Kamis, 06 Januari 2011

Januari 50K (#1): Sahabat


“Pertemuan Dharma Wanita bulan ini di rumah Ratna, soalnya anaknya lagi UAS (ulangan umum ya?) jadi nggak bisa ngumpul di café biasa. Decky, lo bawa minuman dingin…minuman diiingin…’ya know what I mean *wink* and Sandra, lo bawa apa aja deh, asal jangan bawa anak lo! Hahaha…becanda, dear! Bring your ‘lil bad boy along, but don’t forget to bring the nanny as well. Donny, bawa apa kek, asal jangan bawa cewek! Hehehe, bawa snack sekalian ya, Don! OK? All set? Don’t be late! Saturday, 3 pm”
Decky menghembuskan nafasnya kesal. Mesti ya tu anak pake istilah ‘dharma wanita’ untuk pertemuan bulanan mereka itu? Nggak ada istilah yang lebih ‘kinky’ lagi apa? Like, ‘Pertemuan Orang Tua Murid SD Inpres Apa Gitu’ atau ‘Rapat Panitia Tujuhbelasan RW’? OK, pertemuan orang tua murid itu mungkin bisa langsung dicoret karena baru Ratna dan Sandra yang udah punya anak. Yang tiga lagi masih single and very happy sampai sekarang. Rapat panitia tujuhbelasan itu juga kayanya kalah ‘kinky’ sama ‘pertemuan dharma wanita’ karena pertemuan mereka ini diadakan setiap bulan, nggak cuma bulan Agustus aja. So? That means Decky harus, mau nggak mau, terima sebutan pertemuan bulanannya dengan sahabat-sahabatnya saat kuliah itu dengan ‘Pertemuan Dharma Wanita’.
Arrrgh! Kenapa gue bisa stuck sama cewek-cewek gila itu sih? Cewek gila plus satu cowok malang yang bernasib serupa dengan dirinya, Donny. Decky memasukkan kembali Blackberrynya ke dalam saku kemejanya. Sudahlah, ini masih tengah hari. Setengah hari lagi harus berkutat dengan kerjaannya di kantor. Nanti setelah pulang kerja, dia akan telepon Tasha, si pengirim SMS tadi, dan maki-maki tu anak sepuasnya.
Belum sampai pantat Decky di kursi abu-abunya, BB-nya kembali bunyi. Kali ini telepon masuk. Dari Donny, sahabatnya sejak jaman kuliah.
“Yellow!”
“Dateng nggak lo? Kalo nggak dateng, gue juga males, ah!”
“Pret! Nelpon orang gak pake manner lo! Salamlekum dulu kek, halo kek! Dasar udik!”
“Hahaha, kagak pake salam-salaman dah sama lo! Udah kayak pak ustad aja lo! Dateng nggak?”
“Dateng kalo lo dateng. Sama aja kan?”
“Ya, udah. Bareng ya!”
“Cuih! Lo ngomong barusan kayak cewek banget lo! Bareng ya, aku takut kalo berangkat sendirian nih! Ntar kalo aku dicolek om-om gimana?” Decky ngakak sendiri setelah ngomong dengan logat suara perempuan jadi-jadiannya itu.
“Sompret! Bukan apa-apa, bro! Lo tau dong tu cewek-cewek ganas banget. Gue takut diperkosa! Huahaha! Mana yang dua udah jadi ibu-ibu pula! Hadooh! Ide siapa sih neh yang kudu bikin pertemuan tiap bulan segala? Udah kayak arisan RT nyokap gue aja!”
“Santai aja napa sih? Dua bulan lalu juga gue dateng sendiri. Lo nggak bisa dateng. Inget kan lo? Kalo gue mau, harusnya sekarang giliran lo yang dateng sendiri. Mampus!” Decky geli sendiri membayangkan bagaimana wajah sahabatnya itu setelah medengar ucapannya barusan.
“Ah, gila! Nggak, nggak deh! Kalo gitu gue confirm deh nggak dateng! No thank’s!”
“Hahaha, santai, mameeen! Gue dateng kok kalo nggak ada acara lain. Lagian kalo nggak ada gue kan ada lakinya Ratna sama Sandra. Mereka kan cowok juga. Udah terbukti malah! Udah bisa bikin anak gitu!”
“Arrrgh! Tambah gak pengen dateng deh gue! Males banget ngomong sama bapak-bapak. Yang diomongin anak, sekolah, ekonomi negara yang ujung-ujungnya berat buat hidup berkeluarga, bla, bla, bla dan bla!”
Decky tambah ngakak mendengar ocehan Donny di seberang telepon sana. Temannya ini memang alergi banget sama yang namanya pembicaraan seputar keluarga dan anak. Well, actually yang bikin dia alergi itu adalah pernikahan dan segala yang mengikuti setelahnya. Padahal usia mereka semua hampir seumur. Akhir duapuluhan. Suami Ratna dan Sandra juga mungkin hanya setahun atau dua tahun di atas mereka. Tidak ada gap kalau dilihat dari angka. Tapi jelas ada jurang menganga kalau dilihat dari status dan kelakuan.
Decky akhirnya bisa mengakhiri pembicaraan tidak terarah itu dengan Donny. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia kembali menatap layar komputer kerjanya. Cahaya matahari sore dari arah barat, di samping kirinya, masuk melalui jendela. Silau dan sedikit menyengat terasa di kulit lengannya. Benar-benar jam malas dan hampir mustahil untuk bekerja. Tapi mau apa, dia cuma karyawan. Melakukan segalanya demi uang. Nnngg, somehow kok itu jadi kedengeran kayak kerjaan yang gimana gitu, ya?
Asisten pemasaran di sebuah perusahaan trading di pusat kota, Sudirman tepatnya, bagi Decky tidak bisa disebut achievement of a lifetime. Mengingat betapa seringnya ia harus tertnduk-tunduk dengan kemauan dan perintah atasannya yang berkewarganegaraan Jepang itu. God, says who kita udah bebas dari penjajahan? Decky salah satu terjajah itu. Kalau nggak ingat masih ada Mami dan Siska, adiknya, di rumah yang butuh nafkah darinya, rasanya Decky lebih memilih untuk mengejar passion-nya yang tidak sudah lama ditinggalkannya itu.
Entah kapan terakhir kalinya ia bersentuhan dengan yang satu itu. Satu-satunya hal yang bisa ia nikmati dengan hati dan rasa. Tidak bisa dihitung dengan uang, walaupun Decky cukup yakin, hanya masalah waktu saja maka ‘itu’ bisa menjadi sumber pendapatan yang jauh mencukupi untuknya dan keluarganya.
Terdampar di perusahaan asing ini juga bisa dibilang sebagai sebuah keabsurd-an dalam hidupnya. Bagaimana ceritanya seorang lulusan arsitektur bisa diterima kerja sebagai staff pemasaran logam? Decky masih ingat sekali bagaimana hal itu bisa terjadi.
Suatu pagi yang cerah…(why do we always starts story with these lame words?), Decky mendatangi kantor itu setelah menerima panggilan interview kemarin harinya. Datang dengan kemeja lengan panjang satu-satunya dan dasi milik almarhum Papi, Decky sama sekali had no clue perusahaan apa yang memanggilnya. Enam bulan menjadi pengangguran memang akhirnya membuat idealismenya pupus dan larut perlahan seperti gula dalam teh poci. Pekerjaan apa aja deh, asal kerja. Begitulah awalnya ia akhirnya memasukkan lamarannya ke semua lowongan kerja yang ditemukannya di internet. Selama yang diminta lulusan S1 dan bisa berbahasa asing lebih dari dua bahasa langsung bisa dipastikan akan menerima e-mail darinya. Pliiis, hire me! Kalau saja dia bisa mencantumkan itu di bagian akhir surat lamarannya.
Decky sempat shock juga setelah berada di dalam ruangan bersama sang interviewer yang berkebangsaan Jepang. Bukan masalah dia orang Jepang, karena proudly speaking, Decky lumayan fasih berbahasa Jepang. Dia sempat mengikuti kursus singkat selama tiga bulan di Tokyo dulu. Jaman-jamannya masih awal kuliah dulu dan Papi masih ada, dia pernah tinggal di Tokyo. Dia berangkat dengan Papi ke sana, lalu dititipkan di rumah salah satu kerabat Papi yang sedang menyusun thesis S3-nya di sebuah universitas di Tokyo.
Back to orang Jepang tadi, bukan dia yang bikin Decky shock. Tapi pertanyaannya seputar logam dan eksport import yang sukses bikin dia melongo bodoh. Yakin sekali kalau dia tidak akan diterima, Decky malas-malasan menjawab pertanyaan si Jepang itu. Tapi orang Jepang tua yang mewawancarainya itu kelihatannya justru lebih tertarik untuk bertanya-tanya dalam bahasa Jepang setelah mengetahui kalau Decky cukup fasih berkomunikasi dengan bahasa Jepang. Akhirnya pertanyaan pun berbelok menjadi pertanyaan-pertanyaan yang kayaknya ‘nggak nyambung banget sih’ dengan lowongan yang tersedia. Bapak Jepang tua itu, yang akhirnya Decky bisa tahu namanya setelah selesai wawancara, Shimura san, tampak sangat terkesan dengan kemampuan bahasa Jepang Decky.
Dan voila, begitulah kisahnya bagaimana akhirnya Decky, sang arsitektur, diterima bekerja sebagai staff pemasaran bagian logam di perusahaan Jepang tadi. Mau ditolak…ya nggak mungkinlaaah! Tapi mau diterima juga, sempat membuat Decky kebat-kebit. Bisa nggak ya gue? Ah tapi itu derita lo deh, kenapa juga nerima gue? Decky cuek bebek lanjut tanda tangan kontrak awal dengan perusahaan itu.
So, here he is now, di meja kerjanya, jam tiga sore, ditumpahi sinar matahari yang sumpah nggak enak banget rasanya di kulit tangannya dan sibuk mengetik segala angka dalam tabel excel sambil sibuk nyumpah-nyumpahin si Dadang, OB kantor, karena belum–belum juga mengantar kopi pesanannya ke meja.
Decky jadi mikir apa semua orang di Jakarta ini memang bekerja demi uang? Adakah seseorang di luar sana, dalam gedung-gedung tinggi di sekitar jalanan macet ini yang melakukan pekerjaannya dengan tersenyum sumringah dan tidak merasa terpaksa melakukannya? Most of all, adakah orang-orang di Jakarta ini yang bekerja dengan hati yang bahagia. Bangun pagi setiap hari dengan semangat menyambut hari. Berangkat ke kantor sambil mengayun-ayunkan tas kerjanya dan berjalan sambil melompat-lompat seperti anak kecil sedang bermain di padang rumput? OK, that is so weird when you picture that on your mind. Laki-laki dengan jas dan dasi, mengayun-ayunkan tas hitam kecil berisi laptop dan berlari-larian menuju kantornya seolah-olah dia sedang shooting film The Remake Of Little House On The Prairie. But seriously, ada nggak sih?
Huff! Decky menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dengan kesal. Matanya pedas karena menatap layar komputer tanpa berkedip. Bukan karena dia begitu berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Tapi karena dia sibuk berpikir, mau sampai kapan kerja kayak gini? Kapan dia bisa merasa seperti dulu lagi? Bahagia melakukan sesuatu yang sangat disukainya. Dan bahagia yang lebih lengkap lagi karena seseorang yang sangat dicintainya juga ikut merasakan bahagianya itu.
Ah, ngelantur, deh! Decky cepat-cepat berdiri dan berjalan keluar dari kubikel kecilnya itu. Toilet lantai 15 tujuannya. Berarti harus turun tangga dua lantai. Cuma di toilet itu yang bisa merokok bebas. Sebenarnya dia bisa saja pergi ke tangga darurat di belakang kantornya, tapi di sana panas. Atau ke rooftop. Umm, no…di sana lebih garang lagi. Mungkin nanti, kalau matahari sudah hilang baru dia akan ke rooftop gedung untuk merokok dan memperhatikan jalanan macet dari atas.
“Pak Decky! Ini kopinya jadi nggak?” Suara Dadang, si OB, terdengar memanggilnya dari arah pantry.
“Ah, lama lo! Taro di meja gue aja, deh! And please, jangan panggil gue bapak! Berapa kali sih gue bilang?” sahut Decky dengan kesal.
“Maap, pak..eh, mas..eh…” Dadang kalang-kabut gugup menjawab.
“Nah, iya, mas aja maksud gue!” kata Decky dengan nada lebih enak sekarang.
Kasihan juga si Dadang, nggak tahu apa-apa, tapi paling sering kena efek dari stress orang-orang di kantor. Sambil berjalan menuruni tangga Decky jadi mikirin Dadang. Ah ya, belum tahu ya, sejak meninggalkan ‘itu’ Decky memang berubah jadi orang yang paling gampang ke-distract? Tadi lagi mikirin apa, semenit kemudian dia bisa lupa dan mulai mikirin hal lain yang lewat begitu aja di kepalanya. Itu juga dulu waktu masih kecil Mami masukin dia ke kursus musik dan melukis. Biar bisa latihan konsentrasi, kata Mami dulu ke Papi.
Decky sendiri juga heran. Kenapa sekarang pikirannya sering banget loncat-loncat. Lagi mikirin kerjaan, tiba-tiba sang bos lewat. Langsung aja gitu dia mikirin minum bir dingin gara-gara inget kalau si bos sering banget balik makan siang ke akntor dengan muka merah abis minum-minum bir. Terus tiba-tiba Danis, sekretaris si bos lewat sambil nowel pipinya dengan genit. Langsung aja gitu Decky kepikiran sama Maria Ozawa. Hehehe…
Padahal dulu Decky adalah orang yang paling fokus dan penuh konsentrasi. Apalagi kalau dia sedang melakukan ‘itu’ (kapan mau dikuak sih ‘itu’ ini?). Nggak ada yang bisa bikin dia kehilangan konsentrasi. Makanya teman-teman dan keluarganya dulu lebih milih nggak mau ngajak ngobrol Decky kalau dia sedang sibuk dengan ‘itu’nya (‘enuff already with ‘itu’!).
Sampai juga di toilet lantai 15. Decky merogoh-rogoh kantong celananya. Mencari-cari rokok dan korek api gas merk Tokai yang biasanya ada di sana. Bungkus rokoknya ada di saku celana kirinya. Korek api gasnya…ketinggalan! Dan lagi nggak ada siapa-siapa dalam toilet itu selain dirinya.
“Tokai!”

*BERSAMBUNG*
*Image from kabukishojo.com*

0 comments:

Poskan Komentar