Jumat, 07 Januari 2011

Januari 50K (#7): Puisi Kayla



“Rimba…
Gelap, eksotis, mengundang…
Masuk…
Kita mulai petualangan…”
-Kay-


Decky memandang lukisan yang tergantung di dinding kamarnya. Lukisan yang dibuatnya sendiri beberapa tahun yang lalu. Lukisan cat minyak menggambarkan pepohonan rimbun dan gelap, suasana dalam hutan yang didominasi oleh warna ungu dan biru tua. Lukisan yang sangat disukai Kayla. Bahlan Kayla menorehkan puisinya di pojok kanan lukisan itu dengan tulisan tangannya menggunakan tinta putih.
Hanya itu satu-satunya kenang-kenangan yang masih disimpan Decky tentang Kayla. Satu tahun pacaran dengan Kayla, mereka sama sekali tidak punya foto untuk dipandang-pandang saat lagi kangen. Boro-boro foto berdua, foto masing-masing mereka saja tidak punya. Gaya pacaran mereka memang sedikit berbeda dengan gaya pacaran orang-orang pada umumnya.
Di mana sih kamu sekarang, Kay? Decky berbisik dalam hati sambil memandang lukisan itu. Diubek-ubek di Facebook, nggak ketemu. Dibongkar-bongkar di Friendster yang lebih jadul juga nggak ada. Dicoba cari ke Twitter, apalagi! Pernah juga iseng googling namanya, yang ketemu orang lain dengan nama serupa. Cari lewat Yahoo! juga sama aja hasilnya.
Nomor telepon rumahnya masih disimpan Decky sampai sekarang. Tapi mau nelpon apa iya bisa ketemu? Sedangkan dulu jaman pacaran aja dia nggak pernah telpon Kayla ke rumahnya. Apalagi sekarang. Jangan-jangan Kayla malah udah lupa sama dia sama sekali. Sudah empat tahun, lho! Lumayan lama juga. Walaupun buat Decky rasanya perlu waktu lebih lama lagi untuk bisa lupa sama perempuan misterius itu.
Iya, Kayla memang misterius. Dia beda. Dia sangat pendiam, bahkan saat mereka sudah resmi pacaran pun, gayanya masih sama. Kayla nggak pernah curhat tentang dirinya. Dia lebih banyak diam mendengarkan cerita-cerita Decky sambil tersenyum. Tapi justru itu yang bikin Decky sampai klepek-klepek. Kayla nggak kayak perempuan kebanyakan yang dikenalnya.
Pernah juga beberapa kalai Decky bertanya-tanya tentang dirinya. Apa makanan kesukaannya. Kay menjawab sambil menunjukkan sandwich yang selalu dibawanya dari rumah. Tidak bicara sama sekali. Lalu Decky tanya apa warna kesukaannya, dia akan menunjukkan bajunya yang berwarna baby pink kepada Decky, masih sambil tersenyum. Padahal, besoknya Decky menanyakan hal yang sama padanya, Kayla akan menunjuk ke arah bajunya yang berwarna oranye muda. Dan Decky cuma bisa berasumsi kalau Kayla punya banyak warna favorit. Pernah juga Decky bertanya dia suka melakukan apa di waktu senggangnya. Dan kali itu Kayla menunjukkan sebuah buku catatan berwarna hijau pupus yang ada di tangannya. Saat Decky hendak melihatnya, Kayla dengan cepat menepis tangannya. Bikin penasaran aja! Kayla nggak tahu sampai sekarang kalau Decky pernah mengintip isi buku hijau muda itu saat Kayla sedang menemui dosen dan menitipkan tasnya ke Decky. Isinya puisi. Dan Decky tidak terlalu suka baca puisi. Makanya dia nggak pernah baca tuntas semua isi buku itu.
Sekarang Decky menyesal setangah mati kenapa dulu dia nggak fotocopy aja isi buku hijau muda milik Kayla itu. Ingin sekali dia membaca-baca hasil curahan hati Kayla saat ini. Mungkin dari sana ia bisa menyelami keunikan Kayla yang sering tidak dipahaminya tapi selalu membuatnya penasaran itu. Tapi itu kan sekarang sudah nggak mungkin lagi. Kayla ada di mana aja dia nggak ada clue sama sekali. Kayla hilang ditelan bumi, like…literally. Umm, OK, memang terlalu berlebihan mengatakan dia ditelan bumi, tapi dia benar-benar tidak terlacak sama sekali. Dan kerinduan Decky padanya hari ini sudah sampai ke ubun-ubun.
Saking rindunya Decky merasa dia bisa makan apa aja yang ada di depannya saat ini. Itu rindu apa laper? Yang jelas Decky makan siang di rumah kayak orang kesurupan. Mami sampai geleng-geleng nggak percaya ngeliatnya.
“Kamu lagi kenapa, Bang?” tanya Mami yang memanggilnya dengan Abang, panggilan kesayangan untuk Decky sejak Siska, adiknya, lahir.
“Lagi laper, Mam,” jawab Decky sambil meringis.
“Tumben…” kata Mami sambil nyomot potongan timun dari piring lalapan di meja.
Mami memandang anak lelaki satu-satunya itu dengan takjub. Decky itu gagah banget, bahkan Maminya aja bisa sampai terkagum-kagum gitu sama dia. Mirip almarhum Papi waktu masih muda, dan Decky adalah edisi masa kininya. Makanya Mami heran kenapa sampai sekarang Decky belum juga punya pacar. Umurnya sudah lebih dari cukup untuk menikah dan berkeluarga.
“Bang, kapan kamu mau ngenalin Mami ke pacar kamu?” tanya Mami berspekulasi. Bahkan Mami nggak yakin kalau Decky lagi punya pacar sekarang.
“Pacar yang mana?”
“Yang mana aja, deh!”
“Yee, asal nebak aja! Aku lagi nggak punya pacar sekarang, Mam!”
“Kapan sih kamu punya pacar? Terakhir kamu cerita, dulu waktu akhir tahun kuliah, kamu punya pacar namanya Kayla. Tapi nggak pernah kamu bawa ke rumah dan dikenalin sama Mami. Trus, tau-tau abis itu nggak pernah kedengeran lagi namnya. Kemana dia? Udah putus?”
“Duh, Mamiii! Itu udah jaman prasejarah banget, kali! Udah nggak tau juga dia ada di mana!” jawab Decky sambil memandang Mami tidak percaya.
Masak Mami masih mikir kalau dia masih pacaran sama Kayla sih? Udah empat tahun yang lalu lho, waktu pertama kali Decky sempat cerita sedikit ke Mami soal Kayla.
“Jadi sekarang kamu lagi nggak ada pacar? Nggak ada perempuan yang lagi kamu suka? Tasha gimana? Kalian kan deket banget! Dia udah punya pacar? Mami nggak nolak lho punya menantu kayak Tasha. Cantik, baik, supel,” kata Mami tidak peduli dengan tatapan memelas Decky yang seolah-olah bilang, “Please deh, Mam!” itu.
“Tasha itu temen, Maaam. Temeeen!” kata Decky sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Lho? Trus kenapa kalau temen? Nggak bisa jadi pacar, ya? Ada aturannya? Jaman Mami dulu justru dari temen itu harusnya yang bisa berlanjut jadi pacar dan calon suami atau istri. Kalau nggak temenan dulu gimana bisa kenal? Ya, kan?” Mami makin semangat ngomporin.
Ini deh kesukaannya orang-orang jaman dulu yang nggak relevan dengan dunia masa kini di mata Decky. Suka sekali membanding-bandingkan keadaan jaman dulu dengan masa sekarang. Walaupun pendapat Mami tentang pertemanan yang harusnya bisa mengawali satu hubungan menjadi hubungan cinta bahkan pernikahan itu sampai sekarang banyak terjadi, tapi bagi Decky itu tetap nggak relevan. Karena Mami mengatakan kalimat ‘jaman Mami dulu’. Itu sangat berpengaruh. Apa Mami nggak tahu ya kalau anak-anak muda (jaman sekarang atau dulu) nggak akan mau disama-samain dengan orang tua mereka? Seperti ada rasa ‘sori, sori, sori, jek!’ gitu, deh! Nggak rela aja disamain sama orang jadul.
“Kalau kondisinya kayak aku sama Tasha itu rasanya bakalan susah untuk jadi pacaran, Mi! Aku sama dia udah saling tahu belang masing-masing saking deketnya,” ujar Decky sambil mencuci tangannya.
“Apalagi itu! Kamu tahu nggak berapa lama Mami harus menyesuaikan diri sama Papimu dulu waktu baru nikah karena Mami sama sekali belum tahu kebiasaan-kebiasaan jelek Papimu? Sepuluh tahun pertama itu benar-benar menyiksa, lho sebenarnya buat Mami. Untungnya Mami dan Papi emang beneran saling cinta. Kalau nggak bisa-bisa Mami minta cerai di tahun kedua kami nikah dulu.”
“Astaga, Mami! Ngapain sih pake ngomong kayak gitu segala? Papi kan udah nggak ada. Nggak kasian apa?” kata Decky sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan beranjak pindah duduk ke sofa di ruang tivi.
“Hahaha, bukan begitu. Mami cuma mau kasih gambaran aja sama kamu. Dulu Mami dan Papi sebelum menikah padahal sempat temenan dulu, walaupun nggak sedekat kamu dan Tasha. Tapi tetap aja masih ada yang Mami ternyata belum tahu tentang Papi. Memang sih itu cuma hal-hal kecil aja, tapi kalau terjadi dalam skala waktu harian ternyata mengganggu juga kalau nggak biasa. Kayak kebiasaan Papimu menggantung handuk di belakang pintu dan nggak langsung menjemurnya ke belakang. Itu suka bikin Mami senewen, lho! Tapi Papi bilang sama Mami kalau dia udah biasa begitu dulu waktu hidup sendiri di mess, masa dia pelatihan dulu,” kata Mami berusaha menjelaskan.
Decky diam saja mendengar ceramah hubungan bilateral antara Mami dan Papi jaman dulu itu. Somehow, dia merasa Mami lagi kangen aja sama Papi sehingga dia cari-cari bahan pembicaraan yang bisa mengangkat dan membawa-bawa nama Papi ke dalamnya. Ya sudahlah, biarkan Mami menikmati rindunya.
Dia mengambil sebuah majalah anak di meja depan tivi. Keningnya berkerut mendapati ada majalah anak-anak keluaran terbaru di rumahnya. Siska sudah terlalu besar kayaknya buat baca majalah yang membahas tentang film Toy Story dan edisi lanjutan yang membahas permainan Play Station yang sedang banyak disukai anak-anak itu.
“Ini majalah siapa?” tanyanya sama Mami sambil lalu.
Dia membolak-balik halaman-halaman majalah yang berwarna-warni itu. Asyik juga lihat-lihat majalah anak-anak pas hari libur begini. Dan Decky jadi geleng-geleng kepala sekarang membaca isinya.
“Punya cucunya Bu Krisno, tetangga depan. Kemaren dia mampir ke sini sambil ngemong cucunya. Ketinggalan mungkin. Ntar kamu balikin, ya!” kata Mami dari dapur.
“Ckckck, anak-anak jaman sekarang emang beda ya bacaannya,” katanya sendiri sambil terkagum-kagum.
Setengah dari majalah itu berisi iklan. Hal yang sangat berbeda dengan majalah yang sama dulu saat Decky masih SD. Dari artikel iklan majalah yang mengajak liburan bersama ke Universal Studio Singapura, sampai iklan-iklan restoran-restoran cepat saji yang menawarkan hadiah-hadiah lucu untuk anak-anak. Artikel tentang film terbaru di bioskop, dari yang biasa sampai yang 3D. Penawaran kartu member untuk bisa masuk ke arena-arena bermain di mall-mall besar di Jakarta. Kemana perginya rubrik cerpen yang dulu suka sekali dibacanya? Kemana perginya rubrik soal-soal latihan untuk anak SD yang sering jadi ajang latihannya menjelang ulangan umum? Dan kemana perginya rubrik puisi yang ditulis oleh anak-anak seumurannya dulu?
Ah, ini ada cerpen nyelip satu buah di tengah-tengah artikel yang heboh membahas film Toy Story 3 dan iklan es krim Paddle Pop. Kasihan banget itu cerpen, dikasih halaman biasa, walaupun berwarna tapi kalah menarik dengan artikel Toy Story 3 yang dicetak di atas kertas tebal berkilat itu. Dan, ini ada satu puisi yang lebih nyempil lagi, berbagi halaman dengan rubrik ‘Surat Dari Kamu’. Ckckck, menyedihkan!
Decky membaca sekilas puisi pendek itu. Penulisnya –Kay-. Sesaat mata Decky tertumbuk pada cara penulisan nama penulis puisi itu. Dibacanya puisi itu dengan serius sekarang. Judulnya Warna Matahari.

Matahari abu-abu
Di ufuk timur
Di langit ungu terang
Saatnya aku terjaga
Menyambut hari

Matahari putih
Di atas kepala
Di langit biru benderang
Saatnya aku pulang
Menuju rumah

Matahari kuning
Di ufuk barat
Di langit biru tua
Saatnya aku bersiap
Menyambut mimpi
-Kay-


Ini Kay-nya. Kayla! Pasti! Decky mendadak merasa darahnya terpompa sangat deras ke ubun-ubunnya. Dia segera berlari ke atas menuju kamarnya dengan majalah itu di tangannya. Meraih BB yang tergolek pasrah di atas tempat tidurnya. Lalu bengong.
Mau nelpon siapa? Donny? Tasha? Ratna? Sandra? Bisa-bisa dia diketawain sama mereka. Masak cuma gara-gara namanya sama dia bisa yakin banget kalau itu Kayla? Decky mulai bisa membayangkan muka Donny yang jahil yang sedang ngakak-ngakak di telpon. Bweh, mending nggak usah kasih tau anak-anak itu dulu deh sebelum pasti.
Dibukanya lagi majalah itu. Berusaha mengingat-ingat sesuatu. Heheey! Ronald, teman SMA-nya dulu kan kerja di majalah wanita yang satu penerbitan sama majalah anak-anak ini. Ah, nanya Ronald aja kali, ya?

*BERSAMBUNG*
*Image from goodcomics.comicresources.com*

0 comments:

Poskan Komentar