Kamis, 31 Maret 2016

Jadilah Pengusaha dan Pembeli Kekinian bersama MyJNE

  13 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Sebelum lupa, kasih disclosure dulu, yak. Ini postingan ikut lomba, ya. Tapi isinya murni pengalaman pribadi, dan opini yang saya tulis adalah jujur adanya, kakaak! Apalagi, saya kalau ikut lomba pake feeling, kalau nggak click saya gak bakalan ikutan. Ya sudahlah, mak, disclosure kok panjang gini? 

(Handdrawed by yours truly)

So, kita ngomongin soal JNE. Siapakah dia? Sungguh terlalu kalau nggak tau. Jaman orang udah belanja lewat laptop sama smartphone gini? Closing deal, "Ini total sama ongkirnya ya, sis," udah jadi kalimat pamungkas sebagai tanda jadi. Di mana alamat lengkap dan nomor telepon adalah salah satu pertanda kalau transaksi sedang dalam proses selesai (selain pembayaran). Ya, keterlaluan kalau nggak kenal JNE. Udah, gitu aja.

Saya kenal JNE sejak beberapa tahun yang lalu waktu buku pertama saya terbit. Karena banyak teman yang memesan buku langsung ke saya, mau gak mau saya harus cari jasa pengiriman yang bisa jadi andalan. Bukan apa-apa, nggak enak sama fans yang udah bela-belain mesan langsung hanya demi buat dapetin tanda tangan saya di buku. #jambak. Hihihihi. Awalnya, saya masih suka pindah-pindah pakai jasa pengiriman yang mana ajalah, sama aja. Itu dulu, ya. Sampai kejadian nightmare banget, menjelang lebaran, saya mengirim sekitar 10 buah buku ke 10 alamat berbeda, tersebar di wilayah Indonesia. Lima kiriman nggak ada kabarnya sampai dua minggu lebih. Dan sampai hari ini, ada 2 buku yang entah apa kabarnya, mungkin udah jadi bungkus gorengan di suatu tempat. Hiks. Trauma. Nggak tau juga, kenapa waktu itu saya nggak pake JNE. Sudahlah, kalau nggak kejadian begitu, saya nggak bakalan jadi cinta mati sama JNE kayak sekarang ini.

Kenalkan, ini Joni, tempat kamu menyandarkan harapan di JNE (Handdrawed by yours truly)

Sejak kejadian traumatik itu, saya nggak pernah lagi gonta-ganti jasa pengiriman. Selalu ke JNE. Enaknya buat orang yang "mager" alias males gerak kayak saya ini, agen JNE ada di mana-mana. Di dalam komplek perumahan pun ada. Tinggal menclok dikit, gak usah ganti daster, kirim aja langsung. Kebiasaan saya sekarang malah, cuma naro barang doang sama ongkos kirim, abis itu langsung cusss. Lembar tanda bukti pengiriman (e-connote) bisa saya ambil belakangan. Heu euh, udah langganan. Mas-nya udah apal muka saya.

Bulan lalu, JNE akhirnya meluncurkan aplikasi untuk smartphone yang dikasih nama MyJNE. Saya yang JNE junkie gini ya happy banget. Sekarang ngecek ongkir gak perlu buka browser segala. Terus ngecek kiriman udah sampe atau belum, tinggal colek-colek layar smartphone android doang. Apalagi sekarang saya sedang merintis usaha online baru. Makin gencarlah kegiatan mondar-mandir saya ke agen JNE deket rumah. Sebenernya bisa aja, nanya ke agen berapa ongkir ke anu. Tapi kan gak praktis. Jadi, aplikasi myJNE ini memang beneran membantu banget. 

(Handdrawed by yours truly)

MyJNE adalah salah satu dari tujuh program baru yang diluncurkan oleh JNE Express bulan lalu yang disebut sebagai 7 Magnificent. Tujuh program dan layanan baru dari JNE Express itu adalah:
1, MyJNE application (for android)
2. JNE-Pop Box
3. @box prepaid
4. Promo JNE Super Speed
5. JNE International Shipment
6. Layanan CD Music
7. JNE Trucking

Mari kita kupas tuntas soal aplikasi MyJNE yang kekinian itu. Ini kaitannya sama pergeseran kebiasaan masyarakat urban (tsah) dalam berbelanja yang sekarang makin praktis. Online shopping udah bukan jadi sesuatu yang emejing banget sekarang, ya. Nggak, nggak canggihlah itu. Biasa aja. Makanya, jadi banyak bermunculan online shop demi untuk memenuhi kepentingan konsumen "males gerak" kayak kita-kita ini. (Kita? Elu aja kali, mak!). Intinya, jadi pengusaha atau pun pembeli online, berujung pada satu kebutuhan krusial yaitu jasa pengiriman barang. Dengan adanya aplikasi MyJNE ini, jelas banget kita sebagai pelaku online shopping terbantu banget. Kenapah? Emang bisa ngapain aja pake aplikasi MyJNE ituh?

Mencari Lokasi JNE Terdekat

(Handdrawed by yours truly)

Kalau pas lagi di daerah yang kita kurang familiar dan harus kirim barang, klik JNE Nearby di aplikasi MyJNE. Aktifkan GPS dulu tapi, yes. Kalo nggak, ya paling petanya muter-muter di Zimbabwe sampe lusa.

Cek Ongkos Kirim ke Seluruh Daerah di Indonesia
(Handdrawed by yours truly)

Ngapain buka browser dulu buat ngecek ongkir? Jadi penjual dan pembeli online, kudu sama-sama cek sendiri berapa ongkir barang, biar gak ada tipu-tipu antara kita. Pernah kejadian soalnya, saya cuma nebak-nebak alias kira-kira doang ongkir waktu mau kirim barang. Pas sampai agen JNE, ternyata ongkirnya empat kali lipat. Akyu ya manyiun, gak bisa minta lagi sama pembeli. Nggak propesyenel banget. Jadi kalau mau jadi pengusaha online yang propesyenel, install aplikasi MyJNE di smartphone-nya, ya.

Monitor Status Pengiriman
(Handdrawed by yours truly)

Gregetan ya pengen tau barang kita udah sampai mana? Nunggu dua tiga hari rasanya kelamaan. Pengennya tiap jam dapet laporan real time gitu, kiriman sempak dagangan udah di mana? Ya, jangan jadi orang serese itulah, nyah. Gak perlu laporan real time tiap jam juga kali. Minimal kita bisa lihat perjalanan paket kita dari satu kota ke kota lain hingga akhirnya sampai ke kota tujuan. Ya ampun, itu paket, kok enak bisa traveling. *sirik sama paketan sendiri* Tinggal masukkan nomor e-connote atau scan barcode yang ada di e-connote. Langsung terpampang nyata bukan fatamorgana manja, perjalanan paket tersebut.

Memeriksa History Data Pengiriman
(Handdrawed by yours truly)

Ini penting banget buat pelaku bisnis online untuk pendataan, lho. Di aplikasi MyJNE semua kiriman barang yang kita sambungkan dengan nomor telepon terdaftar di aplikasi MyJNE, akan otomatis tersimpan di bagian My Shipment. Enak kan, kayak punya sekretaris pribadi.

Pembayaran Praktis dan Aman dengan MyCOD
(Handdrawed by yours truly)

MyCOD adalah bentuk pelayanan baru dari JNE melalui aplikasi MyJNE untuk memfasilitasi penggunanya, baik itu penjual mau pun pembeli, agar tercipta rasa aman, sentosa, sejahtera dan gemah-ripah loh jinawi. Fokus, mak! Iya, maksudnya, dengan memakai COD (Cash On Digital), pembeli bisa merasa aman untuk bertransaksi sampai barang pesanan tiba, dan MyCOD menjadi media pembayaran ke penjual begitu memberi laporan jika barang telah diterima oleh pembeli. Sama-sama enak, ya.




Gimana caranya install aplikasi MyJNE? Ini serius masih nanya beginian? Cuss aja langsung ke Play Store, ketik MyJNE. Install udah! Ini deh linknya, buat yang males. Langsung daftarkan pakai nomor telepon kamu, biar semua transaksi yang tercatat memakai nomor telepon tersebut ada datanya dalam aplikasi MyJNE.

Biar lebih jelas cara pemakaian aplikasi MyJNE di smartphone atau tablet android kamu, simak video ini. By the way, entah kenapa, dalam video ini saya nyebut pulsa melulu, padahal maksudnya saldo. Ah, sudahlah, emang gak bakat jadi artis sinetron lu, mak! Ngadepin kamera aja grogi. -_-


Kalau kamu mau jadi pengusaha dan pembeli online yang kekinian, aplikasi ini wajib ada di smartphone kamu. Ini pesan serius dari Emak Gaoel. Sebagai penutup, ini testimoni saya sebagai pengguna aplikasi MyJNE, ya. Kalau ada pertanyaan terkait seputar pelayanan JNE, monggo jangan nanya saya. Langsung aja tanya ke si Joni di sini. Hihihihi. 

Selasa, 29 Maret 2016

Curhat Emak Anak Bilingual di Sekolah Negeri

  22 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

Disclosure: Ini postingan curhat, nggak dibayar, apalagi disponsorin. Nulisnya aja males-malesan, karena gak ada bayarannya. (Ini disclosure macam apa?)

Masih ngikutin tulisan saya tentang membesarkan anak bilingual, gak? Ini ada cerita baru tentang Safina yang masih kelas 1 SD tiap menghadapi UTS dan UAS di sekolahnya yang bukan sekolah internasional alias sekolah negeri. 

Membesarkan anak bilingual merupakan tantangan, terutama kalau kita hidup di negara yang tidak bilingual. Apa tujuan saya membesarkan anak-anak saya dalam lingkungan dua bahasa (Indonesia dan Inggris)? Saya udah pernah cerita di sini. Tantangan kemudian berkembang ketika saya yang "sok-sok" membesarkan anak bilingual ternyata nggak mampu memasukkan anak-anak saya ke sekolah swasta apalagi sekolah internasional. Tapi apa gara-gara itu, saya nggak boleh membesarkan anak-anak saya untuk punya kemampuan berbahasa lebih dari satu bahasa? Buktinya sampai saat ini, dari rumah pun anak-anak saya terkondisi berkomunikasi dalam dua bahasa. Semua bisa diusahakan.


Yang jadi "masalah" adalah ketika mereka mau mengerjakan soal ujian tengah semester atau akhir semester, terutama buat Safina yang lebih aktif berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Kalau baca-baca artikel tentang anak bilingual, tiap anak memang punya kecenderungan lebih suka berkomunikasi dalam bahasa tertentu. Fadhil, abangnya, sekarang ini lebih nyaman untuk ngomong dalam bahasa Indonesia. Kemampuan bahasa Inggrisnya lebih pasif ketimbang Safina. Sedangkan Safina, praktis, kalau dia di rumah, dia sendiri yang memilih untuk berkomunikasi sepanjang hari dalam bahasa Inggris. Bahkan dengan abangnya yang selalu menanggapi dengan bahasa Indonesia. Begitu UTS dan UAS di sekolah yang menggunakan komunikasi sepenuhnya dalam bahasa Indonesia, Safina ternyata harus mengeluarkan usaha dua kali lebih besar ketimbang teman-temannya.

Sebagai orang tua, saya nggak pernah memberi target harus nilai bagus buat anak-anak saya. Yang paling penting buat saya adalah mereka berangkat ke sekolah dengan hati senang setiap hari. Masalahnya, walaupun guru-guru di sekolah sudah saya beritahu kondisi Safina yang agak tertinggal dalam berbahasa Indonesia dibanding teman-teman seusianya, saya nggak bisa berharap banyak para guru bisa memberikan perhatian khusus hanya untuk dia. Ada banyak murid lain yang juga butuh perhatian, dan namanya sekolah, perhatian guru tentu saja umumnya kolektif, alias semua kalau bisa disamaratakan saja. 


Saya harus maklum dengan kondisi di sekolah, maka artinya adalah saya harus ekstra kerja keras untuk membantu mereka dalam urusan tugas sekolah. Kenyinyiran muncul, "Lagian anak bilingual disekolahin ke sekolah negeri." Saya langsung gagal paham. Apa nggak boleh mereka yang tidak mampu menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah internasional membesarkan anak-anak mereka secara bilingual? Sedangkan untuk urusan itu orang tuanya mampu, hanya finansial aja yang tidak mendukung. Bukankah kita harus berjuang dengan apa yang kita miliki? Hayati sedih, bang. :(

Homeschooling juga sebenarnya masuk dalam wacana waktu anak-anak sudah masuk usia sekolah. Tapi sekali lagi, pertimbangan lain membuat kami memutuskan untuk tetap memasukkan mereka ke sekolah umum. Emaknya gak sanggup ngajarin sendiri. Wkwkwk. Tapi saya sadar sepenuhnya, tanggung jawab pendidikan anak kita ada di tangan kita sebagai orang tuanya. Gak masalah sekolahnya di mana, yang penting fondasi kuatnya sudah terbangun di rumah. Etsseddap. Lagian, coba itu yang mandang miring sekolah negeri, cek matanya, kenapa miring? Nnggg ....


Jadi sekarang ini, solusi paling sesuai sama kondisi anak-anak saya yang "sok bule" (baca: bilingual) tapi sekolah di sekolah negeri, tiap hari latihan dikte dan menulis. Ngobrol atau conversation tetap dalam bahasa Inggris, tapi untuk pembahasan seputar pelajaran di sekolah, sebisa mungkin pakai bahasa Indonesia. Tapi kejadiannya sama Safina justru seringnya semua pelajaran di sekolah dia minta ditranslate ke bahasa Inggris. Bisa ngebayang pelajaran PKN (Pendidikan Kewarganegaraan) diterjemahin ke Inggris? Aku mumet. -_- Tapi begitulah, cinta seorang ibu. #toyor

Udahlah, Inti postingan ini cuma curhat doang. Soalnya katanya blogger jaman sekarang udah jarang curhat, kebanyakan nerima job review. Bhihihik. Nih atuhlah, saya curhat. Mana pundaknya? Mau elap ingus. 

Jumat, 25 Maret 2016

Cara Mencuci Tangan yang Benar bersama Lifebuoy

  12 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Sesungguhnya saya ini bukan emak yang rajin banget bebersih. Please, don't judge me. Hiks. Kalau lagi nggak ada asisten rumah, nyapu dan ngepel cuma sanggup saya lakukan kalau badan belum keburu pegel abis antar jemput anak ke sekolah. Tapi, khusus untuk satu hal, saya lumayan bawel sama semua orang di rumah. CUCI TANGAN! Iyak, urusan cuci tangan ini kayak yang sepele banget, tapi sejak anak-anak kecil saya udah biasain banget mereka untuk selalu ingat mencuci tangan tiap baru dari luar, mau makan, sesudah makan dan sebelum tidur. Ya, gosok gigi dan mandi jugalah. Hihihi.



Kenapa deh saya riwil banget sama urusan cuci tangan ini? Karena kalau urusan tangan jorok itu melebarnya bisa ke mana-mana, neik! Termasuk bisa berujung masuk rumah sakit gara-gara sakit peyut. Ngik. Masalahnya kuman itu kan nggak bisa keliatan ya, kayanya tangan bersih, padahal mungkin ada ribuan bahkan jutaan kuman nempel di tangan. Terus, apa kabar  kalau makan pakai tangan berlumuran (((BERLUMURAN))) kuman begitu? Eaaa, ngeri ah. 


Sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu, saya dan Safina lagi kontrol ke dokter. Di ruang tunggu diputar cara mencuci tangan yang benar lewat televisi. Safina nyimak serius banget. Karena tayangannya diulang-ulang, alhasil begitu sampai rumah, Safina yang waktu itu umurnya masih 4 tahun, udah hapal aja sama urutan gerakan mencuci tangan yang ada di tayangan itu. Jujur aja, saya juga baru tahu kalau mencuci tangan yang benar itu ada urutannya. Selama ini cuma tau, pake air sama sabun, gosok-gosok, lalu bilas. Kelar. Segitu kok bisa yakin tangan udah bebas kuman? Apalagi jaman sekarang, kuman itu udah berevolusi cepat dan kuat, ditandai dengan munculnya penyakit-penyakit baru yang jaman dulu saya kecil saya nggak pernah dengar. 


Sejak saat itu, kami di rumah selalu praktek mencuci tangan seperti dalam tayangan di rumah sakit itu. Kebanyakan sih Safina yang disiplin. Saya kadang masih suka lupa, karena sering maunya buru-buru aja. (Keplak!). 

Eh, mungkin Tuhan emang pengen ngeplak saya yang pemalas ini. Dua minggu lalu saya dan Safina hadir di peluncuran Lifebuoy Gel Concentrate Clini-Shield10. Bwahaha, udah gak ada alesan lagi untuk males mencuci tangan dengan benar. Karena sekarang udah ada sabun shower gel konsentrat yang irit banget, cukup satu tetes, tapi memberikan perlindungan 10 kali lebih baik dari sabun biasa. Hiyah, ini inovatif dan ekonomis sekali, sodara-sodara. Bisa buat mandi sekalian, pun. Ya sudahlah ya, nggak usah mikir lagi, Lifebuoy Clini-Shield10 ini langsung jadi sabun keluarga buat mandi dan cuci tangan. Udah lengkaplah, sabun anti kuman yang irit, praktis dan melindungi. 


Nah, biar kita sama-sama belajar, gimana sih cara mencuci tangan yang baik dan benar itu? Ternyata tayangan yang saya lihat di rumah sakit itu adalah cara mencuci tangan dari Depkes yang bersumber dari WHO. Safina bersedia menjadi model tangan untuk mendemonstrasikan tata caranya, nih. Jangan lupa, sabunnya pakai sabun Lifebuoy Clini-Shield10, ya. :)












Rabu, 23 Maret 2016

Coloring Book Bisa Dikirim Jadi Post Card

  8 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Ini kabar terbaru lagi dari Mas Bambang Pribadi yang dua bulan lalu menerbitkan buku coloring book Mysterious Mandalas. Kali ini Mas Bambang menerbitkan seri buku mewarnai yang konsepnya beda banget. Saya langsung kayak anak kecil dapat mainan baru begitu buku itu ada di tangan. Safina juga suka banget, karena ukurannya travel size. Nggak terlalu besar, tapi nggak terlalu kecil juga.



Buku ini ukurannya sekitar 15 x 15 cm, berjudul Coloring Postcard. Sesuai judul, isinya gambar-gambar tangan Mas Bambang yang siap diwarnai. Mostly gambar bergaya doodling art atau semacam free style drawing kali ya. Gambarnya dilengkapi dengan quote-quote inspiratif yang sering kita temui. 


Tadinya saya agak ragu kalau lembaran buku ini layak untuk dicabut dan dikirim sebagai potscard. Tapi ternyata kertasnya memang tebal dan kaku, persis seperti postcard pada umumnya. Selain itu, di bagian belakang tiap gambar sudah ada tempat untuk menempelkan prangko dan menuliskan alamat serta pesan pendek.


Harga buku ini dibandrol Rp 55.000. Isinya terdiri dari 35 original designs oleh Mas Bambang. Bisa dibeli di beberapa toko-toko buku di Jakarta atau langsung ke Mas Bambang Pribadi. Safina dan saya masih belum selesai mewarnai semua gambar dalam buku ini. Karena ukurannya yang compact, biasanya suka saya masukin ke tas, dan bisa buat hiburan juga dalam perjalanan. 


Selasa, 15 Maret 2016

Mainan Anak Original Lengkap di Dotstoyland.com

  3 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Akhirnyaa, UTS (Ulangan Tengah Semester) selesai juga! Horee! Mamanya yang girang, hahaha. Gimana UTS anak-anak, mak? Alhamdulillaah, anak-anak saya, setelah melewati beberapa drama kena omel emaknya, berhasil juga menyelesaikan ujiannya di sekolah. Biasanya kalau baru selesai ujian di sekolah, aturan bermain di rumah agak longgar. Fadhil yang udah gede biasanya minta diijinin main komputer lebih lama. Kalau Safina hampir sama, sih. Cuma mungkin karena dia anak cewek, suka minta dibeliin sesuatu. Bawaan shopping, ketularan emaknya kayanya. -_-


Saya udah lumayan lama ninggalin mall untuk shopping mainan atau printilan buat anak-anak. Bukan apa-apa, kalau ke toko-toko di mall, niatnya mau beli satu, yang kebeli lima. Belum lagi ngadepin trik-trik bujuk rayu anak yang penuh tipu daya muslihat. Hahaha. Saya lebih suka belanja online sekarang. 

Tapi urusan belanja online juga harus pinter-pinter milih online shop yang terpercaya, aman dan pengirimannya nggak pakai lama. Kalau urusan beli-beli mainan dan keperluan untuk anak-anak, saya udah punya toko online langganan. Hahaha, online shop aja punya langganan. Yah, namanya juga Emak Gaoel. wkwkwk. Soalnya saya males ribet. Pengennya barangnya emang terjamin bagus dan menjual original item. Karena hari gini kan mainan merek-merek tertentu yang lagi trend di anak-anak itu banyak banget versi KW-nya dan susah banget dideteksi keasliannya lewat foto. Original item anak-anak di online shop langganan saya ini memang asli ori. Mainan ori kan mahal, mak? Don't worry, di sana sering ngasih diskon. 

Emangnya apaan sih online shopnya? Dulu saya udah pernah cerita lho soal online shop satu ini di sini. Heu euh, saya biasa beli mainan dan keperluan anak-anak di Dotstoyland.com. Untuk Toys Online Shop, di Dotstoyland bisa puas pilih-pilih mainan dan keperluan anak. Saya sih suka banget liat-liat alias window shopping dulu di Dotstoyland ini, karena selain pilihan mainannya banyak, diskonannya dan promonya juga berganti-ganti. 


Kemarin Safina pilih-pilih mainan di Dotstoyland dengan saya kasih budget. Tinggal pilih kategori harga aja yang sesuai budget, terus pilih kategori jenis mainan untuk anak perempuan, dan pilih range usia, pilihan langsung tersortir sesuai kebutuhan saya. Karena tampilan web-nya yang nggak ribet, jadi gampang pilih-pilih mainan di Dotstoyland. 



Pilihan Safina jatuh ke gelang Frozen dan Lego Friend's Name Sign dan Disney Frozen Rubber Bracelets ini. So far, saya senang karena lagi ada diskon di mainan pilihan Safina. Hihihi. Akhirnya saya order hari Sabtu. Senin siang kemarin pesanan saya sudah sampai di rumah. Ini yang saya suka juga dari Dotstoyland, karena pengirimannya yang cepat (fast shipping). Eh, ternyata sekarag packaging barang dari Dotstoyland pakai box khusus yang ada logo Dotstoyland-nya. 







Saya merekomendasikan toys online shop Dotstoyland.com ini ke ibu-ibu semua. Website-nya ramah, transaksinya aman dan cepat, barang-barangnya terjamin berkualitas, packagingnya rapi dan cantik, plus pengirimannya cepat. Sok atuh, moms, mumpung masih suasana habis UTS, kalau anak-anak minta mainan, coba intip Dotstoyland.com. ;)

Selasa, 08 Maret 2016

Pengalaman Mandi yang Menyenangkan Cukup dengan Satu Tetes Sabun Gel Konsentrat

  16 comments    
categories: 
Assalamu'alaikum.

Mak, siapakah yang tiap hari mengalami drama tiap kali nyuruh anak-anak mandi? Anak-anak saya nih, kalau disuruh mandi susahnya setengah ampun. Giliran udah di kamar mandi, selesainya lama banget! Begitu ngecek sabun cair di kamar mandi, ternyata udah abis setengah botol (padahal masih baru!). Hiyah! Bocah maenan sabun, pantesan lama. "Nana bikin bubble tadi," kata anak saya sambil cengar-cengir.



Eeergh, bukannya nggak boleh sih mainan bubble lagi mandi. Tapi sabun cair sebotol gede abis nggak sampai seminggu itu bikin mules isi dompet saya. Huhuhu. Boros banget jadinya. Belum lagi yang tumpah-tumpah di lantai, bikin lantai kamar mandi licin. Kan bahaya. 

Alhamdulillaah, Lifebuoy paham banget sama masalah saya. Hahaha, GR banget. Nggak, maksud saya, masalah drama mandi anak ini ternyata masalah sejuta emak di mana pun. Ya, kan? Bahkan Ersa Mayori, artis dan host terkenal yang cantik itu pun punya masalah yang sama setiap nyuruh anak-anaknya mandi. Aih, jadi berasa keren punya masalah serupa sama Echa yang cantik ituuuh! Kok saya bisa tahu gitu? Karena Sabtu kemarin saya datang ke acara launching Lifebuoy Clini-Shield10 di Cilandak Town Square dan Echa (Ersa Mayori) sharing tentang pengalamannya sebagai ibu dengan dua anak yang susah banget disuruh mandi tapi suka banget main-main sabun. Hihihihi.


Happy banget kemarin itu saya memutuskan untuk datang ke Citos, karena jadi kenal lebih dekat dengan Lifebuoy. Plus Safina yang ikut dengan saya juga happy banget, karena bisa ikutan main di area Lifebuoy Superdrop yang disediakan. Seru! 

Kalau saya memang sengaja datang untuk mendengar langsung tentang keistimewaan Lifebuoy Clini-Shield10 yang berbentuk gel konsentrat ini. Saya dan keluarga udah pakai beberapa minggu sebelumnya memang, tapi jadi puas banget hari itu mendengar langsung tentang sabun gel konsentrat pertama dari Lifebuoy yang melindungi seluruh tubuh hanya dengan satu tetes ini. Semacam magic! Itu kata Safina lho, ya, waktu pertama kali cobain Lifebuoy Clini-Shield10. 


Mbak Indriani, Senior Brand Manager Lifebuoy, menjelaskan kenapa Lifebuoy meluncurkan sabun gel konsentrat ini. Ternyata ya itu, karena drama mandi anak yang dialami sejuta emak. Hahaha. Diharapkan dengan Lifebuoy Clini-Shield10 ini dapat menghadirkan pengalaman mandi yang menyenangkan bagi anak, sekaligus mampu membersihkan dan melindungi tubuh dari kuman.


Selain itu, Lifebuoy Clini-Shield10 ini menggabungkan kebaikan sabun batang dan sabun cair di saat yang bersamaan, yaitu mengasilkan busa melimpah, wangi, mudah dibilas, tidak licin setelah dibilas dan menghilangkan kuman cukup dengan satu tetes. Speaking of slogan "Cukup Satu Tetes" yang diusung oleh Lifebuoy ini, itu beneran lho emang CUKUP SATU TETES! Nggak basa-basi sama sekali. Saya udah buktiin sendiri. Tadinya Fadhil, anak saya yang besar, agak skeptis waktu saya bilang, "Satu tetes aja, ya? Ini sabun konsentrat, nggak perlu banyak-banyak, udah cukup untuk sebadan." Matanya langsung memicing nggak yakin. Tapi begitu selesai mandi, dia langsung ngomong ke saya, "Beneran cuma setetes, Ma!" Hihihi.


Saya pribadi senanglah pokoknya dengan hadirnya Lifebuoy Clini-Shield10 ini karena cukup dengan satu tetes keluarga saya terlindungi dari kuman 10 kali lebih baik karena mengandung bahan alami Active Naturol Shield yang merupakan temuan terbaru ilmuwan Unilever untuk perlindungan kuman. Selain itu hemat, wangi dan praktis banget dibawa ke mana pun karena kemasannya yang gampang dibawa dan tidak mudah tumpah. Oh, by the way, Lifebuoy Clini-Shield10 ini tidak cocok untuk bayi, ya. Sabun gel konsentrat ini ditujukan untuk anak mulai usia 3 tahun sampai dewasa dengan dua varian wangi yang menyegarkan. Yang merah dengan wangi klasik sabun Lifebuoy dan yang hijau swear seger banget wanginya kayak parfum. Hmmm ....



Selesai mendengar sharing dari Mbak Indriani dan Echa, giliran Safina eksplore Superdrop area. Mulai dari main tembakan bubble untuk membunuh kuman nakal, mewarnai pahlawan Superdrop, bermain katapel menjatuhkan gamar kuman, bermain bowling dan memasukkan gelang cincin. Lumayan, tiap area itu Safina dapat satu stamp di passport Superdrop-nya, kemudian stamp itu ditukar dengan hadiah, deh. Hari itu, Mama Safina happy, Safina juga happy! Terima kasih, Lifebuoy! 

Jumat, 04 Maret 2016

Buka-bukaan Netizen di Bukalapak, Komunitas dan Kolaborasi Kunci Sukses di Social Media

  15 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.


Setelah berkali-kali gagal ikut acara offline-nya Bukalapak, akhirnya Sabtu kemarin bertekad baja harus datang ke acara Bukalapak "Buka-bukaan Netizen" di kantornya di Kemang. Pembicaranya nggak bisa dicuekin, pemain social media kelas atas di beberapa platform yang paling populer saat ini. Belum lagi "diiming-imingi" diajak keliling kantor Bukalapak dan bisa ketemu langsung sama CEO-nya yang ... ummm, kalau nyimak iklan Bukalapak di media online dan televisi, kamu pasti ngeh deh yang mana CEO-nya. Hahaha. Itu ntar aja ya saya ceritain, kenapa CEO merangkap jadi bintang iklan, sih? Narsis amat, dih! :v


Acara Buka-bukaan Netizen pagi itu dibuka dengan sambutan dari PR Manager Bukalapak, Mbak Evi. Mbak Evi menyambut hangat kedatangan netizen dari berbagai platform yang diundang Bukalapak hari itu. Bukalapak aware banget kalau jaman serba ngi-net gini, gak boleh banget nyuekin netizen. Rugi, boss! Wkwkwk. Selain itu, Mbak Evi juga sharing sedikit tentang misi Bukapak yang buat saya mulia banget, yaitu mendukung UKM di Indonesia agar bisa berkembang dengan tetap mengikuti jaman. Sampai sekarang sudah ada 500.000an UKM yang bergabung di Bukalapak, lho! Usaha boleh diawali dengan modal kecil, tapi yang penting itu kreativitas dan kemauan untuk belajar. Soal kemauan untuk belajar ini, nanti Mas Ahmad Zaki (CEO Bukalapak) juga akan berbagi cerita tentang komunitas Bukalapak yang ternyata udah jadi komunitas yang lumayan besar.

Mbak Evi, PR Manager Bukalapak.com

Muhadkly Acho dapat giliran pertama untuk sharing mewakili platform social media Twitter. Heu euh, gagallah kamu sebbagai anak Twitter kalau nggak kenal bocah satu ini. Saya udah lama follow Acho. Awalnya karena dulu suka liat twit-nya di-retweet sama temen-temen saya. Isi twit-nya bisa dibilang witty, lucu tapi kritis. Saya suka. Akhirnya terjerumuslah saya jadi salah satu dari 460.000an followersnya di Twitter. Itu angka followers apa angka cicilan motor per bulan? Banyak amat! @_@ Kata Acho niih ya, Twitter itu fungsinya banyak banget buat dia, terutama banget untuk menemukan dan mendapatkan kesempatan-kesempatan. Karena karakter Twitter yang gerakannya super cepat, platform social media ini cocok buat mereka yang simple dan suka spontanitas. Acho juga sempat kasih sedikit tips bermain di Twitter. Walaupun akun Twitter itu (kesannya) punya kita, sebenarnya itu bukan milik kita, kaan. Jadi tetap aja harus tahu peraturan-peraturan dasar dari Twitter dan nurut kalau gak mau di-banned. Selain itu, attitude kita di online ya usahakan samalah kayak offline. Masak di dunia nyata kita bisa bersopan-santun menjaga perasaan orang lain, di dunia maya enteng banget bermulut pedas nyakitin orang? Oh, no, no, jangan.

Ndigun dan Acho

Setelah Acho, ada Mas Boy nih mewakili Instagramer. Jujur, karena Mas Boy (IG: @boylagi) ini niche IG-nya fotografer banget, saya jadi belum follow beliau. Foto-fotonya keren-keren, lho di IG. Dari penuturan Mas Boy saya juga jadi tahu kalau Instagram punya kegiatan kopdar mendunia yang dinamakan Insta Meet (hadeeuh, ke mana aja, mak?). Dan Instagramers Indonesia wajib bangga, terutama yang tergabung di komunitas Insta Meet karena pernah ikut ajang Insta Meet Worldwide dengan jumlah peserta terbanyak, yaitu 900 orang. Wow! Keprok-keprok! KAta Mas Boy, kalau di IG kita bisa menunjukkan sisi artsy (nyeni) kita di sana dan ketemu sama sesama penikmat seni yang kita sukai.

Mas Boy (@boylagi), Instagramer influencer

Sesi lanjutan diisi oleh Mbak Ainun Chomsun, blogger dan juga inisiator Akademi Berbagi. Da' saya mah fans gelapnya Mbak Ainun (fans berkulit gelap, maksudnya). Sempat bangga juga bisa jadi bagian dari Akademi Berbagi Bekasi sekitar dua tahun lalu mengisi kelas. Pengen lagi, euy. Kalau Mbak Ainun ini dulu awal ngeblog katanya gara-gara dikatain sama temennya nggak bisa nulis. Terus, Mbak Ainun lagi butuh banget tempat buat ngomongin boss-nya. Huahaha! Ya, gapapalah ya niat awal agak mlengsong, buktinya sekarang Mbak Ainun bisa jadi blogger inspiratif. Ahseek. Hal penting yang disampaikan sama Mbak Ainun berkaitan dengan blogging tentang pentingnya ngeblog sebagai tempat menyimpan (dokumentasi) catatan penting yang sewaktu-waktu bisa kita gunakan nanti. Dan juga perihal kopdar, nih. Udah lazim banget blogger identik sama kopdar. Kegiatan kopdar ini bagus banget buat para blogger untuk menambah jaringan pertemanan. Nyambungnya nanti ke omongan Acho, yang bilang tentang membuka berbagai peluang. Cucok? Cucok dong, yes! 

Mbak Ainun Chomsun, blogger dan founder Akademi Berbagi

Dari platform Youtube juga nggak ketinggalan buka-bukaan di acara #MampirBukalapak kemarin. Diwakili oleh Andri dan Martin dari Cameo Project yang sharing tentang suka-duka mereka menjadi Youtuber. Awalnya mereka punya project idealis mau bikin film pendek tapi terkendala dana. Akhirnya mereka berinisiatif untuk mencari dana lewat pembuatan wedding video. Nah, Youtube jadi wadah menyimpan portofolio mereka untuk calon klien. See? Kalau kreatif dan inovatif, sebenarnya banyak jalan menuju Roma, kok! Cuma ya itu, kadang kita suka mentok duluan aja kalau udah liat harga tiket ke Roma yang mahal. Hiyakh, kenapa jadi ke sono?

Andri dan Martin dari Cameo Project

Sesi terakhir nih lumayan seru juga. Mas Ahmad Zaki, CEO Bukalapak, berbagi cerita tentang Bukalapak dan komunitas Bukalapak yang ternyata adalah inisiatif Pelapak-nya sendiri untuk bikin ajang belajar bersama. Belajar apaan? Ya belajar ngelapak online-lah, cuy! Hihihihi. Mereka bergerak secara regional, artinya tiap wilayah sekarang suka ada aja kegiatan kopdar-nya. Keren sekali, para pelapak di Bukalapak ini. Jadi mau gabung. Jualan apa, ya? Secara di Bukalapak semua ada. Inget kan saya pernah cerita beli kambing qurban di Bukalapak dulu? Batu cincin juga ada. Apalagi jualan sempak, banyak! 

Ahmad Zaky, CEO Bukalapak.com

Pas tanya jawab, ada yang nanya, kenapa Bukalapak nggak hire artis terkenal gitu jadi bintang iklan, kayak e-commerce lainnya? Kok malah CEO-nya sendiri dijadiin bintang iklan? Padahal, kan ... Nggak jadi. Yah, intinya, kenapa dipilih (dipaksa sebenernya kalau kata Mas Zaki) jadi bintang iklan Bukalapak adalah karena berbagai pertimbangan, selain dana. Bukalapak ingin mengesankan unsur kedekatan dan kekeluargaan dengan pelapak dan pembeli. Ini juga terasa banget lho sama nuansa di kantor Bukalapak. Akrab, ramah dan menyenangkan. 


Konsep kantor Bukalapak ini dibuat seperti pasar malem. Full color. Ruang meeting dibuat kayak restoran fast food. Musholla dibuat kayak bangunan di tengah taman. Di pojok-pojok kantor berlantai dua ini ada meja-meja kecil dan taman-taman buatan. Ada ayunan dan bantal-bantal besar buat leyeh-leyeh. Ini kantor apa resort? 



Kantor Bukalapak.com

Asli, ini acara bikin kenyang banget. Isinya daging semua. Sampe bingung nyatetnya. Kesimpulan besar dari semua narasumber pagi itu kira-kira gini: bijaksana bersocial media, dan bergabunglah dalam komunitas dan kedepankan semangat kolaborasi agar gerakan apa pun yang kita usung di socmed bisa bergerak lebih cepat dan besar. Jangan anggap orang lain sebagai saingan, anggaplah sebagai partner kolaborasi yang justru bisa mengantar kita bersama ke tujuan yang lebih baik dari sekedar bergerak sendiri. Cihhuuy! By the way, acara juga sukses lancar karena MC-nya siapa lagi kalau bukan Ndigun! 

Foto keluarga duluu (pinjem punya @bukalapak di Twitter) 

Thanks berat buat Lingkar Kemang dan Bukalapak karena udah ngundang saya ke acara keren ini. Besok-besok undang aku lagi ya, kakaaak! #kodekeras