tahu mereka pasti sudah mendengar berita-berita bohong dari Dian tentangku berikut bumbu-bumbu penyedapnya. Aku tidak bisa menyalahkan mereka termakan gosip itu. Bagaimana pun , bukti hitam di atas putih ada di tangan Dian, walau pun ternyata itu bukti yang salah.

Sudah jam sembilan pagi. Tanabe san sudah datang dan langsung melewatiku begitu saja tanpa melihat ke arahku. Aku juga tidak berusaha untuk menyapanya seperti biasa. Dian juga sudah datang lima menit sebelum Tanabe san datang. Dia tersenyum lebar padaku dengan muka sinisnya itu. Aku tersenyum balik padanya seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dan dia melengos kesal dan membuang muka melihat aku bisa tersenyum padanya. Mungkin dia berharap aku akan mendelik marah atau berteriak marah padanya. Ah, sekali lagi, dia berharap aku akan bermain seperti orang tidak bersekolah? Dia sungguh salah!

Kriing! Telpon di mejaku berbunyi. Dari Syasya.

"Pagi, Fan...Fujiyama san tunggu kamu di ruangannya ya. Ada Tanabe san juga," kata Syasya dengan nada prihatin.

Entah cerita apa yang sudah didengarnya. Aku tidak mau bertanya-tanya lagi.

Kutarik nafasku dalam-dalam. This is it! Siap tidak siap, aku harus menghadapinya. Aku sudah punya keputusan bulat sejak tadi malam sebelum aku tidur. Dan rasanya keputusan itu semakin mantap terasa dalam hatiku.

"Ohayo gozaimasu, Fujiyama san..Tanabe san..." sapaku sambil masuk ke ruangan Fujiyama san.

Tidak ada Dian. Pertanda bagus, kataku menghibur diri. Degup jantungku terasa kencang. Kutenangkan hatiku. Aku tidak salah...dan tidak ada satu pun yang bersalah di ruangan ini, aku menenangkan diri.

"Haik. Sit down, please..." Fujiyama san mempersilahkan aku duduk di samping Tanabe san.

"So...ada yang bisa menjelaskan apa maksudnya e-mail ini?" tanya Fujiyama san sambil menyerahkan selembar kertas kepada Tanabe san.

Tanabe san tampak membaca sekilas kertas itu dan terdiam sesaat. Dia memandang ke arahku dengan pandangan tidak mengerti. Aku tahu dia tidak akan menyangka kalau e-mail salah kirim yang kumaksud itu berisi tentang rencana aborsi yang mengerikan. Tanabe san menarik nafas sebentar lalu mulai berbicara.

"Saya sudah diberitahu oleh Fani san mengenai hal ini, Fujiyama san. Fani san bilang dia salah kirim e-mail. Seharusnya e-mail itu bukan untuk saya atau Dian san," jelasnya pada Fujiyama san.

Fujiyama san mengangguk-anggukkan kepalanya tanda paham akan penjelasan itu. Tapi tampaknya dia merasa belum puas.

"Fine..But I think I still have to talk to you about your attitude then, Fani san," katanya padaku.

"What's with my attitude?" tanyaku berani.

"Well, saya tahu ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pekerjaanmu. Kamu bekerja dengan baik di sini. Tapi saya tidak bisa menutupi kenyataan kalau kita ada di Indonesia. Saya sangat memahami ada nilai-nilai yang kalian junjung tinggi berhubungan dengan masalah aborsi ini. Lain halnya jika kita bukan di Indonesia. Jadi saya hanya ingin menanyakan kepada kamu Fani san, apa yang sebaiknya saya lakukan menghadapi masalah kamu ini?" tanya Fujiyama san padaku.

"Saya rasa tidak ada, Fujiyama san. Kalau menurut anda saya sudah tidak pantas untuk bekerja di sini lagi, silahkan pecat saya. Tapi jangan memecat saya karena alasan yang tidak ada kaitannya dengan performance saya selama ini. Itu sungguh tidak adil untuk saya," kataku berusaha berdiplomasi di hadapan laki-laki Jepang paruh baya ini.

"You're right...Tapi bagaimana tanggapan rekan-rekanmu kalau saya membiarkan kamu tetap bekerja di sini dengan kondisi begitu?" tanyanya padaku.

"Kondisi begitu? Hamil maksud anda?" tanyaku dengan berani.

Fujiyama san mengangguk. Tanabe san yang sejak tadi hanya diam tiba-tiba seperti bergerak terhenyak mendengar aku mengucapkan kata ‘hamil' dengan lantang.

"Apa yang salah dengan kehamilan? Semua perempuan hamil," kataku lagi.

"Tapi umumnya mereka di Indonesia sudah menikah baru hamil. Bagaimana dengan kamu?" tanyanya lagi padaku.

"Saya punya jawaban tepat untuk itu, Fujiyama san. Itu bukan urusan anda," kataku dengan berani. "Saya bisa melihat sekarang bahwa anda seorang pemimpin yang tidak tegas. Kalau anda mau memecat atau memberi sangsi pada saya, seharusnya dari tadi sudah anda lakukan. Tapi anda justru berputar-putar bebicara menunggu saya untuk mengundurkan diri. Kalau itu memang yang anda inginkan, saya mengundurkan diri. I quit! Paling tidak salah satu di antara kita ada yang bisa bersikap tegas!" kataku berani.

Aku berdiri dari tempat dudukku. Kuanggukkan kepala kepada Tanabe san yang tampak terperangah dengan keputusanku. Lalu aku membungkukkan badanku sedikit kepada Fujiyama san dan cepat-cepat aku keluar dari ruangannya. Kembali, untuk ke dua kalinya di Misako aku menahan air mataku agar tidak tumpah di hadapan Tanabe san.

Aku bergegas kembali ke mejaku untuk membenahi barang-barangku. Aku hanya berharap aku sudah mengambil keputusan yang tepat. Aku hanya ingin membantu Onis. Kalau pun pada akhirnya nanti Fujiyama san atau Tanabe san atau Dian atau semua orang di kantor ini menyadari bahwa yang hamil itu adalah Onis dan bukan aku, segalanya sudah terlambat. Atau kalau pun Onis nantinya tetap akan diberhentikan juga dengan alasan attitude-nya itu, dia masih ada kesempatan untuk mencari pekerjaan baru. Toh ini baru pekerjaan pertamaku dan aku masih ada ke dua orang tuaku untuk bergantung sementara ini. Dan jangan lupakan Fia adikku yang karirnya justru lebih baik dari aku. Dia juga masih bisa kujadikan tempat bergantung finansial untuk sementara walaupun nantinya akan kudengar omelan-omelan bawelnya. Sungguh, aku masih jauh lebih beruntung dari pada Onis.

Tiba-tiba Tanabe san muncul di hadapanku. Dia kelihatan sangat gundah. Aku tidak bisa menyalahkannya. Aku tidak bisa mengharapkan pembelaan darinya. Sejujurnya aku justru merasa kasihan padanya saat ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanya menghadapi kejadian ini. Tapi aku menguatkan hatiku. Aku melakukan ini untuk Onis, ucapku dalam hati.

"Fani san...saya tidak menduga akan begini jadinya," ungkapnya penuh nada penyesalan.

"Kenapa?" tanyaku berusaha tegar.

"Saya tidak menyangka ternyata kamu bisa melakukan hal ini. Saya kira saya sudah sangat mengenal kamu. Saya sempat berpikir kalau kamu tidak sama seperti Anis," katanya dengan masygul.

Aku terdiam. Ingin rasanya aku teriak di mukanya : Aku memang tidak seperti Onis! Tapi kubatalkan keinginanku itu. Biar saja, waktu nantinya yang akan memberitahunya. Dan pada saatnya nanti, mungkin dia sudah tidak ada di Indonesia lagi. Bukankah beberapa bulan lagi dia akan kembali ke Jepang? Lagi-lagi aku berpikir alangkah tidak bergunanya semua perasaan ini.

_____________________________________________________________________________________

BERSAMBUNG

0 comments:

Poskan Komentar