Sabtu, 15 April 2017

I Can't Smile Without You, Guys!

Assalamu'alaikum.

"Families are like branches on a tree. We grow in different directions, yet our roots remain as one."

Seperti hampir kebanyakan keluarga di Indonesia, khususnya yang berasal dari tanah Sumatera, keluarga adalah penopang hidup terpenting setelah agama. Begitu juga di keluarga besar saya. Sejak kecil, saya dan keempat saudara kandung terbiasa hidup dikelilingi keluarga besar. Padahal keluarga inti saja udah rame, ya. Tapi begitulah kami dibesarkan.

My big family

Ibu saya adalah anak perempuan tertua, dan layaknya dalam keluarga berdarah Minang, beliaulah dahan utama tempat bergantung dahan-dahan kecil lainnya. Apalagi almarhum kakek saya sudah berpulang sejak Ibu saya masih baru menikah. Tanggung jawab membesarkan adik-adiknya kala itu turun ke tangan Ibu/Mama saya. 

My parents, siblings, in laws, niece, nephew :)

Saya terbiasa sekali tinggal dengan banyak saudara; om, tante, sepupu, bahkan tetangga di kampung pun sering menetap bersama kami dalam waktu lama. Buat kami, saya dan kakak adik, hal itu menjadi sangat biasa karena sejak kami lahir, rumah sudah banyak penghuninya. Sehingga ketika kami dewasa, aneh sekali rasanya jika rumah sepi tidak ada orang. 

My sister, my son and my cousin 

Bertahun kemudian, saya dan keempat saudara kandung satu per satu mulai berkeluarga. Qadarullaah, kami menetap saling berjauhan. Saya dan orang tua di Indonesia bersama adik bungsu, abang sulung saya menetap di Malaysia bersama keluarganya, adik perempuan saya hijrah ke Singapura setelah menikah dan adik lelaki saya beserta keluarga kecilnya mencari hidup di Amerika. 

My daughter and niece 

Terbiasanya kami berkumpul ketika kecil, juga sering diiringi dengan fase datang dan pergi yang silih-berganti. Sehingga untuk saling berjauhan pun tidak ada masalah bagi kami. Hanya sekarang, sejak Mama dan Papa mulai sepuh, mereka sering mengeluh kesepian. Ingin anak-anaknya lebih sering berkumpul.

My New Yorker nephew :D

Tapi mau bagaimana? Jarak kami bukan hanya terpisah propinsi, melainkan negara. Ada waktu dan biaya yang harus selalu dipersiapkan untuk bisa saling berjumpa secara langsung. Pertemuan di telepon, video call dan grup chat sekarang ini alhamdulillaah banyak mengobati rindu kami satu dengan yang lain. Tapi pasti beda rasanya jika bisa bertemu.

My sister and sister in law

Kadang, di Hari Raya, hanya ada saya dan adik bungsu di rumah mereka. Saat libur sekolah, adik perempuan saya bisa datang dari Singapura membawa anak-anaknya, tapi abang saya di Malaysia terkendala pekerjaan. Belum lagi adik laki-laki yang jauh di Amerika sana. Mustahil dia bisa sering-sering pulang ke Indonesia. Tidak terasa, ternyata hampir lima tahun kami tidak berkumpul lengkap sekeluarga. Sedangkan Mama dan Papa makin tua. Makin besar keinginan kami untuk bisa sama-sama ada di rumah walau hanya sebentar. Demi Mama dan Papa, juga demi kenangan masa kecil kami yang selalu ramai. 

Kurang satu, nih!

Dua minggu yang lalu, doa kami dijawab Tuhan lewat acara pernikahan adik sepupu saya. Setelah sibuk atur sana sini, ternyata semua bisa pulang ke Indonesia untuk menghadiri pernikahannya. Begitu saya tahu abang dan adik-adik saya bisa datang, senyum lebar saya terkembang. Terbayang dulu ketika kami masih bocah, tidur sekamar karena rumah kecil dan harus menampung saudara-saudara yang lain. Betapa tidak pernah sedikit pun keluhan keluar, karena dulu kami begitu asik bermain dan mengganggap rumah sepenuh itu adalah hal yang biasa saja. Padahal kalau diingat-ingat sekarang, saya sering geleng-geleng tidak percaya karena teringat di satu bulan Ramadhan, kami berbuka puasa bersama, satu rumah penuh oleh penghuninya. Total ada 13 atau 15 orang waktu itu, dan semua tinggal di rumah kami.

Can't smile without all of you 

Akhirnya kami berkumpul lagi minggu lalu, kali ini dengan extra member; cucu-cucu orang tua kami, walaupun tidak semuanya bisa ikut serta. Setidaknya kami lima bersaudara dapat kumpul lagi walau sebentar. Momen langka ini tidak kami sia-siakan, tentu saja. Berfoto sudah pasti wajib. Makan bersama walau sederhana juga, dong. Pokoknya, happy bikin senyum nggak lepas-lepas dari bibir. 

Melepas kepulangan adik ke New York :'( 

Lalu, satu malam, abang saya mampir ke rumah. Saat itu adik perempuan saya sudah bertolak kembali ke Singapura karena anaknya harus masuk sekolah. Saya ajak abang saya untuk makan di luar. Hyaelah, dia lagi sariawan, dong. Hare gene, nolak makan bareng gara-gara sariawan, kok ya ngenes, ya? Hihihi. Hampir ketawa lihat mukanya kusut menahan perih sariawan. Tapi kasihan. Untung di rumah sedia Aloclair Plus Gel.

My big brother, senyum sih tapi nahan perih sariawan, tuh! :')

Waktu saya sodorin, abang saya meringis. "Gak perih, kalee!" kata saya. Hellowh, punya anak kecil di rumah, obat sariawan yang tersedia harus yang tidak perih, biar nggak trauma. Kasihan kan, udah perih nahan sakit, tambah perih gara-gara obat. Heuheuheu. Obat sariawan Aloclair Plus Gel ini nyaman dan tidak perih. Yang paling penting, cara kerjanya cepat. Begitu dioles ke sariawan, langsung membentuk selaput pelindung. Waktu saya tanya rasanya gimana, abang saya bilang, "Gak ada rasa apa-apa, sih. Cuma ada sedikit aroma wangi, gitu." Iyes, soalnya Aloclair Plus Gel ini kan mengandung aloe vera (aromanya enak, walaupun tidak berbau sama sekali) dan alcohol free. Bentuk kemasannya yang berupa tube kecil dengan ujung aplikator meruncing juga jadi memudahkan pemakaian. Dipakainya cukup sedikit aja.

I can't smile without you :*

Jangan sampai kebahagiaan terenggut gara-gara sariawan, ya. Hahaha. Udahlah jarang-jarang bisa ketemuan, mau bercanda dan ketawa-ketawa juga jadi susah kalau udah kena sariawan, kan?

Five of us, finally! 

Bottomline, minggu ini saya bahagia, bisa bertemu dengan saudara-saudara kandung saya. Bersyukur sekali karena Mama dan Papa juga dalam keadaan sehat. Karena untuk saya, mereka adalah salah satu alasan saya bisa tersenyum setiap hari. I can't smile without you, guys! Because we grow in different directions now, but our roots remain one.

Rabu, 12 April 2017

Kenapa Perlu Ada Artwork di Rumah atau Kantor?

  6 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

Siapa yang lagi renovasi rumah atau mau re-decorate isi rumah? Mari merapat. Emak Gaoel mau cerita waktu kemarin saya bikin mini studio di pojokan rumah, buat kerja. Sebenernya udah beberapa bulan yang lalu saya ngerombak ruang di pojok rumah karena pengen banget punya studio/ruang kerja buat bikin pesenan lettering art. Kerjaan seni itu butuh ruang dan suasana yang mendukung mood dan menimbulkan inspirasi dan ide, betul? Jadi ada alesan dong saya ngacak-ngacak rumah. Suami saya mah pasrah. :D

Mulai eneg lihat ruang kerja amburadul. Saatnya dekor ulang!

Jadilah cat ulang tembok, gambar-gambar ala kadarnya di dinding, modal nyontek image di internet. Tapi apalah saya ini, seniman nanggung. Menggambar gak jago, moto-moto apalagi. Cuma bisa sok tau dan sok bisa aja. Jadi, hasilnya ya alhamdulillaah, untuk ukuran saya sih OK. Cuma lama-lama, dipandang-pandang, kok bukannya memotivasi, malah bikin nyureng sendiri. Gambar gue kok makin dipandang, makin bikin laper tiap menit, ya? Kayanya ruang kerja saya butuh sentuhan lain. Sentuhan yang bisa mendorong daya kreatif saya lebih keluar. Supaya hasil lettering art juga nggak gitu-gitu aja. 

Ya Allah, tolong aku beresin ini, ya Allah. -_-

Setuju kan, kalau inspirasi itu harus dicari. Berhubung saya memang suka dengan karya seni, terutama yang bisa jadi pajangan rumah, jadi pengen banget punya artworks dari seniman beneran (((BENERAN)) di rumah. Buat dipandang-pandang, dinikmati, dijadikan inspirasi dan motivasi untuk berkarya di rumah. Tsah. Seniman beneran tuh kayak gimana, seh? Ya, semacam yang karya seninya itu sudah diakui dan melalui kurasi. Kalau yang klasik-klasik itu ya seperti lukisan-lukisan pelukis terkenal yang suka ada di galeri atau museum. Ya kali, itu tapi kan gak dijual. Besides, artworks, terutama yang home decor, jaman sekarang gak cuma sebatas lukisan tangan aja, khaan. Ada foto-foto artistik, ada lukisan-lukisan digital, dan semuanya cakep-cakep.

Jadi selain buat sumber inspirasi, keberadaan artwork di rumah buat saya penting. Salah satunya, karena saya consider diri saya juga seorang artist, sebagai motivasi diri untuk bisa menghasilkan karya yang berkualitas. Berharapnya, saya dan anak-anak bisa terpacu jadi manusia lebih kreatif lagi. Lalu  motivasi juga untuk selalu ingat menjaga kerapihan rumah. Hihihi. Lah coba, kalau di tembok udah menggantung artworks harga hampir sejuta, apa iya tega biarin rumah berantakan, cyin? Jahit, ih! Untuk ruang publik dan perkantoran pun perlu juga kan ada artworks, seperti ruang tunggu rumah sakit atau lobi kantor. Buat apa? Buat dipandang-pandang, biar mata gak bosen dan nunggu juga jadi gak bete. Bu, ada penelitiannya ternyata, art atau seni bisa untuk terapi kesembuhan beberapa penyakit akut seperti parkinson dan leukemia. Either kita sebagai penikmat (hanya melihat-lihat saja) atau pelaku (membuat karya seni), keduanya mendapat keuntungan teurapetik dari artworks. Amazing? Amazing banget!

Makin bulatlah tekad saya untuk mengisi rumah dengan beberapa karya seni yang berkualitas. "Kan gampang, mak, tinggal cari image di internet, print aja!" Jiah, kalo kayak gitu mah bukan artworks dan sorry dorry morry, saya juga kurang suka karena rasanya kok kayak gak punya apresiasi sama artist-nya gitu, ya? Sebagai artist pemula (ngaku-ngaku), saya juga harus tahu bagaimana mengapresiasi sebuah karya seni. Kalau bisa punya karya artist, kalau bisa yang saya tahu dan bisa mengenal dulu sosok dan karya-karyanya. Lalu bisa dilihat-lihat dan dipilih-pilih melalui foto-foto hasil karyanya, kan enak.

Ketemu SPASIUM! Happy!

Yang enak begitu, ternyata udah ada di Indonesia. Saya ketemu waktu lagi ulik-ulik cari artworks yang cocok buat ruang kerja saya. Di sana bisa pilih artworks buat dekorasi rumah atau tempat bisnis, hasil karya artist yang sudah disertifikasi, dan harga bisa disesuaikan dengan budget. Mau yang complete tinggal digantung aja, atau mau print only, bisa pilih. Mau seni fotografi, seni lukis atau seni gambar digital, tinggal pilih. Mana website-nya simple dan nyeni (yaeyyalah!) pula. Hati-hati betah, tahu-tahu keranjang belanjaan udah penuh, ya. Hahaha. Soalnya saya hampir khilaf waktu lagi browsing-browsing. Niatnya cuma mau beli satu, akhirnya gak sengaja kepencet beli dua, deh. Lagian belanja online ini, gak ribet mesti keluar rumah.

Nama tempat belanja artworks berkualitas ini SPASIUM. Banyak hal yang saya suka dari website SPAIUM ini. Mulai dari tampilannya yang neat, rapi dan klimis. Jadi gampang buat kepo maksimal. Saya suka pusing soalnya kalau lihat tampilan website (apalagi web jualan, ya) yang riweuh, kebanyakan warna dan feature. Lagian, namanya juga website yang menjual karya seni, ya, harus tampil nyeni dan fungsional, dong ya.

Jatuh cinta pada pandangan pertama sama artworks yang ini ^_^

Setelah menelusuri satu per satu menu yang ada di SPASIUM, saya makin betah. Pilihan-pilihan yang diberikan sangat memudahkan. "Mak, aku tuh gak paham seni. Pokoknya cuma suka aja kalau lihat lukisan atau gambar atau foto bagus. Bingung ah kalau disuruh pilih sendiri!" Nah, ini. Kok sama? Hahaha. Don't worry, bebeb. Emang situ kira saya senyeni apa sih? Cuci tangan aja masih pake sabun cuci piring, kok! *hubungannya?* Maksud saya, di SPASIUM, kalau kamu lihat satu-satu, karya seninya modern. Mostly, mencakup selera pasar kekinian pada umumnya. Saya punya firasat (kecurigaan) ini cocok banget buat profesional muda dan keluarga muda yang sedang hot-hotnya semangat-semangatnya mengisi rumah. Saya termasuk, dong! Kan aku masih sok muda. Seriously, jenis artworks yang ada di SPASIUM beragam banget, kok. Kamu sukanya apa? Lukisan, gambar grafis, ilustrasi, fotografi, gambar atau artworks dengan media campuran alias mixed media artworks? Ada semua di SPASIUM.


Beberapa artist yang mengisi galeri SPASIUM, kenalan langsung aja sama karya-karyanya di sana. ;)

Kalau mau cari karya seni yang spesifik, juga gampang banget di SPASIUM. Karena udah disediain kategori SUBJECT yang kita sukai. Kebetulan nih, saya lebih suka dengan artworks yang bertema natural dan architecture. Di SPASIUM, subject terbagi menjadi: Abstract and Patterns, Animals, Cities and Architecture, Conceptual, Culture, Futuristic, Human and Activities, Natur and Scenic. Monggo dipelototin satu per satu. Satu artworks yang langsung bikin saya jatuh cinta adalah ini. Dan langsung kepo sama artist-nya.  



Next, artworks yang ada di SPASIUM adalah hasil karya seniman INDONESIA! PENTING! Jangan suka ribet mikirin nasionalisme. Bukan cuma harus turun ikut demo ke jalan kamu bisa jadi nasionalis. Mendukung pekerja seni negara sendiri juga berarti kita udah ikut menjaga sumber daya manusia seni Indonesia. Merdeka! Emang siapa aja artist-nya? Btw, kamu jangan minta digetok ya, ngirain artist itu pemain sinetron. -_- Silakan kenali para artist terpilih di SPASIUM. Di sana ada sedikit latar belakang tentang mereka dan karya-karya seni yang dijual di SPASIUM.

Banyak banget artist di SPASIUM ternyataaaa! 

Kamu mah jangan jiper duluan ya belanja karya seni, langsung mikirnya pasti mahal. First of all, mind set harus di-reset ulang. Karya seni yang berkualitas itu bukan yang diproduksi pabrikan, kalau bisa hanya ada satu-satunya di dunia. Setuju? Kalau pun bisa di-repro, hanya dalam jumlah terbatas dan atas ijin sang artist. Kemudian, pahami, kualitas harus diiringi denggan media yang baik dan tahan lama. Karena pada akhirnya, sebuah karya seni atau artworks bukan cuma terbatas dari media dan tampilan fisiknya saja, di dalamnya terkandung hasil pemikiran orang-orang kreatif dan artworks adalah buah kreasi dari hasil pemikiran itu. Kalau saya sih percaya banget, sebuah karya seni itu punya jodohnya masing-masing. Memang nggak semua orang mau mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli karya seni, tapi semua orang butuh memberi ruang pada rasa melalui karya seni. SPASIUM ini menjawab kebutuhan itu, termasuk dalam soal harga. Kamu bisa banget kok beli karya seni dalam budget. Karena ada artworks yang dijual dalam bentuk print only. Ini yang saya pesan. Tadinya mau beli satu, khilaf jadi dua. Hahaha. Harganya masih terjangkau soalnya, hanya berkisar Rp 450.000 - Rp 500.000 untuk print only.

Yang print only harganya cuma segini, lho! Wow!

Proses pembelian juga amat sangat nggak ribet! Tau sendiri kan saya suka gaptek sama yang ribet-ribet. Belanja di SPASIUM ternyata saya bisa sendiri, tuh. Hihihihi. Pilih-pilih, masukin keranjang, proses pembayaran dan masukin alamat. Tinggal tunggu dalam waktu kurang lebih 10 hari, artworks sudah sampai rumah.



Tiga langkah mudah belanja artworks di SPASIUM


Begitu artworks yang saya pilih sampai di rumah, saya makin terkesan karena kertas foto yang dipakai sangat bagus, kemudian dilapisi cardboard tebal. Saya tinggal menambahkan frame saja, lalu gantung di studio kerja saya. Yang bikin bangga, di bagian belakang ada certificate of authenticity. Dengan begitu saya tahu kalau saya sudah membeli artworks yang basli dari sang artist dan berkualitas karena sudah melewati kurasi dari SPASIUM. Jadi, kamu kapan mau isi rumah/kantormu dengan artworks? 


Akhirnya studio saya selesai! Seneng banget bisa menggantungkan dua buah artworks berkualitas di sana. Gimana? Gimana? Hihihi.





Selasa, 14 Maret 2017

Orang Tua Anak Bilingual Sering Kena Cap Ini?

  14 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum.

Pa kabaaar? Cuti lama beud, mak? Keenakan ini mah saya. :') Mau ngasih alesan apa lagi deh, kalo ujung-ujungnya sebenernya emang kebawa males aja. Jadi buat yang belum ngalamin fase males ngeblog, kalo berasa rada bosen-bosen dikit, jangan diturutin kayak saya, yah. Begini akibatnya. 

Tapi sejujurnya, saya bukan cuma lagi nurutin males nulis aja, kok. *mulai defensif* Tahun 2017 ini anak-anak saya emang mulai banyak butuh perhatian extra. Fadhil, yang gede, misalnya. Dia udah masuk umur ABG sekarang. Lagi judes-judesnya sama emaknya. :( Ditanya sesuatu, jawabnya singkat-singkat aja. Giliran emaknya baper, dia ngeliatin saya aneh. Bhik. Jaman saya segede dia, boro-boro berani ngeliatin orang tua kayak gitu. Jadi sama dia ini saya lagi main layangan, tarik ulur, tarik ulur. Kalo terlalu diperhatiin kayak anak kecil, dia kesel. Kalau dicuekin, saya yang takut dia kebablasan. Butuh seni tersendiri ngadepinnya. Ngik.




Kalau sama Safina, tahun ini juga mulai banyak tantangannya. Mungkin beberapa yang suka ngikutin serial bilingual kids saya di sini udah tahu ya kalau Safina ini berjuang banget untuk menyesuaikan diri di sekolahnya karena masalah bahasa. Dia yang lebih senang berbahasa Inggris sehari-hari, ketika di sekolah semua pelajaran disampaikan dalam bahasa Indonesia, mau gak mau harus kerja lebih keras dibanding teman-temannya. Tapi seperti yang saya ceritakan di sini, itu challenge buat saya sebagai orang tua sebagai konsekuensi menyekolahkan anak bilingual ke sekolah negeri. 

Ngemengin soal anak bilingual lagi, apalagi di Bekasi, yang katanya Jakarta aja mesti lewat dua belas gate buat bisa masuk ke sini, orang suka aneh aja ngeliatin saya ngobrol bahasa Inggris sama Safina. Saya kenyang ditatap dengan penuh arti begitu. Seringnya suudzon, ni orang-orang ngecap saya sok bule kali, ya? *baperan* Etapi jujur, deh. Sering ngecap begitu gak, misalnya waktu denger Cinta Laura ngomong di tivi? Duile, ngomong sampe amburadul gitu kecampur-campur. Atau liat video artis sama anak-anaknya di Instagram, ibunya yang artis keukeuh ngomong bahasa Inggris, eh dijawab pake bahasa Indonesia, trus yang nonton langsung ketawa seneng campur ngenyek, "Hahaha! Sok bule, padahal anaknya nggak bisa ngomong Inggris." Mari kita tanyakan pada hati masing-masing, pernahkah kita begitu? Wkwkwkwk, penting.

Dulu sebelum punya anak dan memutuskan untuk membesarkan mereka secara bilingual, saya termasuk orang tukang nge-cap gitu. Setelah ngalamin sendiri, kapok. Ya kan emang udah gitu hukum alamnya, ditampol dulu, baru ngerti.-_- Ada beberapa cap yang pernah saya (mungkin kamu juga) pernah berikan ke mama-mama "sok ng-Inggris" ini. Karena sekarang saya menjadi bagian dari emak anak bilingual, sekalian saya coba jelaskan sedikit ada apa di balik itu semua. Hayah, ribet banget bahasa lo, mak.


Sok Bule

Sering diliatin di tempat umum kalau tiba-tiba anak jerit-jerit pakai bahasa Inggris? Sama! Beberapa kali saya nangkep pandangan mata orang berlanjut jadi jelalatan, kayak nyariin bapaknya. Mungkin berharap bapak anak saya orang asing, jadi gak perlu penjelasan lebih lanjut kenapa ni anak bermuka lokal tapi ngemeng londo. Hihihi.
Teman-teman, jaman sekarang udah banyaaaak keluarga murni pribumi yang mengaplikasikan pendidikan bilingual untuk anak-anak mereka. Seperti yang pernah saya ceritakan di sini, tujuan masing-masing keluarga berbeda-beda. Untuk saya pribadi misalnya, tujuan utamanya adalah untuk mempermudah anak-anak saya berkomunikasi dengan sepupu-sepupu mereka yang semuanya tinggal di luar negeri. Mungkin ada orang tua bilingual lain yang punya tujuan lebih besar, seperti ingin mempersiapkan anaknya sejak dini untuk bersekolah di negara tertentu. Ya bebas-bebas aja. Jadi, gak mesti bapak atau ibunya bule dulu atuh, kan?

Gak Nasionalis

Cih! Bahasa Inggris lancar, bahasa Indonesia belepotan. Gak cinta negeri sendiri kamoh!
Lalu Hayati nangis. Gak segampang itu menilai nasionalisme seseorang. Lancar tidaknya anak bilingual berbahasa asing (bukan bahasa ibu/asalnya) dipengaruhi oleh banyak hal. Yang paling besar mempengaruhi (ini pengalaman pribadi) adalah kecenderungan anak itu sendiri. Dua anak saya punya kecenderungan berbeda, Fadhil cenderung lebih nyaman berbahasa Indonesia, Safina sebaliknya. Apa Fadhil nasionalis, lalu Safina nggak? More of that, apa saya sebagai ibunya nggak nasionalis? Balik lagi ke point satu, kami punya goal, visi dan misi saat memutuskan untuk ber-bilingual di rumah.
Don't worry, kami masih pasang bendera merah putih tiap tanggal 17 Agustus, kok. Anak-anak hafal lagu kebangsaan, kok. Dan mereka sekolah di sekolah negeri, dan ini juga bukan karena menganggap yang sekolah di sekolah internasional gak nasionalis, ya. Murni masalah biaya ini, mah. Wkwkwkwk. Cetek amat sih, mak ukuran nasionalisme-nya? Ya sama dong ceteknya dengan mengukur nasionalisme keluarga kami dari bahasa sehari-hari yang kami pergunakan, di mana itu adalah hak kami sepenuhnya. Merdeka!


Kocak! Emaknya Sibuk Nginggris, Anaknya Jawab Pake Bahasa Indonesia

Hehehe. Ini asik banget jadi bahan ngenyek, ya. Semacam, "Ciaaan deh lo, susah-susah nampilin image kebule-bulean, tau-tau anaknya ngejawab pake bahasa Indonesia logat Betawi!" Terus ketawa setan, "MWAHAHAHA!"
Hush! Sini ya, saya kasih tau, setiap anak bilingual, sebelum dia memasuki fase cenderung memilih salah satu bahasa yang nyaman, akan melalui fase "suka-suka gue mau jawab pake bahasa apa". Hahaha, gak ilmiah banget, mak. Ya tapi emang gitu, sik. Anak yang dikenalkan ke lingkungan bilingual sejak bayi, berarti kan mendengar dua bahasa. Jadi wajar banget dia mau pakai bahasa yang mana, karena buat mereka, intinya adalah komunikasi, maksud tersampaikan.
Waktu anak-anak saya masih balita, sering banget kok kejadian kayak gini, dan emang sering ketangkep senyum sinis orang-orang yang gak sengaja denger.
"Safina, finish you meal!" Terus Safina jawab, "Gak mau! Nana mau maen!" Atau, "Fadhil, put on your shoes now." Dijawab, "Bentar dulu napa, Ma?" Napa? Napa? Et, dah! Hahaha, ya maklum pan, bapaknye orang Betawi aslik, kita tinggal di Bekasi, ya kali anak-anak saya gak nyerap sedikit pun logat Betawi. Mau emaknya casciscus setiap hari, kan bapaknya berbahasa Indonesia. There's a reason why it's called BILINGUAL. :D 

So, apa punlah, ini bukan buat menampilkan image tertentu atau supaya dilihat orang lain seperti apa. Ini murni soal pilihan masing-masing orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Gak usah ngenyek-ngenyekan. Motherhood udah berat banget sama perang ASI-susu formula, working mom-stay home mom, lahiran normal-cesar. Gak usahlah ditambah sama yang ini. Hihihihi.

Anyway, kalau ada teman-teman sesama penggiat bilingual di rumahnya, boleh dong share pengalamannya. Atau kalau ada yang mau tanya-tanya lebih jauh pengalaman saya mendidik anak bilingual selama 13 tahun terakhir ini, monggo. :* 

Sebagai penutup, ini ada "mini essay" yang ditulis Safina kemarin, judulnya Sharing. Yang bikin saya bangga bukan karena dia menuliskannya dalam bahasa Inggris, tapi isi dari tulisannya. Have a nice day. :*

SHARING
by Safina (8 years old)

"Did you know that sharing is caring? Sharing and caring to poor people is very nice of people and share everytime  makes you a good person. Being a good person makes you go to heaven. Share anything that's useful for poor people like a toy house or a chess or even better, a(n) oven for cooking, right?"

Selasa, 14 Februari 2017

Live di Facebook atau Instagram?

  8 comments    
categories: ,
Assalamu'alaikum!


UPDATE! 
Mulai 20 Maret 2017, Live Instagram sudah bisa di-save. Jadi beberapa poin di bawah mungkin ada yang sudah tidak berlaku lagi. ;)


Masya Allah, Subhanallaah! Si emak emang sesuatu, sebulan lebih gak nongol di mari. Hahaha. Maklum ya, seus, orderan lettering numpuk. Berfaedah. :*

Selain sibuk bikin pesenan lettering, sebulan kemaren lagi keasikan maen-maen Live di Instagram. You know khaan, live di Facebook udah melanda sejak beberapa bulan sebelumnya. Kemudian, IG tiada mau kalah, kemudian ikutan kasih fasilitas Live. Dan apalah saya ini, emak haus darah publisitas secara langsung dan tanpa basa-basi. Live adalah solusi!


So, sebulan kemaren, saya memuaskan gairah Live saya, baik di Faceboook dan IG. Siapa yang mau nonton, mak? Huahaha. Ya, tapi kita kan PD aja. Paling sial kalau lagi Live itu emang gak ada yang nonton. Tapi selalu ada hikmah di balik itu, yakni .... bisa ngaca di kamera, ngecek jerawat. Karena rajin Live di kedua tempat itu, akhirnya saya menemukan perbedaan, kelebihan dan kekurangan dari masing-masing Live. Dan tentu saja, seperti biasa, saya harus mengabarkannya kepada dunia. Kalian semua harus tahu, agar tak ada konstitusi konspirasi konstipasi di antara kita.  (Batalin aja kalimat terakhir itu).

Live di Facebook

- Kelebihan

Video hasil live, bisa disimpan dalam postingan di status kamu. Saya senang dengan pilihan ini, karena mostly live video saya berupa demo atau tutorial. Sayang kalau gak tersimpan. Biasanya, hasil live di Facebook selalu saya download, kemudian dipadatkan jadi video semenit, untuk dipost ke IG.  Atau langsung saya setor ke Youtube. Mayan, dapat post di beberapa lokasi dengan satu video.

Live di Facebook termasuk aman, karena kamu bisa pilih audience, tergantung settingan postingan kamu. Kalau mau live ditonton berdua aja juga bisa. Tinggal atur di privacy setting. Kalau kamu punya fanpage, live dari fanpage kamu juga bisa, kok. Saya udah beberapa kali melakukannya.

Kualitas gambar saat Live sebenernya termasuk lebih baik daripada di IG, namun entah mengapa, begitu selesai live di Facebook dan video di-post, kualitasnya langsung njapruk (jadi jelek banget). Tolong dibantu yang ngerti. -_-

Ini salah satu hasil Live di FB yang langsung saya post ke Youtube.


- Kekurangan

Kalau kamu Live di Facebook sambil pasang musik yang dikenali oleh search engine (maksudnya lagu-lagu komersil dan terkenal), maka kamu akan dijegal (((DIJEGAL))) oleh FB saat mau post video hasil Live itu dengan pertanyaan, "Apakah Anda memiliki hak atas lagu/musik yang ada dalam video ini?" Tapi don wori bebeb, itu bisa diakali dengan menjawab beberapa pertanyaan rempong lanjutan dari FB yang menjelaskan kalau cuplikan musik yang kita pakai itu hanya sebagai ilustrasi. Kira-kira demikian.

For some weird reasons yang masih misterius, Live di FB lebih sulit menjaring audience ketimbang di IG. Kalau dari analitoy (analisa sotoy) saya sih, mungkin nih, ya, mungkiin karena tampilan live di FB itu sama persis seperti postingan video biasa sehingga terkesan berat buat di-klik. Hari gini orang mikir-mikir mau klik video, sayang-sayang kuota data. Hahahaha. Apalagi cuma gue gini yang Live? Cih! Beda sama tampilan di IG yang cuma bentuk lingkaran doang, terkesan ringan, dan orang gampang aja gitu nge-klik ngintip sebentar, abis itu kabur lagi. Padahal kan kena data juga, ya? Embuh.

Live di Instagram

- Kelebihan

Cepet banget building audience-nya! Dibanding Live di FB, di IG dalam hitungan menit bisa terjaring (((TERJARING))) lebih dari 10 pemirsa. Ini ukuran saya, ya. Jangan sama-samain saya dengan Dian Sastro, please,. Aku ra sudi. (Mbak Dian apalagi!). Apa mungkin ini karena tampilannya terkesan ringan ya, cuma lingkaran kecil di pojok atas sebagai notifikasi kalau kita sedang Live. Itu ngundang banget buat di-klik.

 Dapet audience segini udah anugerah banget buat akuh. :D 

- Kekurangan

Video hasil Live-nya langsung ilaaang begitu Live session ended! Huhuhuhu. Aku sediih. Padahal kalau bisa tersimpan otomatis di galeri atau dikasih opsilah buat save atau nggak, akan lebih baik lagi (buat saya). Sebagai seorang hoarder, video pun pengennya ditumpuk di galeri. -_-

Kualitas gambar pada video tergantung banget sama koneksi kamu, kalau koneksi lagi lambat, gambar bisa jadi blur banget emang, dan suara terputus-putus. Jadi pastikan koneksimu lancar kalau mau live.

TIPS LIVE ALA EMAK GAOEL

*Lakukan kalau ingin ngehits*

- Sekali lagi, ya, kecuali kamu Dian Sastro atau Kang Emil, yang sekali pasang Live yang nonton langsung ribuan, manfaatkan kegunaan deskripsi pada judul Live karena akan membantu calon penontonmu untuk memutuskan mau nonton atau nggak. Kan ada di bagian atas tuh sebelum kita Live, semacam judul. Kasih judul yang "provokatif" biar banyak yang nongtong. Hahaha. Nggaklah, kalo saya mah kasih deskripsi singkat standard aja, supaya pada tau saya lagi Live apaan. Misalnya, "Demo Lettering Qur'an". Jadi yang minat bisa langsung tau, yang gak minat bisa langsung skip.

- Kalau mau simpen video Live, maka lakukan Live di FB. Kalau mau rame-ramean mending Live di IG, tapi risikonya video gak tersimpan. Langsung hilang tanpa bekas.

- Siapkan topik yang mau diomongin. Kalau kamu mau ngobrol sama followers, dandan dikitlah karena kan pake kamera depan. Oh iya, soal kamera depan ini, jangan nyinyir tidak berfaedah kalo lihat yang Live minum atau makan pake tangan kiri, atau salaman pake tangan kiri. Kemungkinan besar itu pake kamera selfie, kakaaak. Kebalik itu, kebaliik.

- Kalau Live-nya model demo/tutorial menggambar atau lettering kayak saya biasanya, disarankan pakai kamera belakang aja, ya. Emang jadi rada susah buat baca komentar yang masuk. Tapi kualitas gambarnya lebih bagus, sih. Kayanya. Hihihi.

- Live sambil nyetir, yay or nay? Nah, sempet panas nih kemaren, banyak yang komentarin Mbak Disas Live sambil nyetir di IG. Kok gak aman banget, sih! Buat apaan, sih? Segitu pentingnya, ya? Dan de el el de es be ge demikian. Kalo saya pribadi, yaa, kebetulan cuma sekali nyobain Live sambil nyetir mobil, karena mau ngecek koneksi stabil atau nggak kalau di jalan. Itu kan sebenernya sama aja lagi ngobrol waktu lagi nyetir. Selama kamera sudah aman terpasang di dashboard, tombol Live sudah dijalankan sebelum mulai nyetir, dan jangan sibuk baca komen orang pas nyetir. Insya Allah sih, aman. Tapi saya mah males Live lagi nyetir. Bukan apa-apa, muke gue gak enak bener kalo nyetir, tegang campur nyolot. Gak sedep dipandang. Hahaha.

Jadi, kamu pilih Live di FB apa di IG? Kalau ada yang mau nambahin, monggo lho. Terima kasiiih. :*