Selasa, 23 April 2013

My Mom, The Warrior!

  20 comments    
categories: ,
Dua bulan yang lalu kami sekeluarga di Indonesia dikejutkan oleh kabar Mama yang sedang ke Singapura terkena serangan stroke ringan saat baru mendarat di Changi Airport. Padahal kepentingan Mama ke sana adalah mengantar adik bungsunya (Mak Cik saya) untuk berobat. Apa mau dikata, akhirnya malah Mama yang masuk rumah sakit di sana. Beruntung ada adik perempuan saya di Singapura. Dia mengurus semua perihal Mama di rumah sakit.

Singkat cerita, Mama akhirnya bisa pulang ke Indonesia setelah mendapat rekomendasi dari dokter di sana untuk segera menjalankan operasi. Kondisi jantung Mama sebenarnya memang sudah tidak normal sejak lahir. Ini sudah kami ketahui sejak 10 tahun yang lalu saat Mama check-up. Salah satu klep katup jantung Mama ada yang kurang. Biasanya yang normal masing-masing katup berjumlah 3 klep, salah satu katup jantung Mama hanya memiliki 2 buah klep.

Mendo'akan jiddah (nenek) menjelang operasi

Awalnya kondisi ini tidak menjadi masalah selama Mama terus menjaga gaya hidup sehatnya. Tapi lama-kelamaan, faktor usia ternyata berpengaruh juga. Dua klep jantung itu sekarang makin kecil membuka, tidak sampai 1 cm. Ini berakibat fatal, karena asupan darah bersih ke tubuh Mama menjadi terhambat di dalam jantung. Itu penyebab stroke yang dialaminya di Singapura.


Satu-satunya jalan adalah memasang katup buatan dengan melalui open heart surgery. Operasi pemasangan katup jantung ini bukanlah operasi sederhana. Ini operasi besar dengan resiko tinggi. Namun kami sekeluarga sadar kalau inilah satu-satunya tindakan agar kesehatan dan kehidupan Mama bisa kembali normal.

Dua minggu lamanya Mama menginap di RS Harapan Kita Jakarta untuk menjalani serangkaian test yang melelahkan fisik dan pikirannya. Kami, Papa dan saudara-saudara, hanya bisa mendampinginya. Ketakutan terbesar kami tadinya andai operasi tidak berjalan lancar. Namun ternyata beberapa hari menjelang operasi akan dilaksanakan muncul kejadian lain yang membuat kami tersentak.

Tentu saja, Mamalah orang paling tahu bagaimana rasa takut untuk menjalani operasi tersebut. Namun Mama bukanlah orang dengan ilmu agama yang setengah-setengah. Mama saya adalah seorang ustadzah yang di masa beliau masih aktif banyak mengisi majlis-majlis ta'lim di berbagai lingkungan di Jakarta. Tentu saja Mama paham kalau umur dan ajal merupakan sesuatu yang tak bisa dikutak-katik lagi. Tapi Mama terus berkata takut. Saya sempat heran dan bertanya, "Apa yang Mama takutkan? Apa Mama takut mati?" Mama saya menjawab dan jawabannya membuat kami tertegun beberapa jeda. "Mama tidak takut mati. Mati adalah kuasa Allah yang tidak bisa kita tolak. Yang Mama takutkan, selesai operasi ini Mama tidak kembali seperti semula (lumpuh) dan kalian semua teraniaya mengurus seorang ibu yang tidak bisa apa-apa." Kami hanya bisa diam sambil berusaha menyembunyikan air mata yang sudah menderas mengalir. Mama, di saat gentingnya, ternyata masih Mama kami yang sama. Sejak dulu, Mama adalah orang yang tidak pernah mendahulukan kepentingannya di atas kepentingan orang lain. Mama yang mengalah untuk tidak meneruskan kuliahnya demi agar adik-adiknya bisa meneruskan sekolah. Mama yang selalu ada di setiap urusan keluarga dan memikirkan setiap jalan keluar manakala kami semua menghadapi masalah. Mama yang selalu tahu bagaimana mengatur ini dan itu saat semua orang hanya bisa diam dan bingung. Mama adalah super manager dalam keluarga kami.

Istirahat di bawah tempat tidur Mama di rumah sakit

Kemarin (22 April 2013), kami semua berkumpul mengelilingi tempat tidur Mama. Mama, lagi-lagi, yang memimpin do'a bersama. Beliau tetap menjalankan perannya walaupun dalam hitungan menit akan masuk ke  ruang operasi. Mama lalu duduk di atas kursi roda yang didorong oleh seorang perawat, Mama dan 30 orang di belakangnya berjalan menyusuri lorong panjang di RS Harapan Kita menuju pintu ruang operasi. Kami sekeluarga besar mengantarnya sampai ke depan pintu. Saling mengucapkan salam, lalu memandang punggung kurus Mama dari  belakang. Bahkan sehari sebelumnya Mama masih ingat untuk menyuruh adik saya mem-fotocopy buku do'a untuk dibagikan kepada semua keluarga yang menunggu.

Subhanallaah, do'a berdatangan dari segala penjuru begitu ada yang tahu Mama sedang menjalani operasi besarnya itu. Saudara dari berbagai tempat menelepon dan mendo'akan Mama. Tidak terkatakan bagaimana terharunya hati saya melihat perhatian dan kasih sayang yang diberikan kepada Mama. Melalui postingan ini saya atas nama keluarga mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas do'a dan kunjungan teman-teman semua. Bahkan suami seorang kerabat dekat keluarga, Mas Dadang, stand by di rumah sakit sejak pagi buta sampai menjelang tengah malam karena beliau direncanakan sebagai donor darah seandainya Mama butuh transfusi. Atuk Dian Kelana menyempatkan datang ke rumah sakit walaupun sedang dalam keadaan kurang sehat. Rere yang tinggal di Swedia, kakak sahabat saya sejak masa kuliah, yang pernah menjalani operasi serupa selalu menjalin komunikasi dengan saya melalui Facebook menjelaskan seluk-beluk operasi dan recovery yang sudah dijalaninya.

Keluarga saya dan Atuk Dian Kelana (sahabat blogger saya)


Keluarga, kerabat dan sahabat silih berganti datang ke rumah sakit. Tapi operasi Mama belum kunjung selesai juga. Padahal estimasi awal, operasi hanya akan memakan waktu 4-5 jam. Sejak pukul 8 pagi Mama sudah masuk ruang operasi. Hingga pukul 3 sore belum juga ada kabar dari dalam ruang operasi. Semua makin khusyu' berdo'a sambil sedikit was-was. Ya Allah, semoga Mama dan tim dokter di dalam ruangan itu diberi petunjuk olehMu.

Akhirnya pukul 3.30 sore Mama selesai dioperasi. Kami mendapat keterangan mengapa operasi menjadi lebih lama dari perkiraan. Mama sempat mengalami pendarahan saat operasi dan karena tulang Mama sudah keropos dimakan usia, pada saat tulang dadanya hendak disambungkan kembali ternyata membutuhkan kerja ekstra tim dokter. Apa pun, kami sangat bersyukur, operasi telah berjalan dan usai. Tinggal menunggu masa kritis selama 6 jam sejak operasi selesai dilaksanakan. Mama masih harus berjuang untuk bisa sadar dari bius dan mengembalikan fungsi organ-organ tubuhnya seperti semula lagi.

Dua orang paman kami yang datang dari Payakumbuh duduk menunggu di depan ruang ICU

Pukul 10 malam, saya sudah dalam perjalanan pulang karena esoknya saya harus menyiapkan sekolah Fadhil. Di tengah perjalanan saya mendapat telepon dari abang sulung saya, mengabarkan kalau Mama sudah siuman. Alhamdulillaahirobbil 'alamiin. Air mata kembali mengalir. Saya tahu, perjuangan Mama dan kami masih belum usai. Masa-masa paska operasi/recovery sudah menanti di depan kami. Tapi saya yakin, Mama pasti bisa. Dengan daya juangnya yang sudah tidak perlu dibuktikan lagi, kami yakin bisa melalui ini. Semoga Allah selalu memberi kekuatan.

Sesampai di rumah, sekali lagi saya sujud syukur bersama suami. Kali ini tak lupa kami mengucapkan do'a bagi semua yang telah menyisihkan waktunya untuk mendo'akan Mama dan kami sekeluarga. Semoga Allah membalasnya dengan berlipat ganda. Aamiin.

Di saat yang bersamaan, saya mendapat kabar kalau terpilih sebagai finalis Srikandi Blogger 2013. Penghargaan yang sangat tinggi bagi saya yang belum bisa memberi sebanyak apa yang sudah diberikan Mama selama ini kepada banyak orang. Sesungguhnya, my mom is the real warrior here.

Ketika kamu mendapat begitu banyak perhatian dan pertolongan, sewajarnya keinginanmu untuk berbagi semakin besar...


20 komentar:

  1. alhamdulillah mbak, kalau mama dah berhasil operasinya.. aku punya teman dekat yang sejak kecil jantungnya sudah bermasalah. kasihan. tapi semangat hiduplah yang membuat dia tegar. seperti mamanya mbak winda. semoga setelah ini, kondisi mama semakin sehat. amin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin...makasih doanya ya maaak....^_^
      semoga kita semua selalu dalam limpahan rahmat Allah SWT...:*

      Hapus
  2. Doa kami beserta sahabat-sahabat mama pasti akan senantiasa mengiringi mama, Winda. Bagi atuk pribadi, kalian tak lagi dianggap orang lain. Walau bukan keluarga, tapi setidaknya "sahabat" adalah kata yang mungkin tepat bagi kita. Sebagai orang yang paling dekat dengan lokasi rumah sakit, jangan pernah ragu untuk menghubungi, bila membutuhkan sesuatu. Bila semua itu masih dalam kemampuan atuk untuk membantu, insya Allah atuk tidak sampai mengecewakan kalian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul tuk, walaupun kita tidak ada hubungan darah, atuk sudah seperti keluarga di keluarga besar winda tuk...
      makasih ya tukk...:')

      Hapus
  3. Jadi ingat almarhumah ihuku. Dia juga paling takut jika di akhir hidupnya menyusahkan orang lain

    BalasHapus
  4. alhamdulillah.. semoga lekas sehat ya mbak..

    BalasHapus
  5. Sujud syukur kepada sang Pencipta, ibunda nya mba sdh lancar operasinya. semoga segera pulih. pengorbanan ibu tidak bisa disandingkan dengan apapun di dunia ini. walau sudah sakit, ibu masih memikirkan tidak mau merepotkan anak-anaknya ya. lekas pulih ya bu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin...makasih ya mbak RIka doanya...:') semoga kita semua selalu dalam lindunganNya...

      Hapus
  6. Alhamdulilah ya Rabb.. operasinya berjalan lancar
    Semoga mamanya cpt pulih ya mbak.
    Amin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin ya robbal alamiin..makasih ya maak..:')

      Hapus
  7. Allhamdulillah bisa dilalui dengan lancar mbak, semoga sehat selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin, makasih ya mak lidya doanya...semoga kita semua selalu diberi kesehatan ya mak...:')

      Hapus
  8. alhamdulillah, semoga mamanya mak winda cepat pulih dan sehat kembali

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin, maaak..makasih doanya ya maak..:*

      Hapus
  9. semoga proses recoverynya baik ya mbak Winda. dan mama menjadi sehat dan makin banyak berbagi. pasti amalan jariahnya bisa jadi wasilah atas kesembuhannya, Insya Alloh, bismillah. Al Fatihah.

    semoga kita bisa meneladani betapa beraninya orang tua kita ya mbak, dan selalu mengutamakan orang lain daripada dirinya. betapa itu tingkat keimanan yang sudah tinggi. amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin...terima kasih utk doa indahnya mbak Heni...:')
      saya terharu sekali dgn perhatian teman2 semua...semoga kita semua selalu dalam limpahan rahmatNya...:)

      Hapus
  10. Puji Tuhan...
    benar-benar pejuang yg hebat! bahkan saat akan masuk ke ruang oprasi masih beliau yang pimpin Doa. luar biasa banget!

    semoga masa-masa recoverynya bisa berjalan lancar. amin :)


    Tetap kuat ya Mak... :)

    BalasHapus