Selasa, 13 Juli 2010

Resep Si Onis : Epilog Absurd (Part 30)

  No comments    
categories: 
EPILOG ABSURD

Aku mendengar suara klakson berulangkali dari luar kamarku. Cepat-cepat aku berlari menuju balkon dan melongokkan wajahku ke bawah. Sebuah limousine barwarna hitam dengan rooftop terbuka berhenti di depan rumahku. Kulihat Tanabe san tengah menyembulkan kepalanya dari rooftop limousine hitam itu. Sebuah karangan bunga mawar merah teracung tinggi di tangan kanannya. Dia tersenyum padaku dengan penuh kebahagiaan.

Aku tak bisa menahan senyum mengembang di wajahku. Rasanya aku adalah perempuan paling bahagia di dunia. Dia datang ke rumahku membuktikan cintanya padaku. Kudengar dia memanggilku dari bawah.

"Fani! Faniii!"

Lama-lama suara beratnya berubah menjadi suara tinggi Mamiku.

"Faniiii! Bangun doong! Udah siang begini! Makanya cepet dong cari kerja lagi. Jangan nganggur melulu. Mami senewen deh bangunin kamu tiap hari kayak gini," kudengar Mamiku ngomel membangunkan aku dari mimpi indahku.

Semprul! Mimpi itu datang lagi. Sudah empat bulan ini mimpi ala film Pretty Woman itu menghampiri tidurku. Sungguh norak. Berarti sudah empat bulan aku menganggur dan tidur sampai siang seperti ini.

"Iyaaa!" teriakku malas dari dalam kamarku.

Tiin! Tiin! Kudengar suara klakson mobil dari luar. Lho? Aku masih mimpi atau sudah bangun sih? Mendadak aku kehilangan orientasi sesaat. Aku berlari ke arah balkon dan melongokkan wajahku ke bawah. Sebuah sedan hitam mirip limousine berhenti di depan rumahku. Aku mengusap-usap mataku dengan setengah tidak percaya. Ternyata itu sebuah taksi berargo mahal yang dulu selalu dinaiki Onis. Aku nyengir menyadari kebodohanku. Tentu saja tidak mungkin ada limousine datang ke rumahku. Dan lebih tidak mungkin lagi aku berharap Tanabe san akan muncul dari dalam limousine itu dengan seikat mawar merah ala Richard Gere dalam film Pretty Woman itu. Hahaha...anak bodoh, kutukku pada diri sendiri.

Aku kembali ke dalam kamar sambil tertawa sendiri. Aku tidak peduli siapa yang datang. Paling-paling tamu untuk Mami, pikirku.

"Faniii! Ada tamu niiih!" Mami memanggilku dengan berteriak.

Siapa? Jadi taksi tadi membawa tamu untukku? Aku segera berlari ke bawah masih mengenakan dasterku.

Onis! Onis dengan perutnya yang mulai membesar. Aku tertawa lebar melihatnya. Aku kangen sekali padanya. Dan aku bahagia sekali melihat perut gendutnya itu.

Oh Tuhan, dia tidak menggugurkan kandungannya! Aku sangat bahagia. Aku menghambur ke arahnya untuk memeluknya.

"Oniiis! Gue kangen bangeeet!" kataku sambil berlinangan air mata. Norak banget, deh. Biarin ah, pikirku.

Onis tertawa ngakak melihat reaksiku. Dia membalas pelukanku dengan hangat. Kuajak dia untuk duduk di taman belakang rumahku. Aku ingin mendengar ceritanya. Semuanya. Tentang Misako. Tentang Tommy. Tentang kehamilannya. Tentang Tanabe san kalau bisa. Huhuhu...ngarep!

Panjang dan lama Onis bercerita. Intinya dia memberanikan diri untuk meneruskan kehamilannya. Tommy sudah bisa dipastikan menghilang begitu dia memutuskan untuk tidak menggugurkan janinnya itu. Ayah Onis tidak bereaksi banyak mendapai putrinya hamil tanpa suami. Dia sudah terlalu pikun untuk itu. Dan Dion, adiknya, ternyata bisa mengerti kondisi Onis dan dengan tahu diri mencari kerja sambilan untuk membiayai kuliahnya. Onis dan keluarganya pindah rumah ke rumah yang lebih kecil di pinggiran Depok. Menjauhi segala omongan tetangga yang malas didengarnya. Dan sekarang Onis membuka sebuah toko pakaian anak-anak di dekat rumahnya dari modal tabungannya selama ini. Aku tidak mau bertanya-tanya dari mana hasil tabungannya itu. Aku cukup mengerti akan itu.

Aku menatap Onis dengan kagum. Dia sudah berubah menjadi wanita yang sangat dewasa hanya dalam kurun waktu yang sangat singkat. Empat bulan! Kurasa hormon keibuannya membantunya tumbuh dewasa dalam berpikir sekarang. Onis tidak meledak-ledak seperti aku mengenalnya dulu. Dia berbicara dengan tenang sambil sesekali mengelus-elus perutnya yang membuncit itu. Dia masih tetap cantik dan modis seperti biasa.

"Deni gimana?" tanyaku. Mau tidak mau aku jadi teringat dengannya.

"Aku nggak tau, Fan. Kabar terakhir yang aku dengar dia pacaran sama Dian," jawab Onis tidak berminat membahasnya.

"Dian? Jadi mereka akhirnya pacaran? Hahaha...Apa kabar tuh si perempuan sinting itu?" tanyaku pada Onis.

"Dia dapat peringatan keras dari Tanabe san, Fan. Gara-gara ketauan nyebar fitnah ke lo. Trus dia disuruh minta maaf juga ke Fujiyama san. Gak lama abis kejadian itu dia resign. Malu kali!" kata Onis sambil tertawa geli.

Wahahaa...aku tidak bisa memungkiri kalau saat ini aku menjadi manusia jahat yang tertawa di atas penderitaan orang lain. Tapi bukannya Dian sudah lebih dahulu tertawa menginjak-injak aku? Kurasa balasan setimpal sudah didapatnya.

"Trus, gimana ceritanya waktu lo berhenti kerja, Nis?" tanyaku penasaran.

"Semua orang udah mulai kasak-kusuk dari sebulan yang lalu waktu mereka nyadar gue hamil. Trus Tanabe san manggil gue," jelas Onis dan berhenti sejenak.

Aku menunggu kelanjutan cerita Onis. Tapi tampaknya Onis sengaja menggantung kalimatnya untuk melihat reaksiku mendengar nama Tanabe disebut-sebutnya. Aku membenarkan posisi dudukku dengan gelisah. Onis tertawa melihatku.

"Hahaha...lo masih kepikiran dia, ya?' tanya Onis dengan tatapan penuh selidik.

"Ah, nggak juga sih. Cuma pengen tau aja, gimana reaksinya waktu tau kalo yang hamil itu lo bukan gue," kataku membela diri, berusaha terlihat cool. Padahal dalam hati aku hampir mampus penasaran ingin mendengar kabar tentang dia, si Richard Gere dalam mimpiku itu.

"Dia udah balik ke Jepang, Fan. Tapi dia titip pesan buat lo sebelum dia pergi. Waktu itu dia tanya-tanya dengan detail tentang kejadian e-mail nyasar itu. Gue kasih tau semuanya sama dia. Setelah gue cerita semuanya itu dia kasih peringatan keras ke Dian. Intinya dia nyesel setengah mati karena nggak bisa belain lo waktu itu. Gue juga minta maaf sama dia karena udah bikin kacau hubungan lo sama dia. Tapi dia dengan penuh pengertian bilang lo itu mau menyelamatkan gue. Gue udah tau itu, Fan. Gue tau lo adalah teman terbaik yang pernah gue punya seumur hidup gue," kata Onis memandangku dalam.

Aku masih diam mendengarkan. Aku menunggu pesan apa yang dikatakan Tanabe pada Onis?

"Dia bilang dia mau balik ke Indonesia lagi untuk ketemu sama lo. Bukan sebagai atasan. Ya iyalaaah....Katanya dia mau minta maaf dan memperbaiki semuanya. Itu kalau lo bersedia," kata Onis.

"Oooh...,jadi dia udah di Jepang ya sekarang?" tanyaku kecewa.

Onis tertawa lagi melihatku.

"Minggu depan dia ada di sini. Mau ketemu nggak sama dia?" tanya Onis padaku.

"Ngapain? Kalau dia mau ketemu sama gue, suruh aja dia dateng ke rumah gue! Kenapa gue yang mesti dateng ke dia? Gue kan bukan karyawannya lagi!" jawabku sewot.

"Ya, iyalaah, noon..." kata Onis. "Lo tunggu aja. Dia punya rencana besar buat lo kayaknya," kata Onis penuh rahasia.

"Rencana besar apaan? Jangan ngomong kalo dia mau ngelamar gue ya!" kataku panik.

"Huahahaa...GR banget sih lo, Fan?" Onis tidak bisa menahan tawanya.

Sompret! Aku jadi malu sendiri dengan ucapanku barusan. Tapi sumpah, memang itu yang terbersit di benakku waktu Onis bilang tentang ‘rencana besar' itu tadi.

"Jadi? Apaan dong?" tanyaku lagi dengan bloon.

"Dia udah keluar dari Misako, Fan. Sekarang sedang ngurus ijin berdiri perusahaan punya dia di Jakarta. OK! Segitu aja yang gue tau, tapi gue rasa itu lebih dari cukup buat lo untuk bisa membayangkan rencana besar seperti apa yang dia maksud," kata Onis sambil mengerling padaku.

Aku terdiam beberapa saat mencerna ucapan Onis barusan. Olalaa...dia akan ada di sini lagi untuk selamanya? Dan ada rencana besar untukku, kata Onis? Rencana besar yang belum bisa kubayangkan, tapi sudah terbentuk dalam khayalku dengan indahnya.. Kubiarkan pikiranku melayang sesukanya. Dia akan datang untukku, kataku dengan perasaan sumringah yang luar biasa saat ini. Atau aku hanya merasa GR sendiri? Sebodo! Biarkan aku dengan cengiranku yang tak mau pergi ini. Mohon jangan ganggu aku.

Ini duniaku

Tak perlu kau lihat

Kalau kau tak mau

Apalagi kau nilai

Karena aku tak butuh

Aku hanya ingin hidup damai

Bahagia secara hatiku

Aku tak butuh teman

Jika teman adalah hakimku

Aku tak butuh cinta

Jika cinta adalah belengguku

Aku ingin bahagia dengan caraku

Kau carilah bahagiamu

Aku tak akan mengganggumu


_____________________________________________________________________________________

TAMAT

0 comments:

Poskan Komentar