Senin, 30 Desember 2013

Till We Meet Again, Magali!

  11 comments    
categories: ,



Assalamu'alaikum ....

Dua hari menjelang tahun 2014, nih! Mulai rame deh ya blog sama postingan ala-ala resolusi 2014 dan kilas balik 2013. Saya udah give up bikin resolusi sejak beberapa tahun yang lalu karena kapasitas memory di otak gak nyampe 1 GB. Which means, hari ini punya resolusi, lalu dicatet di blog, tetep aja lupa mau ngapain sepanjang tahun. Yang udah-udah, saya mah jalanin ajalah hidup di depan. Rempong banget nyatet-nyatet resolusi, trus abis itu cuma buat dilupain aja. Yak, gitu aja curcolnya. 



Sekarang mau curhat beneran, nggak pake "col". Kalau ada yang masih inget cerita saya tentang kelahiran Magali, tokoh di novel Macaroon Love yang saya tulis, harusnya tahu juga sama restoran Suguhan Magali di Fatmawati, yes? Suguhan Magali memang jadi setting real di novel fiksi saya itu. In fact, judul awal Macaroon Love sebenarnya adalah Magali Chronicle, saking saya terinspirasi banget sama nama dan restoran itu. Andrian, yang punya Suguhan Magali, bukan kebetulan adalah teman kuliah saya. Selama beberapa bulan lamanya ketika saya riset untuk novel ini, saya dan Andrian intens berhubungan via e-mail ngobrol segala sesuatu seputar restoran miliknya itu.

Konon katanya, riset yang paling afdol itu datang langsung ke tempatnya dan melihat dengan mata kepala sendiri. Tapi apa mau dikata yah, saya ini kebanyakan acara semacam ibu menteri. Urusan gak ada abis-abisnya di rumah dari mulai gotong galon aer, ngosrek bak mandi, giles cucian, banting-banting kasur (nggak ada yang enak gini kerjaannya? Lo menteri apaan, mak?). Intinya, saya nggak sempet dateng langsung ke Suguhan Magali untuk mendapatkan gambaran real di sana. Satu-satunya andalan saya cuma e-mail dari Andrian dan foto-foto yang saya minta darinya. 


Saya begitu larut saat menulis novel ini. Untuk pertama kalinya sejak saya mulai rutin menulis naskah novel di rumah, saya menulis tanpa jeda tanpa menunda-nunda. Setiap hari selalu ada hal baru yang harus saya masukkan ke dalam cerita. Setiap minggu ada saja sesuatu yang perlu saya tanyakan ke Andrian tentang restorannya itu. Hal itu berlangsung selama hampir 6 bulan lamanya. Baru setelah naskah itu selesai saya tulis dalam bentuk draft, saya tinggalkan untuk diendapkan beberapa saat. Waktu pengendapannya ini yang makan waktu lama sebenarnya, sampai hampir 2 tahun. Untung ada lomba novel Qanita Romance (Mizan) waktu itu. Kalau nggak, bisa dipastikan naskah ini masih berbentuk draft manyun di folder komputer saya. 

Singkatnya, saya jadi merasa memiliki kedekatan khusus dengan Suguhan Magali, terlepas dari saya belum pernah sekali pun menginjakkan kaki di sana. Saya menciptakan adegan demi adegan yang terjadi di sana, dan membayangkan tokoh-tokoh rekaan ciptaan saya di Macaroon Love berbicara sambil duduk di ruang restoran itu. Saya membayangkan Magali dan Ammar saling berpegangan tangan di kursi pojok restoran itu. Saya membayangkan Magali berdiri di depan restoran itu lalu disambut oleh Ammar. Semua bayangan itu terasa nyata di benak saya, karena saya punya Suguhan Magali yang memang benar eksis di dunia nyata. Sedikit banyak, itu memberi kemudahan untuk saya saat menciptakan adegan demi adegan dalam cerita Macaroon Love. 


Sampai akhirnya Macaroon Love terbit dan launching, belum banyak yang tahu kalau setting yang saya pakai dalam novel itu adalah sesungguhnya benar ada di dunia nyata. Ketika akhirnya terungkap saat launching dan Andrian juga hadir di sana ikut berbicara sedikit tentang restorannya itu, banyak pembaca Macaroon Love yang jadi penasaran ingin datang dan membuktikan sendiri. Seorang teman blogger bahkan benar-benar mendatangi langsung Suguhan Magali lalu merekamnya dan meng-upload-nya di Youtube

Seminggu yang lalu sebuah chat di FB muncul. Dari Andrian. "Win, punten, Magali mau gue tutup akhir tahun ini." Satu kalimat dari Andrian yang tiba-tiba saja nongol di wall saya itu langsung membelah hati saya. Beruntun saya tanya kenapa, kenapa dan kenapa. Dan berakhir dengan erangan panjang kalau ... "Aarrgh, gue bahkan belum pernah ke sana sekali pun!" How tragic is that? I wrote the story about the place. I spent my days and nights to create everything that happened there. Andrian menjelaskan kalau dia harus membuat keputusan berat itu karena banyak pertimbangan. Ya udahlah ya, itu sih bukan hak saya untuk nanya-nanya kenapa. Lah, restoran juga punya siapa? Yeee .... Tapi kaaan .... Huaaa!


"So sorry to tell you this, Win. Gue tahu lo pun merasa memiliki Magali. Makanya gue ngabarin ini ke elo," kata Andrian waktu itu. Dan saya cuma bisa jawab dengan ikon titik dua, koma atas dan kurung buka. :'( Lalu saya duduk beberapa lama di depan komputer sambil bengong. It was really a heartbreaking news for me. Betapa ironisnya kalau sampai Suguhan Magali ditutup, dan saya tidak pernah ke sana. Akhirnya saya membulatkan hati dan tekad, "Gue harus ke sana sebelum Suguhan Magali tutup!" 

So, today ... two days before the last service in Suguhan Magali, for the first and the last time, I came in and breathed deeply there, just like what Magali did in my story. Dan yang bikin suasana rada-rada sedih-sedih asoy gitu, ya karena jadi sekalian reunian sama temen-temen kuliah. Hahahaha! Alhamdulillaah, bisa sekalian silaturahim. Ada yang udah hampir 15 tahun gak pernah ketemuan, buseet! OK, karena nggak mau berlama-lama sedih kalau inget Suguhan Magali akan tutup, saya cuma mau inget-inget kata Amel (salah satu teman yang juga datang ke Suguhan Magali sore tadi), "This is not good bye! Until we meet again, Magali!" Yeah, semangat Andrian! Mudah-mudahan ada rejeki dan peluang untuk Magali kembali hidup! Sebab, seperti kata Andrian tadi, "Magali buat gue kayak kapal yang membawa gue ke tujuan berikutnya. Rasanya nggak tega membayangkan, setelah gue diantar ke tujuan gue, terus kapalnya gue biarin karam." Yup, lagian saya udah nulis lanjutan cerita Magali dan Ammar gini. Magali nggak boleh mati, restoran atau pun novelnya! Wkwkwkwk!


Buat yang masih penasaran sama Suguhan Magali, kamu masih punya kesempatan untuk datang sampai 31 Desember 2013 ini. Andrian sudah memutuskan hari itu akan jadi last day service di Suguhan Magali. I pray and I pray, Magali will come back stronger and more awesome than before. Biar gimana, tempat itu sudah menjadi inspirasi terbesar saya dalam menulis. Till we meet again, Magali! :')

11 komentar:

  1. Wogh, ternyata restonya ada beneran, ya! Baru tahu. Kirain itu juga termasuk dalam imajinasimu, Mak, kayak rumahnya si Beau itu. :D

    BalasHapus
  2. waah,,sayang ya mba,,tp msh terekam di novelnya kan sgala sesuatunya ttg suguhan magali,,bisa diburu banyak orang nih novelnya,,cihuyyy,,

    BalasHapus
  3. sediiiiiiiiihhhhhhhhhhhhhhhhhhhh :''''(((((((((

    BalasHapus
  4. kamuh... sungguh keterlaluanh... nunggu kabar restorannya mau tutup baru bela-belain ke sanah... aduh...

    tapi untung kamu masih sempat ke sana.... kalau enggak gimana rasanya cobaaaak.....

    BalasHapus
  5. Kok aku jadi ikutan sedih ya Mak... setelah baca Macaroon Love aku juga merasa jatuh cinta dg rumah makan itu. Duh, sayang sekali..

    BalasHapus
  6. ya ampunnnn...sedih banget denger ceritanya....separuh hatilah ya istilahnya mbk.... :(

    BalasHapus
  7. Magda Simatupang1 Januari 2014 19.53

    Asik tulisan lu Win.....gw biasanya baca buku satu halaman aja langsung ngorok, tapi kali ini gw baca blog'mu sampe abis....btw cerita magali dan ammarnya bisa dibaca dimana Win???

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe, thank you..^^
      cerita magali dan ammar udah berbentuk novel, ada di gramedia...:D

      Hapus