Jumat, 04 Juli 2014

Indonesia Kecilku yang Semrawut

  17 comments    
categories: ,
“Begini, nih kalau semua orang ditampung! Mau mandi aja harus bangun pagi-pagi, pake ngantri!” ujarku pelan, berusaha agar tidak terdengar oleh ibuku. Pamanku, adik ibuku, masih asik jebar-jebur di kamar mandi. Sebelum aku keduluan oleh abangku yang nampaknya lagi kebelet, aku memutuskan untuk duduk di depan pintu kamar mandi. Sepupu perempuan ibu dari kampung kulihat sedang sibuk memasak sewajan besar nasi goreng untuk sarapan kami sekeluarga. 

“Keluarga di Amerika itu isinya cuma keluarga inti, orang tua dan anak. Nenek dan kakek mereka juga tinggal sendiri di rumah mereka,” kataku berusaha menyindir saat kami menonton film The Cosby Show di televisi.

“Itu bedanya kita sama orang barat. Kita orang Minang, orang Indonesia. Ada saudara yang kesusahan tempat tinggal, kita wajib menolong. Keluarga itu bukan hanya orang tua dan anak, tapi semua yang terikat dengan kita dalam berbagai cara,” jawab ibuku. Aku melengos, tapi hati-hati, takut kelihatan. Maksud ibuku, keluarga adalah semua orang yang sekampung dengannya. 

Image from http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/14/04/24/n4iuub-pemprov-akan-tata-pkl-yang-berjualan-di-taman



***

 Teng klontang klonteng! 

“Brisik!” teriakku dari jendela kamar. Tukang kembang tahu sialan! Nggak tahu ya, susahnya menemukan rumah dalam keadaan sepi? Pas aku beruntung seperti ini, yang aku mau hanya tidur siang dengan tenang. 

“Sol sepatuuu!” Astaga! Mereka sengaja, ya lewat depan rumahku barengan gini? Aku menutup kepalaku dengan bantal. Aku mencoba membayangkan perumahan yang tenang, bersih, tidak dilalui angkot dan pedagang-pedagang segala rupa. Enak banget tidur siang kalau tinggal di perumahan asri begitu. Tapi seingatku, perumahan seperti itu hanya kulihat di film-film Amerika. 

***

 “Pak, kiri!” Mikrolet yang kutumpangi tak juga berhenti. “PAK! KIRI, PAK!” teriakku kesal. Kelebihan 10 meter dari tempat di mana seharusnya aku turun, berarti ekstra jalan kaki. Dan jalan kaki ekstra 10 meter dalam keadaan panas terik dan udara penuh polusi begini merupakan ujian keikhlasan buatku. 

Heuhhh, kapan di sini punya angkutan umum yang serba teratur kayak di Singapura? Jam datang dan perginya jelas, ongkosnya pasti dan nggak perlu diteriakin kalau minta berhenti. 

“Minggir, woi!” 

“Lo yang minggir!” balasku dongkol. Sebuah angkot nyaris menyerempetku yang baru turun dari mikrolet tadi. Gila! Kapan bisa jalan kaki aman di negeri ini? Jatah buat pejalan kaki yang nggak sampai semeter lebarnya pun suka diserobot sama angkot dan pot bunga warga. 

***

 Ibuku sakit. Selepas operasi katup jantungnya beberapa bulan yang lalu, kondisinya turun drastis. Rumah ibuku sudah tak seperti beberapa puluh tahun yang lalu saat aku masih remaja. Dulu semua orang tinggal di rumah kami; adik ibu, keponakan ayah, sepupuku, tanteku, ipar ayahku sampai adik nenekku. Sekarang semua sudah punya hidup masing-masing. Aku dan keempat saudaraku pun sudah tak tinggal bersama ibu dan ayah. 

 Ibuku tak mau tinggal hanya berdua ayahku di rumah. Intinya, ibu tak ingin kesepian. Maka sejak ibu sakit, tinggallah beliau sebulan di rumah adiknya yang laki-laki, kemudian pindah ke rumah adik perempuannya. Tak lama singgah ke rumahku, lalu aku dan keluargaku pindah ke rumah ibu lagi. Terus begitu, sampai akhirnya ibu sembuh dan kuat seperti sedia kala. Aku bersyukur sekali ibu punya banyak saudara, walaupun beberapa dari mereka bahkan tidak ada hubungan darah sama sekali. Tapi mereka semua tak pernah hitung-hitungan saat membantu ibuku. 

***

 Sempat merasakan tinggal di luar negeri sebenarnya menyenangkan. Hanya, ada saja hal kecil yang menjengkelkan ketika aku di sana. Mau jajan, nggak ada warung! Kelaparan di rumah, nggak bisa nungguin tukang bakso lewat depan rumah. Dan kalau kehabisan gula, harus keluar rumah naik kendaraan. Duh, jadi ingat warung Bu Dhe di sebelah rumah ibuku dulu. Aku bahkan bisa utang mengambil teh botol dulu kalau sedang tidak punya uang. 

Mana mungkin begitu di negeri orang yang serba teratur begini? Naik bis di negara orang seperti ini benar-benar sepi. Hop, melompat masuk harus dari pintu depan. Sodorkan kartu untuk membayar, lalu cari tempat duduk. Sudah hampir sampai, tinggal tekan bel di dekat pegangan tangan, lalu bis pun berhenti tepat di depan halte. Somehow, aku kehilangan sesuatu. Rasanya seru aja bisa pelotot-pelototan sama kenek bis minta turun di suatu tempat atau ngotot uang kembalian kurang. Haha! 

***

 Akan banyak sekali hal yang membuatku jengkel tinggal di negeri ini. Semrawut, peraturan nggak jelas, birokrasi yang bikin darah tinggi dan banyak lagi. Apalagi untuk orang yang sempat mengecap tinggal di luar negeri dan serba teratur, rasanya kesemrawutan itu terasa makin besar. 

Tapi aku beruntung, lahir dan besar dalam “kesemrawutan”. Tinggal bersama banyak sekali saudara dalam rumah yang sempit, membuatku menjadi seorang yang peka dengan perbedaan. Aku tumbuh menjadi manusia dengan toleransi tinggi dan keegoisan yang mudah ditahan. Lewat rumah orang tuaku yang penuh sesak, aku belajar tentang Indonesia dalam skala kecil. Serba semrawut, tapi akan selalu menjadi tempat pulang karena kerinduan hakiki yang sudah tertanam dalam diriku. 

 Indonesia terkecilku adalah rumah orang tuaku. Dari sana aku belajar mencintai Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Aku berusaha memahami, mungkin Indonesia belum bisa seteratur Australia, sebersih Singapura atau seaman Selandia Baru. Tapi hanya di Indonesia aku bisa menemukan nilai-nilai kebersamaan, persaudaraan bahkan saat kita tidak terikat oleh garis darah. 

 Ternyata perbedaan itu yang membuat negeri ini besar sesungguhnya. Perbedaan yang beragamlah yang menjadi kekuatan besar Indonesia. Persis seperti ketika ibuku sakit, semua saudara-saudaranya siap bahu-membahu untuk menolongnya. Tapi seperti kata orang bijak, kekuatan besar yang tidak kita sadari dan kawal dengan baik, bisa berbalik menjadi senjata penghancur.

Bagiku, cara ibu dan ayah membuka rumah mereka untuk saudara-saudaranya tanpa hitung-hitungan merupakan cara paling sederhananya menunjukkan kecintaan mereka pada negeri ini. Menerima perbedaan di rumah sendiri bukankah merupakan sebuah pengorbanan? Sebuah pelajaran hidup yang penting aku dapatkan dari rumah orang tuaku. Begitu cara ibu dan ayahku mencintai Indonesia, maka begitu juga cara yang kuanut hingga kini. Aku berusaha selalu menghargai perbedaan apa pun dan selalu menjaga keselarasan hidup dengan beragam orang dalam damai.

 Aku menatap spanduk-spanduk capres yang tergantung miring dan semrawut di gang rumahku. “Kalau aku tidak ikut meneriakkan siapa pilihanku ke dunia, bukan berarti aku tidak cinta negeri ini, kan? Semoga Indonesia mendapat pemimpin yang bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik tanpa kehilangan sentuhan Indonesia-nya yang selalu kurindukan layaknya rumah ibuku.” 

Rumahku, Indonesia kecilku, bagian dari diriku sampai kapan pun.

17 komentar:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan :Aku Dan Indonesia di BlogCamp
    Dicatat sebagai peserta
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih pakde, sudah mengadakan lomba keren ini.. :)

      Hapus
  2. semua pasar di indonesia semrawut mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihihi iya mak, tapi justru di situ seninya... :D

      Hapus
  3. negara besar yg rasanya sempit ya mak, hehe ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. sempit kebanyakan penduduk ya bun...hihihihi

      Hapus
  4. Awalnya aku kira ini fiksi lho mak :)

    Kereeen tulisannya :D smoga menang ya maak..

    BalasHapus
  5. Salam kenal

    Jangan lupa kunjungan balik



    http://www.tian.web.id/2014/07/aku-dan-negri-sepenggal-surga.html

    BalasHapus
  6. Inilah kenapa orang rapi di indonesia itu lebih tangguh daripada orang di negara lain.. Karena mereka mampu bertahan di Indonesia yang super awut-awutan! Kita penyuka keramaian lebih dari negara manapun! Salam Mystupidtheory

    BalasHapus
  7. udah komen dua kali, kok enggak masuk2 sih -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaelah yang ginian malah masup. salkun lagi -_-'

      Hapus
  8. Berbagi pengalaman dari sudut pandang yang berbeda itu menarik, Mak Winda. Ternyata ada banyak cara untuk mencintai Indonesia.
    Salam kenal, ini bukan kunjungan pertama saya. Dulu silent reader, hehe.

    BalasHapus
  9. nah kaaan...aku jadi kangen jajan bakso depan rumah, or beli gorengan pinggir jalan sebelum naik busway! Tanggung jawab mak hehehehe...nicely done...semoga menang ya maaak :) ..cheers..

    BalasHapus
  10. sudut pandang yang manis...kirain tadi isinya gerutuan saja mak...congrat berhasil memasukkan ide keren.

    BalasHapus
  11. Justru semrawutnya itu ngangenin bingits

    BalasHapus