Kamis, 02 Oktober 2014

Batik Parade! Proud to be Indonesian!

  25 comments    
categories: ,
Selamat pagiii!

Hari ini timeline bertaburan status seputar sidang DPR yang NGGAK BANGET, sama tentang Hari Batik Nasional yang KECE BINGITZ! Jadi ngapain ngebahas yang nggak banget, kalo ada yang kece bingitz? Ya, ndak? :p

Saya suka batik, tapi untuk sering-sering belanja batik, terutama kain yang batik tulis, rasanya nggak sanggup. Bukannya nggak menghargai pengrajin batiknya, tapi saya jarang keluar rumah. Ya masak, kain batik tulis mau saya potong dan jahit jadi daster? Jahat banget ... -_-! Tapi saya punya kok beberapa helai batik tulis tua, warisan dari almarhumah nenek yang memang suka banget sama batik tulis yang halus. Gak mau dipake, kainnya delicate banget, kayak kertas. Ngeri sobek kena pinggul bahenol sayah. :|


Hari Batik Nasional, 2 Oktober 2014

Dikukuhkan UNESCO 5 tahun yang lalu, 2 Oktober 2009. Dengan demikian dunia tahu bahwa batik merupakan warisan budaya Indonesia, yang berusia ratusan tahun, bukan milik negeri lain. (Kurnia Effendi)


Tapi saya sadar kok, batik itu salah satu peninggalan budaya asli kita. Saya juga paham, nasib pengrajin batik tulis kian terhimpit karena industrialisasi batik printing pabrikan yang menyerbu pasar. Yang rada cetek (kayak saya gini), kadang lebih mentingin harga ketimbang karya. Padahaaal batik tulis itu hasilnya emang cantik banget. Jadi kalau liat-liat kain batik tulis, kadang hanya bisa mengagumi dari kejauhan sambil ngemut Chuppa Chups punya si Safina. Hiks! Dalam hati, saya berjanji, suatu saat, saya akan beli batik tulis cantik langsung ke pengrajinnya. Biar mereka tahu, kalau sesungguhnya saya sangat menghargai hasil karya mereka. Cuma rejeki aja yang belum kompak. Eheeeww!

Kurnia Effendi, pencinta batik tulis. Nggak pernah gagal keren tiap pake batik, mau digayain kayak apa juga, teuteubh SESUATUH! 


Jadii, sebelum saya mampu sering-sering belanja batik tulis, saya bantu-bantu deh menggalakkan dan bikin orang mupeng sama batik cantik Indonesia lewat postingan ini. Syukur alhamdulillaah, punya banyak teman yang serius banget mencintai batik tulis Indonesia dan rajin memberikan informasi seputar batik seperti Bang Kurnia Effendi, Mbak Endah Sulwesi, Mbak Endah Raharjo dan Mbak Rini Mer. Ih, kaliyyan kok kece badai tornado gitu, sik? #towelsatusatu

Mbak Endah Sulwesi, pemilik Online Shop Batik Menisae. Kecintaannya pada batik sudah pada tahap hard core. Kemana-mana nggak pernah lepas dari batik. Secara pengusahanya juga, yes. Mbak, bagi batiknya, mbak. #celamitan

Sempat baca sentilan di status teman saya, Fredo, pagi tadi: 

Coba cek dulu batik anda sebelum bersabda soal nasionalisme, buatan industri lokal atau impor Tiongkok?

Ini si Fredo. Biar suka nyinyir, tapi dia cinta Indonesia, kok! Pake batik juga hari ini, PP-nya, sih. Hihihihi


Mbak Endah Raharjo dengan kain batik Sekar Jagad Pekalongan yang dibelinya dari seorang ibu tua penjual batik bekas. Harganya bikin nangis, kata Mbak Endah, saking murahnya. Hiks.


Nah, lho! Bukan rahasia lagi, nasib pengrajin batik kita memang nggak semewah harga sehelai batik tulis karyanya. Kok bisa begitu? Salah satunya karena gempuran industri batik pabrik yang dijual massal dan (parahnya) malah import dari Cina. Yaaa, kok gitu, sih? Jadi memang sudah saatnya, kita ambil alih tanggungjawab sedikit untuk menyelamatkan batik-batik kita berikut nasib pengrajinnya biar bisa terus hidup dan berkarya. Mau gitu tiba-tiba ada museum batik terbesar di dunia tapi adanya di tetangga sebelah? Eaaa, jangan sampe, dah! :p

Bapak-bapak ini temennya Kang Benny Rhamdani, gak mau kalah. Pake batik, trus selfie. Pake tongsis pulak! Lengkap!


Ini saya sampe berbusa-busa ngomporin orang pake batik tulis, tapi hari gini malah belom mandi. Mau photo session pake batik nenek, malessss! Makanya, mending yang mejeng di sini pake batik dan kece-kece temen-temen saya aja, ya! Ya ampyuuun, kaliyyan kok ya rela mejeng di sini tanpa dibayar? Makasih banget lho, yaa! Hihihihihi. Orangnya cakeps, batiknya kerens! Sempurna!

Mbak Rini Mer dengan kain-kain batik tulis cantik terhampar. Mbak, comotin satu buat aku, ya. :)
Mbak Dian Tamim dan koleganya, dengan batik warna-warni cerah ceria cetar membahana, namanya Batik Plumpungan Salatiga. 

Mak Irma Seja yang cantiknya sering bikin sakit kepala, pakai kain Batik Sasirangan, kain batik adat Suku Banjar, KalSel. Juara!

Mbak Indri Hapsari yang tukang ngocol, ternyata bisa anggun juga pake batik dari Batik Keris. gitu terus napah, mbak? Hahahaha!

Mak Wylvera, penulis kondang dengan pasangan (tsah!) memakai batik tulis Danarhadi Solo. Caem dan mesra. 

Vera Yulianjah, salah satu sahabat orang tua murid di TK anak saya, Fadhil. Luar biasa cakep pose sama batiknya!

Ini juga salah satu sahabat dari TK si Fadhil, Mpok Tini Tince Tinoy pake batik biru. Btw, dese kalo arisan, patuh banget sama dress code, bo! Hahahaha!


Mbak Latree Manohara yang namanya suka ngeribetin orang-orang, hadir dengan batik Pekalongan seragam kerjanya. Pose-mu gak nguati, mbaaak. :D


Hemaliana Rika Purba hari ini juga pakai blus batik. Cakep. ^_^


Mari kita selingi parade batik ini dengan sebuah puisi persembahan Kurnia Effendi berjudul BATIK. Hahaha, kurang apa coba postingan ini? Apa? Apa? Oh iya, yang punya blog nggak ikut mejeng. Ya maap, belom mandi. -_-

BATIK
Mungkin aku hanya selembar mori, awalnya

Menjadi pembungkus jenazah, mengantarnya ke liang lahat:

Lorong yang menghubungkan ke semesta yang lebih keramat



Namun suatu hari tangan seni membentangkan diriku

Seuntai garis, seberkas corak, menghias tubuhku serupa tatu

Dirundung lilin cair dengan tekun, seperti prosesi embun

Direndam dalam gelimang warna, mengisi ruang benang

yang tak terlindung. Sebelum sorot surya mengekalkannya

Demikian silih berganti, berhari-hari, berhati-hati



Aku pernah menjadi mori, katun, kain satin, cita sutra

Dan serat nenas menyusup ke dalam jalinan

Dicium bibir canting dengan kesungguhan dan tiupan ruh

sang juru sungging. Mata yang teduh menatap sabar penuh kasih

Agar tiap bercak, lengkungan, dan tebal-tipis rona, memiliki irama



Berbeda antara satu dan tangan mumpuni yang lain, tercipta sejumlah nama

Untuk setiap kelahiran di pedalaman atau pesisiran
Bermacam cara membentuk citra tak serupa, antara tulis dan tera
Ke pelbagai negeri keluargaku bermuhibah, hingga antah-berantah
Tercatalah tempat lahir yang menjadi buah bibir:
Surakarta, Yogyakarta, Pekalongan, Cirebon, Madura, Garut,
Tasikmalaya, Lasem, Tuban, Jambi, Tegal, Kudus, Bengkulu…
Dan seantero yang lain

Mungkin aku pernah ningrat dalam buaian sayang pemilik darah biru
Namun tak menolak turun angjangsana ke pelataran rakyat jelata
Mengiringi perjalanan para saudagar, menghias tubuh pengantin, 
Menjadi selendang penari, mewarnai pelbagai festival dan karnaval

Janjiku dari Tanah Pertiwi:
“Kepada siapa pun aku ingin mengabdi
sebagai jati diri”

Jakarta, 2 Oktober 2009
Menandai pengukuhan seni batik sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia oleh UNESCO


Ini dong, Tante gue sekeluarga pake batik tulis Solo. Sampe bela-belain nge-Whatsapp pengen nongol di sini juga. Wakakakakk! Btw, Tante sama Omku ini penjahit lho. Itu baju keluarga jahit sendiri. Terima pesanan area Bekasi. #Eaaaa #iklan


Deasy Maria, penggiat internet sehat dan salah satu co-founder Kampung Fiksi, langsung lari-lari mau ikutan mejeng di sini pake batik. 

Mak Ophi Ziadah yang cantik ulala pake batik Madura

Mak Yulia juga patut kita hargai usahanya untuk tampil di mari dengan blus batiknya. Hahahaha!

Aiih, ini favorit! Anak siapa ini! Ayo ngaku! Kika, putri unyunya Mbak Yuyuk Setya Wardhana pakai batik tulis motif Sido Drajat! Kamu kok kecil-kecil keren sih, dek! Gede mau jadi apa?


Mak Ermayani Novia yang lupa ini batik Madura atau Pekalongan. Yang pasti (katanya) cuma ini yang muat. Duh, problem banget itu ya, mak. Wkwkwkwk.

Ssstt, dapet tambahan ilmu dari Mbak Margaretha Diana, mamanya Lentera yang cantik di bawah ini:


Lentera yang cantik ini pakai batik print dengan gaya Buketan. ^_^

- wastra batik - by: Margaretha Diana

seni wastra batik, menurut kbbi adalah seni membuat kain bergambar yg dibuat secara khusus dg menerakan/menuliskan malam pada kain, kemudian pengolahannya diproses dg cara tertentu. ada pendapat yg kurang lebih sama yg berasal dari alm iwan tirta dan h.santosa dullah, seniman, pendiri museum batik danar hadi solo.

jika mengulas batik, maka tak hanya berhenti pada bentuk gaya, ya
itu buketan, semen, pinggiran, ceplok, lereng, dst

pun tidak akan berhenti pada pengaruh daerah si batik berasal, cirebon, sumenep, jogja, solo, banyumas, pesisir jawa, dst

karna batik pun ada yg berasal dari kalimantan, sumatera, sulawesi, lombok, bali, pun papua, masing-masing ada ciri khasnya karna pengaruh budaya. dan bukan rahasia lg kalau batik pun ada yg terpengaruh dari budaya belanda, cina dan djawa hokokai.

seni wastra batik sendiri sekarang banyak macamnya, tidak hanya batik tulis dan batik cap, ada batik print dan ada pula batik fraktal. dan ada pula batik khas dari sang maestro iwan tirta

yg dipakai lentera ini termasuk batik print tante winda, dg gaya buketan walau agak menyalahi patron buketan itu sendiri hihihi

demikian ke-sok-tahuan saya tentang batik dan iseng ngerusuh ditempat mbak winda krisnadefa, kalau mau tanya tentang yg saya sebutkan diatas, jika skedar penjelasan ringan, keknya saya bisa kok, sok bgt yak? hahahaha

selamat ber-batik yaaa


Ini kain batik tulis milik Ade Delina Putri. Klasik!

Emaknya si Fauzan, Mak Dey, usaha juga demi hari batik, nyomot foto batik-batik batu alam yang ada di Museum Geologi. Bo, baru tau gue motif batik ada motif batu alam juga. Keren!

Elfira Setia Noviawati memamerkan gamis batik tulis yang dijahit sendiri untuk rumah Jahit Zahira miliknya. Mak, gw jahit bebas ongkos ya. :D


Mak Mira Sahid ngos-ngosan nyyusul mejeng di sini. Makasih ya mak.. :D

Mak Noorma pake batik di stasiun. Eh, itu stasiun bukan, sih? :")

Ini Tara, si kecilnya Mak Windi Teguh. ^_^


Mbak Indria Salim dengan batik Pekalongan. Sssst, barusan aku kepoin wall-nya, koleksi batiknya banyak, lho! ^_^


Mas Joe Wicaksono yang bermukim di Saudi juga gak mau kalah, ikut meramaikan Hari Batik Nasional. :D

*LAST UPDATE!*
OMG, banyak yang antri mau tampil di sini! Baeklah. Karena saya baik hati dan lapak ini emang tempat buat narsis, dengan senang hati saya fasilitasi. Hahahaha!


Mbak Edi Kusumawati, latar boleh singa nganga, tapi batik tetep dibawa. Ahheeuuy!

Ini si Inin, yang maksa pengen hadir di sini pake batik gratisan, katanya. Heuh, untung bawa si imut, kalo nggak, gue banned! :v

Bunda Selsa pakai batik yang sangat spesifik, namanya: Batik Oleh-oleh dari Suami. Wkwkwkwkwk

Uni Fitri Yenti, batik ungunya bikin pengen ngejambret. Buat akoh! Buat akoh! Unguuu! T_T

Is Ko, Salwa dan babenya, sekeluarga kompak pake batik. ^_^

Mak Icoel Juniooor! Gayamu, nak! Jangan mau kalah sama emakmu itu, ya! :D

Mak Uniek Kaswarganti pake batik ijo, tapi sumpah gak pake kolor ijo. Nyahahaha!

Mbak Marul Prihastuti dan suami, pakai batik Bantul motif kembang jeruk. :D

Ajen Angelina, salah satu pengurus Kampung Fiksi juga gak mau kalah sumbang tampang. Hya ampuun, lain kali sumbang duit, ya! :D

Inih! Ngasih foto udah telat banget! Tapi berhubung dese bos-nya Stiletto Books yang cetar itu, gue pasang juga, deh. Lagian, suka sama batik pink dan boots-nya. Hihihihihi.


Dan postingan ini pun saya tutup dengan lukisan karya Mayra, putri dari Vera Yuliansjah. Mayra ini sering banget juara melukis sejak kecil, dari tingkat RT sampai internasional.


Lukisan Mayra yang menggambarkan kekayaan Indonesia termasuk batik. Awesome!


SELAMAT HARI BATIK NASIONAL!

25 komentar:

  1. hihihih.. aseek nampang di blog emak goel.. makasih maak. ngakak saya bacanya :D

    BalasHapus
  2. cantik...cantik...tapi batikku kok enggak ada hehehe

    BalasHapus
  3. Yang di Museum Geologi itu katanya disebut Geobatik, Mak.
    Cakep2 emang ..

    BalasHapus
  4. waaah mejeng di blog emak gaol nihh...selamat hari batik..love batik nusantara

    BalasHapus
  5. ahay,,,aku mejeng di blog Emak Gaoel *yippie, jingkrak-jingkrak, ga inget hamil*

    nyesel juga beberapa batik tulis dibuatkan dress dan sekarang malah ndak muat dan berakhir di loakan :'(.

    Batik tulis hrganya bikin nyengir, eh tapi ada lho yg murah, Mak. Batik tulis madura, hrganya ga terlalu mahal :)

    BalasHapus
  6. asiiiiik...... akhirnya mejeng di blog ini!! makasih Winda... selamat hari batik :)

    BalasHapus
  7. bagus-baguuusss..... moga suatu hari usaha batikku bisa sekeren postingan ini :)

    BalasHapus
  8. Wuih serasa baca majalah Femina, penuturannya asyik, dan penyajian fotonya imut-imut dan lengkap. Terima kasih.

    BalasHapus
  9. Duhhh...telat deh, pdhl punya lumayan banyak pose pake batik :) #gagalpamer

    BalasHapus
  10. Wih lengkap banget mbak...makasih yaaa ^_^

    BalasHapus
  11. Iiihhh keren2, jd pengen beli batik lg nih..makasih mak winda udh di ajak mejeng disini 😄

    BalasHapus
  12. Wah, met hari batiiiik... saya paling ga nahan kalo liat batik, bawaanya harus beli huhuhu...

    BalasHapus
  13. selamat hari batik mak gaollll

    BalasHapus
  14. cakep2 yg pake batik..akuh juga pake batik cirebon hari ini...
    selamat hari batik semuaaahh

    BalasHapus
  15. Waah..batiknya cantik2..met hari batik ya maks;)

    BalasHapus
  16. hehehehe...
    selamat hari batik ....

    seneng bisa narsis di hari ini, kapan2 aku kenalkan batik mbako dari temanggung ya....

    BalasHapus
  17. mak Windaaa.. tulisannya kuereeeeen!

    BalasHapus
  18. Aiiih, kami menjeng di mari. Senangnya. Makasih ya, Mak Winda. Hidup batik! :)

    BalasHapus
  19. Hahaha, tayang juga fotoku *cium*
    Btw, ini yang punya blog mana fotonyaaa? :D

    BalasHapus
  20. Yak ampun. Boss gueh.... rock n roll banget X)))))

    BalasHapus
  21. Bhaha tau gitu aku tunjukkin fotoku yang selfie aja yak :D

    BalasHapus
  22. ini pjangan batik atau selfie-selfiean? hahaha,
    salam kenal saya pengrajin batik tulis madura, siapa tahu bisa kerjasama

    BalasHapus