Kamis, 20 Oktober 2016

Paket Lengkap dari Allah untuk Keluarga Emak Gaoel

  13 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

Saya suka inget sama omongan almarhumah Nenek saya kalau udah denger anak-anak sama cucu-cucunya ketawa ngakak-ngakak sampe ngompol-ngompol pas kumpul keluarga besar, "Jangan kelewatan ketawanya. Sebentar lagi ada yang nangis." Dulu dengernya sih umur saya masih sekitar 8 tahunan, segede Safina sekarang, tapi inget terus sampai sekarang. Soalnya, Mama saya dan adik-adiknya, yang notabene waktu itu juga udah emak-emak, abis dibilangin gitu sama Nenek (ibu mereka), malah cekikikan. Kan saya heran, dih emak sama tante gue kok kelakuannya kayak bocah gitu, sih? Wkwkwk.


Intinya, sejak kecil saya jadi berusaha untuk menahan-nahan ekspresi dan reaksi supaya gak lebay. Kalau senang, ya baca Alhamdulillaah. Kalau sedih, baca Innalillaahi. Gak perlu sampai ngakak ngompol di celana, atau nangis gerung-gerung sambil korek-korek tanah. Karena (ini baru paham sekarang-sekarang ini, sih), semua kebahagiaan dan kesedihan kita itu datangnya dari Allah. Dikasih rejeki, itu dari Allah. Dikasih musibah, itu juga takdir dari Allah. Jadi nggak usah berlebihan menanggapinya, cukup kembalikan lagi ke Allah. Betul, cuy?


Ngomong soal rejeki dan musibah, dua bulan terakhir ini komplit saya sekeluarga dikasih sepaket sama Allah. Bulan September kemarin, bisa dibilang kami sekeluarga sedang bahagia-bahagianya. Semua sehat, anak-anak semangat sekolah, Papanya kerja dengan penuh dedikasi (duile) dan orderan lettering saya juga lagi banyak-banyaknya. Intinya, dikasih rejeki sama Allah gak kira-kira. Nggak lama abis itu, sekalian menghadiri pernikahan sepupu saya, kami sekeluarga pun pergi ke Bandung sekadar piknik yang jarang kami lakukan. Senangnya tiada terkira, keluarga kecil kami tidak ada kekurangan suatu apa. Allah Maha Baik.


Tepat seminggu setelah kepulangan kami dari Bandung, Fadhil mengalami kecelakaan. Nggak tanggung-tanggung, tulang selangka-nya (di bagian bahu) patah, karena jatuh dari sepedanya sepulang sekolah. Dia harus dioperasi segera. Saat itu saya kayak keselek biji kedondong. "Masya Allah, saya bikin dosa apa, ya?" pikir saya dalam hati. Kok jadi Fadhil yang kena? :( Istighfar dulu. Songong beud, mikir dosa apaan. Ya banyaklah maak, dosa lu! Hih!


Kaget, banget, pastinya. Tapi saya dan suami berusaha tenang supaya Fadhil juga nggak jadi trauma. Yang paling penting, saya berusaha supaya dia nggak menyalahkan siapa-siapa terutama dirinya sendiri atas kejadian itu. Saya tau banget tabiat anak sulung saya yang hatinya super lembut itu. Waktu saya jemput setelah kecelakaan, dalam perjalanan menuju rumah sakit, saya bisa merasakan dia sedang merasa bersalah. Buru-buru saya ingatkan sama dia, "Fadhil, this is not your fault. Don't worry, I don't blame you, nobody will! This is supposed to happen, just pray to Allah." 


Untungnya anak ini pembawaannya tenang dan sabar banget. Selama di rumah sakit menjelang operasi keesokan harinya, nggak sedikit pun dia mengeluh, menangis apalagi jerit-jerit kesakitan. Padahal, saya nggak tahu sih patah tulang itu sakitnya kayak apa, kata orang-orang sakitnya itu pasti luar biasa. God bless you, my son, for being such a strong boy. 

Singkat cerita, Fadhil baik-baik aja sekarang. Selesai dioperasi, dua hari kemudian dia diijinkan pulang. Kami lega. Akhirnya bisa kumpul lagi di rumah. Mulai sibuk-sibuk lagi dengan kegiatan dan pekerjaan yang tertunda. 


Ternyata rencana Allah beda lagi. Belum ada seminggu Fadhil pulang dari rumah sakit, Safina mulai demam. Dalam hati cuma bisa berdo'a semoga ini nggak serius, cuma batuk pilek biasa aja. Ditunggu-tunggu. demamnya nggak turun-turun. Jujur, langkah saya berat banget menuju rumah sakit mengantar Safina periksa darah. Rasanya ikhlas saya belum terkumpul 100% karena Fadhil baru aja pulang dari rumah sakit dan belum pulih. Masa Safina juga sakit? Mau nelen ludah aja rasanya susah banget. :(

Ternyata Safina harus dirawat di rumah sakit karena kena campak. Lemes aja sih dengernya. Kepikiran Fadhil gimana di rumah. Ada si mbak memang, tapi dia kan masih masa pemulihan paska operasi yang butuh perawatan juga. Terus gimana ini Safina, kok bisa kena campak? Parah gak? By the way, asuransi cover nggak? Waduh, orderan banyak yang kepending.


Lagi galau-galau gitu, tiba-tiba kepala saya kayak ada yang noyor. Mungkin Nenek saya yang noyor (hihihi) kok serem? :p Saya jadi inget lagi sama omongan Nenek saya, soal rejeki dan musibah yang semuanya hanya dari Allah. Kalau Allah kasih seperti ini, berarti saya memang pantas untuk mendapatkannya. I just have to deal with it. Istighfar, istighfar. Hamba Allah yang beriman nggak boleh galau, karena punya Allah tempat mengadu. Setuju. kakak? ;)

Akhirnya, kami sekeluarga menjalani seminggu merawat dua anak sakit, satu di rumah, satu lagi di rumah sakit. Ikhlas karena Allah. Akan ada sesuatu yang indah setelah ini, itu saya percaya. Apa dan bagaimana bentuk keindahan itu, saya serahkan sama Sang Pemberi Keindahan. Sambil instrospeksi diri, ini pasti teguran. Pasti ada (BANYAK) kurang saya dan suami, sehingga kami diberi teguran mendadak seperti ini. Pasti ada kelalaian yang sudah kami lakukan secara sadar mau pun tidak. Bottomline, peristiwa semacam ini harusnya menjadikan kami menjadi lebih baik lagi. 


Alhamdulillaah, hari ini, Safina sudah tiga hari bebas (((BEBAS))) dari rumah sakit. Keadaannya sudah membaik. Fadhil juga luka operasinya tidak mengalami infeksi, tinggal fisioterapi untuk latihan gerak lagi. Perlahan semua kembali ke tempatnya seperti kepingan puzzle mencari rumahnya masing-masing. Terima kasih kami ucapkan untuk doa-doa yang begitu banyak di Facebook dan Instagram untuk keluarga kami, sampai tidak sempat kami balas satu per satu. Semoga Allah membalas kebaikan teman-teman semua dengan sesuatu yang jauh lebih indah. 



13 komentar:

  1. maaaak..paket lengkap tanda Allah SWT masih sayang sama kitaaaa. Alhamdulillah satu-per satu beres dan pada sehat ya..salam kangeeen dari NYC

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah satu persatu terselesaikan..semua rezeki dari Allah ya mbak..
    Semoga selalu sehat sekeluarga dan bertambah berkah ya mbak aamiin..

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah satu persatu terselesaikan..semua rezeki dari Allah ya mbak..
    Semoga selalu sehat sekeluarga dan bertambah berkah ya mbak aamiin..

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah mak :)
    Senang mendengar safina sudah sehat lagi. Fadil juga..semoga lekas pulih.

    Pelukss emak :*

    BalasHapus
  5. Hi Winda

    Sharingnya membuat haru agar bisa tetap selalu bersyukur atas segala karuniaNya.

    Dari baca aja bikin hati mau nangis nangis. Bandingkan kalo diri kita dikasih ujian kayak gitu pasti hati ini berontak.

    Tapi kalo orang yang bertaqwa mengambil ini sebagai kasih sayangnya Allah kepada kita.

    Thanks you sharing mak winda(mak gaul) hahaha

    BalasHapus
  6. alhamdulillah semua akan berlalu... insyaAllah banayk hikmahnya ya mba

    BalasHapus
  7. Selalu ada hikmah mak... pasti. Salam buat safina dan abangnya ya mak :)

    BalasHapus
  8. Ujian itu seringkali datangnya serombongan. Nggak satu datang, satu pergi, jadi lebih ringan. Semoga ujian ini bisa menaikkan derajat keimananmu, mak. Aaamiiin

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah semua sudah terlewati ya mak. Semoga selalu dalam lindungan Allah.

    BalasHapus
  10. Alhamdulillah Emak sekeluarga bisa melaluinya dengan baik, dari sudut pandangku yg belum pernah ketemu n tidak tahu keseharian Emak, selama ini aku melihat kehidupan Emak seperti bahagia terus. Tapi bukan berarti aku iri n doain yg jelek2 ya Mak.
    Nah dengan adanya paket ujian ini, membuat Emak jadi lebih humanis di mataku. Dan aku kagum, Emak tetep bisa terlihat strong.

    BalasHapus
  11. Masya Allah, saya kagum dengan perjuangannya...

    BalasHapus
  12. anggab semua ujian dari Allah untuk menentukan sebesar apa sih iman kita ke Dia ya mbak :).. ujian baik, ujian buruk, semuanya serahkan ke Allah.. istigfar banyak2 selalu...

    BalasHapus