Minggu, 01 November 2015

Belajar Membaca untuk Bilingual Kid

  41 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

Saya sebenarnya bukan tipe emak yang dikit-dikit cemas, dikit-dikit takut, dikit-dikit khawatir. Ya, maksudnya, ngapain dikit-dikit? Banyak-banyak aja sekalian. Ngahaha! Nggak, deng! Asli, saya mah orangnya selow banget. Sesuai dengan motto saya, "Biar selow, asal nggak melow." Motto macam apa ituh? Halah, pokonya gini, untuk urusan anak, apalagi seputar perkembangan kemampuannya, saya nggak panikan orangnya. Karena sadar, tiap anak pasti beda-beda cara menyerap dan mempraktekkan informasi yang dia dapat.


Begitu juga waktu saya menghadapi perkembangan kemampuan belajar anak-anak saya (Fadhil dan Safina). Mungkin beberapa teman sudah tahu kalau saya dan suami menerapkan sistem bilingual dalam berkomunikasi dengan anak-anak kami. Waktu anak pertama, Fadhil, saya agak terlambat menerapkan sistem bilingual ini, karena masih setengah hati menjalankannya. Jadi, ketika dia harus mulai belajar membaca, cara berkomunikasinya belum full dua bahasa (Indonesia dan Inggris), sehingga dia bisa fokus belajar membaca dan menulis dalam ejaan bahasa Indonesia.

Berbeda kejadiannya dengan Safina yang tahun ini sudah masuk Sekolah Dasar. Sejak umur 2 tahun anak ini sudah kelihatan kecenderungannya berkomunikasi lebih ke bahasa Inggris ketimbang berbahasa Indonesia. Secara verbal, dia lebih menguasai bahasa Inggris. Sehingga ketika beberapa bulan sebelum masuk SD dan guru di TK mulai mengajarkan baca tulis dalam ejaan bahasa Indonesia, bisa dibilang, pencapaian Safina agak di bawah teman-teman seusianya. Saya mah nggak galau, karena saya paham kondisinya. 

Anak bilingual menyerap informasi berupa kosa kata lebih banyak ketimbang anak satu bahasa. Untuk satu makna kata, ada dua kata yang dia pahami. Jadi saya pun nggak menuntut Safina untuk bisa memiliki kecepatan belajar membaca dan menulis seperti teman-teman lainnya yang tidak menerapkan bilingual. 

Ketika masuk SD, Safina baru mampu mengeja dua suku kata sederhana, seperti ba-be, ka-ki, la-ma, ba-ju, to-pi. Yang membuat saya agak kaget adalah, buku-buku paket pelajaran kelas 1 SD ternyata sudah berisi cerita dalam kalimat-kalimat panjang dan kompleks. Saya amati teman-teman sekelas Safina, sebagian besar sudah mampu membaca buku-buku paketnya dengan lancar, walaupun mungkin belum memahami arti dari kalimat panjang yang mereka baca. Pendek kata, Safina "kelihatannya" tertinggal dibanding teman-teman seusianya. Saya galau? Nggak! Hahaha! 

Melihat itu, saya memulai strategi baru. Pelajaran membaca dalam bahasa Inggris akan saya tunda sampai Safina lancar membaca ejaan dalam bahasa Indonesia. Sebelum masuk SD, Safina sudah bisa melafalkan alphabet dalam ejaan bahasa Indonesia dan Inggris. Sehingga dia sudah mampu membedakan bunyi huruf A dalam Indonesia dan Inggris, misalnya. Hal ini mempermudah saya saat mengajarnya membaca. 

Beberapa hal yang saya lakukan saat mengajar Safina membaca:

1. Pengenalan alphabet

Ini pelajaran paling dasar, sehingga menurut pandangan saya pribadi, sebaiknya sejak awal dikenalkan keduanya, baik dalam ejaan Indonesia mau pun Inggris. Hal ini akan berguna saat kita mulai mengajarkan membaca dan menulis dalam bahasa Inggris nantinya. Misalnya, penyebutan huruf A dalam bahasa Inggris berbunyi seperti huruf E dalam bahasa Indonesia. Alhamdulillaah, karena sejak awal mengenal huruf Safina sudah tahu kalau huruf A berbeda bunyi untuk Indonesia dan Inggris, jadi memudahkan saya kalau membantunya mengeja kata. Kalau dia minta tolong untuk mengeja kata dalam bahasa Inggris, saya akan mengejanya dalam ejaan Inggris. Begitu juga sebaliknya. Secara tidak langsung dia sudah berlatih mengeja dalam dua bahasa. 

2. Pilih prioritas 

Berhubung Safina sekolah di sekolah dasar negeri, mau tidak mau saya harus "change gear". Yang tadinya prioritas saya adalah melancarkan bahasa Inggrisnya, sekarang harus diubah dulu sementara, karena semua pelajaran di sekolahnya disampaikan dalam bahasa Indonesia. Artinya, kemampuan membaca dan menulisnya diprioritaskan untuk bisa dalam bahasa Indonesia terlebih dulu. Lebih bagus lagi kalau bisa keduanya bersamaan, tapi saya nggak mau maksa anaknya. Lah, dia juga kan harus mulai belajar baca Al Qur'an (huruf arab)? Saya nggak mau anaknya ntar merasa belajar jadi kegiatan yang menyiksa. 

3. Fokus di prioritas, jangan tinggalkan yang bukan prioritas

Selama beberapa bulan ini, sejak Safina masuk SD, saya mulai fokus mengajarnya membaca dalam ejaan Indonesia. Namun bukan berarti saya meninggalkan begitu saja bahasa Inggrisnya. Persentase dan bentuknya aja yang saya bedakan. Untuk belajar Indonesia 70% dan berupa belajar konvensional (latihan membaca, menulis, dikte dan lain-lain), sedangkan untuk Inggris sekitar 30% dan bentuknya tidak konvensional (listening lewat nonton film/video, speaking lewat membuat home video, menebak tulisan lewat kegiatan membaca buku cerita sebelum tidur/bed time story). 

4. Permainan Berkirim Surat


Safina lagi suka banget menulis note atau catatan kecil yang ditujukan untuk siapa saja. Kadang dia ingin menulis memo untuk teman sekelasnya. Kadang dia ingin menulis surat untuk sepupunya. Kadang dia kepengen curhat atau komplen sama emaknya. Hhhh .... Beberapa kali temannya merayakan ulang tahun, Safina selalu menulis kartu ucapan untuk mereka. Kadang dia ingin menulis dalam bahasa Inggris, kadang Indonesia. Terserah dia aja, deh. Hihihihi. Yang jelas, kalau dia nulis surat komplen buat emaknya, selalu dalam bahasa Inggris. Dan yang bikin kocak, kata per kata dia tanya ejaannya. Kan ketauaaan, dek kamu mau komplen apaan sama mama! Bleh! Tapi kegiatan ini jadi latihan juga buat Safina. Karena sering melakukannya, beberapa ejaan kata yang sering digunakan dengan sendirinya dia jadi hafal. 

5. Tebak huruf dalam dua bahasa

Untuk melancarkan hafalan ejaan huruf dalam kedua bahasa, biasanya saya suka iseng nanya, "Dek, huruf A dalam bahasa Inggris apa?" Atau saya balik, "What's B in bahasa Indonesia?" Trust me, it helps a lot! Try it, just for fun. 

6. Chatting via smartphone



Kadang Safina suka minta ikutan mainin henpon saya (gara-gara ngeliat emaknya nggak lepas-lepas megang HP kali). Dia suka nanya saya lagi chat sama siapa kalau dia lihat saya sibuk di Whats App. Hihihi. Jadi kadang suka saya ajak sekalian aja chat sama Papanya yang lagi di kantor, atau dengan sepupu-sepupunya di Singapura. Kalau lagi pengen pakai bahasa Indonesia, saya ajarkan ejaan dalam bahasa Indonesia, begitu juga kalau dia mau pakai bahasa Inggris, pelafalan huruf akan saya lafalkan dalam ejaan Inggris.


Itu tadi beberapa contoh kegiatan yang saya lakukan untuk mengajarkan Safina membaca dan menulis. Tujuannya, agar kemampuannya membaca dan menulis berimbang untuk dua bahasa. Seperti yang sudah saya katakan di beberapa artikel seputar bilingual kid, jangan berharap hasil instan, selalu konsisten dan jangan disamakan kemampuan anak sendiri dengan anak lain. Beberapa cara yang saya pakai mungkin aplikatif untuk teman-teman, tapi mungkin ada yang tidak sesuai, karena pengaruh faktor lainnya. Silakan kreatif aja mencari cara yang paling cocok buat anak-anak kita. OK, sip. Semoga bermanfaat. ^_^

Baca ini juga ya, supaya lengkap:









41 komentar:

  1. Benar banget. Tiap anak itu unik.
    Kebiasaan berbahasa bilingual aku juga terapkan di rumah.
    Busyet, aku malah tertinggal nih sekarang sama ananda.
    Terima kasih telah berbagi, ya Mom

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama, mak...
      semoga bermanfaat :)

      Hapus
    2. wah tulisane emak keren dan bermanfaat juga. sy guru SD ndak bisa menulis sebagus ini. makasih ya emak...

      Hapus
  2. Makasih Mbak artikelnya. Saya sampai sekarang masih maju mundur mau menerapkan sistem bilingual ini :D Mencerahkan postingannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin kalau ragu, banyak2 baca referensi aja dari pakar anak... ;)

      Hapus
  3. Nah... ini juga yang bikin aku galau mak. Aku emak yg banyak cemas dan banyak khawatir. Anakku sekarang ceritanya sekolah pake kurikulum Perancis, bentar lagi mau balik ke Indonesia pasti harus masuk sekolahan Indonesia. Aku galau...mungkin anakku yg kecil seumur Safina deh, membaca dan menulis Indonesianya juga masih belum lancar.

    Baca ceritanya Safina bikin aku mikir.. pingin selow aja lah, yg penting ntar cari sekolah yang mau nerima dan mengerti kondisi anaknya... kalau dipaksa atau belajarnya dikejar emang kasian sih ya.

    Tengkiyuuu mak for sharing ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama-sama, mak...
      aku gak bilang safina gak punya masalah...
      pasti ada, tapi ya dicari solusinya sambil jalan...dan yang penting gak membebani anaknya.. ;)

      Hapus
  4. Makasih mak! Aku rasa aku sudah terlambat.. :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, nggak terlambatlaah, noofa kan masih imut...
      tapi terserah lho, ini pilihan masing2.. ;)

      Hapus
  5. Tengkyu Maaak sharingnya.
    Saya juga selow kalau soal perkembangan anak-anak.
    Pengen bilingual juga euy di rumah (english dan b.Indonesia).
    Mungkin nanti saya terapkan kalau anak-anak mau ke SMP. Sekarang, sayanya dulu yg harus belajar bahasa Inggris nih. (Ah, mungkin telat banget kali ya?)
    Sekarang mau mengajarkan 3 bahasa di rumah juga masih susyah. ( B.Indonesia, b.Sunda, b.Jawa ) :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, iya terserah aja, mak...
      aku juga jalanin ini sambil jalan kok...
      bahasa inggrisku juga nggak bagus-bagus banget...
      tapi ya sambil belajar juga sama anaknya... ;)

      Hapus
  6. saya pernah berada pada posisi gagap dalam berbahasa, Mak, karena kuliah bahasanya campur aduk. ada yang bahasa arab, Inggris, dan Indonesia. Keseharian di kampus didominasi dengan berbahasa Inggris, balik ke kosan pakai bahasa arab semua, beberapa pelajaran pakai bahasa arab. Nyaris ketika awal-awal kuliah, bahasa saya jadi gado-gado pake banget, ada semacam kebingungan kapan saya harus berbahasa inggris, arab, Indonesia, dan bahkan sekarang kadang tercampur dengan bahasa Rusia yang baru saya pelajari 6 bulan terakhir. haha curhatnya banyak nih, Mak.

    Pelan-pelan, akhirnya bisa memahami suasana, nggak lagi campur aduk ngomongnya, mulai teratur, meski kadang saya bengong ketika mau belanja di toko dan bahasa yang keluar bukan seharusnya. Misal, pas mau beli bakso, yang keluar malah bahasa INggris, kan, nggak lucu, ya, mak. Tapi itu dulu, sekarang udah nggak separah dulu hahha.

    sekian curcol tengah malam. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. beugh, bisa bahasa rusia, bahasa arab, bahasa inggris, bahasa indonesia...sampe ketuker2...hebraaaaattt! :D

      Hapus
  7. kita juga mengalami keseruan yang sama..apalagi dengan jadwal pindah-pindah begini, yang notabene juga tidak selalu berbahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia. Ada masa Bo mencampur bahasanya dengan bahasa Indonesia, Perancis dann Inggris..sekenanya dia aja...dan banyak temannya yang anggap Bo aneh. Sedihnya Bo jadi ngga mau berbicara bahasa asing selama di tanah air because his friends thought he was weird. Di sini, Bo udah asyiiik ajaa berbahasa lokal, tapi Perancisnya sudah ditinggalkan beneer :( hiks hiks...well,,yang jadi masalah adalah Obi karena sekarang sedang belajar membaca dan I know she was torn between English dan bahasa Indonesia. But you're right..priority has to be set dan kita focus ke bahasa Inggris dulu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. naahahaha, kondisi bo dan obi kebalikannya kondisi safina ya, mak..walaupun ya sama problemnya...
      semoga anak-anak kita bisa adaptasi dan menikmati proses belajarnya ya mak.. ^_^

      Hapus
  8. Wah keren ya Safina kecil2 jao english. Anak sepupu ada juga yg pinter english mak, katanya ngga diajarin cuma nonton dr tipi aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. awalnya safina memang belajar dari tivi dan lagu2...
      tapi sekarang udah mulai diarahkan supaya inggrisnya benar...salah satunya ya lewat belajar membaca dan ikut kursus... ;)

      Hapus
  9. Keren banget mak, semoga saya juga bisa mengajarkan Marwah bilingual hehe, harus belajar bahasa inggris nih emaknya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. belajaya bareng aja sama anaknya, sama2 praktek...sama kayak aku dan safina...aku sekalian ngelancarin ngomong inggrisku.. :)

      Hapus
  10. kalau anak bilingual memang penyerapan bahasanya terkesan lambat..tapi lebih kaya...salut mak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, aku aware sama kondisi itu...memang terjadi sama safina..
      tapi bukan sesuatu yang mengkhawatirkan kalau buat aku, karena masih bisa dicari jalan keluarnya...
      terima kasih yaa.. :)

      Hapus
  11. Dulu saat saya masih duduk di bangku SMA, saya juga suka surat menyurat atau bahasa kerennya Korespondensi. Dulu waktu itu sekitar era 89 an gitu deh,. Saya masih belum kenal Internet apalagi email. Ya korespondensi gitu deh hiehiheiheihee

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, iya..dulu waktu kecil saya juga punya sahabat pena dari luar negeri..lumayan buat belajar.. ;)

      Hapus
  12. Terimakasih tips nya mak,,
    senangnya melihat anak-anak yang bilingual,, safina keren:)

    BalasHapus
  13. Safina kereeen! Aku belajar Bahasa Inggris pas SMP, mak. Ketinggalan jauh sama Safina. huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. gapapa, yg penting sekarang udah bisa kan? ;)

      Hapus
  14. penerapan yang cukup bagus, saya juga in shaa Allah kalau udah jadi ibu bakalan kudu nerapin sistem bilingual begini biar pas masuk sekolah pembelajarannya tentang bahasa hanya tinggal mempermantap saja.

    dianexploredaily.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. sip, makasih udah mampir ya dian.. :)

      Hapus
  15. Kemampuan setiap anaknya berbeda dan unik ya Mbak :)

    BalasHapus
  16. Java mau daku terapin bilingual kok suse banget ya, mak?
    Apakah kita harus konsisten gitu speak in English in whole day?
    bukannya ngomong English eh dianya malah sekarang bilingual nya Indonesia and Javanese...karena terpengaruh sama mamakya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. baca sharing aku yg lain soal penerapannya di safina deh mak...
      mungkin cocok... ;)

      Hapus
  17. Saya sih agak beda, gak begitu aktif di bhs Inggris. Jadi paling kata-kata benda sj yg di tw anak. kadang juga diajar kata benda bhs arab. Tapi kadang sy berpikir. sbnarnya yg lebih baik mana yah? Apa klo lebih dr 1 bhs, anak gak pusing yah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya nggak "ngajarin" ke anak...
      sejak awal saya cuma berkomunikasi dalam bahasa inggris secara konsisten...dan papanya berkomunikasi dalam bahasa indonesia secara konsisten...
      hasilnya ya begitu...
      bukan ngajarin ini artinya itu, atau ditrjemahkan...saya juga pusing kali kalau digituin. :D
      ini sesederhana cara berkomunikasi kami dalam keluarga aja kok.. bedanya cuma, pakai dua bahasa... :D

      Hapus
  18. Safina pinter banget ih udah bisa cas cis cus inggris gitu. Saya mah ketinggalan :(( jadi malu euy kalau lihat videonya Safina :")

    BalasHapus