Kamis, 16 Oktober 2014

PD Mendidik Anak Bilingual

  20 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

So .... Ceile, mentang-mentang mau ngomongin soal bilingual, buka postingan pake "So". Ngek bener, dah! Hahahaha! Jadi gini, saya dulu kan pernah cerita tentang kenapa dan bagaimana saya membesarkan kedua anak saya, Fadhil dan Safina secara bilingual; bahasa Indonesia dan Inggris di sini

Hasilnya memang lumayan, selama kita konsisten. Cuma emang beda-beda level PD anak-anak saya saat menggunakan bahasa Inggris di depan orang lain selain keluarga. Kalau Fadhil udah mulai ogah banget ngomong bahasa Inggris sama siapa pun. Mungkin karena dia udah puber dan nggak pengen diliat aneh sendiri. Kalau Safina, sekarang 6 tahun, sebenarnya cukup PD bicara bahasa Inggris. Terutama dengan saya di rumah, kadang malah dia yang ngingetin saya kalau keceplosan ngomong bahasa Indonesia sama dia. Soalnya, kesepakatan tak tertulisnya, jatah saya yang konsisten bicara dalam bahasa Inggris sama anak-anak. Bapaknya bagian komunikasi dalam bahasa Indonesia dan ngasih uang belanja ke saya. #hubungannya? Tapi untuk bicara di depan orang yang baru dikenalnya, masih butuh dorongan positif.




Walaupun begitu, bukan berarti saya nggak dapat kendala saat berusaha konsisten membangun lingkungan bilingual di rumah. Buanyaaak! Tapi kalau udah lihat hasilnya sama anak-anak, terutama Safina yang melesat banget kemampuan bahasa Inggris-nya begitu dia mulai bisa bicara lancar di usia 2 tahun, rasanya hambatan-hambatan yang saya temui jadi nggak terasa sama sekali. Senang!

Saya mau berbagi sedikit berdasarkan pengalaman membesarkan anak bilingual, supaya teman-teman punya sedikit gambaran, keseharian seperti apa yang kami hadapi di rumah saat menerapkan sistem dua bahasa ini di keluarga kami. Syukur-syukur bisa diadopsi, lalu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing, sehingga bisa dapat hasil yang mungkin bahkan jauh lebih baik dari yang sudah anak-anak saya dapatkan sekarang ini.

1. Mulai sejak dini
Sejak anak-anak saya lahir, saya konsisten komunikasi bicara dalam bahasa Inggris dengan mereka. Iya, sama anak bayi! Anak bayi yang lahir dan tinggal di Bekasi, dan bapaknya asli Kuningan, Cirebon! So what geto lhoo! Hihihihi. Jangan ribet duluan ngebayangin komunikasinya kayak apa. Paling-paling saya cuma menyapa dengan kata-kata sederhana kayak, "Good morning, sunshine!", "Let's take shower!", "I love you!", "You look great today!". Namanya juga ngemeng ama bayi, ya komunikasi masih satu arah. Tapi menurut banyak penelitian, mereka mendengar dan merekam apa yang kkita ucapkan. Jadi, mending terusin aja deh ngoceh was wes wos sama anak bayi kita, supaya direkam terus. Hasilnya? Tunggu aja sampai anaknya bisa ngomong. Ini saya nggak bohong. Udah buktiin sendiri.

2. Bagi tugas sama pasangan
Kalau sudah memutuskan untuk membesarkan anak dengan dua bahasa, tentukan tugas masing-masing dan konsisten. Ini juga saya baca dari banyak artikel parenting. Kalau di keluarga saya, suami kebagian yang gampang; bicara bahasa Indonesia. Hyaudahdeh, berhubung bapaknya yang cari nafkah, saya yang kebagian ngomong bahasa Inggris sampe lidah keriting sama anak-anak. Hahahaha. Untungnya, buat saya ini bukan siksaan, melainkan kesempatan untuk melatih bahasa Inggris saya sendiri. Wah, harus fasih dong ngomong bahasa asingnya? Wadoowww, nggak juga, mak! yang penting mah PD. Yaa, jangan ancur-ancur banget juga kayak vikisisasi itu juga kaliii. Mau ntar enggres-nya bocah kayak begeto? At least, ini jadi ajang pengembangan body diri juga buat orang tua, supaya mau belajar. Dan yang paling penting, konsisten. Jangan bolak-balik, ntar anaknya bingung. Biasanya papanya ngomong bahasa Indonesia, kok tiba-tiba casciscus wasweswos? Ini bisa bikin anak urung bicara lho kalau sering terjadi karena mereka bingung.





3. Lingkungan yang mendukung
Pengen anak bisa komunikasi lancar dalam dua bahasa? Ya kasih rangsangan audio visual yang sesuailah. Di rumah, anak-anak saya tidak pernah sama sekali menonton acara televisi lokal. Bukan songong bukan sihir. Alasannya bejibun. Yang jelas, emang nggak ada acara anak-anak yang sesuai sama program mendidik kami untuk anak-anak di tivi lokal. Selain itu, karena kami memang tinggal di Indonesia, otomatis percakapan dalam bahasa Indonesia tentu lebih banyak didengar oleh anak-anak saya lewat sekolah dan teman-temannya. Jadi saya lebih fokus untuk membangun lingkungan rumah yang lebih nginggris buat mengimbangi. Mulai dari buku cerita sampai tontonan saya usahakan dalam bahasa Inggris. Karena memahami bahasa ibu (dalam hal ini bahasa Indonesia) jauh lebih mudah bagi mereka, sehingga rangsangan lebih dibutuhkan untuk kemampuan berbahasa Inggris mereka.

4. Jangan berharap hasil instan
Jangan ya, jangaaan! Padahal mulut udah pegel ngomong bahasa Inggris sebulanan, ngajarin nama warna dalam bahasa Inggris tiap hari, ngenalin nama binatang juga, tapi pas diliatin gambar monyet kok anaknya tetep bilang, "Onyet!", bukannya, "Monkey!", sih? Wkkwkwk, nggak secepat itu hasilnya bisa kita lihat. Dan ingat juga, tiap anak beda-beda. Kalau anak yang satu cepat berkembang, bukan berarti anak yang lain ketinggalan. Anak sulung saya, awal-awal bisa bicara dengan kalimat lengkap, bicara dalam bahasa Indonesia. Sekitar usia 2 tahun. Lalu setahun kemudian, saat sudah masuk play group, justru dia mulai lebih banyak bicara bahasa Inggris. Beda dengan Safina, yang saat usia 2 tahun, begitu mulai buka mulut langsung ejegebress aja ngomong pake bahasa Inggris. Dan kebanyakan kata-kata pertamanya dalam bahasa Inggris adalah kata-kata yang selalu saya ucapkan sama dia waktu dia bayi. See? Monkeys see, monkeys do. *lu kate anak onyet?* Wkwkwkwk.

5. Siap-siap jadi alien di luar rumah
Ho oh! Saya mah kenyang dilirik aneh sama (beberapa) orang di tempat umum kalau bicara sama anak-anak pake bahasa Inggris. Kalo diperhatiin, biasanya abis liat saya bicara bahasa Inggris sama anak-anak, mereka jelalatan nyari suami saya. Padahal suami saya ada di sebelah, tapi mungkin mereka mikirnya itu sopir saya. Ngarepnya nemuin bapak-bapak bule gitu kali, yak? Huahahaha! Yang paling asoy, udah saya ngomong bahasa Inggris, eh anaknya ngejawab pake bahasa Indonesia. Jadilah saya dilirik sinis sama beberapa orang. Nggak semua, kok. Tapi da' saya mah cuek aja atuhlah. Kagak kenal, kagak kenal. Toh tujuan saya untuk kebaikan anak-anak saya, bukan mereka. 

6. No pressure for the kids! Encourage them!
Yep! Segimana pun saya pengen anak-anak menguasai dua bahasa, saya berusaha untuk nggak maksa kalau mereka sedang gak mood. Safina juga sering mogok bicara pakai bahasa Inggris dengan saya di luar rumah. Kalau udah gitu, saya nggak masalah dia menjawab saya dengan bahasa Indonesia, yang penting saya tetap berbahasa Inggris. Cara saya untuk memacu semangat mereka biasanya dengan mengenalkan lagu-lagu berbahasa Inggris atau bercerita. 

7. Siasati kosa kata anak yang terbatas
Bukan rahasia lagi, anak bilingual memiliki kosa kata yang terbatas dibanding anak yang besar dalam satu bahasa. Ini bisa dimaklumi, karena mereka menampung informasi bahasa lebih besar. Jangan cemas. Anak-anak saya juga sering frustasi menemukan kata yang tepat untuk mengungkapkan sesuatu, ini berlaku untuk bahasa Indonesia dan Inggris. Siasati aja, kalau sekiranya butuh menambah kosa kata bahasa Inggrisnya, ya perbanyak kegiatan dalam bahasa Inggris. Kalau bahasa Indonesianya ketinggalan dibanding anak seusianya, sering-sering aja bawa main mereka dengan teman-temannya. Kalau anaknya udah agak gedean, ya masukin kursus aja. 

8. Tetap awasi apa yang mereka pelajari
Biarpun saya pengen anak-anak saya fasih komunikasi dalam dua bahasa, budi pekerti tetap nomor satu. Kadang dari tontonan televisi, mereka belajar kata-kata yang tidak sesuai dengan usia mereka. Fadhil waktu umur 5 tahun pernah ngedumel, nyebut saya, "Dweeb ..." (slank untuk stupid). Weeh, langsung saya koreksi kalau dia nggak boleh ngomong begitu sama siapa pun. Jadi nggak mentang-mentang anak saya harus bicara bahasa Inggris, terus dia bisa ngomong apa aja sesukanya. Tak u' u', ya! 

9. Siap jadi kamus berjalan
Nanti akan ada fasenya, anak bilingual ini mulai banyak bertanya arti-arti kata tertentu. Safina dan Fadhil sering banget melontarkan pertanyaan arti kata menjelang tidur ke saya. Kadang saya kewalahan menjawabnya. Nak, mamamu ini bukan kamus, nak! Tapi usahakan menjawab dengan benar, kalau belum tau ... yaelah, buat apa itu ada smartphone di tangan? Gugel aja buruan! Wkwkwkwk. Soalnya yang ditanyain biasanya suka aneh-aneh. Safina pernah nanya, "Literally apaan, sih?" Eaaa, nyebutnya aja saya masih suka blibet, ni anak pake nanya artinya segala? Wkwkwkwk.

10. Grammar matters, but not the most important thing
Prinsip saya: lebih penting berani bicara ketimbang nggak mau bicara karena malu takut salah grammar. Soal grammar yang salah, bisa dibenerin. Tapi keberanian berbicara sulit sekali ditumbuhkan kalau nggak dibiasakan. Safina kadang masih suka ketuker antara "She" dan "He". Juga masih ribet sama bentuk "present" dan "past". Tapi apa kabar Bekasi kalau anak umur 6 tahun kayak dia udah saya ribetin sama, "Ini lho, deeeek...kalo present tense itu beginiii, kalau past tense itu begituuu!".

10. PD aja!
Anak-anak saya belum PD bicara bahasa Inggris di lingkungan berbahasa Indonesia. Tapi percaya diri bisa ditularkan. Kalau mereka liat emaknya PD, walaupun nggak serta-merta langsung ikutan gila PD, perlahan mereka akan belajar juga untuk mulai berani. Remember, monkeys see ...? Pinter! Monkeys do. Hahaha, demen amat sama monyet, sih! Soal kemampuan memilah lawan bicara pun terasah dengan sendirinya nanti. Misalnya gini, kakek atau neneknya nggak biasa komunikasi dalam bahasa Inggris, dengan sendirinya mereka akan mengikuti komunikasi dalam bahasa Indonesia. Ini salah satu keuntungan anak bilingual. Mereka lebih peka terhadap lawan bicara. Well, at least, anak-anak saya sih begitu.




Kesimpulannya, sebagai orang tua, tetapkan tujuan untuk apa mendidik anak dalam dua bahasa, apa tujuannya, lalu konsisten, jangan berharap hasil instan dan selalu tanggap dengan tantangan baru setiap saat. Kalau kita konsisten melakukannya, nggak usah nunggu-nunggu hasil, tau-tau mereka sudah menguasai sesuai dengan kemampuannya. Safina sekarang sudah bisa menjelaskan tentang permainan Minecraft dalam bahasa Inggris, semacam tutorial. Dia baru ulang tahun yang ke-6 bulan lalu. Waktu umur 5 tahun, dia sudah bisa mengarang cerita dalam bahasa Inggris. Saya nggak pernah nyangka kemampuannya bisa sepesat itu. Sekarang tantangan yang sedang saya hadapi adalah mengasah kemampuannya trampil memilah-milah lawan bicara. Kepada siapa dia berbicara dalam bahasa Indonesia, kepada siapa dia berbicara dalam bahasa Inggris. Latihan di rumah, dia mulai trampil, kalau ngomong sama emaknya pake bahasa Inggris (karena dia udah paham kalau emake keminggris), kalau sama bapaknya dia pun bicara dalam bahasa Indonesia ala-ala anak Bekasi. Eaaa! 


20 komentar:

  1. Subhanallaaah.......

    speechless.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. ngomong mak ngomooong! *tarik2 jilbabnya* :D

      Hapus
  2. Bagus sekali pola didik dengan metode dua bahasa, dan tentunya diperlukan konsistensi dalam komunikasi.
    Kalau saya boro boro ngajarin ngomong igris, la wong sayanya enggak bisa bahasa ingris. Bahkan kalau ada bule ngomong ingris ditempat kerja aja saya marahin dan suruh belajar bahasa indonesia

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe, saya juga gak jago2 amat, pak...makanya jadi sekalian ajang belajar buat saya.. ;)

      Hapus
  3. Keren banget. Gak Sumpah tapi yak hehee.

    Aku juga berencana nanti mau didik anak pake bilingual, soalnya sih dari pengalaman aku sendiri. Prinsipku : semakin banyak bahasa yang dipahami, maka semakin banyak pengetahuan baru yang bisa didapat. hehe

    Makasih buat inponya ini. Salam dari tandapetik.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mas mundzir....semoga lancar rencananya... :)

      Hapus
  4. Makin pengeeeen ngajarin anak bilingual. Tapi ntar, nyari bapaknya dulu lah ya,.. Hahaha
    Makasi tipsnya Mak Wind :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihihi, semoga segera menemukan calon bapake dan lancar ngajarin anak bilingual.. :D

      Hapus
  5. Kuereeeen Maak.. Safina, safina, sini main ke rumah yuk *lho?

    BalasHapus
    Balasan
    1. tante aja siniii main ke rumah nana.. :)

      Hapus
  6. Selalu ketawa kalau Mak nulis status tentang anak-anaknya yang becanda tapi dalam berbahasa Inggris. Pinterr banget siii...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihihi, aku aja kadang suka kaget2 sendiri mbak kalo denger mereka ngomong sesuatu...lah, tau dari mana? ternyata dari mana-mana.. :)

      Hapus
  7. ada beberapa sekolah yang fokus ke bahasa Ibu dulu sampai umur tertentu. karena menurut sekolah2 ini, konsep anak tentang bahasa harus dimantapkan dulu dalam bahasa Ibu (supaya tidak bingung anaknya). setelah itu baru pindah ke bi-lingual.

    BalasHapus
  8. nginspirasi banget nech mak....saya juga pengen nerapin ini mak, tapi kok sulit banet ya....mana bahasa inggris belepotan....

    BalasHapus
  9. way to gooo mommy....anak-anak memang natural, just like sponge, they absorb new languages easy breezy...semoga semakin lancar yaaa..

    BalasHapus
  10. Anakku blg big hug bukannya berpelukan... yg ngajarin para telletubbies... inspirasing bgt mak buat english tanpa basic mis: dulu kuliah sastra ingg ato punya laki bule ato tinggal di ln. Unik. Smgt mak...

    BalasHapus
  11. Maak... pas bener dah. Waktu masi di rumah emaknya santay surantay aja nih bilingual. Kemarin anakku observasi mau masuk TK, dia sama gurunya ga begitu bawel, pdhl kalo di rumah cerewet. Akhirnya saya encourage gurunya bicara pk bhs inggris dan dia jd lebih 'cair'.
    Tengkyu mbaa artikelnya melonggarkan kegalauan niiih. Huhuhu

    BalasHapus
  12. waaaah, cukup telat baca postingan ini saya punya ponakan dua orang, umur 3 dan 4 tahun, walo telat dicobain deh nyebutin beberapa ungkapan terus menerus... biasanya cuma pake lagu mak.. thanks banget yaa postingannya, entar diterapin klo udah punya anak sendiri :D :D :D

    BalasHapus
  13. mbak Windaaa... baca-baca blogmu lagi... aku suka postingan ini. Tadinya nggak mau ajarin anak-anak berbahasa inggris dulu, eh, ternyata makin kemari teman-teman bapak ibunya makin banyak yg nikah ama bule. jadilah musti ajarin mereka bahasa inggris.
    usia 3 tahun apakah terlambat? susah banget konsisten berbahasa inggris kalau sudah biasa berbahasa indonesia :(

    BalasHapus
  14. Belum telat belum telat!!!! *nyemangatin diri* *ngeliatin bayik 4 bulan bobo*

    BalasHapus