Sabtu, 27 Februari 2016

Kenapa Saya Suka Kemasan Karton Tetra Pak

  16 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Kata “jajan” kayaknya udah nggak mungkin dipisahkan sama anak-anak. Anak-anak saya sih yang pasti. Ya, gimana, emak bapaknya juga doyan jajan. Tapi alhamdulillaah deh, biar pun kita sekeluarga doyan jajan, tapi kalau jajan selalu pilih-pilih. Salah pilih, masuk perut, terus sakit, manyun deh. 

Sebenarnya untuk ukuran seorang ibu, saya nih bukan yang bawel-bawel banget sama kesterilan makanan yang masuk ke perut anak-anak saya. Ya buktinya, saya masih kasih mereka jajan tiap ke minimarket. Yang paling penting buat saya kalau jajan makanan atau minuman itu adalah keamanan makanan yang terjamin.


Ukuran keamanan makanan/food safety-nya gimana? Buat orang awam seperti saya, setidaknya harus mulai deh mengedukasi diri sendiri tentang seperti apa makanan dan kemasan yang aman untuk dikonsumsi keluarga kita. Banyak artikel-artikel seputar kesehatan keluarga. Mulai deh rajin-rajin baca.

Satu hal yang selalu saya lakukan saat belanja di minimarket/supermarket dan membeli makanan atau minuman, saya perhatiin banget kemasannya. Bukan apa-apa, kalau kemasannya nggak meyakinkan, saya suka takut ketemu “kejutan” aja di dalamnya. Eeergh. Nggak lucu kan, beli minuman dalam kemasan botol dapet bonus cacing. Hiiiy! 

Makanan dan minuman dalam kemasan adalah rekreasional buat keluarga kami, artinya kami tetap lebih mengutamakan makanan yang segar untuk sehari-hari. Tapi saya juga jarang sih melarang anak-anak untuk membeli minuman dalam kemasan, asal jelas aja kemasannya terjamin kualitasnya. 

Kayak kemarin, saya dan anak-anak pergi belanja ke minimarket. Safina lagi pengen minum susu Ultra Milk UHT rasa coklat dan saya rasanya pengen banget nenggak Teh Botol Sosro dalam kemasan karton. Seger banget kayanya. Slurrp. 


Untuk dua nama minuman ini, saya udah nggak ragu lagi untuk beli, karena kemasannya pakai Tetra Pak yang udah jelas banget terjamin keamanan dan kualitasnya. Apalagi untuk produk sejenis susu UHT kayak susu Ultra UHT yang dibeli Safina, pasti kan harus terjaga kandungan gizi di dalam susunya. Jadi biar pun minumnya sesekali aja, tetap dapat kebaikan gizinya karena sejak pengemasan di pabrik, susu UHT ini sudah dijaga kandungan gizinya dalam kemasan karton Tetra Pak yang terjamin kualitas dan keamanannya. Dengan begitu kandungan gizinya tidak berkurang.

Saya cerita sedikit ya tentang kenapa kemasan karton Tetra Pak ini terjamin banget. Dari beberapa artikel yang saya baca dan website resmi  Tetra Pak, kemasan karton Tetra Pak ini terdiri dari 3 lapisan: karton, polyethylene dan aluminium. Karton dan polyethylene berfungsi mencegah cairan merembes keluar dan aluminium berfungsi untuk mencegah masuknya cahaya dari luar yang bisa merusak kualitas susu UHT atau minuman lainnya. Biar pun tiga lapis, tapi kemasan karton Tetra Pak ini ringan dan mudah didaurulang, lho. Ya, lengkapnya kamu bisa baca-baca di website-nya buat belajar-belajar. Emak-emak juga kudu update, yes. Apalagi untuk keamanan kesehatan keluarga. 


Satu lagi yang saya suka dari kemasan karton Tetra Pak ini, saya dan Safina bisa simpan untuk kemudian kami daur ulang menjadi macam-macam prakarya. Soalnya sayang banget dibuang, karena kartonnya tebal dan lapisannya juga anti bocor. Bisa buat bikin wadah mainan, sampul buku, dan mainan printilan lainnya buat anak, lho. Yang penting kreatif aja. Jadi selain makan dan minum tenang dengan kemasan Tetra Pak, bisa jadi pilihan alternatif aktifitas juga sama anak-anak, kan? Da’ saya mah gitu, kalau yang namanya daur ulang mah doyan, jadi ngirit kan? Hihihihi.

Selasa, 23 Februari 2016

5 Drama Transaksi Pembayaran yang Menjengkelkan. Enaknya Pakai Apa, Ya?

  31 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Sejak menikah dan punya anak, banyak banget hal-hal kecil yang sederhana berubah menjadi sesuatu yang ribet dan nggak jarang menjengkelkan. Nggak usah jauh-jauh, mulai dari hamil aja dulu. Mau garuk dengkul pas hamil 8 bulan ke atas aja udah jadi problem. Perut udah mblendung gede gitu. Boro-boro mau nunduk garuk dengkul, mau ngelirik jempol kaki aja udah nggak bisa. Hahaha. 

Begitu anak-anak saya lahir, mulai dari mereka masih bayi, kejadian-kejadian lain yang harusnya nggak ribet dulunya pun akhirnya berubah jadi sesuatu yang harus direncanakan sebelumnya. Ujung-ujungnya, saya suka "ngarep" seandainya ada teknologi atau benda apa yang bisa bantu saya saat melakukannya.




1. Emak dan Mesin ATM
Yang paling sering dihadapi sehari-hari itu biasanya yang menyangkut masalah transaksi pembayaran di luar, kayak lagi belanja di supermarket. Dulu, saya termasuk perempuan "tradisional" yang apa-apa sudah cukup terfasilitasi dengan kartu ATM dan mesinnya. Bayar tagihan bulanan, ke ATM. Bayar belanjaan di kasir, kalau lagi nggak pegang cash, ya gesek kartu debit aja. Buat saya, itu udah cukup "canggih". Sampai akhirnya saya nyobain sendiri bawa anak batita yang baru bisa jalan dan lagi lincah-lincahnya ke supermarket atau ATM. Maaak! Menjengkolkan sekalih!

Belum sempet masukin PIN, bocah udah hilang melintir ke rak tempat permen sama biskuit. Pakai jurus satu tangan: sebelah megang anak, sebelah lagi pencet-pencet ATM? Kadang berhasil, tapi seringnya mah tambah mumet. Pernah sampai tiga kali salah masukin PIN ATM karena nggak konsentrasi gara-gara anak saya ngoceh melulu. Diingetin sih, "Sebentar ya, sayaaang! Mama mau selesaikan ini dulu," pakai pasang senyum manis karena banyak yang ngantri di belakang. Padahal dalem hati gemeeezzzz. Wkwkwkwk.

2. Emak dan Dompet yang Nyasar di Dalam Tas
Saya nggak tahu apakah ini umum jadi tipikal ibu-bu, sejak punya anak, isi tas ramenya udah ngalah-ngalahin Ancol lagi musim liburan sekolah. Penuuh sama kertas , baju, bungkus makanan, koin, plus kalau kamu pakai jilbab di dalamnya bisa jadi ada peniti dan jarum pentul. 

Drama paling sering yang saya alami saat lagi di depan kasir adalah bingung cari dompet di dalam tas. Isi tas diaduk-aduk, semua laci dibongkar, dompetnya kok nggak kelihatan? Yang bikin tambah jengkel, pas diusap-usap dari luar tas, sosok dompetnya terasa ada kok di dalam. Hih, misterius! 

Jangan lupa ya, lagi ribet begitu, anak ikut nungguin di samping kita. Tahu sendiri deket kasir supermarket itu malah berjejer permen warna-warni yang bikin suara-suara, "Ma, beli ini, ya! Ma beliin, ya!" muncul menambah keriweuhan. 

Saking gemesnya pengen cepet nemuin dompet di dalam tas, beberapa kali jari saya pernah ketusuk jarum pentul di dalam tas. Huaa! Lirik ke belakang, antrian makin panjang. Sutriiisss.

3. Emak dan Uang Tunai
Kalau untuk urusan yang satu ini, sejak sebelum menikah pun pegang uang tunai itu "berbahaya" buat saya. Hahaha. Apalagi udah punya anak. Kecenderungan untuk boros lebih besar kalau pegang uang cash.

Setelah punya anak, masalah lain muncul kalau pas transaksi mau bayar pakai tunai. Berangkat dari rumah sih, isi dompet udah rapi. Laci buat kertas struk beda sama tempat uang kertas. Uang kertas juga tersusun rapi berdasarkan nominalnya. Uang koin ada di dompet sendiri. Tapi ingat lagi di poin 2, isi tas yang tadinya rapi, dalam perjalanan mendadak bisa jadi jungkir balik kayak abis kena badai. 

Idealnya, bisa bayar dengan uang pas aja. Misalnya transaksi Rp 48.000, bayar pakai pecahan uang Rp 20.000-an dua lembar, Rp 5.000-an selembar dan Rp 2.000-an dua lembar. Tinggal nunggu kembali seribu perak, beres. Kenyataannya, dengan harapan transaksi bisa selesai lebih cepat, malah ngeluarin uang Rp 50.000 atau bahkan Rp 100.000. Dalam hati, biar si mbak kasirnya aja deh yang ribet itung kembaliannya. Hahaha, kata siapa dia doang yang ribet? Emang itu duit kembalian nggak perlu dihitung ulang pas sampai ke tangan kita? Errrgh.

4. Emak dan Kartu Kredit/Debit
Bayar transaksi pakai kartu kredit atau debit sebenarnya lumayan ringkas untuk beberapa kondisi umum. Cuma problemnya itu buat saya, kadang karena ribet, selain suka mendadak nge-hang nginget PIN, juga mendadak nge-hang nginget sisa saldo di kartu debit, masih cukup nggak, ya? Hihihi. 

Kalau ternyata nggak cukup, balik lagi ke poin 3 dong, ya, bayar tunai. Dan drama bayar pakai uang tunai pun terulang kembali. Gitu aja terus, mak! 

5. Emak dan Transaksi Online
So far, transaksi online ini buat saya pribadi udah termasuk yang paling canggih yang pernah saya lakukan. Pernah nyobain belanja bulanan online, bisa bayar di tempat (COD), bisa pakai kartu kredit, bisa juga pakai debit. Kelihatannya praktis memang. 

Sampai akhirnya pernah beberapa kali mengalami salah pesan tiket pesawat dan udah terlanjur bayar. Huastagah, ngeberesin urusannya sampai 3 hari lebih supaya bisa dikoreksi dan refund. Heuheuheu, iya sih, itu salah saya sendiri nggak ngecek-ngecek lagi sebelum hit the hot button: PAY. Tapi apa ini cuma saya sendiri aja yang ngalamin? Karena kalau pakai perasaan sih, semua udah fixed, udah re-check, kok ya masih ada aja yang salah? Namanya juga manusia, yah! *cari temen*

Sebenarnya masih banyak drama printilan lain yang menyangkut transaksi keuangan yang pernah saya alami. Tapi saya takut kena cap, "Hidup lo drama banget, sih Mak!" Intinya gini, karena sering ngalamin keribetan-keribetan seperti itu, saya suka mikir, apa gitu sih yang bisa bantu emak-emak drama kayak saya ini biar lebih gampang dan cepat kelar urusannya kalau lagi transaksi keuangan?

Beberapa model "bantuan" dari pihak perbankan/pihak ketiga berupa tawaran menggunakan produk atau fasilitas dari mereka pernah saya coba. Misalnya, internet banking. Saya pernah pakai internet banking dengan menggunakan Key BCA. Walau harus saya akui, pengurusan untuk mendapatkannya buat saya yang agak susah keluar rumah begini, lumayan makan waktu, karena nggak bisa dilakukan di kantor cabang kecil. Hanya bisa diambil di kantor cabang pembantu. Dan masalah lain adalah, kalau rusak (bisa karena beberapa kali salah memasukkan kode atau PIN), mau nggak mau harus diganti ke kantor cabang pembantu lagi. 

Pernah juga ditawari untuk pakai FLAZZ Card, lebih simple karena banyak merchant yang menerima transaksi menggunakan kartu tersebut. Cuma buat orang "tradisional" kayak saya ini, saya nggak lihat bedanya dengan debit card. Sedangkan debit card saya udah punya. 

Kalau untuk transaksi online, banyak sebenarnya tawaran aplikasi atau produk perbankan yang bisa mempermudah saya. Misalnya, aplikasi pihak ketiga bernama Uangku yang menempel di smartphone Smartfren saya. Di sana ada banyak pilihan untuk mempermudah kita supaya bisa melakukan transaksi lewat smartphone. Mulai dari bayar tagihan bulanan sampai beli pulsa untuk orang lain. Problemnya, ya modelnya sama aja, harus Top-Up kalau saldo kosong. Hihihi.

Untuk aplikasi di smartphone ini kayanya udah banyak ragamnya ya. Di produk Apple ada yang namanya Apple Pay ya, kalau nggak salah? Hehehe, saya bukan pengguna iPhone soalnya, ada yang udah pernah cobain? Ada yang udah pakai? Share, dong!

Yang paling baru saya temuin di Youtube nih, ada yang namanya Google Hands Free. Belum ada di Indonesia, sih. Tapi kalau sekilas melihat videonya, kok kayanya enak, ya? Nggak perlu kartu-kartuan apalagi PIN dan tanda tangan. Nggak perlu ngeluarin smartphone. Cukup bilang, "Bayar pake Google, Mbak." Tagihan langsung masuk ke akun Google milik kita. Aman, gak menurut teman-teman transaksi model begini?


Karena prinsipnya, tiap transaksi keuangan itu kan harus memiliki nilai utama keamanan dulu, ya. Mau itu transaksi tunai, uang elektronik atau pun yang secanggih model Google Hands Free ini. So far, yang saya lihat di beberapa produk keuangan yang saya sebut di atas, nilai keamanannya memang yang diangkat. Tapi sejauh mana keamanan transaksi tidak kasat mata itu bisa dijamin? Seandainya nih, kalau orangnya clumsy kayak saya, ada kesalahan transaksi dan mau cancel, ribet nggak ngurusnya? Atau misalnya, kesalahan ada di pihak penjual, salah input nominal, bagaimana klaimnya? Atau yang sering saya baca di status teman-teman yang membayar uang toll memakai GTO Gate, sering ke-swap lebih dari sekali, sehingga uang terdebit dobel. Yang begini-begini ini saya memang masih awam dan cenderung kayak orang kebanyakan: ogah ribet. Padahal memilih produk perbankan yang canggih tujuannya kan supaya nggak ribet awalnya, ya. Hihihihi.

Saya pribadi sih, mau banget sebenarnya kalau ada yang model nggak usah bawa dompet dan segala rupa kartu kalau mau transaksi baik offline dan online. Buat saya, selain harus aman, juga harus nggak ribet kalau ada kejadian di luar normal. Misalnya ada kesalahan, sampai rumah tinggal kirim e-mail aja gitu. Lebih bagus lagi kalau pihak bank-nya aja yang nelpon saya, ngasih tau kalau kesalahan sudah dikoreksi. Saya tinggal leyeh-leyeh aja. Maunya lo, Mak! Hahaha. 

Kalau teman-teman, produk keuangan paling membantu apa yang sudah dipakai sampai saat ini? Puas nggak? Apa kemudahannya dan ada keluhan nggak selama memakainya? Share doong, bantu aku! Cieh! 

Senin, 22 Februari 2016

Custom Lettering Dalam Pigura dan Mug Siap Dipesan, Cuuss!

  12 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Yok, ngelapak lagiii! Kali ini handmade stuff by Emak Gaoel, niy! Dijamin halal, dan keren. Iddih, muji sendiri. Wekekek. Nggak kook, alhamdulillaah banyak yang suka. Jadi saya buka lapak terima pesanan, nih. Untuk sementara ada dua macam custom item yang saya jual: framed lettering da mug lettering. Soal harga, tergantung desain, tapi saya kasih range-nya, kok. Kalau mau pesan dalam jumlah banyak untuk souvenir sekolah, kantor atau pesta juga bisa, yaa. Cuuus, diintip. :)


FRAMED LETTERING

Basically ini adalah lettering dari ayat atau quotes singkat. Ditulis pakai cat air, ditambah beberapa ornamen. Dipasang di pigura putih (warna pigura bisa pesan). Untuk sementara saya baru sedia ukuran 4R (sekitar 10 x 15 cm) dan model piguranya duduk, bukan gantung, ya. Insya Allah, nanti akan ad ukuran lain dan model gantungnya. Harga tergantung desain dan panjangnya tulisan. Rang harga mulai dari Rp 60.000 - Rp 85.000. Yok, dilihat beberapa contoh pesanan di sini. 







MUG LETTERING

Ini juga sama, cuma medianya mug keramik putih polos. Ditulis dengan menggunakan marker khusus dan melalui proses pembakaran supaya tulisan lebih tahan lama. Bisa pesan tulisan juga dong tentunyaah. Range harga mulai dari Rp 70.000 - Rp 85.000. Mariii!





Ditunggu pesanannya, ya. Lebih cepat lebih baik, karena kalau pesanan penuh, biasanya saya pending dulu. Soalnya proses pembuatannya nggak sebentar, apalagi yang mug. Pembakarannya lumayan makan waktu. ^_^


A video posted by Winda Krisnadefa (@emakgaoel) on

Minggu, 14 Februari 2016

Belajar Hand Lettering dengan Kuas dan Cat Air untuk Pemula

  23 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

Baru juga dua bulanan mendalami seni hand lettering gara-gara latah ikut kekinian di Instagram. Sekarang udah mau ngasih tutorial ala-ala pun. Emak Gaoel mah gitu orangnya. Sotoy. Hahaha! Etapi, beneran deh, cobain hand lettering buat kegiatan santai-santai di rumah, relaxing banget, lho! Apalagi kita nulis-nulis indah quotes yang nggak kalah indah dan inspiratif. Pikiran jadi fresh dan positif banget jadinya. Nggak kepikiran lagi deh mau nyinyirin orang di socmed. Eh. Saya malah punya project besar untuk tahun 2016 ini, menulis terjemah Qur'an dengan hand lettering. Saya udah cerita di sini


Jadi gini, ya. (Songong dimulai). Hand lettering itu salah satu bagian dari seni kaligrafi dan typography. Ada banyak macam dan medianya. Bisa pakai brush pen (yang harganya mayan nguras dompet), bisa pakai kuas dan cat air, bisa pakai marker, bisa pakai pulpen kheuseus untuk kaligrafi (ini juga mehong, cyin). Tapi bukan masalah harga peralatannya sih kalau kata saya. Soalnya kalau emang udah suka, nantinya pasti niat banget nabung supaya bisa punya peralatan yang mumpuni. Apalagi kalau udah mulai mikir untuk dibisnisin (kayak saya) hihihi. 

Jadi kalau latihan hand lettering pakai cat air untuk pemula kayak saya gini, gimana belajarnya?

Kertas

Pakai sketch book atau buku gambar biasa juga nggak masalah, sih. Asal pastikan kertasnya cukup tebal, karena kalau pakai cat air, suka tembus kalau kertasnya terlalu tipis. Kalau saya, untuk menghemat, saya pakai kertas HVS yang beratnya 100 gr. Beli langsung satu rim, pakainya bolak-balik, karena untuk latihan. 

Kuas


Berhubung saya mau bahasnya kali ini tentang hand lettering pakai cat air, berarti alatnya kuas. Nanti postingan selanjutnya bolehlah kita bahas tentang hand lettering menggunakan brush pen. Untuk kuas saya pakai merek Lyra. Kuas ini ada berbagai ukuran mulai dari nomor 1 (kayanya sih ada nomor 0 juga, tapi saya belum nemu). Saya pakai nomor 1,2 dan 3 (ukuran kecil). Kuas ini paling enak dari beberapa kuas yang saya coba. Mak Tanti sih makenya merek Joyko, tapi saya belum ketemu juga kuasnya. Kuas Lyra ini murah kok, harganya nggak sampai Rp 10.000/buah. Kumpulan seratnya padat dan ujungnya lancip. Jadi memudahkan saat melakukan lettering yang banyak gerakan memutarnya.

Cat air

Bebas. Pakai yang mana aja. Saya sendiri lebih suka pakai cat air kering, yang tinggal dicocol (((DICOCOL))) air di ujung kuas kayak GIOTTO Watercolor ini. Saya nggak perlu palet lagi memakai cat ini. Tapi kalau mau pakai yang model cat dalam tube juga silakan, tapi ya mau nggak mau harus punya palet juga.

Practice


Basic hand lettering dengan menggunakan kuas adalah cara memegang kuas dan tekanan kuas saat menulis. Ini harus dilatih supaya luwes. Cara memegang kuas sebenarnya nggak bisa diajarin lewat tulisan dan juga tiap orang harus menemukan posisi kuas yang dirasa paling nyaman di tangannya. So, saran saya, cobain berbagai posisi (memegang kuas) sampai menemukan yang paling nyaman saat melakukan gerakan menulis. 
Basic rule hand lettering (baik itu tulisan sambung mau pun cetak), tekanan dikurangi saat kuas bergerak ke atas, dan ditambah saat gerakan ke bawah. Istilahnya dalam ilmu lettering adalah strokes up dan strokes down. Ini juga perlu dilatih. Untuk basic gerakan tiap huruf bisa dilihat di video ini. 

Latihan brush lettering menulis alphabet dengan kuas dan cat air. Kuas yang saya pakai Lyra no.1. Videonya dipercepat...
Posted by Winda Krisnadefa on Sunday, 14 February 2016


Referensi belajar di Instagram

Banyak letterer terkenal di Instagram. Sebagian besar share video tutorial singkat. Video-video ini sangat membantu proses belajar saya selama beberapa bulan ini. Yang perlu kita ingat adalah, jangan terintimidasi dengan cantiknya huruf yang mereka hasilkan, lalu terobsesi untuk membuat bentuk yang sama persis dengan milik mereka. Yang ada malah jadi stress. Hahaha. Yang penting justru, menemukan kenyamanan menulis terlebih dahulu, lalu dengan banyaknya latihan kita justru akan bisa menemukan bentuk khas milik kita sendiri. Sama aja kayak nulis, kok. Latihan, latihan, latihan. 
Ini beberapa akun yang bisa kamu kepoin di IG:
@stefankunz
@handwritten.sg
@poppyandmintdesign
@blackchalkco
@renmadecalligraphy
@letteringcamp

Semoga bermanfaat, ya! :* 

Jumat, 12 Februari 2016

Cari Penghasilan Melalui Social Media Lewat Sociabuzz Pro, Give It A Try!

  35 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Hari ini dicolek sama beberapa Emak Blogger di grup KEB, nanya-nanya soal Sociabuzz dan Sociabuzz Pro. Macam karyawannya ajaa gueh. Hahaha! Tapi ngerti kok kenapa kena colek. Mungkin saya dianggap punya pengalaman "cari duit" lewat dua tempat ini. Untuk Sociabuzz sebenarnya saya udah pernah tulis di sini. Lengkap dan mudah-mudahan cukup memberi hidayah. Hiyyah. 



Sociabuzz Pro punya aturan berbeda dari Sociabuzz, walaupun masih sodara kandung. Dan aturan mainnya, kudu punya akun di Sociabuzz dulu baru bisa bikin akun di Sociabuzz Pro. Kalau di Sociabuzz kerjaannya di Twitter dan nge-twit otomatis. Kalau di Sociabuzz Pro menuntut ekstra kerja dengan imbalan yang juga tentunya lebih besar.

Alhamdulillaah, tahun lalu saya pernah mencairkan earning di Sociabuzz Pro senilai sekitar nyaris $100 (sebenarnya nggak semuanya dalam mata uang dolar, tergantung penawarannya). So, mari kita bahas satu-satu sesuai pengalaman saya dan aturan main di Sociabuzz Pro. Ambil pulpen, seduh kopi, buka Youtube, cari video audisi American Idol. (Lah, gak jadi nyimak, dong?).

1. Apa itu Sociabuzz Pro?

Basically, Sociabuzz Pro adalah semacam platform advertising yang menghubungkan afiliasi (blogger dan social media active users) dengan client yang membutuhkan mereka untuk menyuarakan campaign client secara online. Sampai di sini jelas, ya? Kalo gak jelas, kerengin pake pulpen Boxy. -_- 

2. Bagaimana cara gabung dengan Sociabuzz Pro sebagai affiliate?

Sebelumnya, kamu harus udah punya akun di Sociabuzz dulu, baru bisa gabung di Sociabuzz Pro. Walaupun aturan mainnya sama sekali beda, keduanya masih sodara kandung. Begitu kamu udah gabung di Sociabuzz Pro, hal pertama yang harus kamu lakukan adalah masuk ke dashboard, dan lengkapi semua informasi yang perlu dilengkapi. Termasuk di dalamnya informasi rekening bank. Di sana juga diminta Swift Number atau Routing Code. Ini bisa ditanya ke bank masing-masing, karena kalau gugling takutnya nggak update. Lalu baca dan pahami slide per slide yang disediakan di bagian Read Me Please (di sidebar kiri bawah). Semua penjelasan dibuat sesimpel mungkin, bahkan orang gaptek kayak saya aja bisa ngerti, kok. Masya kalah sama Emak Gaoel Gaptek? Huahaha.

3. Gimana cara kerjanya di Sociabuzz Pro?

Nah ini. Perihbahasa bilang, "Nggak ada hasil tanpa kerja." Ya iya, bener. Di Sociabuzz Pro memang menjanjikan penghasilan yang lebih besar dari Sociabuzz, tapi ya kerjanya juga beda. Affiliate dibayar sesuai jumlah PPA (Pay Per Action). Ntar dulu yak, jelasin yang itu ntar aje. Hihihi.
So, Sociabuzz Pro akan mengirimkan notifikasi via email tentang adanya offer (tawaran) pekerjaan untuk kita. Apakah harus diambil? Ya, terserah aja. . Kalau saya, biasanya liat-liat dulu nominalnya. Heu euh, saya selain gaoel, gaptek juga gragas sama duit. Wekekek. 
Waktu awal-awal gabung dulu, nominal yang ditawarkan untuk tiap conversion masih di bawah Rp 10.000. Tapi makin ke sini, nilainya makin naik sampai di atas Rp 12.000 per conversion.

4. Jadi PPA sama conversion itu apa, deh?

Duh, jangan suruh saya jelasin pake teori, ya. Saya nggak ngerti. Jadi setelah ada tawaran masuk lewat email, kita diminta masuk ke dashboard akun Sociabuzz Pro, lalu tentukan pilihan: mau apa nggak, neh? Kalau nggak mau, ya skip aja. Nggak usah ngapa-ngapain, Log out aja lagi. Wkwkwk. Kalau mau ambil, klik di nama job yang ditawarkan, lalu scroll ke bagian paling bawah. Di sana ada kolom kecil bertuliskan Agree to Terms. Baca dulu semua terms-nya (dalam bahasa Indonesia, kok). Lalu klik Agree to Terms
Offers dari Sociabuzz Pro biasanya berkaitan dengan aplikasi, events dan social campaign. Kita diminta untuk mengajak sebanyak mungkin orang untuk mengunduh/mendaftar dan dibayar berdasarkan action unduh/register orang-orang yang daftar melalui link unik milik kita. Oh iya, tiap offer, affilitae selalu diberi satu link unik untuk kita pakai promosi mengajak sebanyak mungkin orang masuk melalui link tersebut. Ini yang dimaksud dengan Pay Per Action (PPA). Dan conversion adalah bentuk action yang tercatat lewat link unik kita. 

5. Gimana bisa sukses di Sociabuzz Pro?
Tenang, gak usah panik, ini bukan earning saya. Ini earning mbuh siapa, saya comot dari fanpage Sociabuzz. Ni orang, bikin ngiler amat, yak. Hahaha!

Yah, ini pertanyaan bukan buat saya, sih. Secara masih suka-suka banget ngerjainnya. Wkwkwkwk. Tapi, kalau kamu mau kepo-in fanpage Sociabuzz di Facebook, kamu bisa lihat, ada lho yang emang bisa menghasilkan sampai ribuan dolar. Oh wow sekali, yes! 
Kalau menurut saya pribadi, Sociabuzz Pro ini cocok untuk mereka yang punya followers banyak di social media dan juga mau untuk sangat aktif memborbardir para pengikutnya dengan promo yang sama hampir setiap jam. Takutnya spamming? Iya, sih. Tapi Sociabuzz Pro menawarkan banyak tips untuk bisa sukses melakukan pekerjaan di sini tanpa harus kena cap spammer. Bisa kamu baca-baca juga di fanpage-nya. 

Kalau tips dari saya mungkin ini:

a. Manfaatkan jaringan terdekat. Mama, Papa, Teteh, Aa, Nenek, Kakek, Om, Tante, suami, istri, anak, sepupu, keponakan. Hahaha. Biasanya "korban" pertama saya selalu orang-orang yang ada dalam lingkaran terdalam, yaitu keluarga. Pasti punya grup WA keluarga, kan? Cemplungin aja link kamu di sana, kasih embel-embel, bantuin dong, donlod aplikasi ini. Hihihi. Selanjutnya, grup-grup chat lain seperti teman arisan, teman kuliah, teman nongkrong, teman tapi mesra (eh) dimainkan. Kalau udah sama orang lain, kamu harus bisa promosi. Angkat produk/campaign-nya. 

b. Baca prime time di timeline-mu. Ini penting, biar bisa dapat interaksi maksimal. Perhatiin jam-jam ramai di timeline, di mana hampir sebagian besar teman kita nongol. Hitung-hitungan kasar saya, biasanya sekitar 5% dari total jumlah teman atau followers akan komentar atau minimal kasih like. Syukur-syukur dari sana, ada yang nyangkut. 

c. Hapus update-an lama supaya timeline kamu gak terlalu banjir promosi. Tapi untuk yang ini, harus ingat, sisakan beberapa (minimal lima buah), untuk dibuat capture sebagai bukti kerja yang harus dikirimkan setiap akhir periode campaign. 

6. Masih belum ngerti?

Tanya aja langsunglah ke admin Sociabuzz Pro di fanpage, atau email langsung. Biasanya, kalau saya kirim email, selalu dapat balasan di hari yang sama, kok. Mereka cukup responsif. 

Semoga sharing pengalaman saya ini bermanfaat, ya. Saya sih encourage teman-teman untuk ambil kesempatan ini, apalagi untuk mereka yang memang super aktif di social media. Sayang kan, tiap menit bikin status, minimal salah satunya bisa jadi duit. Wekekek. 


Kamis, 04 Februari 2016

Sneak Peek Proses Pembuatan Coloring Book Asmaul Husna

  20 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

My Mommy, gak pernah lupa menyelipkan satu nasihat setiap kali ada kesempatan:

"Jangan pernah lupa untuk pasang niat 'karena Allah' setiap melakukan sesuatu. Insya Allah, segala sesuatu yang dilakukan karena Allah akan membawa kebaikan untuk kita di dunia dan akhirat."

Sampai sekarang, pasang niat dan berketetapan dengan niat tersebut selalu menjadi ujian sendiri untuk saya. Biasanya, ingat untuk mengawali dengan niat karena Allah, tapi dalam prosesnya, niat belok ke mana-mana. Apalagi model orang tukang nyasar kayak saya, belok main belok aja. -_-

Awal tahun 2016 kemarin saya pasang niat mau menghafal terjemah Al Qur'an sedikit-sedikit dengan cara menuliskannya di kertas (lettering). Di sini ceritanya. Berusaha keras dari awal supaya niatnya memang karena Allah, pengen bisa dapet minimal sedikitlah arti Al Qur'an, biar ada pemahaman baru pelan-pelan. Sambil nulis, sambil menghafal. Tiap hari, tiap nulis, saya coba ingat terus niat tadi.


Saat saya membagi foto-fotonya di Facebook dan Instagram pun saya berusaha keras untuk menetapkan niat karena Allah, bukan karena yang lain-lain. Percaya deh, ini berat banget. Niat pamer gede banget. Belum lagi terbuai-buai pujian dari teman-teman. Haish, ini godaan paling besar. Nggak putus-putus saya merapal dalam hati, "Ya Allah, jaga niatku, jaga niatku."

Nggak sampai dua minggu kemudian, seorang teman lama menghubungi saya. Beliau seniman yang baru meluncurkan serial coloring book-nya. Saya cerita tentang beliau di sini. Mas Bambang, namanya, menawarkan untuk membuat coloring book serial Asmaul Husna. Subhanallaah, nggak kepikiran sama sekali bisa menerbitkan buku mewarnai.


Saya konsultasi sama Mama, menanyakan, apakah sebaiknya saya ambil tawaran itu atau tidak? Saya takut, niat saya belok, muter, nikung terus nyerempet. Sayang banget, karena project menghafal Al Qur'an lewat lettering ini saya niatkan akan dilakukan sepanjang tahun 2016.

Ternyata Mama support saya sepenuhnya untuk mengambil tawaran itu. Dengan tetap mengingatkan niatkan karena Allah. Semoga dengan adanya buku ini, banyak saudara muslim kita yang ikut tergerak menghafal nama-nama suci Allah SWT sambil mewarnai. Apalagi buku ini kelak akan dirancang sedemikian rupa supaya setelahnya bisa dibuka dan dipasang dalam pigura, untuk menjadi penghias rumah.


Bismillaah. Project Coloring Book Asmaul Husna pun berjalan. Sampai saat ini saya sudah setengah jalan. Mas Bambang (yang notabene non muslim) terus menyemangati saya agar bisa menyelesaikan gambar-gambar ini tepat waktu. Selain itu, saya juga konsultasi dengan sahabat saya, Ustad Muhaimin Azzet seputar kaidah kaligrafi Al Qur'an agar tidak menyalahi aturan. Terima kasih, Ustad. :)

Proses menggambar selalu diawali dengan sketsa kasar huruf hijaiyah nama Asmaul Husna menggunakan pensil. Lalu saya trace dengan menggunakan drawing pen. Setelah itu baru saya timpa dengan sketsa ilustrasi dengan menggunakan pensil lagi. Dan tracing kembali dengan drawing pen yang lebih halus. Setelah itu semua jejak pensil dihapus. Total waktu membuat satu gambar ini bisa memakan 2-3 jam kalau nggak digangguin bocah. Hihihihi.


Mohon do'anya, teman-teman. Akhir bulan Februari ini semoga sudah terwujud dan bisa hadir di tengah-tengah kita Coloring Book Asmaul Husna. Hiyah, mimpi pun nggak pernah, saya menerbitkan buku yang berisi coretan gambar saya. Sejak kecil, saya memposisikan diri sebagai anak yang nggak nyeni sama sekali. Nggak bisa nyanyi, nggak bisa main musik, nggak bisa nari, nggak bisa menggambar (apalagi melukis). Semoga hasilnya tidak mengecewakan.


Saya selalu percaya, keberuntungan datang hanya dariNya. Bisa jadi banyak artist di luar sana yang jauh di atas saya kemampuan menggambar dan kaligrafinya, tapi saya kecipratan keberuntungan yang dengan murah hati diberikan oleh Allah. Semoga saya nggak menyalahgunakan keberuntungan ini dan menjadikannya sebagai ajang sombong. Do'ain, yaaa!

Catatan ini saya buat sebagai penanda batu loncatan lain dalam hidup saya. Emak Gaoel mencoba merambah dunia coret-coret. Hihihihi. Da' saya mah gitu, apaan juga penasaran pengen nyobain. -_- Menghafal Al Qur'annya gimana, mak? Insya Allah, masih jalan sampai sekarang, tapi rada melambat. Hiihiihii. Semoga kelar project ini, menghafalnya kebut lagi, yes. Yes, dong! :D