Senin, 10 Januari 2011

Januari 50K (#9): Elizabeth Who? Ketut Who?



Cinta bukan rumah
Kau tak harus pulang ke sana
Kau tak harus mengunci pintunya
Kau tak harus membersihkannya setiap saat

Cinta bukan pakaian
Kau tak harus memakainya setiap saat
Kau tak harus mencucinya di saat kotor
Kau tak harus menyimpannya dalam lemari

Cinta bukan makanan
Kau tak harus mengunyahnya
Kau tak harus mengendus aromanya
Kau tak harus menelannya walaupun kau menyukainya
Kau tak harus meludahkannya saat terasa pahit atau busuk

Cinta hanya satu rasa yang tak bisa kau simpan sendiri
Cinta hanya satu rasa yang tak bisa kau kira seperti apa
Cinta hanya satu rasa untuk kau rasa
Itu saja

-Kay-





Decky sedang santai duduk-duduk di pinggir kolam renang villa milik Donny siang itu. Dia sedang asyik membaca sebuah majalah wanita edisi tiga bulan lalu yang ditemukannya di ruang tamu. Kata Donny villanya ini memang sering disewa sama turis-turis dari Jakarta. Kebanyakan memang rekan bisnisnya dan Papanya. Majalah-majalah itu pasti peninggalan tamu-tamu sebelum mereka datang ke situ.
Dan sekarang matanya benar-benar nggak mau lepas dari majalah wanita dewasa itu. Puisi yang ditulis seseorang bernama –Kay- itu kembali ditemukannya di sana. Bagaimana mugkin ini bisa disebut kebetulan belaka? Selama seminggu dia terus-terusan menemukan puisi yang ditulis oleh penulis yang sama yang notabene memiliki nama sama persis dengan seseorang yang masih dicarinya sampai sekarang? Sedikit merasa aneh dan bukan dia banget, Decky mengakui dalam hati kalau perasaannya mengenai puisi-puisi itu dan penulisnya agak-agak supertisius sekarang. Ini pasti bukan kebetulan. Somehow, Yang Berkuasa di atas sana sedang menolongnya untuk dapat bertemu kembali dengan Kayla, Kay-nya.
Tiga atau empat kali Decky baca puisi itu. Sampai rasanya dia sudah hafal sekarang. Saat ini bukan isi puisinya yang menyita perhatian, melainkan nama majalah wanita itu. Itu majalah tempat Ronald bekerja. Berarti itu Kay yang sama yang menulis puisi di majalah anak-anak milik cucu Bu Krisno yang ditemukannya di ruang tamu rumahnya seminggu yang lalu. Decky mengambil BB di meja samping tempat dia sedang leyeh-leyeh itu. Telpon Ronald sekarang juga, pikirnya.
“Halo, Nald! Udah dapet e-mailnya Kay itu?” katanya tanpa basa-basi begitu Ronald mengangkat telponnya.
“Hei, bro! Udah, sih! Sebenernya dari kemaren-kemaren juga gue udah punya, tapi pas gue konfirmasi ke dia, dia keberatan kalau e-mailnya dikasih tau ke orang-orang yang nggak dikenal, gitu katanya. Sori banget, nih!” jawab Ronald dengan suara tidak enak.
“Lho, lo nggak bilang kalo gue ini temen kuliahnya? Sebutin aja nama gue. Dia pasti kenal, kok!”
“Udah! Dia bilang dia nggak kenal sama lo. Lupa kali, ya?” Suara Ronald makin terdengar tidak enak.
Decky terdiam mendengarnya. Kay sudah lupa sama dia? Bagaimana bisa? Sedangkan dia sampai sekarang masih aja jungkir-balik berusaha melupakannya, dan dia dengan enaknya bisa bilang kalau dia nggak kenal sama Decky? Ini cuma ada dua kemungkinan. Kayla bohong untuk satu atau lebih alasan yang masih belum bisa ditemukannya atau Kayla terserang amnesia. Tega banget kalau dia beneran lupa sama Decky, bahkan sampai bilang kalau nggak kenal.
“Ki…sori banget, bro! Asli nggak enak gue. Atau gini aja, kalau lo mau ngirim undangan, kirim aja ke gue, ntar biar gue yang sampaiin ke dia. Gimana?” Ronald menawarkan solusi, berusaha menetralisir diamnya Decky yang dikiranya marah itu.
“Eh, nggak, nggak, nggak usah, deh! Lagian gue kan masih mau konfirmasi dulu, dia itu Kayla temen gue apa bukan!” jawab Decky cepat. Sungkan juga dia sama Ronald. Udah minta tolong, kok jadinya malah bikin ribet yang nolong?
“Lho? Nama temen lo itu Kayla apa Kay?” Kali ini suara Ronald berubah jadi bingung.
Decky bengong lagi. Iya, ya. Kay belum tentu kependekan dari Kayla, kan? Bisa aja namanya memang cuma Kay aja. Atau bisa jadi juga nama penulis puisi itu Kayroon alias Kirun. Dan OMG, kalau sampai itu bener, berarti Kay si penulis itu jelas-jelas bukan cewek! Ae, mate!
Decky langsung merasa menjadi manusia paling bodoh saat itu juga. Ini benar-benar udah nggak layak untuk diikuti lagi. Harusnya dari dulu aja dia nyerah untuk nyari-nyari Kayla setelah dia menghilang dari hidupnya. Sekarang semuanya jadi serba aneh. Pencariannya sendiri bisa dibilang amat sangat absurd. Entah untuk tujuan apa dia mencari Kayla lagi sekarang. Cuma gara-gara secara tidak sengaja dia membaca puisi yang penulisnya mempunyai nickname yang sama dengan Kayla, sekarang dia jadi kegilaan beli majalah anak-anak dan baca-baca majalah wanita. This is stupid! Ini harus dihentikan segera.
“Never mind, deh, Nald! Thank’s anyway! Sori, udah ngerepotin lo, ya! Kayanya gue salah orang kali,” jawab Decky lalu memutuskan hubungan telpon itu.
Decky kembali memandang majalah wanita di tangannya. Halaman puisi itu masih terbuka. Dibacanya sekali lagi. Sedikit banyak hatinya masih penasaran. Puisi-puisi itu seperti memang Kayla, walaupun dia tidak pernah sempat mempelajari gaya puisi Kayla selama mereka pacaran, tapi entah kenapa hatinya mengatakan begitu.
Dengan risau dia menyalakan sebatang rokok lalu menghisapnya dalam-dalam. Kejadian menemukan puisi-puisi ini secara tidak sengaja sudah membuat weekend yang seharusnya menjadi ajang relaksasinya dari kerjaan di kantor menjadi semacam ajang flash-back dengan sedikit ngarep. Bener-bener nggak enak sama sekali. Kalau disuruh milih sekarang, Decky lebih memilih untuk stress lagi di kantor saat ini. Paling nggak dia bisa lupa sama Kayla saat dia sedang sibuk kerja dikejar-kejar target dan deadline
Sekarang dengan amat sangat sebal dia harus memilih untuk melanjutkan aksi sok detektifnya itu dengan cara sok-sok membaca tanda-tanda absurd yang ada atau dengan cara memakai logikanya. Pilihan terakhir harusnya menjadi pilihannya sejak awal. Kenapa juga dia nggak telpon langsung ke rumahnya? Toh selama ini nomor telpon rumah Kayla masih disimpannya. Masalah nanti dia bisa bicara dengan Kayla atau tidak itu urusan belakangan. Toh baru akan ketahuan kalau dia sudah melakukannya. Dan siapa tahu ternyata Kayla sendiri yang menjawab telponnya. Lalu kalau ternyata bapaknya yang menjawab telponnya, bilang aja dari teman lamanya. Nanti juga akan terbaca dari reaksinya menerima telpon Decky apakah dia welcome atau tidak dengan telponnya itu. Ah, kenapa sih nggak dari dulu aja mikir gitu? Kenapa malah sibuk mikir lagi apa dia, di mana dia sekarang, sama siapa, sudah kawin apa belum dan banyak pikiran-pikiran nggak jelas yang nggak akan terjawab kecuali dia bergerak untuk mencari tahu dengan menggunakan akal sehatnya?
Yeah, kayanya akal sehat itu yang udah lama nggak bercokol dalam kepalanya setelah dia ditinggal Kayla dan mulai masuk dunia kerja yang bikin mumet itu. Otaknya benar-benar terkuras habis untuk bekerja demi Mami dan kuliah Siska. Sampai untuk berpikir secara umum dengan akal sehat aja kayanya sekarang dia sudah nggak mampu lagi dilakukannya dengan normal. Kadang-kadang Decky sering merasa jangan-jangan selama ini dia hidup dalam ilusi. Kepergian Kayla bisa jadi cuma mimpi. Kepergian Papi yang begitu mendadak dan dengan tiba-tiba menjadikannya tulang punggung keluarga juga cuma mimpi. Dan bos-nya di kantor yang super sengak itu juga hanya tokoh antagonis rekaan dalam mimpinya aja?
Brrr. Decky merinding sendiri sekarang memikirkan kelakuannya selama ini. Gila. Iya, kayanya dia nyaris gila sampai beberapa menit yang lalu sebelum dia menelpon Ronald dan tersadar seperti sekarang.
“Kiki! Ikut, nggak?!” Suara teriakan Tasha dari balik punggungnya mengejutkan perenungan pinggir kolam renangnya siang itu.
Decky menoleh ke belakang dan mendapati Tasha sedang berdiri di garasi samping dengan sebuah sepeda mini untuk wanita lengkap dengan bel kecil di stang kanan dan keranjang di bagian depan. Astaga! Mau ngapain tuh anak? Decky berdiri menghampirinya.
Tasha memakai gaun pendek dengan motif bunga-bunga kecil berwarna kuning muda. Dia juga memakai topi anyaman lebar di kepalanya. Sekuntum bunga matahari kuning tersemat di sisi kiri topi itu. Sunglass-nya masih tergantung di leher gaunnya. Sekilas Tasha kelihatan seperti turis Filipina atau Jepang, karena dia berkulit putih dan bermata sedikit sendu.
Dia tersenyum-senyum sendiri mendengar Tasha tadi memanggilnya dengan sebutan ‘Kiki’. Cuma Tasha yang memanggilnya begitu sampai sekarang. Awalnya terjadi saat mereka masih dalam masa orientasi kampus. Tasha dan Decky bergabung dalam kelompok campuran yang sama. In fact, mereka berlima ada dalam satu kelompok yang sama. Mmm, ketebak banget kan gimana sampai sekarang mereka bisa sahabatan? Go figure!
Kakak-kakak panitia ospek saat itu dengan sangat kurang kerjaannya mengganti-ganti nickname yang harus mereka pakai dan tulis di selembar karton yang digantung di leher (sooo lame!) setiap hari. Di hari terakhir ospek Decky mendapat nickname ‘Kiki’ setelah selama tiga hari sebelumnya namanya berganti-ganti dari ‘Creep’, ‘Dodol Alot’ dan ‘Janda Kembang’. Entah kenapa di hari terakhir itu dia kebagian nama yang agak normal di telinganya. Mungkin kakak-kakak panitia itu udah kehabisan ide buat ngarang-ngarang nama-nama aneh. Dan Tasha bilang dia suka nickname itu dan keterusan memanggil Decky dengan panggilan Kiki atau Ki saja.
“Mau kemana?” tanyanya heran sambil memandang sepeda yang sedang dipegang Tasha itu.
“Gue mau nyari rumah dukun Bali yang didatengin sama Elizabeth Gilbert itu,” kata Tasha dengan roman muka bersemangat.
“Elizabeth who?” Decky nggak mudeng.
“Sha, serius lo mau nyari rumah Ketut Liyer itu? Emang lo tau rumahnya di mana?” Tiba-tiba Donny sudah muncul di hadapan mereka. Baju kaosnya basah oleh keringat. Ketebak banget kalau Donny baru dari ruang fitness kecil yang ada di lantai atas villa itu.
“Ketut who?” Lagi-lagi Decky nanya dengan muka polos.
‘Ck! Kalau nggak mau ikut, ya udah! Gue jalan sendiri!” Tasha segera mendorong sepedanya keluar garasi dengan muka kesal.
“Lho? Lo tau nggak mau kemana?” Donny berusaha mencegahnya. “Ntar nyasar gimana?” tanyanya lagi dengan khawatir.
“Tinggal nanya orang-orang aja! Dia kan dukun terkenal di sini!” jawab Tasha masih sambil berjalan menuntun sepedanya kea rah pagar.
“Doh! Lo kira Ubud kecil, ya? Lo tau nggak sih ada berapa banyak dusun di sini? Dan lo tau nggak dusun mana yang lo cari? Dan lo tau nggak, ada berapa Ketut Liyer di Bali ini? Astaga! Bener-bener buang-buang waktu deh, Sha!” Donny masih aja berusaha melarang Tasha untuk pergi.
“Biarin! Gue mau cari sampe ketemu. Kalau mau ikut, ayo!” katanya tidak peduli.
Decky masih bengong menatap kedua sahabatnya itu. Masih belum nyambung juga mereka lagi ngomongin apa.
“Gue temenin dia, deh, Ki! Lo mau ikut, nggak? Tapi sepeda di sini cuma ada satu. Gue juga nggak tau darimana tu anak dapet sepeda mini sok imut gitu. Pasti nyewa, deh! Gilbert’s wannabe. So much for Eat, Pray, Love…” Donny berlalu sambil bersungut-sungut meninggalkan Decky yang masih melongo nggak paham apa yang sedang terjadi di hadapannya barusan. Dilihatnya Donny mengambil sepeda gunung yang ada di belakang pintu garasi.
“Tasha! Gue ikut!” teriaknya sambil menyusul Tasha yang sudah keluar pagar villa besar itu.
Decky menggaruk-garuk kepalanya. Tadi itu lagi pada ngomongin apaan, sih? Elizabeth Gilbert? Ketut Liyer? Dukun? Decky berjalan kembali ke kolam renang dan mulai menyalakan rokok baru. Memakai sunglass-nya lalu berbaring di kursi malas. Tidur.

*BERSAMBUNG*
*Image from goodcomics.comicresources.com*

0 comments:

Poskan Komentar