Kamis, 06 Januari 2011

Januari 50K (#5): Taste From The Past


Beneran ternyata Sandra nggak bisa datang ke pertemuan bulanan mereka. Dio, anaknya yang baru berumur dua tahun, mendadak panas tinggi. Kebayang gimana paniknya Sandra. Ummm, sebenernya nggak kebayang-bayang banget juga sih sama Tasha, Donny dan Decky. Cuma pasti nggak enaklah rasanya. Teman sakit aja suka khawatir, apalagi anak. Ya kan?
Mereka pun kembali duduk-duduk di taman rumah Ratna dengan matahari sudah mulai berwarna oranye. Nyamuk-nyamuk sudah mulai beterbangan di sekitar mereka. Tapi nggak ada satupun yang berniat untuk masuk ke dalam rumah. Suami Ratna sudah kembali dari acara reuniannya. Sekarang dia ikut bergabung bersama mereka.
“Pada nginep di sini aja,” kata Mas Ruli kepada mereka, entah serius entah basa-basi.
Mereka bertiga saling bertatapan sambil tersenyum. Nginep di rumah Ratna? Nggak salah? Walaupun masing-masing punya alasan yang berbeda untuk menolaknya, tapi mereka tahu sekali kalau mereka sama-sama nggak pengen menyambut ajakan itu, bahkan dengan paksaan sekalipun.
Buat Tasha nggak perlu lama-lama ada di rumah Ratna dan melihat segala keruwetan Ratna mengurus keluarganya. Takutnya dia makin nggak selera buat nikah nantinya. Atau malah jangan-jangan dia bisa ikut kena repotnya. Masak dia bisa cuek aja duduk-duduk di rumah temannya sementara sang teman sibuk mondar-mandir ini itu? Nggak enak banget. Nggak, deh!
Kalau buat Decky nggak mungkin dia nginep di rumah Ratna. Besok hari Minggu. Satu-satunya hari di mana dia bisa tidur lebih lama di kamarnya tanpa harus diganggu dengan segala macem urusan. Kebayang kalau dia tidur di rumah Ratna. Bangun siang jelas bukan pilihan. Walaupun nggak mungkin juga pintu kamar tempat dia tidur nanti akan digedor-gedor oleh Ratna. Emang mau disuruh apaan dia sama Ratna? Kan dia tamu? Tapi tetap aja Decky tahu pasti kalau dia nggak mau nginep di sana.
Buat Donny sudah jelas banget kenapa dia harus menolak ajakan itu. Tidur di rumah mantan pacar? And by the way, itu pacar udah punya suami dan anak. Oh no, BIG NO! Situasi yang aneh. Selama ini dia masih mau ketemuan sama Ratna juga kalau ada teman-teman lain yang ikut. Sebisa mungkin dia menghindar ketemuan berduaan aja sama Ratna. Lagian emang belum pernah juga kok mereka harus ketemuan berdua aja.
Jadi serentak mereka menggelengkan kepala sambil menggumamkan satu alasan dengan suara tidak jelas. Berusaha terlihat sopan, tapi intinya ogah banget nerima tawaran Mas Ruli itu.
“Aku ada janji sama temen besok, Mas,” kata Tasha sambil memasang muka nggak enak. Akting.
“Saya ada urusan keluarga, Mas. Padahal kalau nggak ada sih, mau aja nginep di sini,” kata Decky juga sambil memasang muka nggak enak. Akting.
“Saya mau ke bengkel, Mas. Mobil udah minta diservis,” kata Donny seadanya dan nggak pake muka nggak enak. Polos.
Mas Ruli tampak memasang muka sedikit kecewa. Entah akting, entah benar dia kecewa. Nggak ada yang peduli. Ratna sedang di dalam menyiapkan makan malam untuk mereka. Diam-diam dia melihat ke arah taman. Dilihatnya bagaimana Donny sesekali mencuri-curi pandang ke arah Tasha tiap kali cewek itu tertawa lepas.
Tasha memang cewek yang menarik perhatian siapa saja. Dia cantik, putih, tinggi, langsing, rambut panjang hitam dan lurus. Tipikal gadis iklan di tivi banget. Satu aja kekurangannya, nggak punya pacar sampai sekarang. Kalau dilihat-lihat, sebenarnya Tasha itu cocok banget disandingkan dengan Donny. Sama-sama cakep, sama-sama keren, sama-sama nggak punya pacar.
Ratna sendiri sebenarnya agak shock juga mengetahui kalau ternyata Donny masih suka sama Tasha. Setelah sekian lama, ternyata perasaan Donny ke Tasha belum berubah sama sekali. Terngiang lagi di kepalanya percakapan singkatnya sore tadi di dapur sama Donny. Setelah dia menebak dengan tepat tentang perasaan Donny ke Tasha.
“Plis, Rat, gue pernah percaya sama lo untuk simpen rahasia gue dulu. Dan sekarang gue minta hal yang sama. Jangan bilang siapa-siapa. OK?” Donny meminta dengan wajah memelas.
Ratna mengangguk pasti. Bukan masalah itu yang bikin dia agak terkejut. Ratna jelas bisa menjaga rahasia. Buktinya selama bertahun-tahun persahabatan mereka, tidak ada satu pun teman-teman mereka yang tahu kalau Donny cinta mati sama Tasha. Sampe sekarang lho, catet! Cuma masalahnya sekarang Ratna nggak habis pikir sama Donny. Umur segini udah bukan saatnya untuk memendam perasaan. Kenapa sih Donny masih aja menunggu untuk mengungkapkan perasaannya ke Tasha? Apa lagi yang ditunggunya? Kalau masalah takut ditolak, itu resiko. Tapi menyimpan perasaan sekian lama itu kan menyiksa banget. Duh, Ratna benar-benar kasihan sekarang sama Donny.
Dulu dia pacaran dengan Donny juga tahu sekali kalau Donny nggak punya perasaan apa-apa sama dia selain nggak enak. Nggak enak karena mereka udah terlanjur ciuman nggak sengaja. Lalu Donny bilang kalau dia butuh Ratna, karena cuma Ratna yang bisa ngerti dia. Ratna tahu banget kalau dia cuma jadi rebound girl buat Donny. Dia nggak masalah sama sekali. Perasaannya ke Donny terlalu dalam. Dan dia tahu, kalau bukan dengan jalan itu, nggak mungkin dia cukup beruntung selama beberapa bulan menyandang predikat pacarnya Donny. Sebenarnya bukan predikat itu yang diincarnya. Dia hanya ingin sempat merasakan dekat dengan Donny, karena tahu kalau Donny bukan untuknya. Kenangannya dengan Donny selalu ada di satu tempat istimewa yang tersembunyi dalam hatinya dan cuma dia yang tahu di mana tempat itu dan cuma dia yang punya anak kunci untuk membukanya.
Kadang kalau lagi sebel sama Mas Ruli, dia suka membuka-buka lagi ruang rahasia di hatinya dimana dia menyimpan kenangannya dengan Donny. Cuma sekedar menghibur diri aja. Mengingat-ingat yang sudah lalu tanpa ada keinginan untuk kembali lagi ke sana. Reta, anaknya cukup jadi alasan utnuk tetap berada di tempatnya sekarang tanpa dia harus iseng main-main api dengan masa lalunya. Lagipula Donny memang pure menganggap dia sahabat sampai sekarang. Segila-gilanya Donny, nggak mungkin dia coba-coba untuk main-main lagi dengan Ratna yang sudah jadi istri orang. Donny nggak segila itu.
Empat bulan pacaran sama Donny cukup memperkaya harinya dengan kenangan-kenangan yang lucu dan menyenangkan sebenarnya. Jalan-jalan ke tempat-tempat yang nggak pernah dia datangi sebelumnya, makan di restoran-restoran mahal, dibanjiri hadiah-hadiah keren yang sampai sekarang masih disimpannya dengan rapi. Semua itu bagi Ratna adalah bonus. Hal utama yang paling dia nikmati saat pacaran dengan Donny adalah bisa selalu ada dekat dengannya. Ratna sama sekali nggak masalah kalau tiap akhir kencan mereka Donny selalu menyebut-nyebut nama Tasha, entah dengan sengaja atau keceplosan. Yang jelas Tasha tetap selalu ada di antara mereka. Sampai sekarang.
Ratna tahu banget kalau dia nggak akan bisa bikin Donny bahagia, walaupun dia jungkir balik maksa untuk melakukan apa pun yang bisa buat dia bahagia. Cuma Tasha yang bisa. Dan malam ini dia menemukan cara bagaimana membahagiakan Donny, in sort of an awkward way. Ratna sendiri sebenarnya nggak ngerti juga kenapa dia harus melakukan ini. Tapi dia tahu Donny pasti akan sangat bahagia kalau dia ikut membantunya mendapatkan Tasha kali ini. Ratna tahu, dulu sekali Donny datang kepadanya adalah untuk tujuan itu. Minta bantuannya untuk mendapatkan Tasha. Dan waktu itu Ratna nggak bisa apa-apa karena Tasha sudah pacaran dengan Rakha.
Sekarang keadaan sudah berbeda sekali. Tasha dan Donny sama-sama bebas sebebas-bebasnya. Sampai saat ini Ratna belum mendengar kabar kalau Tasha sedang dekat dengan seseorang. Kalaupun ada, Ratna yakin sekali itu nggak akan bertahan lama. Tasha terlalu sulit membuka diri dengan orang baru. Itu juga makanya teman-teman dekatnya sampai sekarang nggak nambah-nambah. Dia susah percaya dengan orang yang baru dikenalnya. Donny juga, walaupun sering gonta-ganti gandengan, nggak ada satupun yang diseriusin sama dia. Donny masih Donny yang dulu. Semua dianggapnya hanya main-main, kecuali satu. Tasha.
“Yuk, makan dulu,” ajak Ratna dari arah dalam rumah.
Mereka semua beranjak masuk ke dalam dan duduk di meja makan kayu persegi panjang itu. Ratna masak besar malam itu. Gurame goreng yang lumayan besar ada di tengah-tenagh meja makan. Sayur asem, sambel terasi dan goreng-gorengan tempe, tahu dan ikan asin plus lalapan juga hadir meramaikan. Donny dan Decky membelalakkan matanya sambil mengelus-elus perut mereka. Masakan rumahan selalu menggoda iman dengan caranya sendiri. Apalagi ini dimasak sama sahabat sendiri.
“Wuaaah, Ratna…makasih yaa…,” kata Tasha dengan takjub.
“Hahaha, biasa aja, kali! Ayo, banzaai!” kata Ratna sambil menyendokkan nasi ke piring Mas Ruli.
Pemandangan itu tertangkap di mata Tasha. Harus ya seorang istri itu menyendokkan nasi ke piring suaminya? Nggak bisa ngambil sendiri apa? Mau nggak mau Tasha merasa sedikit terganggu dengan pemandangan itu. Dan entah dengan maksud apa, Tasha sendiri bingung, dia pun lalu menyendokkan nasi ke piring Decky. Ratna melirik adegan itu dengan perasaan ketar-ketir. Dia melihat Donny yang pura-pura nggak lihat adegan itu, padahal jelas-jelas dia tahu apa yang sedang dilakukan Tasha.
“Sendokin Donny juga dong, Sha! Biar adil. Hahaha,” kata Ratna berusaha mencairkan ketegangan di wajah Donny.
“Sini, sini sayang, aku sendokin nasi ke piring kamu,” kata Tasha sambil mengerling ke arah Donny.
Mereka tertawa terbahak-bahak sambil melanjutkan makan malam itu. Donny memandang penuh arti ke arah Ratna. Dia masih sama seperti dulu. Sangat tahu apa yang dirasakannya. Dia tersenyum dan dibalas dengan senyum tipis di bibir Ratna.
Selseai makan malam itu jam sudah menunjukkan jam sembilan. Donny, Decky dan Mas Ruli sedang menikmati rokok mereka di taman. Tasha membantu Ratna membenahi meja makan. Ratna nggak punya pembantu. Ada ibu-ibu tua yang datang sekali-sekali ke rumahnya untuk membersihkan rumah dan mencuci. Semua dikerjakannya sendiri. Tasha nggak kebayang bagaimana capeknya Ratna sehari-hari.
“Tiap hari lo kayak gini, Rat?” tanyanya sambil mengeringkan piring di tangannya.
“Iya,” jawab Ratna singkat.
“Capek ya, bo…” katanya lagi, entah bertanya, entah menyatakan.
“Kalau dibawa capek ya capek, kalau ikhlas demi keluarga, apalagi anak, nggak terasa capeknya,” jawab Ratna.
Tasha memandang wajah Ratna dengan seksama. Motherhood is really can change you upside down. Ratna sebelum menikah jauh beda dengan Ratna setelah menikah dan menjadi seorang ibu. Dulu Ratna adalah salah satu golongan perempuan mandiri, tahu keinginannya, dan memandang pernikahan itu tidak perlu-perlu amat. Sampai cinta mengubah segalanya. Katanya sih begitu dulu. Ratna bilang dia jatuh cinta sama Mas Ruli, atasannya di kantor. Jatuh Cinta sampai rela meninggalkan kehidupan bebas dan pekerjaannya. Ffiiuh, di mata Tasha, Ratna berkorban sangat besar. Tapi mungkin buat Ratna anak, suami dan keluarganya adalah bayaran sepadan atas pengorbanan itu. Walaupun yang kelihatan di mata Tasha sekarang Ratna justru jadi jauh lebih capek. Kapan enjoynya yah? Tasha mikir-mikir sendiri dalam hati.
“Lo lagi deket sama siapa sekarang, Sha?” Tiba-tiba suara Ratna membuyarkan pikirannya tentang Ratna.
“Eh? Nggak ada,” jawabnya singkat.
“Sama sekali?” Ratna mengejar.
“Ya Ratnaa, kalo ada juga gue pasti cerita sama lo!” jawab Tasha lagi dengan suara meyakinkan.
“Maksud gue, lagi nggak punya perasaan khusus sama seseorang, gitu? Sampe sekarang?” tanya Ratna lagi masih penasaran.
“Umm, kalo soal itu, lain lagi…” kata Tasha dengan nada suara mengambang.
“Maksudnya?”
“Ya, gitu deh…” jawab Tasha makin nggak jelas.
“Lo lagi suka sama seseorang, gitu?”
Tasha menganggukkkan kepalanya dengan ragu.
“Kayaknya sih gitu, tapi..nggak tau, deh!”
“Siapa?”
Tasha diam.
“Kok diem? Gue kenal?”
Tasha masih diam.
“Sha? Siapa?”
Mata Tasha menatap keluar, ke arah taman. Donny, Decky dan Mas Ruli masih asyik ngobrol di sana dengan asap putih rokok mereka di sekeliling. Ratna terbelalak. Bukan! Bukan karena dia ngirain Tasha suka sama Mas Ruli. Tapi mata Tasha tertumbuk pada satu sosok di sana. Dan itu…
“Decky? Sejak kapan?” tanya Ratna pelan.
“Sejak lama…” Kali ini suaranya makin mengambang.

*BERSAMBUNG*
*Image from goodcomics.comicresources.com*

0 comments:

Poskan Komentar