Kamis, 24 Desember 2015

Masalah Yang Muncul Saat Anak Bilingual Belajar Membaca

  32 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

Di balik waw wew wow teman-teman saya melihat Safina yang cas cis cus ngomong bahasa Inggris, sesungguhnya dia sedang menghadapi tantangan di fase usianya sekarang ini.

Membaca dan memahami apa yang dibaca masih merupakan kendala buat dia baik di sekolah dan di rumah. Saya sudah paham kalau masalah ini akan datang cepat atau lambat. Ini adalah salah satu problem umum untuk anak-anak yang dibesarkan dalam dua bahasa (bilingual). Apalagi untuk anak-anak Muslim yang juga harus mengenal huruf arab. Tambah banyak bentuk simbol huruf yang harus dihafal dan dipahami pengucapannya. 


Masalahnya adalah, bicara dan membaca tentu berbeda cara untuk mempelajarinya. Membaca dan menulis mengharuskan Safina untuk tekun mengamati bentuk huruf, menghafal bunyi atau pelafalannya dan bagaimana menyambungnya menjadi kata. Belum lagi memahami arti katanya. Mumet pasti buat anak seumur dia. Dan saya adalah Mama Anti Bikin Depresi Anak, karena mama yang depresi tidak baik untuk kesehatan seluruh anggota keluarga. Hihihi. Saya nggak mau mentang-mentang Safina udah mulai terampil komunikasi dalam dua bahasa, terus membaca dan menulisnya juga harus dua bahasa sekaligus. Dan semua harus dikejar barengan. Whew! Kasian anak guwweeh. 

Masalah yang Dihadapi Safina dan Solusi Ala Emak Gaoel

1. Tertukar bunyi/lafal huruf antara pelafalan dalam bahasa Indonesia dengan Inggris. 

Misalnya, huruf A pada bahasa Indonesia dilafalkan "a", sedangkan pada bahasa Inggris dilafalkan "e". Perlu beberapa waktu untuk Safina memahami kalau bunyi satu huruf bisa berbeda dalam bahasa lain. Ini perlu latihan konstan, tapi jangan dipaksakan. Gimana caranya konstan tapi nggak maksa?
Kalau saya biasanya menyempatkan belajar pelafalan huruf bahasa Indonesia saat sedang belajar pelajaran sekolah. Jadi di pikiran dia akan berasumsi kalau yang sedang dia lafalkan adalah bunyi dalam bahasa Indonesia, karena sekolahnya selalu memakai bahasa Indonesia. Sedangkan untuk menghafal bunyi huruf dalam bahasa Inggris, biasanya saya selipkan saat membaca buku cerita atau membaca tulisan yang ada di dalam game yang sedang dimainkannya. Karena selama ini, saat di rumah dan bermain bersama saya atau tidak, dia selalu memakai bahasa Inggris aktif. Sehingga asumsinya terbentuk untuk melafalkan dalam bahasa Inggris. Ini saya lakukan dengan disiplin, tapi tidak dengan frekwensi tinggi. Artinya, cukup dua sampai lima menit dalam sehari, asalkan terus-menerus.


2.  Cenderung tahu arti kata dalam salah satu bahasa.

Untuk kasus Safina, dia lebih cenderung tahu arti kata dalam bahasa Inggris ketimbang dalam bahasa Indonesia. Untuk mengimbanginya, saya selalu berupaya untuk menjelaskan setidaknya satu kata per hari dalam dua bahasa. Misal, dia sedang sering mendengar kata "villager" dari game yang sering dimainkannya. Saya jelaskan kalau dalam bahasa Indonesia, "villager" berarti "orang desa". Dan biasanya pertanyaan berlanjut, "What's 'desa'?" Dari sana percakapan akan berkembang, dan kalau dia masih melontarkan pertanyaan lanjutan, artinya dia akan belajar lebih dari satu kata hari itu. Tapi kalau tidak, ya udah. Saya hanya melanjutkan dengan mencontohkan tulisan satu kata tersebut.
Untungnya, Safina di rumah adalah anak yang aktif sekali bertanya dan diskusi dengan saya. Heu euh, kalau di luar rumah dia pemalu banget. Gemes sebenernya, tapi balik lagi, saya nggak mau maksa anak. Paling saya coba cari solusi-solusi kreatif ala-ala saya aja untuk menyiasatinya. Salah satunya dengan membuat home video kayak gini untuk memancingnya agar lebih percaya diri berbicara.



3. Lama memahami rangkaian kata dalam kalimat.

Iya jelas aja. Untuk menghafal kata aja udah harus berjuang, ditambah lagi harus mengerti makna dalam beberapa kata di satu kalimat. Belum lagi kalau kalimatnya panjang. Yang suka bikin saya rada stress dikit itu kalau udah baca soal pertanyaan esai di sekolahnya. Untuk anak kelas 1 SD, pertanyaan sudah banyak yang berbentuk seperti soal cerita. Minimal ada tiga sampai lima kalimat panjang sebelum pertanyaan dilontarkan. Bujubuneng!
Kasian sebenernya sama anak-anak ini, makanya Safina nggak terlalu saya push untuk dapat nilai bagus di sekolah. Bukan saya cuek dengan pendidikannya. Tapi buat saya, lebih baik dia menikmati proses belajarnya ketimbang tertekan untuk bisa dapat nilai tinggi di sekolah. Hey, buat yang anak-anaknya pinter di sekolah, no offense, ya. Tiap anak berbeda. Maybe my kid just needs different way of learning. Balik lagi, itu tanggung jawab saya untuk menemukan cara yang paling efektif untuk dia. Cara saya belum tentu manjur untuk anak lain.



4. Dikte menjadi "siksaan" sekaligus "permainan" yang mengasikkan.

Gimana itu, deh? Waktu awal mulai sekolah beberapa bulan yang lalu, Safina sempat mengeluh sama saya soal dia nggak suka kalau gurunya menyuruh mereka sekelas menulis dengan cara dikte. Buat anak-anak yang sudah lancar membaca tentu saja itu tugas yang mudah, tapi buat Safina lain hal. Dia berjuang keras untuk bisa menulis kata per kata yang diucapkan gurunya. Sering saya temui kesalahan eja di buku tulisnya. Sekali lagi, saya paham perjuangannya. Dalam hati cuma bisa mendoakan dan mencari jalan keluar.
Akhirnya saya menemukan solusi asik untuk menghadapi masalah ini. Tiap hari, minimal satu kata dalam bahasa Indonesia dan Inggris akan saya diktekan huruf per huruf untuk dituliskan oleh Safina. Jika itu kata dalam bahasa Indonesia, saya lafalkan ejaan dalam lafal abjad Indonesia. Kalau kata tersebut dalam bahasa Inggris, saya lafalkan dalam lafal abjad Inggris. Nggak banyak-banyak, satu kata aja masing-masing. Kadang dalam seminggu satu kata itu diulang terus. Seenggaknya, perlahan tapi pasti, dia mengingat susunan abjad untuk kata tersebut.


Beberapa solusi di atas sudah ada beberapa yang memperlihatkan hasil. Sekarang Safina lebih lancar saat mengerjakan PR-nya dari sekolah. Walaupun masih harus saya bantu sesekali. Dan sejak minggu lalu, Safina punya diary yang ditulisnya setiap hari, dalam bahasa Inggris. Buat saya, ini kemajuan yang luar biasa. Mungkin banyak anak di luar sana yang sudah lancar membaca sejak balita. Tapi saya berusaha untuk tidak terintimidasi dan sebisa mungkin membangun kondisi yang tidak menekan Safina juga, supaya proses belajarnya tetap menyenangkan.

Sebenarnya masih ada beberapa masalah seputar proses belajar membaca Safina, sih. Tapi saya lupa. Hahaha Ntar deh, kalau inget lagi, saya bikin sambungannya. Intinya, nggak ada masalah yang tidak dilengkapi dengan solusi. Jadi orang tua kreatif itu bukan pilihan lagi untuk jaman sekarang, melainkan kewajiban. Semoga ke depannya dia akan memetik buah dari kegigihannya memakai dua bahasa sekaligus sejak kecil. Ibaratnya, Safina sedang menanam benih saat ini Dia lagi bersusah payah menjaga benihnya agar tumbuh dengan rutin menyiram dan memberi pupuk. Suatu saat kelak, dia sendiri yang akan memetik hasilnya. Semoga.  

Hi, my daughter's name is Safina. She's seven years old and still learning how to read, in Indonesian and English. 
She's struggling, and I'm proud of her! ^_^ 


Baca artikel saya yang lainnya seputar anak bilingual di SINI

32 komentar:

  1. Balasan
    1. dapet voucher 2.000 buat parkir di indomaret

      Hapus
  2. Hebat, Safina!

    Udah bisa membaca dan menulis dg dua bahasa. Makin lancar yaa, sayang. Apalagi kalau ditambah bisa nulis dan huruf hijaiiyah..

    Noofa baru bisa nulis ABATA dalam hurup arab
    ABC
    NOOFA
    ABI
    UMI


    hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. noofa kereeen, udah bisa huruf arab...lanjutkaan :)

      Hapus
  3. keren nih tipsnya, Mak. Semoga safina tumbuh menjadi anak yg shalehah, ya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin aamiin aamiin ya robbal alamiin...:)

      Hapus
  4. Safina kece. Bahasa Inggrisnya aku kalah dong xD

    BalasHapus
  5. Wiiih ini mah anak keren. :D Aku aja belum bisa cuss bahasa inggisnya. Kebanyakan pake google translate

    BalasHapus
    Balasan
    1. banyakin makan youtube aja tante hahahahaaa

      Hapus
  6. Ini masalahnya sama kaya saya. Cuma naeema hanya paham 1 bahasa, dia tau ejaannya tapi kadang konsep hurufnya yg masih salah. Saya jg g mau maksa dlm belajar, biar 5 menit yg penting anaknya enjoy. Dari situ dia bs paham bahwa belajar itu menyenangkan.

    Untung mampir kesini, paling engga saya ga sendirian dan PD bahwa yg saya jalani jg dipahami orang lain 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mak, gak bisa mengharapkan hasil instan, yg penting konsisten aja, biar cuma sebentar tapi terus menerus githuuu... ;)

      Hapus
  7. Ish, keren Safina. Seumuran Safina aku cuma tau yes, no, crazy dan love hahaha... Akku setuju kalau anak harus menikmati proses, bukan dipush dengan pencapaian ya, Mak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. setuju, mak...maksa2 ntar anak gw stress, kasian, udah dapet emak macam gini, masih dibebani sama harus pinter segala macem, beraaatttt

      Hapus
  8. Diajarin mulai usia berapa,Mbak? Ini Altaz baru tiga tahun lebih tapi sudah lumayan sih. Cuma bingung cara ngajarinnya lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. dari bayi, mak...kalau masih kecil gitu mah diajak ngobrol aja kayak biasa...aku udah pernah share di artikel2 sebelumnya... :)

      Hapus
  9. yang penting konsisten maaak..I do have the same issues here..bahkan ditambah satu bahasa asing lainnya hehehe...untuk latihan baca, coba metode sight words mba, pilih kata yang mau dihapal, lalu dibuat dalam daftar atau list yang lucu..bantu dia ulang sambil mengeja, terus saat baca buku sama-sama, kalau dia melihat kata yang masuk dalam sight words, she will recognize it and remember how to spell and write it..kita mulai dengan yang pendek dulu..seperti they, the, are, we, etc... But you're doing great kooook :)..kiss for Safina yaaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya setujuuu, konsistensi yg penting banget. Gak bisa ngajarin baru seminggu, trus abis itu kendor, tapi ngarep hasil...gak mungkin berhasil ya...
      sip, nanti aku coba metodenya, makasih ya mak.. :)

      Hapus
  10. Hai, Safina. You're a great girl! Keep trying to learn, Safina :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. thank you, tantee...safina kepengen pinter kayak anak2 tante Fita ^^

      Hapus
  11. Bener banget.. Dulu adik gue juga gitu mak.. Diajarin b.indo susah banget, bahkan gak ngerti, efek udah join-nan ama bhs inggris mak.. Tapi berjalannya waktu, skrang udah kelas 5 Sd ya lumayan.. Walau gak bisa ngomong 'R'
    titip boleh ya mak.. Lagi bikin new blog.. http://sehatku8.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, kok sama...safina sama abangnya sampe skrg cadel karena dr kecil biasa komunikasi bahasa inggris :)))

      Hapus
  12. ((Di balik waw wew wow))

    Saya termasuk yang suka ngewow-wow sendiri kalau sudah lihat Safina cas cis cus inggris :D

    Oh iya mak, saya juga punya ponakan nih. Dari kecil suka nonton channel tv anak-anak berbahasa inggris. Sekarang cara ngomongnya ya kayak Safina gitu. Tiba-tiba pinter bahasa inggris aja. Eh pas ngomong pakai bahasa Indonesia udah ala bule bule :D

    Nah terus sama emaknya yaa saya suruh kepoin fb dan blognya emakgaoel ini. Yaa biar banyak belajar. Saya pikir juga si ponakan perlu diseriusin tuh belajar inggrisnya, dimasukkan ke EF juga maybe kayak Safina..

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah, kalau udah mulai terbentuk gitu udah rada enakan pengembangannya...lanjutin aja... :)

      Hapus
  13. keren deh safina, sukses terus belajarnya yaa.. :D

    BalasHapus
  14. awalnya aku ajarin anakku pas dia bayi pake bahasa Inggris.. Tapi masuk ke umur 2 thn ke atas, papinya malah ngajarin bhs jawa, eyangnya bhs jawa, babysitter ngajarin bahasa betawi -__-.. emaknya yg udh susah payah ngajarin bhs inggris dr bayi, malah terlupakan, apalagi krn aku lbh srg pulang malam sampe rumah dr kantor -_-.. jd ketemu si kecil biasanya dia udh tidur..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe, kalau kebanyakan gitu malah susah kayanya....ada metode yang namanya OPOL (One Parent One Language), kalau fokus di situ, mudah2an bisa berkembang mak...jadi gk masalah kalau ketemu mamanya cuma pas malem, yg penting selama komunikasi pake satu bahasa yang sama. aku menerapkan itu dari sejak anak-anak bayi.

      Hapus