Senin, 30 November 2015

What If the World Doesn't Have Smartphone?

  26 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Let me take you to the era when phone was just phone. It's nothing but talking and texting device. Phone was just phone, without title "Smart" before its name. Because at that time, the only smart ones were just us, human.

The smartness of human has evolved. Phone which was claimed as smart phone arrived. Most of us embracing the moment. Sending photo was like as easy as waving Harry Potter's magic wand. Texting speed was like we were just talking with someone in front of us, face to face. It was just like yesterday, when trying to reach someone for urgent matter was a huge problem. We were waiting and worrying without knowing where our loved ones were. And now, just a click or tap on your smartphone's screen, you are able to locate them. Everything was so clear and noticable in instant. Suddenly, our life becomes so different. Life back then was so simple yet complicated. Life today is becoming so "complicated" yet simple. 


Some people are struggling to embrace the evolution of the way we communicate today. Skeptical thought emerged as an excess of the way we connect with other people today. Some say, "Life is what happens to you while you are looking at your smartphones." Indeed. Some of us forget that life is not stopping even when we're so busy typing on our smartphone's screen, scroll down an article in our browsers, giggling at some funny pictures on social media, or stalking at someone's relationship. Yes, technology can sometimes be so intriguing and addicting. It  comes to choices, whether you let your smartphones control you or you control your smartphones so you can be smarter people? It's totally up to you.

Hisense PureShot+, image from Hisense.id

I, my self, am one of those who embracing the evolution of how we connect nowadays. I welcome social media enthusiastically. I thank God for email and chat apps gratefully. I jump excitedly for photo and camera on my smartphones like little kids got a basket of candies. Yes, I am that excited. Because I'm aware, evolution is something that humanity can't resist. People invented something in order to survive. 

My best friend, Indah Julianti, recently got her new smartphone from Hisense, PureShot+. She told me her experience of using it and how PureShot+ have helped her daily life as a mom and a professional blogger. PureShot+ has been a huge help for a multitasking mom and blogger like Indah. It helps her capturing her motherhood with her children through the 13 MP front camera and 6 MP rear camera on PureShot+ from HisenseProcessor octa-core 64-bit Qualcomm Snapdragon 415 with clock speed 1.4GHz has definitely help her hectic days as a founder of some bloggers' communities. As she flies to some cities in Indonesia, the job as a mom and a blogger is not stopping. It's a constant work that needs high performance device as a supporting tool. She needs smartphones that can stay awake with her. In other words, she prefers her smartphones to have a long last battery, and PureShot+ with Qualcomm Snapdragon processor has made the 2200 mAh battery capacity work optimally. There's nothing can stop the move of my busy friend there. Haha! 

Indah Julianti, a mom, active blogger and founder of blogger's community (photo courtesy: Indah Julianti)

In other words, Hisense PureShot+ has made Indah's life reimagined. She doesn't miss any moments with her family, she keeps doing her duty as a community person, she flies all over country to spread the spirit of blogging. All of that is possible now, thanks to Hisense PureShot+

For me, Indah is an example of person who is smart with her smartphone. She uses it to upgrade her life. The controls is in her hands. And it starts when she chose Hisense PureShot+ as her partner. I am so gonna follow her steps real soon. I need my Hisense PureShot+ too to reimagine my life. I need it to manage all the hectic stuff happening around me and inside my head. I want to be that person who embrace the growth of technology and refuse to be drawn in it. 

Indah's daughter, photo taken by Hisense Pureshot+ camera (photo courtesy: Indah Julianti)

I believe that we are not our gadgets. Everything comes from the inner side of ourselves. Become a good person, a great motivator, a creative one, is our choice. To make the gadgets as a supporting tool shows that we're one step ahead in this fast moving world. 

"What if the world doesn't have smartphone?" We still live for sure. We would still spend the same amount of time on something that actually can be done in seconds. We could still be wondering where were our kids, helpless. Would you decline the chance of being a better and more productive person with a help of the technology? It's your choice. I know mine. 

A note from Indah, "Winda, you should use this Hisense PureShot+. It's awesome!"

Jumat, 27 November 2015

Bule Gaul yang Jago Masak Jajanan Pasar Indonesia

  32 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

Kata orang bijak, "Kita nggak tahu lewat apa Tuhan mempertemukan kita dengan manusia lain." Bisa kenalan sama orang waktu lagi nungguin kereta. Bisa lagi buru-buru udah telat masuk kerja, terus tabrakan, terus isi tas berhamburan, terus jongkok pelan-pelan bersama-sama, mungutin barang-barang yang berceceran, terus saling bertatapan .... cieee, sinetrooon. Hahahaha. Kemarin saya baru dapat teman baru, lewat foto pete. Iya, PETE! Atau PETAI untuk lebih jelasnya. Hah! *hembus napas bau naga*



Asisten rumah saya baru balik dari kampungnya kemarin dan bawa oleh-oleh pete fresh from the tree. Ah, si mbak, tau banget kesukaan majikannya. Mmmuuaach! *kecium bau naga lagi* Tentu aja, dengan penuh kebanggaan pete montok-montok itu langsung saya foto dan post di Instagram. Nggak lupa pake hestek #IndonesianFood biar nggak diklaim. Hihihihi. Nggak ada itungan menit, nongol notifikasi dapet like dari akun yang nama dan foto profilnya catchy banget buat saya. Fotonya bule tapi user  name-nya pakai bahasa Indonesia: @masak2denganNick. Langsung kepo, stalking akunnya. Berlanjut ke fanpage-nya dan langsung meluncur ke channel Youtube-nya. Dan abis itu bengong. Hahahaha.

Ada bule nge-like foto pete gue! :v 

Buset, ini bule ngomong bahasa Indonesia udah kayak anak Jakarta banget! Fasih nggak ada cadel-cadel bulenya sama sekali.  Terus lihat video-videonya di Youtube, saya sampe malu jadi emak-emak asli Indonesia. Huaaa, si Nick ini ternyata jago banget masak kue-kue jajanan pasar khas Indonesia! Jadi kayanya Nick ini hobi masak, dan channel di Youtube-nya yang dikasih nama Masak-masak Dengan Nick khusus untuk video-video masakan khas dari seluruh Indonesia. Mulai dari kue talam ubi, kue pepe, kue nagasari, bakso goreng, sampe jamu beras kencur, bo! Bahasa yang dipakai selang-seling Inggris dan Indonesia yang fasih banget. Ini bule kok punya kesukaan nggak biasa banget, ya? Hihihihi. Sampe jamu-jamuan pun dibuatkan video cara pembuatannya di Youtube. Siapa sih Nick ini? "Hmmm, pasti anak blasteran, nih. Atau kecilnya pernah sekolah di Jakarta. Anak diplomat kali." Jiwa sotoy saya langsung bergelora. Hahaha. Tapi daripada nebak-nebak nggak jelas, mending saya tanya langsung aja, kan?
Singkat cerita, saya dan Nick yang asli warga negara Australia dan sekarang tinggal di Sidney ini kenalan di fanpage-nya. Dan berlanjut via email, langsung saya wawancara. Nggak nyangka ternyata Nick yang punya nama lengkap Nicholas Molodysky ternyata baru berusia 23 tahun. Masih muda banget. Nick punya istri orang Indonesia, "Istriku orang Tanjung Duren. Hahaha!" katanya waktu saya tanya-tanya seputar istri dan keluarganya. Biar percaya kalau Nick ini beneran fasih ngomong bahasa gaul anak Jakarta, saya copas plek-plek jawabannnya dari email, ya (agak dirapihin dikit yang ada singkatan-singkatannya). Tapi asli, saya mah ngakak ada bule bilang orang tuanya dengan sebutan "Bonyok". Hahahaha.


Kamu kok bisa fasih banget ngomong Indonesia, sih? Belajar di mana? Apa punya orang tua
campuran (Aussy dan Indonesia) gitu?

Ga ada campuran Indo (Indonesia) sama sekali. Bonyokku ga bisa ngomong satu kata pun haha. Kisahnya gini, dulu pas aku kelas 5 SD, sesekolah wajib ambil kelas bahasa Indo selama dua taon. Waktu itu ya cuman bisa itung ampe 100, nanya jem (((JEM, red: komen Emak Gaoel))) berapa, dan lain-lain. Setelah ituuu, aku lanjut belajar ampe kelas 3 SMA. Waktu kelas 2 SMA, entah kenapa jadi rajin banget belajar, terus cari guru les privat supaya bisa lebih lancar. Guru lesku (yang sekarang teman baek) kenalin aku ke komunitas Jakarta di Sydney. Jadinya ngobrol pake bahasa Indo doang semenjak itu ma temen-temen. Aku juga lanjut S1 bahasa Indo dan bahasa Chinese di Sydney. Temen kampusku ampir orang Indo semua.. Tiap ada kelas malah pake bahasa Indo daripada Inggris (kadang campur bahasa Hokkien juga dikit-dikit, hehe). Semenjak ituuuu, aku lumayan aktif ikut komunitas Indo di Aussie juga. Istriku orang Tanjung Duren hahahaha. Aku belum pernah tinggal di Indo. 

Diambil dari akun Instagram Nick, liat bahasa yang dipakai buat nulis resepnya, bahasa sehari-hari banget. :)))

Emang hobi masak ya? Kenapa suka banget masak kue-kue Indonesia? Sejak kapan mulainya? Dan belajarnya dari mana?

Aku dari kecil hobi banget masak, dari SD sih sebenernya. Suka di dapur sama nyokap cobain ini itu, ampe sebelom masuk kuliah rencananya mo culinary school, cuman jadinya lanjut S1 trus S2 yang lebih akademik. Ya masakan Indo emang enak! Aku makan apa aja!


Terusss, kepikiran buat channel Masak-masak dengan Nick di Youtube, tujuannya apa, nih?

Aku liet, memang ada kekurangan info tentang masakan Indo buat bule. Trus juga banyakan bule ga tau tentang jajanan pasar. Taunya cuman nasi goreng, mie goreng, gado-gado sama palingan es campur. Lagian aku juga tujuannya kasi liet pemirsaku kue-kue dari setiap daerah di Indo, bukan cuman yang paling terkenal doang. Contohnya aku rencananya mo bagi resep kue Maksuba khas Palembang sama Sala Lauak dari Sumbar (PS: Emak Gaoel asli Sumbar tapi malah gak tau ada kue namanya Sala Lauak -_-), Tujuannya karna bule Aussie cuman tau budaya Bali ama Jawa aja. Trus aku jarang ketemu org Indo juga yang tau kue Maksuba tu apaan. Jadi ya begitu ....


Dan, Nick ini ternyata udah pernah nerbitin buku juga, lho. Buku tentang belajar bahasa gaul Indonesia, hahaha. Kurang gahol apa ni anak? Wkwkwk. "Bukuku tentang bahasa gaul Indo, ajarin bule-bule caranya pake bahasa gaul, karna pas aku kuliah kagaaaaa ada yang bisa bahasa gaul sama sekali. Ampe hari ini cuman bisa ngomong yang baku sebaku-bakunya," kata Nick. Jleb! Bule asli Australia, nggak pernah tinggal di Indonesia, ngangkat jajanan khas dari seluruh Indonesia, mengenalkan ke seluruh dunia, dan bikin buku belajar bahasa Indonesia sehari-hari supaya Indonesia bisa jadi lebih dilihat. Emejing? Heu euh, banget! I personally, so happy to find him online. Dan dapat kesempatan wawancarain dia senengnya bukan main. Karena orang kayak Nick belum banyak. Dia punya ketertarikan yang unik, mau belajar abis-abisan, dan mau menyebarkannya ke orang lain. Jangan ragu lagi, nggak rugi banget buat follow IG-nya, fanpage-nya dan yang pasti video-video memasaknya di Youtube. Silakan kenalan sendiri. Anaknya ramah dan bocor. Saya bilang, karena umurnya masih 23 tahun, dia berondong. Kirain dia nggak bakalan tau berondong itu apaan,. Ternyata tau, bo! Hahaha. 

Thank you for your time, Nick. Kapan-kapan kalau lagi ngunjungi mertua di Tanjung Duren, kontak saya, ya. Saya jajanin kue rangi sama kerak telor deh sampe mabok. :v

Rabu, 25 November 2015

Hari Guru Nasional: Blogger, Jangan Lupa Guru Ngeblog-nya

  31 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

So, it turns out that today is Hari Guru Nasional. Tanggal berapa ini? Mamak kliyengan, hilang orientasi gara-gara si mbak mudik udah seminggu. (Kebiasaan curhat, gagal fokus). Ah, yes, 25 November, ya. 

Ngomongin sosok guru, mereka sebenarnya ada di mana-mana di sekitar kita. Mulai dari sekolah, kampus, rumah, tempat kerja, pasar, restoran, mall, sampai social media. Sebagai blogger terkenal (pemalas dan banyak gaya), tentunya dalam blogging ada juga sosok guru yang jadi panutan saya. Guru yang secara langsung atau tidak, sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak sadar, sudah menambah ilmu ngeblog saya. Keberadaan mereka bisa dekat, bisa juga jauh. Beberapa saya mengenalnya secara pribadi, beberapa saya hanya bisa mengagumi dari layar laptop, membaca tips-tips ngeblog yang mereka bagi di internet. Entah apalah jadinya Emak Gaoel kalau nggak ada guru-guru ngeblog ini. #ngaca #pencetinjerawat



Saya adalah tipe blogger sotoy ketika awal memulai kegiatan blogging saya. Walaupun sotoynya masih berlanjut sampai sekarang, tapi alhamdulillaah, ilmu bloggingnya dikit-dikit nambah. Karena saya rajin belajar? Pasti, dong! #dikemplang. Dari mana saya dapat bahan pelajaran ngeblog-nya? Ya, dari guru-guru ngeblog saya. Siapa mereka? Banyaaaak dan panjaaang! Dan nggak mungkin lupa. Sampai kapan pun. Kecuali kena amnesia, which is, naudzubillah minzalik. >.<

Ge Siahaya adalah yang pertama kali mengenalkan saya dengan dunia blogging. Melalui akunnya di Kompasiana, saya membaca-baca tulisannya dan ikut-ikutan nyemplung di sana. Kompasiana bisa dibilang taman bermain dan taman kanak-kanak saya ketika memulai perjalanan ngeblog saya. Kalau sekarang ternyata saya nggak aktif lagi di Kompasiana, itu karena beberapa kendala teknis yang tak kunjung memberi kepuasan ketimbang di blog pribadi dan juga karena saya sudah tidak punya waktu lebih untuk mengurus lebih dari satu blog. Saya melupakan Kompasiana? Nggak, dong! Sahabat dan "saudara" saya temukan di sana. Walaupun sudah tidak aktif lagi di Kompasiana, saya nggak akan pernah lupa kalau dulu di sana, saya belajar membangun image saya sebagai seorang penulis fiksi dan blogger. 

Di semua novel saya, selalu tercantum nama Kompasiana sebagai salah satu tempat pertama saya belajar menulis dan ngeblog. Cek aja sendiri kalau nggak percaya. (Modus, biar ada yang beli novel gue). By the way, novel-novel saya udah ditarik dari toko buku, karena udah lama (bilang aja, nggak laku!). Jadi kalau mau beli, bisa pesan langsung ke saya, ya. Wkwkwkwk. Ini apah? Lospokus kok gak pake takeran? 

Penting ingat sejarah, Bung Karno juga bilang begitu. Jangan lupa dari mana kita berasal. Wajar kok kalau dalam perjalanan waktu, kita nggak akan selamanya di sana. Wajar kalau dalam proses belajar, kita menemukan ketidakcocokan dan memutuskan untuk mencari jalan lain. Tapi jejak sejarah masa lalu akan selalu mencatat kalau kita pernah belajar di satu tempat. Kalau pun nggak ada yang ingat, naluri kita sendiri nggak akan mungkin bisa berkelit. Mau menghapusnya dari ingatan orang lain mungkin bisa, tapi apa bisa menghapusnya dari ingatan sendiri? Saya nih contohnya, sekarang ini jujur males banget mampir ke Kompasiana karena udah didominasi sama orang-orang nyinyir politik dan isu agama. Tapi nggak bisa mungkir, kalau dulu pertama kali ngeblog, saya memang di sana. Mau mungkir gimana? Saksinya banyak. Hahahaha.

Nggak lama setelah mulai independent (tsah) di Blog Emak Gaoel, mulai deh saya kenalan sama beberapa komunitas yang jadi tempat belajar ngeblog selanjutnya. Mira Sahid, Cerita Eka, Carolina Ratri dan Indah Julianti adalah empat orang blogger panutan saya, sampai sekarang. Dari mereka saya belajar banyak, bukan hanya sekedar blogging, tapi belajar jadi blogger eleykhan (elegan, cuy!), yang nggak mudah terpancing emosi, bijaksana main di social media, tebar manfaat dan aura positif. Berat banget ngurang-ngurangin nyinyir di blog emang, lewat mereka saya belajar. Santai aja, cyin. 

Apalagi sejak ditarik masuk ke Kumpulan Emak-emak Blogger (gue dimasukin ya, Mir, bukan daftar. Fakta penting. Huahaha), makin banyak guru ngeblog nggak resmi saya. Ngintipin gimana cara dandanin blog sendiri, gimana nulis yang baik, gimana cara foto-foto biar agak keren dikit, gimana supaya bisa menang lomba blog. You name it, palugada! Komplit! Sebenarnya banyak komunitas blogger besar lainnya sebelum KEB. Tapi kemunculan KEB waktu itu menggebrak. Sampai perkembangannya sekarang ini, hampir di tiap komunitas blogger baru, isinya hampir semuanya pasti ada member-member KEB (yang perempuannya, ya). Ke komunitas ini, lah elu lagi? Ke komunitas ono, yah dia lagi? Wkwkwkwk.

Selain itu, ada social media experts di luar negeri yang jadi guru saya juga. Dianya sih nggak tau saya jadi muridnya, saya ngaku-ngakuin aja. Saya suka belajar seputar blogging yang simple lewat artikel-artikel yang dibagi sama Kim Garst dan Melissa Griffin di blog mereka. Kenapa? Karena gratis. Prinsip saya, selama ada yang gratis, kenapa harus bayar? Hihihihi. Ciee, iya deh, yang bayar pasti ilmunya lebih keren. Iyaa, iyaa. Bhik. Yang penting prakteknya, kaan. Banyak tips-tips dari mereka yang saya praktekkan, lalu saya bagikan lagi di blog saya setelah saya aplikasikan, seperti di sini. Bukan saya copas, terjemah, trus posting, ya kakaak. Tapi udah saya coba praktekkan. Besides, ilmu apa sih di dunia ini yang baru? There's nothing new under the sun. 

Masih banyak guru ngeblog saya. Anazkia, Encik Amir (Denaihati) dan beberapa teman blogger di Malaysia; mereka juga menjadi guru yang membuka mata saya akan betapa luasnya dunia blogging ini. Membuka mata saya, bahwa semangat berbagi jangan sampai padam jika menghadapi tantangan. 


Pak Yan, my 6th grade teacher

Saya suka ingat sama satu sosok guru yang mengajar saya di kelas 6 SD. Nama beliau Pak Yan. Pak Yan adalah sosok guru yang ditakuti. Baru lihat badannya yang gempal di ujung sekolah, perut udah melilit. Mau papasan, keringet dingin. Yang bikin makin stress, Pak Yan adalah wali kelas saya dan mengajar mata pelajaran matematika! Komplit! Karena terkenal galak, anak paling bangor di kelas pun patuh banget sama beliau. Pak Yan nggak main tangan, walau kadang suka kebagian jari digepruk penggaris papan tulis kalau nggak bisa jawab pertanyaan. Yang bikin takut kita waktu itu adalah kumisnya yang kayak Pak Raden (may he RIP) dan suaranya yang menggelegar. 

Karena semua takut sama beliau, tiap mau pelajaran matematika, nggak ada yang berani bersuara. Sehari sebelumnya, anak paling males di kelas pun bakalan belajar dulu semaleman. Dan anak yang paling males berdo'a pun bakalan sholat semalam suntuk, minta sama Allah supaya besoknya nggak kebagian dipanggil ke depan kelas untuk ngerjain soal. Wkwkwkwk. You know, one of those days.

Begitu nilai kelulusan SD keluar, hampir semua murid di kelas kami mendapat nilai matematika sebagai nilai tertinggi. Wahahaha, kalau inget masa-masa itu, rasanya lucu aja sekarang, kok bisa denger suara Pak Yan batuk aja bisa langsung kebelet pipis. Hihihihi.

Beliau adalah guru inspirasi saya. Tampang boleh galak, tapi ngajar harus dipahami sama semua murid. 

Untuk semua guru di seluruh Indonesia, keep inspiring! 
Selamat Hari Guru Nasional

Selasa, 17 November 2015

Video Review Blog Pilihan Emak Gaoel

  51 comments    
categories: , ,
Assalamu'alaikum.

Dalam rangka melebarkan sayap di dunia maya yang kejam dan penuh derama ini, Emak Gaoel latah ngeksis di Youtube, ah. Gak mau kalah sama si Safina dengan Safina's Home Video-nya, saya juga bikin segment baru di akun Youtube saya yang damai (baca: sepi) itu. Wkwkwkwk.


Beberapa minggu yang lalu saya lagi mikir (lagi pas mikir aja), gimana caranya supaya dapat engagement di Youtube sekalian kasih informasi yang rada bermanfaat gitulah? Mau jelasin cara ngeblog atau anu-anu ala-ala workshop blogging gitu, siapalah sayah. Hadah. -_- Akhirnya saya sampai pada konsep yang cucok bingit alias Emak Gaoel banget. Mulai bulan ini, tiap bulan di blog dan akun Youtube, saya akan meng-cover satu blog pilihan yang punya keunikan dan ciri khas yang kuat. Yeah, tentu saza ini menurut penilaian pribadi saya dong, deh! Pan akun socmed punya ekeh. Kalo gak suka sama pilihan saya, bikin aja sendiri. (Lah, kok jadi sewot sendiri lu, mak? Belum dikasih empan, ya?) 

So, ladies and gentlemen, saya persembahnya: Blog Pilihan Emak Gaoel Bulan Ini. Dimulai di bulan November ini, siapakah yang jadi blog pilihan yang akan saya bahas melalui video di akun Youtube saya? Lihat aja ntar, yak. Masih upload. Tau ndiri ngaplod video bisa ditinggal pulang pergi Jakarta-Bandung, kan? Sabar, ya. 

Di video ini nantinya saya akan memperkenalkan blog tersebut, pemiliknya, kelebihan dan kekurangannya (menurut saya pribadi) plus tips-tips membaca blog terpilih itu. Berhubung ini masih edisi perdana, ya harap maklum kalau serba apa adanya, yah. Semoga nanti ke depannya makin cetar. Yang pasti, saya dandan dulu lho sebelum shooting. #penting #banget 

Berhubung jadwal manggung blogwalking saya terbatas banget, boleh lho teman-teman kasih rekomendasi blog siapa yang bisa saya review lewat video. Rekomen blog sendiri juga boleh, kok. Nanti akan saya lihat-lihat dan timbang-timbang. Kalau emang beda banget, unik, kreatif, keren, dan lain-lain, insya Allah akan saya tayangkan. Syukur-syukur kalau rekomendasinya banyak, tayangnya bisa lebih dari sekali sebulan. 

Dan inilah dia video Blog Pilihan Emak Gaoel Bulan November 2015. Jangan lupa kasih thumbs up dan ninggalin komen, ya. Boleh juga dishare, saya doain rejekinya lancar dunia akhirat. Aamiin ya robbal alamiin. ^_^




Senin, 16 November 2015

Crafting for Charity is Back!

  13 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

Berawal dari nggak sengaja ketemu videonya di Youtube. Nggak lama liat beberapa fotonya di Instagram sliweran. Langsunglah Emak Gaoel cuuusss, pengen ikut-ikutan. Bawaan orok, nggak bisa liat yang rame dikit, langsung pengen ikutan ngetop. Halah. :p



Saya lagi ngomongin hand lettering yang fotonya lagi banyak beredar di social media beberapa bulan ini. Tadinya saya pikir tulisan sambung cantik-cantik yang saya lihat itu font di komputer atau aplikasi. Ternyata beberapa adalah hasil tulisan tangan memakai brush pen atau brush. Hwowh, hasilnya cakep-cakep bangeet. Kebetulan saya baru beli brush pen, tapi belum pernah nyobain. Akhirnya mulailah saya berguru sama suhu-nya (halah, SUHU!) :))) Siapa lagi kalau bukan Youtube! :v


Seperti yang udah-udah, kalau baru pertama nyobain biasanya ekspektasi emang tinggi. Apalagi kalau pake perasaan ... Perasaan gampang, deh! Huahahaha. Ternyata susyaaaah, cuy! Songong kok dipiara, mak? Kapan tobat? Sebagai percobaan perdana, saya pakai brush pen supaya hasilnya bisa lebih rapi. Brush pen ini banyak dijual di toko-toko alat tulis. Agak mahal sih, tapi sepadan kok dengan hasil lettering karena ujung pen berbentuk kuas, tapi tidak berbulu terpisah seperti kuas yang beneran. Selain itu, warna-warnanya juga lengkap. Saya baru punya warna hitam sih, soalnya ... itu ... nganu ... ya mahal itu tadi. Wkwkwk. Trus kalau pakai brush pen ini, warna yang keluar rata, nggak kayak kalau pakai brush dan cat air, warnanya pasti nggak merata karena harus menyapu cat air setiap beberapa saat penggunaan.


Rencananya, kalau saya udah jago (JAGO), hand lettering ala-ala ini mau saya karyakan jadi beberapa karya crafting. Masih inget sama Komunitas Lebah, kan? Tahun lalu saya dan beberapa teman crafter mengadakan kegiatan Crafting for Charity untuk menggalang dana untuk kegiatan tahunan Komunitas Lebah yang dinamakan Cerdas Tanpa Batas. Cerdas Tanpa Batas (CTB) ini merupakan kegiatan tahunan Komunitas Lebah. Mereka akan memberikan bantuan berupa buku, kegiatan edukatif dan dana untuk anak-anak. Tahun lalu kami berhasil mengumpulkan dana yang lumayan dari penjualan hasil kreasi paper craft kami. Dana yang terkumpul disumbangkan untuk Cerdas Tanpa Batas di sebuah desa di Wonosobo. Tahun ini CTB akan diadakan di sebuah desa di daerah Pandeglang, Banten. So, Crafting for Charity is back! Semoga bisa mengumpulkan dana lebih besar lagi tahun ini. Ditunggu partisipasinya ya, teman-teman. Kalau mau langsung donasi juga bisa kok, baca banner di bawah ini aja.


Kembali ke urusan hand lettering tadi. Setelah coba-coba pake brush pen, level songong saya meningkat; pengen pake brush dan tinta. Dengan pengetahuan ala kadarnya, saya beli cat akrilik dan kuas yang ujungnya kaku dan rata. Asumsi saya, makin kaku bulu kuas, maka makin gampang mengontrol lettering-nya. Hahahaha, dasar sotoy, gatot, cyiin! 

GATOT! :v 

Beruntungnya saya dikelilingi teman-teman yang pandai di berbagai bidang, salah satunya Mak Tanti Amelia yang jago banget melukis ilustrasi dengan menggunakan kuas dan tinta. Lewat konsultasi gratis dengan beliau, akhirnya saya baru paham, kuas untuk lettering itu beda sama buat melukis gambar. Lettering ini kan semacam kegiatan membuat kaligrafi, jadi justru dibutuhkan kuas yang fleksibel. Baiklah, mak. Saya tobat jadi orang sotoy. Besok mau cari kuas lettering merek Joyko dan tinta Cina, sesuai anjuran dokter Mak Tanti.



Dan kurang belagu rasanya kalau nggak bikin video tutorial di Youtube. Hahaha. Monggoo!



By the way, punya ide nggak hand lettering ini bisa saya karyakan jadi apa selain kartu ucapan, bookmarks, postcard dan ilustrasi note book? Dan kalau ada teman-teman crafter yang berminat untuk partisipasi menyumbangkan karyanya untuk dijual dan hasilnya didonasikan, silakan hubungi saya, ya. 


Sabtu, 14 November 2015

Pengumuman Pemenang Lomba Blog Go For It Emak Gaoel dan Smartfren

  43 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Udah pada mules ya nungguin pengumuman pemenang Lomba Blog Go For It Emak Gaoel? Bhihihi. 


Alhamdulillaah, terima kasih kepada semua peserta. Antusiasme-nya luar biasa. Tercatat 165 peserta yang ikut lomba. Dengan bantuan 2 juri anonim, akhirnya penilaian final selesai 3 hari yang lalu. Insya Allah, penilaian sudah melalui proses yang seadil-adilnya dan pemenang adalah memang yang paling layak di antara sekian banyak tulisan peserta yang bagus. Margin nilai sangat kecil, tapi jumlah pemenang hanya ada 6 orang. Ya kan, hadiahnya cuma 6 biji, cuy! Wkwkwkwk. Jadi yang nggak menang, jangan kecewa. Bukan berarti tulisannya jelek, melainkan selisih nilai yang sangat tipis. Begitu kira-kira. Yuk, cuusss!

Pemenang 1 

mendapatkan 1 Andromax R 4G LTE dari Smartfren

Pemenang 2

mendapatkan 1 Andromax Qi 4G LTE dari Smartfren

Pemenang 3

mendapatkan 1 Andromax Q 4G LTE dari Smartfren

3 pemenang hiburan

masing-masing mendapatkan pulsa Rp 100.000

Selamat kepada para pemenang. Semoga makin semangat ngeblognya. Yang belum menang juga, makin semangat, ya. Insya Allah masih akan ada lomba-lomba lain di sini. Ah, kamyu, kayak gak kenal Emak Gaoel aja, sih? #dikepret

Kepada para pemenang mohon mengirimkan nama, alamat dan nomor HP ke windafitriani48@gmail.com. Saya tunggu sampai tanggal 30 November 2015. Sekali lagi, terima kasih, teman-teman!

Terima kasih, Smartfren! ^_^

Selasa, 03 November 2015

Kosmetik Andalan

  50 comments    
categories: , ,
Assalamu'alaikum.

Pernah baca cerita saya yang iseng Make-Up Battle sama Oline? Atau baca tentang apa itu "Cantik" menurut versi saya? Beberapa orang mungkin nggak ngerti kenapa saya suka banget sama yang namanya kosmetik. Susah juga jelasinnya karena kayak orang jatuh cinta aja, kalau ditanya kenapa suka sama si dia. Yah, pokoknya suka aja. Wkwkwk.

Ekspresinya manaaa? Ini, kaak! Ya, tapi nggak usah ngeselin gitu dong muke lo!  :v 

Buat saya make up atau kosmetik lebih dari sekedar perabotan lenong. Mereka itu "mainan", hiburan, hobi, terapi relaksasi dan masih banyak lagi. "Ribet banget tiap mau keluar rumah harus pake make up." Nggak kok, kan suka. Hihihi. Kecuali melakukannya karena terpaksa, put on my make up is actually a fun thing to do. 

Apa aja sih yang saya pakai setiap hari? Penting banget ya buat dibagi di blog? PENTING! Daripada nggak ada update-an. Wakakakak! Yah, siapa tahu ya, ada yang lagi cari-cari referensi make up yang cucok dan fierce buat kulit wajah yang warnanya senada sama kulit saya yang eksotis caramel ini. Bhihihi. Sekalian saya share kelebihan dan kekurangannya (kalau ada). 

Face


Untuk foundation saya pakai Mustika Ratu Simply Stay warna Caramel Latte. (Lalu mendadak pengen ngopi). Udah lama banget nyari warna yang cocok sama kulit wajah saya, tapi selalu berakhir terlalu putih. Dikasih yang rada coklat juga, ternyata kurang pas. Setelah diselidiki dengan seksama, ternyata warna kulit saya itu dominan merah. Jadi nggak sama persis dengan yang berkulit gelap tapi kecoklatan. Intinya, rada aneh aja warna kulit lo, mak. Emberr. Liquid foundation Simply Stay warna ini paling pas jatuhnya di wajah saya, karena nggak belang-bonteng. Jenisnya liquid sih, tapi sebenernya teksturnya lebih creamy dan padat. Jadi kalau ngeluarin dari tube-nya jangan kebanyakan. Dikit aja udah bisa cover semuka-muka, kok. Kata kemasananya sih sudah mengandung vitamin E dan cocok untuk semua jenis kulit. Btw, jenis kulit saya kombinasi (kering di T-area dan berminyak di area lainnya). 

Untuk concealer atau penyamar noda saya pakai Pimple Cover and Care dari POND'S Concealer Pen. Biasanya cuma buat area di bawah mata dan beberapa spot bekas jerawat yang keliatan genggeus doang, sih. Saya nggak tahu apa ini punya pilihan warna atau nggak. Tapi yang saya pakai ini warnanya natural beige dan blending sempurna dengan foundation begitu diaplikasikan. 

Untuk bedak, dari dulu saya lebih nyaman pakai compact ketimbang loose powder. Sejak ada Wardah, saya jadi pemakai setianya. Yang saya pakai ini adalah Wardah Two Way Cake warna Sandy Beige. Agak lebih terang sedikit dari warna foundation saya. Tapi begitu di-blend jadinya natural, kok. Nggak kayak pake topeng. Butirannya juga halus, jadi waktu diaplikasikan ke wajah pakai sponge-nya, langsung nemplok betah. Saya suka banget sama kemasannya yang memisahkan tempat sponge dengan bedaknya. Jadi sponge nggak belepotan kalau lagi nggak dipakai. 

Eyes


Untuk area mata, karena saya suka banget coba-coba kosmetik mata, banyak banget pilihannya. Tapi ini yang lagi sering saya pakai. Untuk alis mata saya masih setia sama pensil alis dari PIXY. Teksturnya rada keras sih, tapi justru itu saya suka. Mungkin buat yang sukanya pensil alis yang creamy agak kurang cocok. Kalau saya, karena sering salah belok pas lagi ngebentuk alis, pakai pensil alis PIXY ini malah enak. Jadi nggak panikan banget kalau error bentuknya. Gampang dihapus soalnya. Hihihihi.

Untuk eye shadow, saya pakai dari Max Factor Mono Eye Shadow. Kadang sekalian buat eye liner di bawah mata juga. Tinggal aplikasi pakai kuas aja. Walaupun warnanya gelap (abu-abu tua), eye shadow ini ada glitter-nya. So, buat yang suka sama eye shadow matte mungkin kurang cocok. Satu lagi eye shadow andalan saya adalah Liquid Metal Eye Shadow dari The ONE Oriflame. Sesuai namanya, bentuk eye shadow ini liquid dan diaplikasikan pakai kuas. Model-model kayak liquid lipstick gitu, deh. Karena teksturnya kental banget, pake dikit aja udah cetar dan nempel banget di mata. Saya biasanya pakai segaris doang, karena efeknya emang dahsyat banget. Warnanya langsung keluar, kayak kalau kita lagi mewarnai pakai spidol. Hihihihi. 

Maskara? Ini cuma the one and only and recommended banget! 5 in 1 Wonderlash Mascara Waterproof dari The ONE Oriflame. Cuccok! Gagang kuasnya elastis dan fleksibel, mengikuti gerak tangan kita. Bulu kuasnya pendek tapi rapat, jadi setiap helai bulu mata kena semua. Sekali usap, bulu mata langsung panjang and kriting, eh lentik. Hihihi.

Eyeliner is a must for me. Saya punya banyaaaak eyeliner. Suka aja. Hihihi. Yang sekarang lagi suka-sukanya adalah Eyeliner Stylo dari The ONE Oriflame warna hitam. Ini paling praktis karena bentuknya kayak spidol Asli kayak spidol buat menggambar itu. Tinggal buka tutupnya, srat-sret, kelar. Wahaha, me likey! Kata beberapa temen sih cepet abis. Tapi ini saya udah sebulan lebih pakai terus tiap hari, tetep tebel aja, tuh. Sekali usap, nggak perlu diulang lagi. 

Lips


Untuk pelembab bibir saya selalu setia sama NIVEA, terutama yang Fruity Shine Strawberry. Agak ada warnanya dikit sih, tapi gak terlalu keluar. Yang bikin betah, bibir emang jadi gak cepet kering kalau pakai ini dulu sebelum lipstik. Daan wanginya enyaaak. Sluurp. ^_^ Kadang, kalau lagi pengen pake lip shine (jarang banget, sih) saya pakai Fruity Jelly dari Maybelline. Teksturnya agak encer kalau buat saya. Dan karena ujung tube-nya dibuat kayak lipstik dengan lubang kecil di tengahnya, kadang suka kebanyakan keluarnya. Jadi biasanya saya selalu pencet ke ujung jari dulu baru dioleskan ke bibir. 

Untuk lipstik saya rada ribet dikit. Saya nggak pernah pakai satu warna lipstik. Selalu saya kombinasikan. Kombinasi lipstik favorit terbaru saya adalah Color Soft Lipstick warna Cranberry Cream dan Pure Color Lipstick warna Radiant Red. Keduanya produk Oriflame. Harganya muraaah tapi enak banget dipakenya. Terutama Color Soft Lipstick yang dari The ONE Oriflame-nya. Teksturnya lembut dan creamy banget. Warnanya juga langsung nempel di bibir. Daan, wangi masa! Kemasannya kayak crayon anak-anak, dan bisa diputar keluar masuk. Ringkes, kece, syantiex. Rekomen pake banget!

Oh, hampir lupa. Kalau lip liner saya nggak terlalu rajin pake, sih. Tapi kalau lagi pengen, saya cuma punya satu biji dari MAKE OVER. Warnanya juga standard aja merah, namanya Reddish Junk. Lip liner ini kuat banget nempelnya. Kadang pas lagi menghapus lipstik, lipstiknya udah ilang, lip linernya masih stay. 

Cheeks


Blush on buat saya juga penting, biar tetep keliatan kayak anak gadis kinyis-kinyis berpipi merah. Halah. Blush on terbaru kesukaan saya adalah Very Me Cherry My Cheeks dari Oriflame. Kemasannya imuuut banget. Pengaplikasian sebenernya bisa pakai jari aja, colek-colek trus tempel-tempel di pipi. Hihihi. Tapi kalau saya selalu pakai kuas terpisah. Power stay on di wajah lumayan lama. Kadang muka udah berminyak, pas mau touch up bedak, pipi masih meronta-ronta merah. Hihihihi. Warnanya soft kok, cukup untuk bikin kesan malu-malu kambing. Nggak kayak abis ditonjok preman sekampunglah pokoknya. Rekomen? Iyes, dong! 

Hasilnya? Yaah, gini deh! Hahaha! Apa kosmetik andalanmu?



Senin, 02 November 2015

Galeri Indonesia WOW Smesco, Home for Indonesian Local Brands

  15 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

When you have the chance to visit Jakarta (Indonesia) and need to find ethnic souvenirs from all over Indonesia, don't hesitate to come to Smesco Building (SME Tower) in Jalan Gatot Subroto, Jakarta. They have, what they call now, Galeri Indonesia WOW! (Indonesia WOW! Gallery). This gallery is the place for handcrafted souvenirs, fabrics, food and drink from all over Indonesia which are curated by the expert to earn the spots in that super cozy gallery.


Honestly, as Indonesian who lives not to far away from Jakarta, last week was my second time to see this gallery. Once I got there, I made a promise to myself, I would definitely come back again soon. I was lucky enough to get the invitation of the opening of Galeri Indonesia WOW!. I got the chance to hear about "What is it with this gallery that can be so special?" from the Director of Smesco Indonesia, Mr. Ahmad Zabadi



Some of you might not know what is Smesco actually? Smesco (Small and Medium Enterprises and Cooperatives) is a place that founded by the government of Indonesia to support small and medium enterprises from all places in Indonesia. Indonesia with thousands of beautiful islands has various options of souvenirs, fabrics, wood crafted, food, even coffee. If you don't have the time to explore Indonesia (like really, there are like more than 10.000 islands to explore!), this gallery will be your best option to find unique souvenirs to bring home. 



Galeri Indonesia WOW! was actually UKM Gallery before it changed the name and concep. When it was still UKM Gallery, it was just a place to see the creation of Indonesians crafter from all over Indonesia. Now, Galeri Indonesia WOW! is more than just a gallery. 



They bring the mission of supporting local brands of Indonesia. With five spirits: creativity, opportunity, productivity, profitability and reinvestment, Smesco is doing their best to be the home of Indonesians to show their best products there. Hopefully, in the future, not only personal buyers who come to see and make purchases to their products, but also attract investors from all over the world. 



I've seen some of the products in the gallery, and yes, I'm pretty sure that they are really good quality. As a matter of fact, Mr. Zabadi had told us, that all the products that are being displayed there had been curated by the experts. Do not worry about the price, because some of them are really reasonably cheap. For some products like furniture and batik/tenun, it might feel a bit pricey, but wait until you find out how long the making process took time. They are worth it.



For the producers of creative work from outside of Jakarta who need space for representative office, you can use Co-Working Space in Galeri Indonesia WOW!. Smesco also provides training for small and medium enterprises from all over Indonesia in their Maker Space. There will be experts to guide them to make their products more representative. Displaying concepts in Galeri Indonesia WOW! were divided into two types: Pop Up Store and Curated Concept Store. They both have different aspects to show. And last but not least, Galeri Indonesia WOW! also have Creative Space (stage) to be used by you who want to make creative events like workshops, art exhibition, crafting class and many more. Here are some pictures I've taken from the gallery.



By the way, Smesco also has some kind of online store, Smesco Trade. If you want to explore the gallery and still can't find time to go there, just visit the website. Good news for you who have been working on the handcrafted/creative work, you can always bring your products to Smesco. They will curate the products and if you pass their grade, you'll earn the spot for your products in Galeri Indonesia WOW! This coud be huge opportunity for your business. ;)


Galeri Indonesia WOW!

Open daily: 10.00 - 21.00 WIB

SME TOWER
Jl. Jend. Gatot Subroto, Kav. 94
Jakarta 12780 - Indonesia
Phone: 62 21 2753 5400 (Hunting)

Minggu, 01 November 2015

Belajar Membaca untuk Bilingual Kid

  41 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

Saya sebenarnya bukan tipe emak yang dikit-dikit cemas, dikit-dikit takut, dikit-dikit khawatir. Ya, maksudnya, ngapain dikit-dikit? Banyak-banyak aja sekalian. Ngahaha! Nggak, deng! Asli, saya mah orangnya selow banget. Sesuai dengan motto saya, "Biar selow, asal nggak melow." Motto macam apa ituh? Halah, pokonya gini, untuk urusan anak, apalagi seputar perkembangan kemampuannya, saya nggak panikan orangnya. Karena sadar, tiap anak pasti beda-beda cara menyerap dan mempraktekkan informasi yang dia dapat.


Begitu juga waktu saya menghadapi perkembangan kemampuan belajar anak-anak saya (Fadhil dan Safina). Mungkin beberapa teman sudah tahu kalau saya dan suami menerapkan sistem bilingual dalam berkomunikasi dengan anak-anak kami. Waktu anak pertama, Fadhil, saya agak terlambat menerapkan sistem bilingual ini, karena masih setengah hati menjalankannya. Jadi, ketika dia harus mulai belajar membaca, cara berkomunikasinya belum full dua bahasa (Indonesia dan Inggris), sehingga dia bisa fokus belajar membaca dan menulis dalam ejaan bahasa Indonesia.

Berbeda kejadiannya dengan Safina yang tahun ini sudah masuk Sekolah Dasar. Sejak umur 2 tahun anak ini sudah kelihatan kecenderungannya berkomunikasi lebih ke bahasa Inggris ketimbang berbahasa Indonesia. Secara verbal, dia lebih menguasai bahasa Inggris. Sehingga ketika beberapa bulan sebelum masuk SD dan guru di TK mulai mengajarkan baca tulis dalam ejaan bahasa Indonesia, bisa dibilang, pencapaian Safina agak di bawah teman-teman seusianya. Saya mah nggak galau, karena saya paham kondisinya. 

Anak bilingual menyerap informasi berupa kosa kata lebih banyak ketimbang anak satu bahasa. Untuk satu makna kata, ada dua kata yang dia pahami. Jadi saya pun nggak menuntut Safina untuk bisa memiliki kecepatan belajar membaca dan menulis seperti teman-teman lainnya yang tidak menerapkan bilingual. 

Ketika masuk SD, Safina baru mampu mengeja dua suku kata sederhana, seperti ba-be, ka-ki, la-ma, ba-ju, to-pi. Yang membuat saya agak kaget adalah, buku-buku paket pelajaran kelas 1 SD ternyata sudah berisi cerita dalam kalimat-kalimat panjang dan kompleks. Saya amati teman-teman sekelas Safina, sebagian besar sudah mampu membaca buku-buku paketnya dengan lancar, walaupun mungkin belum memahami arti dari kalimat panjang yang mereka baca. Pendek kata, Safina "kelihatannya" tertinggal dibanding teman-teman seusianya. Saya galau? Nggak! Hahaha! 

Melihat itu, saya memulai strategi baru. Pelajaran membaca dalam bahasa Inggris akan saya tunda sampai Safina lancar membaca ejaan dalam bahasa Indonesia. Sebelum masuk SD, Safina sudah bisa melafalkan alphabet dalam ejaan bahasa Indonesia dan Inggris. Sehingga dia sudah mampu membedakan bunyi huruf A dalam Indonesia dan Inggris, misalnya. Hal ini mempermudah saya saat mengajarnya membaca. 

Beberapa hal yang saya lakukan saat mengajar Safina membaca:

1. Pengenalan alphabet

Ini pelajaran paling dasar, sehingga menurut pandangan saya pribadi, sebaiknya sejak awal dikenalkan keduanya, baik dalam ejaan Indonesia mau pun Inggris. Hal ini akan berguna saat kita mulai mengajarkan membaca dan menulis dalam bahasa Inggris nantinya. Misalnya, penyebutan huruf A dalam bahasa Inggris berbunyi seperti huruf E dalam bahasa Indonesia. Alhamdulillaah, karena sejak awal mengenal huruf Safina sudah tahu kalau huruf A berbeda bunyi untuk Indonesia dan Inggris, jadi memudahkan saya kalau membantunya mengeja kata. Kalau dia minta tolong untuk mengeja kata dalam bahasa Inggris, saya akan mengejanya dalam ejaan Inggris. Begitu juga sebaliknya. Secara tidak langsung dia sudah berlatih mengeja dalam dua bahasa. 

2. Pilih prioritas 

Berhubung Safina sekolah di sekolah dasar negeri, mau tidak mau saya harus "change gear". Yang tadinya prioritas saya adalah melancarkan bahasa Inggrisnya, sekarang harus diubah dulu sementara, karena semua pelajaran di sekolahnya disampaikan dalam bahasa Indonesia. Artinya, kemampuan membaca dan menulisnya diprioritaskan untuk bisa dalam bahasa Indonesia terlebih dulu. Lebih bagus lagi kalau bisa keduanya bersamaan, tapi saya nggak mau maksa anaknya. Lah, dia juga kan harus mulai belajar baca Al Qur'an (huruf arab)? Saya nggak mau anaknya ntar merasa belajar jadi kegiatan yang menyiksa. 

3. Fokus di prioritas, jangan tinggalkan yang bukan prioritas

Selama beberapa bulan ini, sejak Safina masuk SD, saya mulai fokus mengajarnya membaca dalam ejaan Indonesia. Namun bukan berarti saya meninggalkan begitu saja bahasa Inggrisnya. Persentase dan bentuknya aja yang saya bedakan. Untuk belajar Indonesia 70% dan berupa belajar konvensional (latihan membaca, menulis, dikte dan lain-lain), sedangkan untuk Inggris sekitar 30% dan bentuknya tidak konvensional (listening lewat nonton film/video, speaking lewat membuat home video, menebak tulisan lewat kegiatan membaca buku cerita sebelum tidur/bed time story). 

4. Permainan Berkirim Surat


Safina lagi suka banget menulis note atau catatan kecil yang ditujukan untuk siapa saja. Kadang dia ingin menulis memo untuk teman sekelasnya. Kadang dia ingin menulis surat untuk sepupunya. Kadang dia kepengen curhat atau komplen sama emaknya. Hhhh .... Beberapa kali temannya merayakan ulang tahun, Safina selalu menulis kartu ucapan untuk mereka. Kadang dia ingin menulis dalam bahasa Inggris, kadang Indonesia. Terserah dia aja, deh. Hihihihi. Yang jelas, kalau dia nulis surat komplen buat emaknya, selalu dalam bahasa Inggris. Dan yang bikin kocak, kata per kata dia tanya ejaannya. Kan ketauaaan, dek kamu mau komplen apaan sama mama! Bleh! Tapi kegiatan ini jadi latihan juga buat Safina. Karena sering melakukannya, beberapa ejaan kata yang sering digunakan dengan sendirinya dia jadi hafal. 

5. Tebak huruf dalam dua bahasa

Untuk melancarkan hafalan ejaan huruf dalam kedua bahasa, biasanya saya suka iseng nanya, "Dek, huruf A dalam bahasa Inggris apa?" Atau saya balik, "What's B in bahasa Indonesia?" Trust me, it helps a lot! Try it, just for fun. 

6. Chatting via smartphone



Kadang Safina suka minta ikutan mainin henpon saya (gara-gara ngeliat emaknya nggak lepas-lepas megang HP kali). Dia suka nanya saya lagi chat sama siapa kalau dia lihat saya sibuk di Whats App. Hihihi. Jadi kadang suka saya ajak sekalian aja chat sama Papanya yang lagi di kantor, atau dengan sepupu-sepupunya di Singapura. Kalau lagi pengen pakai bahasa Indonesia, saya ajarkan ejaan dalam bahasa Indonesia, begitu juga kalau dia mau pakai bahasa Inggris, pelafalan huruf akan saya lafalkan dalam ejaan Inggris.


Itu tadi beberapa contoh kegiatan yang saya lakukan untuk mengajarkan Safina membaca dan menulis. Tujuannya, agar kemampuannya membaca dan menulis berimbang untuk dua bahasa. Seperti yang sudah saya katakan di beberapa artikel seputar bilingual kid, jangan berharap hasil instan, selalu konsisten dan jangan disamakan kemampuan anak sendiri dengan anak lain. Beberapa cara yang saya pakai mungkin aplikatif untuk teman-teman, tapi mungkin ada yang tidak sesuai, karena pengaruh faktor lainnya. Silakan kreatif aja mencari cara yang paling cocok buat anak-anak kita. OK, sip. Semoga bermanfaat. ^_^

Baca ini juga ya, supaya lengkap: