Selasa, 29 Maret 2016

Curhat Emak Anak Bilingual di Sekolah Negeri

  22 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

Disclosure: Ini postingan curhat, nggak dibayar, apalagi disponsorin. Nulisnya aja males-malesan, karena gak ada bayarannya. (Ini disclosure macam apa?)

Masih ngikutin tulisan saya tentang membesarkan anak bilingual, gak? Ini ada cerita baru tentang Safina yang masih kelas 1 SD tiap menghadapi UTS dan UAS di sekolahnya yang bukan sekolah internasional alias sekolah negeri. 

Membesarkan anak bilingual merupakan tantangan, terutama kalau kita hidup di negara yang tidak bilingual. Apa tujuan saya membesarkan anak-anak saya dalam lingkungan dua bahasa (Indonesia dan Inggris)? Saya udah pernah cerita di sini. Tantangan kemudian berkembang ketika saya yang "sok-sok" membesarkan anak bilingual ternyata nggak mampu memasukkan anak-anak saya ke sekolah swasta apalagi sekolah internasional. Tapi apa gara-gara itu, saya nggak boleh membesarkan anak-anak saya untuk punya kemampuan berbahasa lebih dari satu bahasa? Buktinya sampai saat ini, dari rumah pun anak-anak saya terkondisi berkomunikasi dalam dua bahasa. Semua bisa diusahakan.


Yang jadi "masalah" adalah ketika mereka mau mengerjakan soal ujian tengah semester atau akhir semester, terutama buat Safina yang lebih aktif berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Kalau baca-baca artikel tentang anak bilingual, tiap anak memang punya kecenderungan lebih suka berkomunikasi dalam bahasa tertentu. Fadhil, abangnya, sekarang ini lebih nyaman untuk ngomong dalam bahasa Indonesia. Kemampuan bahasa Inggrisnya lebih pasif ketimbang Safina. Sedangkan Safina, praktis, kalau dia di rumah, dia sendiri yang memilih untuk berkomunikasi sepanjang hari dalam bahasa Inggris. Bahkan dengan abangnya yang selalu menanggapi dengan bahasa Indonesia. Begitu UTS dan UAS di sekolah yang menggunakan komunikasi sepenuhnya dalam bahasa Indonesia, Safina ternyata harus mengeluarkan usaha dua kali lebih besar ketimbang teman-temannya.

Sebagai orang tua, saya nggak pernah memberi target harus nilai bagus buat anak-anak saya. Yang paling penting buat saya adalah mereka berangkat ke sekolah dengan hati senang setiap hari. Masalahnya, walaupun guru-guru di sekolah sudah saya beritahu kondisi Safina yang agak tertinggal dalam berbahasa Indonesia dibanding teman-teman seusianya, saya nggak bisa berharap banyak para guru bisa memberikan perhatian khusus hanya untuk dia. Ada banyak murid lain yang juga butuh perhatian, dan namanya sekolah, perhatian guru tentu saja umumnya kolektif, alias semua kalau bisa disamaratakan saja. 


Saya harus maklum dengan kondisi di sekolah, maka artinya adalah saya harus ekstra kerja keras untuk membantu mereka dalam urusan tugas sekolah. Kenyinyiran muncul, "Lagian anak bilingual disekolahin ke sekolah negeri." Saya langsung gagal paham. Apa nggak boleh mereka yang tidak mampu menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah internasional membesarkan anak-anak mereka secara bilingual? Sedangkan untuk urusan itu orang tuanya mampu, hanya finansial aja yang tidak mendukung. Bukankah kita harus berjuang dengan apa yang kita miliki? Hayati sedih, bang. :(

Homeschooling juga sebenarnya masuk dalam wacana waktu anak-anak sudah masuk usia sekolah. Tapi sekali lagi, pertimbangan lain membuat kami memutuskan untuk tetap memasukkan mereka ke sekolah umum. Emaknya gak sanggup ngajarin sendiri. Wkwkwk. Tapi saya sadar sepenuhnya, tanggung jawab pendidikan anak kita ada di tangan kita sebagai orang tuanya. Gak masalah sekolahnya di mana, yang penting fondasi kuatnya sudah terbangun di rumah. Etsseddap. Lagian, coba itu yang mandang miring sekolah negeri, cek matanya, kenapa miring? Nnggg ....


Jadi sekarang ini, solusi paling sesuai sama kondisi anak-anak saya yang "sok bule" (baca: bilingual) tapi sekolah di sekolah negeri, tiap hari latihan dikte dan menulis. Ngobrol atau conversation tetap dalam bahasa Inggris, tapi untuk pembahasan seputar pelajaran di sekolah, sebisa mungkin pakai bahasa Indonesia. Tapi kejadiannya sama Safina justru seringnya semua pelajaran di sekolah dia minta ditranslate ke bahasa Inggris. Bisa ngebayang pelajaran PKN (Pendidikan Kewarganegaraan) diterjemahin ke Inggris? Aku mumet. -_- Tapi begitulah, cinta seorang ibu. #toyor

Udahlah, Inti postingan ini cuma curhat doang. Soalnya katanya blogger jaman sekarang udah jarang curhat, kebanyakan nerima job review. Bhihihik. Nih atuhlah, saya curhat. Mana pundaknya? Mau elap ingus. 

22 komentar:

  1. Saya terkondisikan kalau bilingual mak. Krn yg kecil demen ngomong inggria gak ada ujan gak ada angin...

    Btw.. saya kasih tisu ya mak.. ogak jd tempat lap ingus. Hehehe

    BalasHapus
  2. Anakku sekolah di sekolah internasional tapi nggak gape bahasa Inggris. Hehehe.. suka sama kurikulum nya yang mengacu ke Swedia dan Inggris

    BalasHapus
  3. Wis apapun tentang Safina pokoknya saya suka. Puyeng untuk dirimu aja deh Mak. #Fansberatnana

    BalasHapus
  4. Selalu terkagum kagum anak anak Indonesia yg pintar xuap cuap pake English..mba Winda bikinin you tube dong buat nampilin si safanah yg sedang cuap cuap english

    BalasHapus
  5. Anak2ku home schooling, mak. Seru bgt pas ngajarin bahasa2 ini. Bahasa inggris aja belum lancar, bocah minta bahasa jepang. Emaknya pusing, mak. Cemmana ini? *toyor pala bebek*

    BalasHapus
  6. Bayar pake cinta Song Jong Ki...mau?

    BalasHapus
  7. Puk..pukkk emak. Safina mah selalu memukau, suka lihat youtube nya.

    Kalau anak-anakku jadi anak polyglot karena kondisi mak, tantangannya nggak ringan juga sih. Dulu di Madagascar masukin ke sekolah Perancis karena yang British dan Amerika mahalnya amit-amit... Di rumah nontonnya kartun dan acara anak bahasa Inggris semua jadi terekam dan keluar spontan dari mulutnya, meski ala kadar. Nah sekarang pulang ke Indonesia masuknya ke SDIT karena mengejar pelajaran agama Islam yang nggak didapat di luar, ada pelajaran Bahasa Arab dan harus dilesin privat.Adaptasi sana sini... yang ngomong begini begono juga banyak.. hihi tapi ya sutrahhlahhh

    Hihi kepancing curhat juga kan..

    BalasHapus
  8. Emak Gaoel keder juga yah sama Nana (aahhhh Nana, I adore you, sweetie pie!). hihihi

    Anak saya di sekolah swasta tapi lebh ditekankan ke agama, penggunaan bahasa Indonesia dan Inggris, 50:50. Vito kalo stiap English class dia mah suka ngga fokus, sampe si mister curhat ama wali kelasnya, tapi setiap conversation Vito selalu excited nanggepin dan gayung bersambut. Kemaren konsuling saya bilang ke wali kelasnnya kalo untuk pengenalan kata benda dalam bahasa Inggris mungkin ga menantang, makannya si Vito suka cuek kemana aja klo guru lagi nerangin, kadang izin keluar dan malah ogah masuk lagi. Hahahaha maklum masih kelas satu sd, mak.

    Selalu ada cerita seru dengan anak-anak bilingual, yah. hehehehe

    Warm regards,
    Zia

    BalasHapus
  9. kutunggu nilai bahasa indonesianya mak.. semoga cerita panjang dan isinya sinonim.. kan mantaf itu.. hehehe

    BalasHapus
  10. sepatunyaaaaaa *galfok*
    Hm... aku juga bercita-cita anakku tak masukkin bilingual. Ada kok di Jember. Dan aku tau sendiri itu bagus banget. Tapi masih diliriknya pake kepala miring juga. Mudah-mudahan jaman anakku mbesok bisa diterima dan disamaratakan. ;)

    BalasHapus
  11. Kalau aku gak bilingual juga mbak. Tapi semacam lagu. Mengenal warna. Hitung hitungan aku ajarin inggris. Kalau ngomong masih indonesia. Ntar mau kusekolahkan di sekolah internasional seh. Mudah2an bisa ngejar. Hihihi.

    Soal postingan blogger kebanyakan review aku setujuuuu. Seharusnya satu blog itu tetep lah la fifty2 ada curhatnya juga. Males kalau udah follow blog isinya review semua. Aku rindu baca blog tahun 2010an :(

    BalasHapus
  12. Only Mom knows what best for her children. Artinya cuek aja dan jalan terus, Mak. Kalo aku ikuti ceritamu soal Safina, mungkin talentanya dia di situ. Linguistik. Kepikiran minta Safina untuk belajar bahasa asing lain? *kompor* hehehe

    BalasHapus
  13. akkk mupeng dehhh bisa ngomong enggres kayak safinaaa

    BalasHapus
  14. Orang tua saya jg dulu bilingual mbak di rmh, tapi jaman saya sekolah tahun 90an kl ada yg ngomong enggres di sekolah dikira orang planet, jd saya di rmh aja. Sampai saya besar gara2 kebiasaan ini saya jd bisa ngomong bhs asing tanpa harus kursus segala heheh

    BalasHapus
  15. Safina Masya Allah deh, aku aja gak selancar Safina bicara bahasa Inggrisnya, hehe.. ^^
    Oya kalau pamanku membiasakan anak2nya berbahasa Arab kalau di rumah, kalau di sekolah baru berbahasa Indonesia..

    BalasHapus
  16. ini mak pundakku!

    aku nggak bisaaaa kaya mak windaaaa

    iriiii gonjreeng

    BalasHapus
  17. Nggak kebayang aja sih gimana PPKN harus diterjemahin ke bahasa Inggris. #nuffsaid

    BalasHapus
  18. Aku juga sama anakku bilingual mak kalau conversation.
    Tapi syukurlah tidak ada masalah dengan bahasa Indonesia.
    Tapi doi kerap bilang lebih senang Enggres, karena nendaaang maknanya. gitu katanya.
    Alhamdullillah doi juga minat dan bakatnya di kecerdasan linguistik, jadi klop deh
    Aku memonitornya malah sejak dalam kandungan.
    Aku senang banget mendengarkan segala jenis musik dan membaca saat hamil.
    Benar mak, sebagai orang tua, sudah selayaknya kita yang bertanggung jawab penuh akan pendidikan mereka.
    Go Nana Go!

    BalasHapus
  19. Dia kencengnya malah di inggris nya yaaa mak, tapi aku suka lho liat anak2 kecil yg dah billingual, kadang aku suka menyesal kenapa gw hanya billingual jawa dan indonesia hahaha

    BalasHapus
  20. aku dulu ngajakin ngomong si kaka pas dia masih bayi pake bhs inggris.. Dari bayi aku cekokin trs tuh kata2 bhs inggris ke telinganya supaya dia jd biasa. Tapiiii, baby sitternya, papinya, eyangnya, tetangga dan org2 sekitar, trs2an ngomong bhs indonesia dan jawa ke dia, sudahlah... bhs inggris emaknya lgs terlupakan -__-. Sekarang aja papinya minta lagi aku ngajarin bhs inggris kyk dulu.. Yaelaahhh, usahanya jd lbh extra kan.. krn anaknya sndiri udh trbiasa bhs jawa dan indonesia di rumah

    BalasHapus
  21. Safina kan fast learner tuh mak. Pasti dia cepat menyerap bahasa. Tapi teteup, kudoaiiiin biar masuk sekolah international ya.

    BalasHapus