Selasa, 03 September 2013

Terpasung atau Kebablasan? (#10daysforASEAN Day Eight)

  10 comments    
categories: ,
Tema 10 Days For ASEAN hari ini benar-benar tema yang bikin depresi setelah saya cari-cari informasi seputar topik yang akan saya angkat. I'm not really happy with the facts that I have found, actually. Which made me want to give up today. But I didn't anyway.

"Bagaimana pendapatmu tentang kebebasan berekspresi dan kebebasan informasi di Filipina?"
Saya nggak nyangka kalau pencarian referensi tentang kebebasan pers dan kebebasan informasi di Filipina akan membawa saya ke sebuah kenyataan yang lumayan menyeramkan. Ternyata oh ternyata ... gambaran Filipina yang fun di kepala saya selama ini tidaklah se-fun itu dalam hal kebebasan informasi terutama bagi para jurnalis-nya. It's more fun in the Philippines-tagline pariwisata Filipina-jadi terdengar sedikit ironis bagi saya sekarang. Banyak wartawan Filipina terbunuh sejak tahun 1992 terkait dengan profesi mereka. This is scary. Dan lihat di Indonesia, media bahkan bisa menciptakan opini dengan begitu gencar. Apa ini patut kita syukuri? Errr ...


Dua kondisi ekstrim seputar kebebasan berekspresi dan informasi antar Filipina dan Indonesia ini buat saya sama-sama nggak sehat. Yang satu nasibnya kayak dipasung, yang satu kayak orang gila lari-larian sesuka hati dan mengganggu semua orang. Figure out yourself which one is who. Heuheuheu ... #ketawamiris

As for me, kebebasan yang tanpa aturan bukan buat manusia. Umm, sebenernya binatang pun butuh aturan kalau mau hidup bareng manusia. Kalau ada yang akrab dengan serial Dog Whisperer, Cesar Milan-si ahli menjinakkan anjing itu- berkali-kali menekankan kalau anjing juga harus tahu di mana posisi mereka dalam keluarga manusia. Mereka tidak boleh dibiarkan berlaku seenaknya, mereka harus dididik agar paham apa yang boleh dan tidak boleh diperbuat. 

Adalah buta kalau mengartikan kebebasan secara kebablasan. Dan adalah jahat jika kebebasan disunat sampai tak bersisa. Sama aja jeleknya. Apalagi jaman akses serba terbuka ini, bagaimana kerasnya sih kita bisa membendung aliran masuk dan keluarnya informasi? Sekeras-kerasnya usaha, ya lihat sendiri akibatnya adalah pelanggaran HAM seperti di Filipina. Dan bagaimana bebasnya sih kita bisa menyampaikan informasi, mengolahnya, dan menempelkan opini kita di media online? Jadinya ya akrab sama kasus bully di media online. Hmm ... jadi ingat Fatin. #eh Tapi kasus yang paling miris terkait dengan kebebasan informasi di Indonesia itu beberapa bulan yang lalu ketika seorang promotor acara musik bunuh diri karena tidak tahan dicaci-maki di Twitter akibat gagal melaksanakan acaranya. Hiks ...

Jadi bagi saya pribadi, Filipina dan Indonesia sebenarnya sama-sama ada dalam kondisi ekstrim dalam kebebasan informasi. Yang satu ekstrim terpasung, yang satunya lagi ekstrim kebablasan. Hmm ... pilih mana? Saya sih pengennya kondisi yang ideal aja. Kalau mau bebas, ikut aturan biar tertib. Kalau mau diawasi, pelaksanaan aturannya jangan otoriter.

10 komentar:

  1. Indonesia terlalu bebas berekspresi dalam menyuarakan opininya terhadap Fatin.. #lho.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaa...termasuk aku yg suka nyinyirin...hiks..maap ya fatin...:')))

      Hapus
  2. Wah ini superius. Mari kita bahas yg di Indonesia sekarang. Gw ga familiar dengan yg di filipina soale. Gw cuma mengira karena mereka selalu mengatakan negeri mereka adalah salah satu negara bagian tidak resminya US, jadi kemungkinan besar kebebasan berekspresi insan press di sana mirip sama model2 di Amrik, ternyata beda jauh ya :') Indonesia ini yang banyak koar-koar anti Amrik malah lebih mirip dengan Amrik, tapi susahnya kita nggak disertai perangkat hukum yang memadai untuk membuat semua pihak terkait berjalan dalam koridor yang bener. Bagi gw akhirnya itu semua jatuh pada sejauh mana kredibilitas sebuah berita. Dan agak-agak menyedihkan kalau dipikir-pikir kebohongan-kebohongan yang diceritakan secara berulang-ulang akhirnya bisa menjadi sebuah kebenaran yang dipercayai, dan itu berlaku pada keterpasungan maupun kebablasan. Dua-duanya akhirnya akan menjadi sama aja bo'ong.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wih, ini komentator seriuss...hahahahaa
      eh tapi bener tuh, berita2 di media kita beberapa tahun belakangan ini, sejak katanya kebebasan pers mengalami reformasi, malah seringnya nongol berita bohong yg gencar dan lama2 jadi dipercaya sebagai kebenaran..aehh, kalo udah gini, harus pinter2 sendiri memilah-milah berita....lah, trus kasian dong yg oon kayak gue gini? :)))

      Hapus
  3. setuju, Mak. Mending yang sedang2 aja. *mirip kayak lirik lagu dangdut, ya :D

    BalasHapus
  4. mak? emang ada yang begitu ?

    seorang promotor acara musik bunuh diri karena tidak tahan dicaci-maki di Twitter akibat gagal melaksanakan acaranya. Hiks ...

    siapaaa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kepo juga. siapa, mak?

      Hapus
    2. belum bisa ngelink, coba search aja di twitter pake keyword lock stock festival jogja atau musik bully bunuh diri. Namanya bobbi atau bobi atau bobby...kejadiannya mei kemarin...

      Hapus
    3. http://m.kapanlagi.com/musik/berita/acara-kacau-ketua-panitia-locstock-fest-yogyakarta-bunuh-diri-101b64.html

      Hapus