Selasa, 19 Juli 2011

Truman Capote

  No comments    
categories: ,



Jujur bercampur rendah diri malu, saya harus mengakui kalau saya baru mengetahui kalau nama itu adalah nama di balik buku terkenal sepanjang jaman, Breakfast At Tiffany's . Secara tidak sengaja saya menemukan film berjudul Capote saat saya sedang mengganti-ganti chanel televisi saya dua hari yang lalu.

Film yang menceritakan tentang sepak terjang Capote saat menulis novel non-fiksi, karyanya yang fenomenal, setelah Breakfast at Tiffany's, berjudul In Cold Blood itu berhasil membuat bulu kuduk saya berdiri. Capote membuat saya berpikir tentang menulis dan hidup sebagai penulis .



Diceritakan Capote baru menyelesaikan buku In Cold Blood setelah empat tahun, dengan masa tiga tahun melakukan riset dan wawancara dengan seorang pembunuh berdarah dingin bernama Perry Smith. Perry Smith saat tertangkap sudah menghadapi ancaman hukuman mati dan Capote berupaya dengan segala cara agar hukuman itu bisa ditangguhkan, demi agar dia bisa lebih lama lagi bercakap-cakap dengan sang pembunuh. Alasan awal mengapa dia begitu berusaha keras untuk mencarikan Perry Smith pengacara yang tangguh itu, bergeser menjadi sesuatu yang begitu merasuk ke dalam jiwa Capote.

Di tahun ketiga masa riset dan wawancaranya dengan Smith, Capote belum menuliskan satu huruf pun tentang hal yang ingin dituliskannya. Hal ini disebabkan karena banyak hal. Selain Smith belum juga mau mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi di malam pembunuhan itu, Capote juga mulai merasakan sesuatu yang ganjil dalam dirinya.

Capote mengungkapkan kepada sahabatnya, Harper Lee (penulis buku To Kill A Mockingbird) kalau dia merasa sebentar lagi mungkin dia akan mengalami major breakdown karena project menulisnya kali ini. Pergulatan batinnya sangat sengit dan brutal. "Dia berhasil naik banding sampai ke Mahkamah Agung karena bantuanku. Kalau dia sampai bebas, maka sudah bisa dipastikan aku akan menjadi gila," ucapnya pada sang sahabat. Di lain pihak, Capote dan Smith menjalin sebuah hubungan batin yang sangat kuat, sehingga mereka berdua merasa sebagai sahabat. Capote mengatakan kalau itu mungkin terjadi karena mereka sama-sama dibesarkan dalam keluarga brokenhome .

Begitu lambatnya proses penulisan buku itu, sampai akhirnya penerbit Capote memutuskan untuk mengadakan public reading di New York saat Capote baru menyelesaikan tiga bagian dari buku demi untuk memaksa Capote agar cepat menyelesaikan bukunya.

Akhirnya diceritakan Smith tetap dieksekusi hukuman gantung, dan Capote menyaksikan proses hukuman tersebut karena Smith memintanya. Capote berhasil menyelesaikan buku In Cold Blood dan sekejap buku itu langsung menjadi best seller. Setelah buku fenomenal tersebut, Capote tidak pernah sanggup lagi menyelesaikan tulisan-tulisan lainnya. Sampai akhirnya sekitar tahun 80-an Capote meninggal dunia karena bermaslaah dengan alkohol.

Melihat perjalanan hidupnya saat menuliskan masterpiece miliknya itu, saya berpikir, haruskah seorang penulis sampai begitu dirasuki oleh hal-hal yang ingin ditulisnya? Jelas sekali saya seharusnya menjawab IYA . Roh sebuah tulisan berasal dari jiwa sang penulis, itu saya percaya. Namun kalau konsekwensinya sampai harus membuat saya gila...eeerrg, ntar dulu, yak...

0 comments:

Poskan Komentar