Senin, 11 Oktober 2010

Biar Indie Bukan Berarti Asalan, Kan?

  No comments    
categories: 
Wow! Baru baca sebuah kabar gembira dan bikin 'iri' lagi. Dua teman blogger minggu lalu sudah menerbitkan bukunya pada sebuah event bertajuk “99 Writers in 9 Days”. Andi Gunawan dengan bukunya yang berjudul 'Kejutan' dan Vira Clasic dengan bukunya 'Lajang Jalang'. Walau terbaca sedikit rasa minder pada salah satu artikel Vira di Kompasiana karena dia menerbitkan buku melalui jalur indie, tak pelak saya harus acungkan jempol buat mereka.

Sebenarnya indie atau tidak, itu hanya masalah jalur saja. Sama seperti kita mengendarai mobil, mau lewat jalur cepat atau jalur lambat, itu pilihan kita. Pilihan yang berdasarkan tujuan dan belokan yang akan kita ambil di depan.

Sebuah pandangan sinis yang mengatakan jaman sekarang gampang sekali menerbitkan buku memang tidak bisa kita biarkan saja seperti angin lalu juga. Cuma sekarang kategori gampang itu dilihat dari sudut mana dulu. Gampang karena tidak melewati proses seleksi dari pihak penerbit, tentu saja. Kalau ada satu langkah sulit yang bisa dihindari untuk mencapai tujuan, kenapa tidak dilakukan? Semua berpulang pada prinsip ekonomi, melakukan sesedikit mungkin usaha untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Hahahaa...Saya suka sekali prinsip itu. Wkwkwkwk....Tapi coba bayangkan kerja keras yang juga harus dilalui oleh para penulis yang menerbitkan bukunya secara indie. Mulai dari memilah-milah naskah mana yang layak untuk diterbitkan saja dulu. Menilai tulisan sendiri bukanlah suatu hal yang mudah. Sebab kejujuran pada diri sendiri sering dipertanyakan. APakah kita manusia narsis yang merasa karya kita sudah pantas dan layak, tanpa mau melihat keluar? Hahaha, bagi saya itu saja sudah merupakan sebuah perang bathin yang tak berkesudahan. Jujur pada diri sendiri itu sulit.

Lantas mengedit naskah sendiri. Itu kerepotan lain yang harus dilalui ketika kita memutuskan untuk menerbitkan buku secara mandiri. Ya Tuhan, pekerjaan itu sungguh menyebalkan, walaupun harus saya aku kalau editing adalah satu langkah penting yang tidak bisa dihapus dalam dunia tulis-menulis. Sering sekali kita menemukan kesalahan fatal yang pada awalnya tidak kita sadari. Belum lagi, ketika kita menyadari ternyata tulisan ini masih belum layak setelah dibaca beberapa kali. Belum layak menurut ukuran siapa? Ya tentu saja menurut ukuran kita sendiri. Bukankah kita berperan sebagai editor untuk tulisan kita? Kembali lagi ke langkah awal saat kita memilah-milah naskah, ukuran kelayakan itu sangat bergantung pada kejujuran kita dalam menilai diri sendiri dan tentu saja tak bisa lepas juga dari ilmu kita dalam dunia tulis-menulis. Sekali lagi, proses editing itu sungguh melelahkan. Salut untuk teman-teman yang berprofesi sebagai editor. Bukan gampang juga mengedit naskah yang bukan tulisan kita sendiri bukan? Bottomline, editing itu juga kerja keras yang harus dihadapi.

Selesai proses editing, bukan berarti selesai perjuangan sampai di sana. Setelah naskah terkirim, ternyata hey ternyata, si percetakan cuma mau terima beres termasuk urusan cover design. Oalaaah, apa lagi ini? Beruntung bagi mereka yang memiliki ketrampilan lebih di dunia fotografi atau design grafis. Tapi kalau tidak? Berharap memiliki teman yang berbaik hati bisa membantu bisa jadi satu pilihan. Seperti Andi Gunawan yang memakai cover hasil jepretan si Pungky, sahabatnya, di bukunya itu. Vira Clasic mungkin lebih beruntung dan lebih merasa percaya diri kalau melakukan semuanya sendiri, maka dia pun membuat sendiri cover bukunya dengan ilmu yang dimilikinya. Apapun itu, tetap urusan cover design menjadi kerja tambahan untuk penulis yang ingin menerbitkan bukunya secara indie.

Buku telah terbit? Jangan hore-hore dulu. Ingat, ini self published, tidak ada toko yang mau menjual kalau tidak kita sendiri yang datang menawarkan buku kita ke sana. Kalaupun ada toko buku yang bersedia menampung buku kita, rasanya percuma juga kalau tidak ada usaha marketing, minimal promosi dari mulut ke mulut atau via jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Untuk buku Vira dan Andi yang baru akan cetak kalau sudah ada permintaan alias print on demand, mungkin agak sedikit tenang. Mereka bisa cuap-cuap menjual bukunya melalui media apa saja, termasuk dari mulut ke mulut. Mengumpulkan pesanan sendiri lalu memesan langsung ke penerbit tersebut. Walau begitu, itu bukan perkara mudah.

Lantas kalau sudah begitu, masih bisa bilang menerbitkan buku itu mudah? Saya percaya kesuksesan tidak datang tanpa kerja keras. Menerbitkan buku baik secara indie ataupun melalui mainstream publisher, tetap ada kerja keras yang harus dilakukan tanpa putus asa. Masalah kualitas? Itu lain masalah. Saya tidak berani bicara sampai ke sana, karena saya bukan kritikus sastra.

Anyway, kesuksesan teman kadang bisa membuat kita iri. Saya suka dengan si iri itu. Karena dengan iri saya terpacu untuk berbuat lebih. Iri jangan lantas menjadi dengki sehingga kesinisan yang akan muncul seperti ucapan, "Jaman sekarang mudah banget bikin buku ... gak aneh itu ... di tiap daerah jg banyak .." Hohoho...Coba dialihkan energi sinis itu untuk berbuat yang lebih positif, seperti menghasilkan karya yang nyata seperti dua teman muda kita itu.

Selamat buat Andi Gunawan dan Vira Clasic atas diluncurkannya buku perdana kalian pada acara Indonesia Book Fair 2010 di Istora Senayan (8 Oktober 2010). Kalian adalah sedikit dari banyak anak muda Indonesia yang bicara lewat karya, sehingga segelintir yang hanya bisa berkoar jadi tak terdengar gaungnya.

0 comments:

Poskan Komentar