Minggu, 11 Januari 2015

Let's Fight Together!

  18 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

Peringatan keras: postingan ini potensial menye-menye, karena agak-agak menggali kenangan lama. Ihik.

Sebelum saya menikah dengannya 11 tahun yang lalu, kami menjalin hubungan selama 2 tahun. Pacaran sewajarnya dan seperlunya aja, karena waktu itu kami sama-sama sedang merintis karir. Saya kerja di sebuah perusahaan asing, dan dia sibuk dengan usaha yang dibukanya dengan sang adik. 

Waktu pertama kenal dengan dia via sebuah chat room yang sudah almarhum sekarang, saya lagi males-malesnya untuk mulai hubungan spesial dengan siapa pun. Saya lagi patah arang, bukan patah hati. Baru beberapa bulan yang lalu saya-lagi-lagi-harus memutuskan hubungan dengan seseorang karena alasan yang itu lagi-itu lagi; ibu tidak merestui. Laki-laki terakhir itu adalah orang ke-sekian yang saya bawa ke rumah untuk dikenalkan ke orang tua saya dan ibu saya masih memberi respon dingin. Akhirnya saya patah arang dan malas memulai hubungan baru lagi. Saya sempat mikir, kalau pun ibu saya punya ide menjodohkan saya (dan itu sempat beberapa kali dilakukan beliau), sekarang mungkin saya akan nurut aja, saking udah capeknya.



Begitu inginnya hubungan saya dengan seseorang berhasil, sampai membua saya sibuk banget mendesain skenario. Dari mulai terlalu jaim, sampai memintanya untuk tidak melakukan ini dan itu di depan orang tua saya. Padahal kan semesta pasti punya andil mengatur pertemuan hidup sepasang manusia. Kayaknya saya terlalu terpengaruh sama banyak novel romance dan film-film roman ala Hollywood, sehingga yang saya bayangkan semuanya indah dan happy ending. 

Pada kenyataannya perjalanan cinta saya nggak indah dan yang pasti nggak pernah happy ending. Selalu tersangkut di ijin ibu dan itu membuat hubungan saya dengan ibu memburuk sampai ke tahap yang nggak enak banget. 

Sampai akhirnya saya kenal laki-laki ini. Seperti yang saya bilang tadi, kondisi saya lagi patah arang, lagi muales buanget membuka lembaran baru dengan orang baru. Lagi pula, kami baru kenal. Saya nggak siap menceritakan banyak hal yang sudah saya alami yang menurut saya perlu untuk diketahui calon orang istimewa saya. Dan saya juga nggak siap berjuang untuk mengambil hati ibu saya sampai nyungsep-nyungsep seperti yang sudah-sudah. Yang saya mau sekarang cuma supaya Tuhan menggerakkan semesta agar saya dipertemukan dengan si "the one" ini tanpa saya harus capek-capek ngatur skenarionya sendiri. Kondisi mental saya lagi lelah banget waktu itu.

Saya sedang memperbaiki hubungan dengan ibu saya yang sempat rusak sebelumnya, dan itu adalah prioritas saya waktu itu. Saya tidak punya energi untuk menerima orang lain masuk dalam hidup saya. Saya cuma bisa bilang, "Nggak sekarang. Belum siap." Dan dia paham dan mengangguk. Gesturnya mengatakan, "Saya akan tunggu sampai kamu siap."

Saya tahu dia akan menunggu. Dan saya tidak keberatan. Saya tidak serta-merta mendorong dia menjauh dari saya, karena saat itu saya sudah mulai percaya, kalau saya biarkan pun, jika memang dia orangnya, maka dia tidak akan menjauh. Dan kalau pun tidak, maka dia akan hilang dengan sendirinya. Saya biarkan Tuhan mengaturnya, tanpa saya ikut campur. Karena sebelumnya, seberapa besar pun usaha saya supaya satu hubungan bisa berjalan mulus, ternyata tidak berhasil juga, toh?

Saya konsentrasi penuh menjadi anak yang baik untuk kedua orang tua saya. Saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibu. Sesering mungkin berada di rumah (satu hal yang jarang saya lakukan sebelumnya dan membuat hubungan saya dan ibu sempat renggang). Perlahan, ibu melihat perubahan sikap saya. Ibu pasti bisa memahami kalau saya berusaha untuk memperbaiki keadaan, setelah sempat tidak bagus antara kami berdua. 

Perlahan tapi pasti, sikapnya melunak. Mulai sering bertanya-tanya, siapa yang sedang dekat dengan saya. Saya cuma tersenyum tiap ditanya. Saya tahu, di luar sana seseorang masih sabar menanti saya. Tapi sampai kapan dia akan menunggu? Melihat hubungan saya dan ibu yang mulai bisa saling terbuka, pikiran saya pun mulai terisi lagi oleh dia. Walaupun selama masa "tenang' bersama ibu, dia tetap komunikasi dengan saya, tapi saya masih belum bisa memberi "label" apa pun atas hubungan kami. Saya biarkan dia tergantung di tempatnya menunggu. Dan saya tahu, suatu saat nanti, kalau saya biarkan keadaan tetap seperti ini, maka saya akan menjadi si tokoh antagonis dalam kisah hidupnya. Saya tidak mau jadi orang jahat.

Akhirnya saya putuskan untuk "menyelesaikan" apa pun itu yang kami miliki. Saya utarakan semua ke dia, apa yang selama ini membuat saya menahan diri untuk tidak menerima tawarannya menjalin hubungan khusus. Untuk pertama kalinya dalam masa usia dewasa saya, saya tidak memiliki apa pun yang saya sembunyikan. Saya ceritakan semua kepadanya. Saya tidak punya ekspektasi, karena saya sudah pasrah. Jika dia memang "the one" maka kejujuran paling pahit pun tidak akan merenggutnya dari saya.

"I had a bad relationship with my mom once. I'm still working on it until now. Selama ini tidak ada yang berhasil mengambil hati mama. Masih berminat?" Sengaja saya pilih kalimat pembuka itu untuknya karena saya perlu langsung tahu, apakah dia masih mau bersusah-payah mengusahakan hubungan ini dengan kenyataan kalau ibu saya adalah tipe yang keras. Dia akan langsung tahu kalau jalannya ke depan bersama saya tidak akan semulus jalan tol. 

Dan jawabannya saat itu adalah pembuka dari kado terindah beruntun yang diberikannya untuk saya sampai detik ini. "Let's fight together," katanya. Saat seorang lelaki mengatakan kalau dirimu layak untuk diperjuangkan, maka kamu bisa hampir pasti kalau dialah orang itu. Dialah yang disiapkan Tuhan untukmu selama ini. Dialah yang menunggumu di balik semua hubungan yang tidak berhasil selama ini.


Kami sepakat untuk berjuang bersama untuk mendapatkan restu ibu. Tuhan Maha Tahu niat baik kami. Tuhan tahu, saya berusaha keras untuk menjadi anak yang baik (setelah sempat melenceng sebelumnya). Dan Tuhan memberikan kado-kado indah melalui dia setelah itu. Mulai dari senyum orang tua saya saat berkenalan dengannya di rumah. Berlanjut dengan hubungan baiknya dengan semua anggota keluarga saya. Lalu hubungan saya dengan keluarganya yang terjalin baik. Sampai kemudian kedua orang tua kami saling bertemu dan membicarakan langkah selanjutnya untuk kami berdua. Seolah, mendapatkan dia saja tidak cukup untuk jadi kado terindah untuk saya. Semua mulus, seperti jalan tol. Amazing! Sampai saat ini saya tidak habis pikir, kenapa hubungan kami bisa berjalan begitu lancar justru di saat saya merasa takut itu tak akan berhasil? Semua rahasia Tuhan. 

Hidup bersamanya selama 11 tahun ini, ditambah dengan dua bocah lucu di samping kami, seperti menerima kiriman kado terindah dari Tuhan. Kado itu tidak pernah terlambat datangnya. Terima kasih, Tuhan. ^_^ Btw, kalau kado dari Tuhan pake jasa pengiriman apa, ya? Kalau kita kan biasa pake JNE. Hihihihi.
http://www.pungkyprayitno.com/2015/01/giveaway-kado-terindah.html

18 komentar:

  1. so sweet bangettttt kadonya,pake JNE juga mak??xixixixixi

    BalasHapus
  2. Waaa ternyata ga gampang ya, dapetin papanya anak2..

    BalasHapus
  3. kayaknya rada2 sama ceritanya. ihik
    mamahku juga dulu rada susah membuka hati buat para cowok yang main ke rumah. mamah baru open sama cowok (suamiku sekarang) setelah perceraian mamah dan bapa. mungkin mamah ga pengen aku sendirian, makanya mamah open banget sama cowok yang satu ini. mamah ga ngelarang2 dan ga banyak komen lagi. alhamdulillah jodoh memang :) *jadi curcol mak :P

    BalasHapus
  4. wohoho....
    keren banget ceritanya bund, bagus kayaknya kalo dibikin novel :D

    BalasHapus
  5. senengnya deh lihat keluarga ini..semoga selalu menjadi keluarga samawa ya mbak...mbak emak gaol hehehe

    BalasHapus
  6. tuhan memang luar biasa, selalu ada kado indah yang diberikannya :)

    BalasHapus
  7. yups..memperbaiki hubungan dengan ibu adalah prioritas atas segalanya...,
    btw-kisah yang mengharubiru....semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian...
    selamat berlomba....keep happy blogging always...salam dari Makassar :-)

    BalasHapus
  8. Uhuk!
    Ibu memang tak pernah salah pilih.

    BalasHapus
  9. benar2 kado terindah yg Tuhan berikan ya mak...

    BalasHapus
  10. Waw... kalo kado langsung dari Tuhan, pengirimannya spesial dong. :))

    BalasHapus
  11. Baru mampir udah suka sama tulisannya :)

    BalasHapus
  12. Allhamdulillah happy ending sampai ke pelaminan ya mbak. Jadi kepo chat room yang sudah almarhumah apa ya mbak? aku juga ketemu suami di chat hahaha udah gak ada kayanya sekarang

    BalasHapus
  13. Inspiratif sekali mak... merinding bacanya...
    Semoga langgeng dunia akhirat ya mak...
    ćƒ½(´▽`) 惎

    BalasHapus
  14. Aaauuuoooo pengiiinnnn ketularan keberuntungannya.

    BalasHapus
  15. Jadi merinding bacanya. Indah banget kadonya mak. Pasangan hidup yg baik dan segalanya. Semoga langgeng bahagia untuk kalian berdua ya, aamiin.

    BalasHapus
  16. ETJIEEEEEEE....

    Makasih banget yaa sudah ikutan Giveaway Kado Terindah. Semoga menang! :D

    Salam,
    Pungky

    BalasHapus
  17. Salam kenal buat Mbak n suaminya, apa beliau punya blog juga?
    Lagi pengin nambah teman, tapi nemunya emak-emak blogger mulu :D

    BalasHapus