Selasa, 13 Juli 2010

Resep Si Onis : Caught In The Act (Part 26)

  No comments    
categories: 
CAUGHT IN THE ACT

Gathering yang katanya akan berkesan itu ternyata tidak seindah yang direncanakan. Bagaimana mau berkesan kalau sebagian staff pribumi justru memilih untuk tidur lebih cepat karena berharap besok pagi bisa mengejar belanja baju di Factory Oultlet yang tersebar seantero Bandung sebelum pulang lagi ke Jakarta. Sedangkan para Jepang, tidak sampai dua jam check-in mereka sudah menghilang dengan sopir masing-masing, rendezvous entah ke mana. Ada yang pergi karaoke, ada yang pergi golf, ada yang check-in ke hotel lain yang lebih berkelas. Berkesan untuk siapa?

Siang tadi aku dan Tanabe san berpisah di Warung Lela. Aku berkeras tidak mau ikut dengannya. Kutelpon Pak Bambang untuk menjemput bosnya itu. Tanabe san diam saja tidak bereaksi. Aku tidak bisa membaca apa yang dirasakannya sampai saat ini, setelah ucapanku yang mungkin mengecewakannya itu. Aku belum mau memikirkannya.

Malam ini aku dan Andi memutuskan untuk berenang di kolam air hangat di hotel. Mumpung gratisan. Sedang asyik ngobrol sambil menikmati hangatnya air kolam, tiba-tiba handphoneku yang kuletakkan di meja berbunyi. Aku segera naik dan melihat nomor Deni di handphoneku. Mau apa lagi sih ni orang, pikirku dalam hati.

"Hai, Fan. Lagi di Bandung kan? Bisa ketemuan, nggak ?" suara Deni terdengar dari seberang sana.

My God, apa dia sedang mencari-cari Onis? Aku benar-benar kelimpungan mau menjawab apa.

"Fan ? Dengar, nggak ? Aku lagi di Bandung juga, nih," suara Deni terdengar lagi.

Mampus aku ! Aku mau bilang apa sama dia kalau dia tanya Onis ada di mana ?

"Aduh, Den, sori ya, acara kita padat banget. Kayanya gue nggak akan bisa keluar malam ini. Kenapa lo nggak telepon Onis aja langsung ? Lagian emangnya lo tau gue nginep di mana?" tanyaku khawatir. Nggak mungkin Onis yang kasih tahu dia.

"He he he...gue telpon ke kantor tadi pagi. Untung hari Sabtu, bapak-bapak yang jaga mailroom di kantor lo masuk, ya ? Itu lho, pak Ganda. Dia yang kasih tahu hotel tempat kalian menginap," jawab Deni santai.

Thank's banget, nih, pak Ganda, ujarku mangkel dalam hati. Sebenarnya kasihan juga beliau, sudah nggak bisa ikut jalan-jalan, harus masuk kerja, masih kena sumpah serapahku pula. Salahku juga tidak meninggalkan pesan apa-apa ke pak Ganda. Tapi siapa yang sangka kalau orang ini akan melakukan hal sampai sejauh ini demi menyelidiki pacarnya ?

"Yah, terserah, deh !" akhirnya aku cuma bisa pasrah. Sori, Nis, kalau sampai aku keceplosan jangan salahin aku, ya ? Aku benar-benar tidak prepare untuk menutupi aksinya sampai sejauh ini. Whatever happen, happenlah !

"Gue ke meja lo ya sekarang ? "

Aku seperti tersambar petir mendengar ucapannya. Dan sekilas dari seberang kolam aku melihat seorang pria melambaikan tangannya kepadaku sambil satu tangannya masih memegang handphone. Lututku lemas seketika. Aku terduduk di kursi sambil tetap menempelkan telepon di telingaku. Andi terheran-heran melihatku. Duh, kenapa aku nggak sadar ya kalau laki-laki itu adalah Deni? Cahaya di sekeliling kolam renang ini memang temaram sekali. Lagipula aku tidak terlalu peduli dengan orang-orang yang ada di sekitar kolam renang. Aku dan Andi sedang asyik berendam sambil ngobrol dan memejamkan mata di pinggiran kolam renang dari tadi.

"Fan, kenapa lo ? Telpon dari sia..." pertanyaan Andi menggantung sampai di situ, karena dia juga sedang terheran-heran melihat Deni sedang berjalan menuju ke arahku.

"Oh, my God !" Kudengar Andi berujar pelan sambil segera naik dari kolam dan menyambar handuknya. "Cabuut ! Good luck, girl!" bisik Andi dan segera meninggalkanku dengan tidak bertanggung jawab. Kuya!

"Hai, Den !" sapa Andi sambil berlalu dari situ.

"Hai, Ndi...lho, kok udahan?" tanya Deni pada Andi.

"Udah ah, udah kelamaan...Ntar gue mateng lagi. Hehehe..." jawab Andi asal sambil berlalu.

Deni melihat ke arahku yang masih berdiri di samping meja.

"Sori, Fan. Gue ngagetin lo kaya gini. Gue kesini sebenernya bukan mau gangguin lo," kata Deni sambil duduk di kursi tempat aku taruh handukku.

Aku rikuh juga ngobrol sama cowok masih pakai baju renang begini. Heleeep!!! Tapi Deny sepertinya mengerti dan mengulurkan handukku ke arahku. Cepat aku sambar handuk itu dan seketika menyesali kenapa aku bawa handuk kecil banget!

"Trus lo mau ngapain ke sini?" tanyaku agak ketus. Aku benar-benar tidak suka kecolongan seperti ini. Dan aku benar-benar dibuat malu karena ketahuan berbohong tadi. Apa dia mau aku cerita Onis ada di mana? Sejujurnya aku memang tidak tahu ada di hotel mana Onis saat ini, jadi rasanya percuma dia datang padaku untuk mencari tahu. Tapi mungkin dia beranggapan lain.

"Gue udah tau Anis di mana, Fan. Gue udah tau dia sama cowok bule di sini. Gue mau selesaikan aja urusan gue sama Anis, tapi nanti kalau udah pulang dari Bandung. Gue udah capek ngadepin kelakuannya dia. Gue tau kelakuannya di kantor selama ini, gue nggak bego, Fan. Kalau gue diem selama ini, itu karena gue gak mau kehilangan dia. Gue masih sayang banget sama dia. Tapi dia kayanya udah gak peduli lagi sama gue. Mungkin buat dia bantuan dari gue kurang, makanya dia harus cari dengan cara kayak gitu. Kalau emang Anis mau udahan sama gue, kayaknya gue emang nggak bisa maksain..." jelasnya padaku.

"Ya, bagus dong kalo gitu...Soalnya Onis bilang, lo tuh suka maksain mau lo ke dia, karena lo udah banyak bantu keluarganya. Intinya lo itu egois dan posesif, kata Onis lho..." kataku berani.

Deni tampak menghela nafas mendengar ucapan pedasku barusan. Dia tidak menampik dan tidak juga mengiyakan. Dia cuma mengangguk-anggukkan kepalanya sesaat.

"Mungkin emang gue gitu ya, Fan. Setelah beberapa hari ini gue mulai sadar kalau Anis itu udah bener-bener gak ada rasa lagi sama gue. Tiap hari gue berantem melulu sama dia. Sekarang ini gue cuma kasihan sama bokap dan adeknya. Tapi sebelum dia berangkat ke Bandung kemaren gue berantem besar sama dia, dan dia bilang kalau dia udah gak butuh bantuan dari gue lagi. Dia bilang dia sanggup biayain keluarganya dan nyekolahin Dion, adeknya. Gini-gini, harga diri gue terhina juga Fan denger ucapannya itu. Ya udah. Kalau emang harus begini, gue gak bisa ngapa-ngapain lagi," katanya panjang.

"Trus...? Lo ngapain di sini?" tanyaku bingung.

"Gue ada janji sama temen gue tadi. Baru kenal sih tadi di Dago. Katanya dia nginep di sini juga..." katanya.

"Oooh..." aku manggut-manggut. Kirain mau cari ribut lo, kataku dalam hati dengan lega.

"Hai, Den..." sapa sebuah suara yang sangat kukenal dari balik punggung Deni.

"Oh, hai...Fan, kenalin nih, temen baru yang gue ceritain tadi," kata Deni memperkenalkan aku dengan ‘teman barunya' itu.

Dian? Dian temen barunya Deni? Oalaah...kenapa nyangkutnya sama dia siiih? Aku masih duduk di tempatku tidak bereaksi. Aku masih takjub dengan kenyataan kalau Deni mampir ke hotel ini karena ingin bertemu dengan Dian, Singa kantor itu. Duh, Den...masa hampir lepas dari mulut macan, sekarang kamu malah mau masuk mulut singa sih, batinku dalam hati.

"Lho? Udah pada kenal, ya?" tanya Deni bingung melihat aku dan Dian saling menatap lama.

"Kamu udah kenal sama resepsionis kantor aku ini, Den?" tanya Dian dengan menekankan kata ‘resepsionis' dalam ucapannya itu.

"Oh, udah...Lho, jadi kamu juga kerja di Misako?" tanya Deni seperti orang tolol.

"Iya. Aku belum sempat cerita ya tadi kalau aku ke sini sama rombongan kantor. Aku atasannya dia..." kata Dian sambil menunjukku dengan hidungnya.

Congkak! Kataku mangkel dalam hati.

Deni manggut-manggut mendengar penjelasan Dian. Aku segera berbenah bersiap pergi dari hadapan mereka. Aku malas meladeni kelakuan tengilnya si Dian malam ini. Moodku sudah cukup hancur sejak siang tadi di Warung Lela. Kejadian ini sudah benar-benar merenggut kebahagiaanku untuk bisa kembali ke kota yang sangat aku sayangi ini. Brengsek!

"Gue ke kamar ya..." kataku entah pada siapa sambil berlalu dari hadapan mereka.

Baru lima langkah aku menjauh aku dengar Dian mengatakan sesuatu kepada Deni.

"Kok bisa kenal sama cewek kayak gitu, Den?"

"Kenapa emangnya Fani? Dia baik kok. Aku udah lama kenal sama dia..." masih kudengar suara Deni menjawab.

Langkahku terhenti mendengar perkataan Dian. Cewek kayak gitu? Cewek kayak gitu itu apa maksudnya? Aku berbalik dan berjalan kembali ke arah mereka berdua.

"Maksud lo apa?" tanyaku pada Dian dengan emosi.

Rasanya memang kepergianku ke Bandung ini akan menjadi sebuah cerita menyebalkan. Jauh dari yang kuharapkan. Udah tanggung, kataku dalam hati. Kalau mau ribut, ribut sekalian di sini.

"Lho? Denger ya? Gak maksud apa-apa sih, cuma heran aja, lo sama temen lo itu cepet banget ya dapet cowok di mana-mana. Hebat!" katanya sinis padaku.

Oh, you're so...so...Uugh, untuk sesaat aku kehilangan kata-kata karena begitu marah mendengar ucapannya. Tapi otakku bekerja cepat. Sinisme harus dilawan dengan ketenangan dan kekejaman yang dingin, kataku dalam hati. Aku tidak mau terpancing untuk ribut seperti orang tidak bersekolah. Cuih, jangan ngarep lo, umpatku padanya dalam hati.

Aku menyeringai penuh arti padanya. Deni masih berdiri di antara kami dengan bingung.

"Gue juga heran, sekalinya lo dapet kenalan, kok malah dapetnya pacarnya Onis ya? Dunia emang sempit atau pilihan lo yang terbatas?" kataku pedas dan berbalik pergi.

Aku tidak melihat lagi ke arah mereka. Aku melangkah tenang walaupun dalam hati aku khawatir juga kalau dia akan menyusulku dan mendorongku ke kolam renang dari arah belakang. Ternyata tidak ada reaksi apa-apa dari Dian. Kurasa dia tengah shock mendengar ucapanku barusan. Syukurin lo! Aku tertawa dalam hati sambil mencari-cari Andi karena tidak sabar untuk menceritakan ini padanya. Dia pasti bakal pingsan histeris mendengar kejadian ini. Hahaa....

_____________________________________________________________________________________

BERSAMBUNG

0 comments:

Poskan Komentar