Jumat, 03 Juli 2015

Suamiku, Ayah yang Luar Biasa

  63 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

Sosok ayah dalam setiap keluarga pasti istimewa, untuk ibu dan juga anak-anaknya. Begitu juga di keluarga kecil saya. Suami saya juga sosok yang istimewa dan luar biasa untuk saya dan anak-anak. Alasannya apa? Boleh ya, saya cerita sedikit. #senyum

Suami saya tumbuh dalam keluarga kecil dan tidak memiliki saudara perempuan. Satu-satunya sosok perempuan dalam hidupnya sejak lahir adalah Mamah (ibu mertua saya). Hal ini mempengaruhi sifat dan sikapnya sehari-hari. Dalam hal menghadapi anak perempuannya sekarang, dia masih banyak bertanya kepada saya, karena sejak kecil jarang terlibat langsung dengan anak perempuan kecil. Tapi di lain pihak, suami saya menjadi sangat bonding dengan ibundanya. Hal ini adalah satu hal yang saya syukuri sampai saat ini karena dia tumbuh menjadi laki-laki yang sangat menghargai perempuan dan sosok seorang ibu.



Profesi suami saya bukanlah profesi yang umum. Dia seorang jurnalis harian olahraga. Jam kerjanya terbalik dengan jam kerja ayah-ayah lain pada umumnya. Saat hampir sebagian besar ayah sudah sampai di rumah pukul 6 sore, dia masih berada di kantor sampai pukul 2 pagi. Begitulah siklus kerjanya sejak kami menikah. Dulu waktu belum punya anak, dia memanfaatkan waktu pagi sampai siang hari untuk beristirahat. Bukan apa-apa, selain jam kerjanya yang "ajaib" itu, hari kerjanya pun bisa dibilang "unordinary" karena dalam satu minggu hanya punya satu hari libur. SATU! Hari Sabtu adalah satu-satunya hari dia tidak ngantor. Hari Minggu? Justru jadi hari tersibuk dalam satu minggunya di kantor.


Dengan jam dan hari kerja seperti itu, dan dua anak yang butuh perhatian seorang ayah, suami saya pun berusaha mengatur kesehariannya. Banyak pengorbanan yang dia lakukan agar anak-anak tidak merasa jauh darinya. Sebab, kalau waktu pagi hingga siang harinya dipakai untuk beristirahat, bisa dipastikan, suami saya tidak akan pernah bertemu dengan anak-anak.


Sejak 10 tahun yang lalu, alur keseharian rumah tangga kami memang jauh berbeda dari kebanyakan keluarga pada umumnya. Pagi hari walaupun masih dalam keadaan mengantuk suami saya bersikeras untuk mengantar anak-anak ke sekolah. Katanya, "Biar sempat ngobrol di motor sama mereka." Siang harinya, dia hanya sempat beristirahat 2 jam saja sebelum pergi menjemput mereka lagi. Pukul 2 siang dia mulai bersiap-siap ke kantor dan menghabiskan harinya di sana sampai dini hari.


Di sela-sela pekerjaan rutinnya di harian olah raga, sesekali suami saya menerima tawaran menjadi komentator pertandingan sepak bola di televisi. Ini dilakukannya sepulang kerja, jadi bisa dipastikan dia akan sampai rumah sudah menjelang jam 9 pagi. Pernah saya tanya karena khawatir dengan kesehatannya, "Capek, gak? Kalau capek jangan dipaksain." Dia berkata, selama bertanggungjawab dengan tubuh sendiri, dan melakukannya lillaahi ta'ala, insya Allah tidak apa-apa.


Di hari Sabtu sebisa mungkin dia mengosongkan waktunya untuk keluarga. Hanya sesekali saja dia bisa memuaskan hasratnya di dunia musik dengan menghadiri acara komunitas musik yang diikutinya. Itu pun kadang dia bawa anak sulung kami, agar waktunya masih bisa dibagi dengan anak.



Kadang dia harus meninggalkan kami selama sebulan penuh karena tugas meliput pertandingan sepak bola di luar negeri. Saat dikirim  kantornya ke Ukraine dan Afrika Selatan, hampir tiap hari kami komunikasi via chat. Dia selalu menanyakan kabar anak-anak dan saya.


Bertahun-tahun sudah kami menjalani gaya hidup seperti ini. Kadang saya suka meringis sendiri kalau ingat bagaimana dia dulu saat anak-anak baru lahir. Suami saya itu penakut sekali. Sampai usia anak 3 bulan dia tidak berani menggendong anak tanpa didampingi oleh saya. Padahal ikatan batin kan bisa terjalin sejak bayi dengan anak, ya. Menyadari ketakutannya itu, saya pun berusaha untuk selalu ada di dekatnya saat dia menggendong dan mengganti pakaian anak. Sesekali kalau anak kami sedang dimandikan, saya minta dia untuk menyiapkan semua peralatan mandinya. Kalau dia sedang ada keberanian, saya suka minta dia ikut menyabuni anak kami. Sengaja saya memilih sabun dan shampo bayi yang aman, terutama kalau tidak sengaja terkena mata. Saya nggak mau suami saya mendadak panik melihat busa sabun dan sampo masuk ke mata anaknya. Hihihihi. Makanya dari dulu saya selalu pakai produk Zwitsal untuk kedua anak kami. Selain aman di mata, Zwitsal juga teruji Hypo-Allergenic.



Sebagai seorang suami, ayah dan lelaki, dia adalah sosok luar biasa. Saya, anak-anak, memandangnya sebagai laki-laki tekun, gigih, penyabar dan penyayang keluarga. Saya pribadi banyak belajar darinya untuk menjadi istri yang lebih baik. Suamiku, ayah yang luar biasa.

"Hanya cinta yang bisa membuat pengorbanan menjadi bernilai ikhlas yang sempurna."

63 komentar:

  1. Wah. Salut Mbak. Sesibuk apapun tetap menyediakan waktu untuk keluarga. Semoga nanti punya anak bisa seperti itu juga.

    BalasHapus
  2. Terahru baca postingan.ini :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. duh maap ya, bikin terharu...hihihihi

      Hapus
  3. terharu dan sukaaa banget tulisannya, soft selling yang menyentuh, jadi belajar banyak dari tulisan ini ttg cara review produk:)

    BalasHapus
  4. terharu bacanya mak..
    jadi inget,tiap liat bola,kl komentatornya bang edu,suamiku langsung bilang "itu suaminya temenmu" hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihihi, semoga kapan2 suamimu bisa ketemu suamiku, dan aku bisa ketemu dirimu ya maak.. :')

      Hapus
  5. aaaihhh mak, tulisanmu penuh gula-gula. manis. tapi juga bikkn nangis :')))

    BalasHapus
  6. jam kerja yang luar biasa, hebat ya mak sama suami bisa saling berbagi. waktu yang sedikit benar-benar dimanfaatkan untuk keluarga. Bukan jumlahnya tetapi kualitasnya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. setujuu...yg penting berkualitas.. :)

      Hapus
  7. Luar biasa sekali
    Tidurnya hanya jam
    Lebih luar biasa lagi masih bisa akrab dg anaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaa...tidurnya dikiiit...makanya kalau lagi libur suka biarin aja tidur sampe puas, kasian.. :')

      Hapus
  8. Treharu bacanya Mak. Luar biasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. duh, makasih ya...padahal nulisnya sambil ngikik2 inget suami penakut banget waktu anak2 masih bayi hahahaha

      Hapus
  9. baca ini habis tharawih *nyessss

    BalasHapus
    Balasan
    1. kenapa nyeess? pasti ketumpahan es teh manis ya? hahahahaa

      Hapus
  10. salluuuttt...dua jempol mba.. :)

    BalasHapus
  11. adeemmmmm.................... hehhee

    BalasHapus
  12. Ini lomba apa sponsored? hehehee *kepo tapi eike sukanya johnson and johnson (lebih gagal fokus). But above all, your husband is awesome and you are one lucky woman to have him just like he is the luckiest man to have you ^^ <3 <3

    BalasHapus
    Balasan
    1. lomba maak, lomba bersponsor...
      tapi teteplah, biar pun lomba harus nulis dari hati, kaan...tsah..apalagi nulis tentang suami..ihhiiyy...
      makasih ya mak.. :D

      Hapus
  13. nulisnya bener-bener dari hati nih... penuh cinta... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ihhiiyyy....lah kok gw yang ihhiy? :))))

      Hapus
  14. Salut maaaak, udah sibuk tapi keluarga tetep nomer 1. Ditambah lagi ngeblog yang jalan terus, bener2 mak gahoool dah!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, semoga kita semua bisa jadi orang tua terbaik utk anak2 kita ya... :)))

      Hapus
  15. Dibalik jam kerja suami yang "unordinary" ada istri yang extra ordinary...

    Ihiyyy^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada istri yg kuat begadang juga...wkwkwkwk

      Hapus
  16. Hanya ada satu kata untuk menggambarkan semuanya, yakni SALUT buat suaminya.

    BalasHapus
  17. nah ini baru ayah keren yang mau ikut andil mengurus anak-anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo gak mau, siap2 aja ngadepin istri galak...lah? Hahahahaha

      Hapus
  18. Wah ayah dan suami hebat. Ketemu dmn dulu mak sama suaminya? Duh mupeng aku pgn suami kyk gt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Percaya gaak, kita ketemuan di chat room...wkwkwkwk...monggo dicoba....hihihihi

      Hapus
  19. paham bgt dunia jurnalis maklum papah saya jg jurnalis berita metropolitan untung aja suami ngelembur2 tapi dirumah..hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah siapa nama papamu? Dunia jurnalis biasanya akrab, apalagi sama jurnalis senior, biasanya kenal... ;)

      Hapus
  20. aih terharu bacanya neh mak

    BalasHapus
  21. pengorbanan seorang ayam plus suami yah. Ahh, jadi kangen suamikuu

    BalasHapus
  22. Langsung ingat satu nama di (kalau tidak salah ingat) Harian Topskor: Edu Krisnadefa. Foto bareng Fernando Torres dan komunitas Beatlemania, saya berani menebak ini pasti fan Liverpool. :D

    Salam kenal. Saya nyasar tapi betah di sini. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beyul mas, itu suami saya.
      Salam kenal juga ya. Terima kasih sudah mampir :)

      Hapus
  23. Sama kita ya mak...beruntung punya suami dan ayah super hebat :). Thumbs up for Bang Edu :)...aku ngg tau bagaimana kalau Udi, my munchkin, tidak bersamaku di saat suka dan suka..laaah, kok jadi mellow :)

    BalasHapus
  24. Salut sama Om..mudahan trs sehat.

    BalasHapus
  25. Selalu suka tulisan mak winda......kalo aku malah kebalikan..biasanya diatas 3 bln petugas mandiin suami..soalnya sudah mulai banyak gerak..takut licin ha ha ha

    BalasHapus
  26. Alhamdulillah.. Bersyukur ya Mbak, punya partner hidup seperti beliau :D

    BalasHapus
  27. Suka banget ama quote nya ""Hanya cinta yang bisa membuat pengorbanan menjadi bernilai ikhlas yang sempurna."
    Seneng nya punya suami baik sayang anak istri meskipun sibuk banget

    BalasHapus
  28. Kira-kira bagaimana ya rasanya menjadi Ayah? ehmm

    BalasHapus
  29. Belajar banyak dari suaminya emak. "Bayangin jadi Ayah :')

    BalasHapus
  30. Ayah yg hebat..
    Memang butuh pengorbanan ya buat selaraskan jadwal dengan anak..

    BalasHapus