Kamis, 06 Januari 2011

Januari 50K (#3): Antara Ridho Rhoma dan Eminem


Kenapa sih buat cewek lajang umur 27 seperti dirinya masalah baju bisa jadi issue yang pelik sekali, ngalah-ngalahin issue global warming? Mau pake yang sporty takut dikirain nggak nyadar umur. Mau pake yang agak rapi, takut dipanggil ibu atau tante. Mau pake rok mini, rasanya nggak pas kalau acaranya sore-sore. Mau pake gaun…helloo, mau kondangan, jeng?
Sebenarnya bukan masalah pakaiannya yang bikin ribet Tasha siang ini. Tapi lebih ke masalah dugaan orang-orang terhadapnya. Tasha pernah pergi ke minimarket pakai kemeja gombrong, celana jeans dan sandal jepit. Eh, kok mbak pramuniaganya malah nawarin susu bayi ke dia? Dikirain ibu-ibu menyusui? Beteee! Trus pernah lagi jalan nemenin Ratna jemput anaknya les KUMON waktu dia bolos kerja dulu. Dia pake blouse putih chiffon dengan sedikit renda di lengan dan leher. Malah dikasih brosur KUMON bahasa inggris sama mbak-mbaknya.
“Ini program baru kita, bu. KUMON sekarang nggak cuma matematika aja, tapi ada bahasa inggrisnya juga,” kata si mbak-mbak kepada Tasha.
Ngomong ke Tasha lho, bukan ke Ratna. Karena si mbak-mbak emang udah kenal sama Ratna. Emangnya tampangnya setua itu ya? Ehm, maksudnya udah pantes ya dia punya anak? Stupid question! Bukannya Ratna yang sedang duduk nungguin anaknya di sebelahnya itu seumur sama dia? Tapi tetap Tasha gondok aja kalau ada yang mengira dia sudah menikah apalagi punya anak. Atas dasar apa?
Memangnya status menikah atau belum menikah itu ditentukan oleh wajah? Atau umur? Ih, sebel banget! Tapi biar sebel-sebel begitu, Tasha tetap belum ada keinginan untuk menikah sampai sekarang. Dia masih ingat tekad bajanya setelah putus dari Rakha dulu. Nggak akan nikah sampai dia menemukan laki-laki yang benar-benar sreg di hatinya. Lho, bukannya semua orang yang menikah juga begitu?
Tasha tersenyum sinis di depan cermin di kamarnya. Nggak semua orang nikah dengan seseorang yang emang sreg di hatinya. Ada yang karena terpaksa. Ada yang karena kasihan. Ada yang karena dijodohin. Dan yang terakhir itu beneran nggak banget, deh! Hare gene dijodohin?
Jadi inget sama Rakha lagi kan, tuh! Tasha sempat tahu kabarnya Rakha setelah lulus kuliah. Konon kabarnya dia berangkat ke Amerika dengan si Nisa itu setelah menikah secara sederhana di rumahnya. Cuma keluarga dekat aja yang diundang. Rencananya resepsi besar-besaran baru akan mereka gelar setelah Rakha selesai dengan studi dua tahunnya di sana. Jadi menikah itu lebih ke supaya Nisa bisa ikut dengan Rakha ke Amerika sebagai istri. Cih! Somehow rasanya kok jadi berbelok ya niatan nikah mereka dalam pikiran Tasha? Kalau Rakha nggak harus ke Amerika berarti belum tentu dong mereka menikah buru-buru begitu. Ya, nggak? Pasti mereka akan merencanakan dengan matang segala sesuatunya termasuk perayaan besar-besaran. Ini Rakha lho, anaknya CEO wilayah Asia sebuah perusahaaan minyak punya Amerika itu. Sampai si mamanya Rakha mau banget menahan diri untuk nggak langsung menggelar pesta besar-besaran untuk putra satu-satunya itu rasanya aneh aja buat Tasha. Buat apa menikah kalau cuma ingin mengejar halal hidup serumah di Amerika sana? Nggak bisa ya si Nisa itu nunggu aja sampe Rakha lulus kuliah trus baru nikah? Hahaa, sekarang jadi sewot lagi deh kalau ingat itu.
Brrr. Tasha menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menghapus ingatannya tentang Rakha dan Nisa. Dan yang paling ingin dihilangkannya saat ini juga adalah bayangannya di depan cermin dengan celana jeans ketat dan T-shirt warna baby blue bertuliskan Girly Girl yang ditulis dengan tinta sablon glitter. So ABG! Tinggal nambahin bando atau jepit rambut warna pink di rambut sepundaknya itu, lengkaplah sudah.
Cepat-cepat Tasha membuka T-shirt biru muda itu. Kembali ke lemari pakaiannya yang luas menutupi satu sisi dinding kamar di apartemennya itu. Pintu geser lemarinya itu sudah puluhan kali dibuka dan ditutup. Sekarang di tangan Tasha sudah ada kemeja ketat warna ungu muda dengan motif kotak-kotak kecil. Tangan baju sepanjang siku dengan aksen kancing kayu yang manis. Ah, pake ini aja kali, ya? Tapi ungu?
Ini lagi yang bikin ribet. Kenapa justru warna kesukaannya itu identik sama yang namanya warna janda? Padahal ungu itu cantik banget di mata Tasha. Apalagi ungu muda seperti kemejanya itu. Ya iyyalaah, kalau nggak suka nggak akan dibeli kali! Lagian ada apa sih dengan orang-orang? Warna aja bisa jadi prasangka tentang status seseorang? Janda pula. Kan kasihan yang suka warna ungu seperti dirinya. Lebih kasihan lagi yang statusnya janda, masa mau kemana-mana kudu pake baju warna ungu? Hehehe, mulai ngaco, deh!
Tasha sadar banget kalau pikiran-pikiran ribetnya ini mulai mengganggunya sejak sahabat-sahabat perempuannya, Ratna dan Sandra, menikah. Apalagi setelah itu Ratna langsung tokcer hamil. Melihat teman-teman sepergaulannya itu tiba-tiba berubah drastis dari cewek sosialita dengan karir bagus lalu mendadak menjadi ibu rumah tangga yang mengurus anak di rumah cukup bikin dia menelan ludah. Apa Ratna dan Sandra nggak kangen ya pengen kerja lagi kayak dulu? Nongkrong-nongkrong di cafĂ© sepulang kerja seperti yang biasa mereka lakukan dulu? Atau sekedar menghabiskan uang gajian mereka di mall, shop ‘till they literally drop?
Semenjak mereka punya anak, mau janjian ketemu aja susahnya minta ampun.
“Anak gue les KUMON besok, Sha. Nggak bisa ketemuan.” Alasan Ratna waktu dia ngajakin Ratna ketemu di Grand Indonesia jam makan siang.
“Anak gue lagi sakit, say. Nggak mungkin gue tinggalin berdua aja sama si mbak.” Alasan Sandra waktu dia ngajak Sandra nongkrong di Kemang di akhir pekan.
Mendadak semuanya seperti nggak punya waktu sama sekali untuk diri mereka sendiri. Mengerikan! Bahkan ajakan ke salon untuk facial dan creambath sekali sebulan aja jarang-jarang bisa mereka penuhi. Astaga! Mau sampai kapan kayak begitu? Seumur hidup dong, ya? Beraaaat!
Kalau sudah begitu, biasanya Tasha cuma bisa pasrah dan akhirnya nongkrong sama Decky dan Donny. Bukannya dia nggak suka ngobrol sama sahabat-sahabat cowoknya itu. Cuma aja, kadang ada aja nggak nyambungnya kalau ngobrol sama mereka. Kadang-kadang Tasha ingin minta pendapat mereka soal sepatu yang lagi diincarnya. Nanya ke mereka berdua sama aja bikin kepala mau meledak.
“Itu sepatu satu lemari emang dipake semua ya, Sha?” Itu Decky pasti deh yang suka nanya kayak gitu.
“Sha, kaki lo nggak pegel apa pake sepatu tinggi banget gitu? Lo kan nggak pendek-pendek amat buat ukuran cewek. Kalo lo pake sepatu itu, ntar malah lo jadi lebih tinggi dari gue sama Decky, tau!” Itu Donny yang komentar waktu dia sedang histeris menatap sepasang stiletto merah di etalase mall.
They just don’t get it! Ini bukan masalah dipake atau nggak. Bukan juga masalah issue tinggi badan. Ini masalah cewek! Dan mereka nggak akan pernah ngerti sampe kapanpun. Itulah makanya Tasha selalu ngotot kalau mereka semua harus bertemu tiap bulan. Kalau bisa di luar dan bukan di rumah salah satu dari mereka. Tasha kangen dengan kebersamaan mereka yang bebas kayak jaman kuliah dulu. Itu pun sebenarnya nggak bebas-bebas banget buat Ratna dan Sandra. Kadang mereka bawa anak-anaknya. Kadang malah sama suami-suami mereka, karena selesai ngumpul mereka mau lanjut rekreasi keluarga. Tapi paling nggak, ada sedikit waktu dalam sebulan mereka kembali ke masa-masa kuliah dulu. Bebas ngobrol dan bercanda. Satu jam juga nggak apa-apa, deh!
“Just gonna stand there and watch me burn. But that’s alright. Because I like the way it hurts…” Terdengar sayup-sayup lagu Love The Way You Lie si Eminem dan Rihanna dari handphone Tasha.
Tasha sengaja jalan pelan-pelan menuju meja rias di depannya itu. Dia masih ingin dengar sedikit lagi lirik lagu yang sedang cucok banget dengan moodnya beberapa bulan belakangan ini.
“Just gonna stand there and hear me cry. But that’s alright. Because I love the way you lie…”
Donny. Namanya terpampang di layar handphone Tasha.
“Haloh!”
“Sha, bisa ganti nggak ring back tone lo? Gue pengen nangis darah dengernya.” Suara Donny langsung bicara tanpa sapaan, khas Donny.
Somehow dia emang pede banget orangnya. Nggak pernah dia bilang ‘halo’ atau ‘helo’ atau apa kek kalau menelepon teman-temannya. Kalau diprotes, dengan santainya dia akan bilang, “Itu kan nomor lo yang gue hubungi, pasti lo kan yang angkat? Masih perlu gue basa-basi pake bilang, ‘Hallooow, bisa bicara dengan Tasha?’ Cape dee!”
Padahal maksud mereka itu, kenapa dia nggak bisa bertingkah kayak kebanyakan orang aja sewajarnya? Yang umum itu kan kalau menelepon seseorang ya menyapa dulu. Dan Donny dengan santai lagi akan bilang, “Gue kan emang beda! Jangan samain gue sama rakyat jelata kayak lo, dong!” Minta ditabok atau gimana, coba?
“Emang RBT gue apaan, ya?” tanya Tasha sambil berusaha mengingat-ingat ring back tone yang sedang dipakainya saat ini. Soalnya kayaknya udah lama juga dia nggak ganti-ganti RBT.
“Lagunya Ridho Romaaa! Sumpah, nggak tengsin ya lo kalau relasi kerja lo yang nelpon gitu?”
Tasha mau nggak mau ketawa ngakak sekarang. Dia ingat dua bulan yang lalu dia iseng pake RBT itu karena Decky juga ngajakin dia iseng-iseng pake lagu dangdut buat RBT-nya. Asli, Cuma iseng aja. Abis itu dia malah lupa sama sekali. Hihihi…
“Lho, emang kenapa? Kok mesti malu? Hahaha…” Tasha ketawa ngakak dengar Donny misuh-misuh habis disuguhi lagu dangdut dari handphone-nya itu.
“Tau, ah! Lo udah siap belum? Mau gue jemput, nggak?” kata Donny dengan suara pasrah.
“Belooom! Masih bingung mau pake baju apa. Tolongin gue, dooong!” Suara khas Tasha merengek manja keluar, teringat dengan dilema ‘baju pertemuan’ yang sedang dihadapinya itu.
“Lho? Mau gue bantuin apaan? Makein baju? Sini, siniii, tunggu akuuu!” kata Donny dengan bandel.
“Bantuin gue pilihin baju, begooo!”
“Hahaha, kalo lo nanya gue, gue bakal nyaranin lo nggak usah pake baju, Sha!” Lalu terdengar suara Donny di seberang sana ketawa ngakak kenceng banget.
“Percuma ngomong sama orang Timbuktu! Udah sini, jemput gue. Ntar kita berangkat bareng. Decky juga udah gue telpon, gue suruh ke apartemen gue dulu. Jadi kita berangkat bertiga,” kata Tasha sambil ngedumel dalam hati menghadapi kelakuan Donny barusan.
Dezigh! Tiba-tiba aja Donny merasa ada sesuatu yang menusuk dadanya. Pelan sih, tapi cukup deh buat bikin dia diam beberapa saat. Kenapa Tasha telpon Decky, sih? Kenapa dia nggak telpon Donny? Kalau dia nggak ngajak Tasha buat berangkat bareng, berarti Tasha bakalan berangkat berdua aja dong sama Decky?
“Ooo…oke, deh! Gue jalan sekarang, ya!” kata Donny berusaha terdengar biasa.

*BERSAMBUNG*
*Image from kabukishojo.com*

0 comments:

Poskan Komentar