Sabtu, 15 April 2017

I Can't Smile Without You, Guys!

Assalamu'alaikum.

"Families are like branches on a tree. We grow in different directions, yet our roots remain as one."

Seperti hampir kebanyakan keluarga di Indonesia, khususnya yang berasal dari tanah Sumatera, keluarga adalah penopang hidup terpenting setelah agama. Begitu juga di keluarga besar saya. Sejak kecil, saya dan keempat saudara kandung terbiasa hidup dikelilingi keluarga besar. Padahal keluarga inti saja udah rame, ya. Tapi begitulah kami dibesarkan.

My big family

Ibu saya adalah anak perempuan tertua, dan layaknya dalam keluarga berdarah Minang, beliaulah dahan utama tempat bergantung dahan-dahan kecil lainnya. Apalagi almarhum kakek saya sudah berpulang sejak Ibu saya masih baru menikah. Tanggung jawab membesarkan adik-adiknya kala itu turun ke tangan Ibu/Mama saya. 

My parents, siblings, in laws, niece, nephew :)

Saya terbiasa sekali tinggal dengan banyak saudara; om, tante, sepupu, bahkan tetangga di kampung pun sering menetap bersama kami dalam waktu lama. Buat kami, saya dan kakak adik, hal itu menjadi sangat biasa karena sejak kami lahir, rumah sudah banyak penghuninya. Sehingga ketika kami dewasa, aneh sekali rasanya jika rumah sepi tidak ada orang. 

My sister, my son and my cousin 

Bertahun kemudian, saya dan keempat saudara kandung satu per satu mulai berkeluarga. Qadarullaah, kami menetap saling berjauhan. Saya dan orang tua di Indonesia bersama adik bungsu, abang sulung saya menetap di Malaysia bersama keluarganya, adik perempuan saya hijrah ke Singapura setelah menikah dan adik lelaki saya beserta keluarga kecilnya mencari hidup di Amerika. 

My daughter and niece 

Terbiasanya kami berkumpul ketika kecil, juga sering diiringi dengan fase datang dan pergi yang silih-berganti. Sehingga untuk saling berjauhan pun tidak ada masalah bagi kami. Hanya sekarang, sejak Mama dan Papa mulai sepuh, mereka sering mengeluh kesepian. Ingin anak-anaknya lebih sering berkumpul.

My New Yorker nephew :D

Tapi mau bagaimana? Jarak kami bukan hanya terpisah propinsi, melainkan negara. Ada waktu dan biaya yang harus selalu dipersiapkan untuk bisa saling berjumpa secara langsung. Pertemuan di telepon, video call dan grup chat sekarang ini alhamdulillaah banyak mengobati rindu kami satu dengan yang lain. Tapi pasti beda rasanya jika bisa bertemu.

My sister and sister in law

Kadang, di Hari Raya, hanya ada saya dan adik bungsu di rumah mereka. Saat libur sekolah, adik perempuan saya bisa datang dari Singapura membawa anak-anaknya, tapi abang saya di Malaysia terkendala pekerjaan. Belum lagi adik laki-laki yang jauh di Amerika sana. Mustahil dia bisa sering-sering pulang ke Indonesia. Tidak terasa, ternyata hampir lima tahun kami tidak berkumpul lengkap sekeluarga. Sedangkan Mama dan Papa makin tua. Makin besar keinginan kami untuk bisa sama-sama ada di rumah walau hanya sebentar. Demi Mama dan Papa, juga demi kenangan masa kecil kami yang selalu ramai. 

Kurang satu, nih!

Dua minggu yang lalu, doa kami dijawab Tuhan lewat acara pernikahan adik sepupu saya. Setelah sibuk atur sana sini, ternyata semua bisa pulang ke Indonesia untuk menghadiri pernikahannya. Begitu saya tahu abang dan adik-adik saya bisa datang, senyum lebar saya terkembang. Terbayang dulu ketika kami masih bocah, tidur sekamar karena rumah kecil dan harus menampung saudara-saudara yang lain. Betapa tidak pernah sedikit pun keluhan keluar, karena dulu kami begitu asik bermain dan mengganggap rumah sepenuh itu adalah hal yang biasa saja. Padahal kalau diingat-ingat sekarang, saya sering geleng-geleng tidak percaya karena teringat di satu bulan Ramadhan, kami berbuka puasa bersama, satu rumah penuh oleh penghuninya. Total ada 13 atau 15 orang waktu itu, dan semua tinggal di rumah kami.

Can't smile without all of you 

Akhirnya kami berkumpul lagi minggu lalu, kali ini dengan extra member; cucu-cucu orang tua kami, walaupun tidak semuanya bisa ikut serta. Setidaknya kami lima bersaudara dapat kumpul lagi walau sebentar. Momen langka ini tidak kami sia-siakan, tentu saja. Berfoto sudah pasti wajib. Makan bersama walau sederhana juga, dong. Pokoknya, happy bikin senyum nggak lepas-lepas dari bibir. 

Melepas kepulangan adik ke New York :'( 

Lalu, satu malam, abang saya mampir ke rumah. Saat itu adik perempuan saya sudah bertolak kembali ke Singapura karena anaknya harus masuk sekolah. Saya ajak abang saya untuk makan di luar. Hyaelah, dia lagi sariawan, dong. Hare gene, nolak makan bareng gara-gara sariawan, kok ya ngenes, ya? Hihihi. Hampir ketawa lihat mukanya kusut menahan perih sariawan. Tapi kasihan. Untung di rumah sedia Aloclair Plus Gel.

My big brother, senyum sih tapi nahan perih sariawan, tuh! :')

Waktu saya sodorin, abang saya meringis. "Gak perih, kalee!" kata saya. Hellowh, punya anak kecil di rumah, obat sariawan yang tersedia harus yang tidak perih, biar nggak trauma. Kasihan kan, udah perih nahan sakit, tambah perih gara-gara obat. Heuheuheu. Obat sariawan Aloclair Plus Gel ini nyaman dan tidak perih. Yang paling penting, cara kerjanya cepat. Begitu dioles ke sariawan, langsung membentuk selaput pelindung. Waktu saya tanya rasanya gimana, abang saya bilang, "Gak ada rasa apa-apa, sih. Cuma ada sedikit aroma wangi, gitu." Iyes, soalnya Aloclair Plus Gel ini kan mengandung aloe vera (aromanya enak, walaupun tidak berbau sama sekali) dan alcohol free. Bentuk kemasannya yang berupa tube kecil dengan ujung aplikator meruncing juga jadi memudahkan pemakaian. Dipakainya cukup sedikit aja.

I can't smile without you :*

Jangan sampai kebahagiaan terenggut gara-gara sariawan, ya. Hahaha. Udahlah jarang-jarang bisa ketemuan, mau bercanda dan ketawa-ketawa juga jadi susah kalau udah kena sariawan, kan?

Five of us, finally! 

Bottomline, minggu ini saya bahagia, bisa bertemu dengan saudara-saudara kandung saya. Bersyukur sekali karena Mama dan Papa juga dalam keadaan sehat. Karena untuk saya, mereka adalah salah satu alasan saya bisa tersenyum setiap hari. I can't smile without you, guys! Because we grow in different directions now, but our roots remain one.

3 komentar:

  1. Waaaa emak gaoel keluarganya banyak bangeeeet semoga selalu kompak ya mak dan sariawan gak merenggut senyum kita hehehe

    BalasHapus
  2. Sukses buat lombanya mak Gaoel

    BalasHapus
  3. Kalau lagi sariawan emang males buat senyum ekekek, maunya cemberut aja.

    BalasHapus