Senin, 08 Agustus 2011

S & P

  No comments    
categories: ,


S mengerling kepada P yang ada di sampingnya. Dengan bahasa isyarat yang hanya mereka berdua yang tahu, S berusaha memberitahu P akan kedatangan sepasang anak SMP yang masih lengkap dengan seragamnya. Mereka duduk di hadapan S dan P.

Si anak laki-laki usia tanggung itu tampak sedikit grogi. Terus-terusan dia menggaruk-garuk kepalanya seolah ada banyak kutu bersarang di sana. Sesekali diusapnya keningnya yang lebar. Semua gerakan-gerakan tidak perlu yang menunjukkan kesalahtingkahannya. Sementara si anak perempuan berseragam SMP yang datang bersamanya tampak diam saja. Sibuk mengamati menu.


“Kelihatannya baru jadian, nih!” Bisik S kepada P. P hanya menggangguk tanda sependapat dengan S.

Tak lama kedua anak SMP itu memesan makanan dan minuman. Sesekali terdengar percakapan antara mereka. Kadang mereka tertawa karena lelucon yang biasa saja lucunya. Kadang lama terdiam seolah berpikir keras mencari bahan pembicaraan yang lain. Benar-benar pasangan yang manis.

“Kira-kira akhirnya nanti bagaimana ya, P?” tanya S kepada P masih sambil terus mengamati kedua anak tersebut.

“Kita tunggu aja, deh!” ujar P.

Tak lama kedua anak SMP itu selesai makan. Si anak laki-laki memanggil pelayan untuk meminta tagihan. Pelayan pun datang menghampiri mereka dengan selembar kertas. Diserahkannya kertas tersebut kepada si anak laki-laki.

“Mmm…” Si anak laki-laki tampak serius mengamati tagihan itu. Si anak perempuan ikut melongok mengamati juga. Kemudian si anak laki-laki mengeluarkan selembar uang dari sakunya dan meletakkan di atas meja.

“Aku makan habis dua puluh ribu pas. Berarti sisanya itu harga makanan kamu ya,” ujarnya enteng kepada si anak perempuan.

“Lho? jadi kita bayar sendiri-sendiri nih? Kirain kamu yang bayarin. Dimana-mana juga kalau pacaran tuh, cowonya yang bayarin tau!” jawab si anak perempuan kaget bercampur kesal.

“Hehehe…itu kan kalau orang dewasa yang pacaran. Kalau anak SMP kaya kita gini jangan disamain dong! Uang jajanku aja nggak sampai segini,” ujar si anak laki-laki cengengesan sambil menunjukkan lembar tagihan tadi.

“Capedeee…lain kali bilang ya kalau mau bayar sendiri-sendiri. Untung uang jajanku belum aku pakai seharian tadi!” Si anak perempuan bersungut-sungut sambil mengeluarkan selembar uang dari dompet berwarna pink-nya.

S dan P tertawa geli melihat adegan itu.

Tak lama kedua anak itu pergi, datang sepasang remaja usia kuliahan ke arah mereka. Si laki-laki tampak sangat senang, dilihat dari raut wajahnya yang tidak henti-hentinya mengumbar senyum. Si perempuan tampak biasa-biasa saja.

Mereka duduk di hadapan S dan P. Sama seperti kedua anak SMP tadi, mereka makan dan bercakap-cakap. Setelah setengah jam berlalu, si perempuan permisi untuk ke kamar kecil.

Begitu si perempuan berlalu dari hadapannya, dengan sigap si laki-laki mengambil handphonenya dan menelepon seseorang.

“Eh, kampret! SMS gue gak lo bales-bales. Gila ya, temen lagi usaha gini, bantuin doong! Gue lagi sama Sandra nih! Kirimin uang sekarang ke ATM gue, gue takut gak cukup, kan tengsin gue. Pliiiis…” kata si laki-laki terburu-buru karena melihat si perempuan sudah kembali dari kamar kecil.

“Kita balik sekarang?” tanya si perempuan.

“Tenang aja dulu. Ngapain buru-buru sih? Kita kan nggak ada rencana mau kemana-mana lagi abis dari sini?” jawab si laki-laki berusaha mengulur waktu.

“Oke…” si perempuan kembali duduk. “Kalau gitu aku mau pesan kopi sama cake lagi deh!” sambungnya. Si laki-laki menelan ludah sambil tersenyum dipaksakan.
S dan P tertawa terpingkal-pingkal melihat adegan itu.

Sedang asyik menertawakan kejadian itu, tiba-tiba sebuah tangan mungil terasa meraih P dan mengguncang-guncangnya. P terkejut bukan kepalang.

“Hatchii…Hatchiii…Huaaaa!” terdengar suara bersin dan disusul dengan tangisan seorang anak anak kecil.

“Marni! Gimana sih jadi babysitter gak becus! Dilihat dong si dedeknya. Jangan bengong aja!” Suara seorang wanita yang ketus terdengar. S dan P melihat seorang babysitter dengan seragamnya tengah membersihkan hidung si bayi sambil merunduk-runduk meminta maaf kepada nyonya majikannya. Si nyonya tampaknya sudah lupa dengan kejadian dua detik yang lalu itu. Sekarang dia kembali sibuk dengan Blackberry Javelin-nya sembari duduk di sebuah kursi di belakang S dan P. Sang tuan juga tak kalah sibuknya, memegang Blackberry Bold-nya dan tak henti-hentinya mengetik sesuatu di sana. Sesekali dilihatnya anaknya yang masih menangis dengan pandangan terganggu.

“Udah, bawa main dulu ke taman sana!” Perintahnya kepada si babysitter.

S dan P cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat adegan itu.

Sore di cafe berlalu lagi seperti biasa untuk S dan P. Menjadi saksi bisu tingkah laku manusia yang berkunjung ke tempat makan itu. S dan P yang duduk manis di tengah-tengah meja sebagai condiment selalu mendapat tontonan seru setiap harinya. Ternyata menjadi Salt dan Pepper tidak terlalu membosankan, ya?

0 comments:

Poskan Komentar