Jumat, 14 September 2018

Sebuah Review Mie Instan Berbalut Nasionalisme


Assalamu'alaikum.

Ini review paling penting yang pernah gw buat selama ini. Tolong dicatat: I'M NOT ONE OF THE BUZZERS FOR THIS PRODUCT. Okesip?


Kenapa gw bilang penting? Indomie adalah identitas bangsa ini. Setiap dia muncul dengan rasa baru, gw rasa bukan gw aja yang penasaran dan merasa harus nyobain. Semua level masyarakat merasa berkewajiban untuk memberikan penilaian, karena ini menyangkut nasionalisme kita. 🤣 

Siang tadi gw mengaplod foto Mie Goreng Rasa Telur Asin ini. Banyak komentar dan beragam. Ada yang suka, ada yang gak suka, ada yang bilang keasinan dan ada yang bilang "not for me" bahkan ada yang bilang baunya amis. Yang paling sedih, ada yang belum nemu di mana2. Hahaha kasian. 🤣 Gw harus mengabaikan semua komentar itu sebelum mencobanya sendiri. 

Tapi para pembaca yang budiman harus mengetahui beberapa fakta terlebih dahulu:
1. Bahwa gw penggemar telur asin dan turunan menunya berupa apa pun goreng tepung berbalur telur asin. 
2. Bahwa gw suka masakan asin, di mana untuk beberapa orang dibilang keasinan, buat gw bisa jadi itu rasanya pas.
3. Balik lagi, isi dompet kita mungkin sama (sama2 ngenes), tapi selera gak bisa disamain.

OK. Mari kita mulay saja review berbasis nasionalisme ini.

Mie Goreng rasa Telur Asin ini gw temukan gak sengaja di Alfamidi deket rumah. Tadinya cuma mau beli minuman dingin karena Bekasi lagi luar biasa panasnya. Pas lagi jalan menuju tempat minuman, there they were, teronggok manja di rak setinggi pandangan orang dewasa dengan warna kuning cerahnya itu. Coincidence? I think not. Kurasa ini yang namanya takdir. Beklah, kamu masuk dalam keranjang belanjaan, wahay mie instan keluaran terbaru.

Ukurannya sedikit lebih besar dari Mie Goreng varian lain. Jenis mie-nya berupa mie keriting, walaopun mie-goreng2 rasa lain pun semua keriting, tapi yang ini keritingnya kelihatan lebih kekinian sampe harus dicantumkan di bungkusnya, Curly Fried Noodles. Mungkin karena ukuran dan keritingnya ini, harganya juga sedikit lebih mahal, Rp 4.500/bungkus.

Cara memasak sama aja kayak mie goreng Indomie lain, yakni DIREBUS. 🤣 Bumbu terdiri dari sebuah bumbu pasta yang gw suspect berisi perasa telur asinnya dan bumbu bubuk kayak bubuk koya bercampur micin yang kita sayangi dan sejumlah basa-basi bubuk cabai. Seriously Indomie, ngasih bubuk cabe cuma sejumput di semua produknya itu maksudnya apa? Rasa perkenalan? Pemanasan? Atau hanya PHP semata sehingga kami terjebak dalam rasa cabezone? Dah gak paham lagilah gw. 

Setelah mie goreng matang direbus lalu ditiriskan dan dicampur dengan bumbu2 yang ada, tibalah saatnyah! Saatnya untuk kembali jadi anak South, South Bekasi.

I was expecting a salty explotion taste in my mouth, which is gw gak dapet. Lihat fakta di atas, gw penggemar rasa asin. Ekspektasi gw tinggi. Ternyata level asinnya so so aja. But I can smell aroma telur asin on my noodle though. Rasa pedas? Ya lo tebak sendiri ajalah dengan jumlah bubuk cabe yang seiprit itu, lo mau ngarep apa? Dipacarin? Plis, deeh. Luckyly gw gak nyium aroma2 amis sih seperti yang beberapa temen gw bilang. But .... BUT, OMG! The after taste is so disturbing 😑 Sampe gw nulis review ini, 30 menit yang lalu gw makan, dan gw udah minum aer putih and coffee, masih bisa ngerasain sisa2 rasa bumbu telur asin yang gak asin itu di pangkal tenggorokan gw. Noo! Brb, drinking hot water nolong gak, ya? 

Overall, I don't like it. Its just not me. Sorry, Indomie. Namanya selera yah. Tapi karena Indomie adalah identitas bangsa, kalo pun gw gak repurchase yg varian ini, gw masih akan tetep beli varian lain. Kalo peringkat gw:
1. Indomie Kari Ayam (rebus) ini legend.
2. Indomie Goreng Original
3. Indomie Goreng Rasa Sambal Matah
4. Indomie Goreng Cabe Ijo
5. Indomie Goreng Rasa Mie Aceh

Walau bagaimana, ini bukan ajakan untuk tidak membeli bagi yang belum mencoba. Gw justru pengen tau testimoni teman2 lain dan encourage you to try it. Isn't it amazing how an instant noodle can give you such impact? Bleh, ngemeng apelah gw ini. Sepanjang ini isinya ngoceh soal mie goreng. 🤣

Senin, 06 Agustus 2018

Happy Bersama Anak dengan Colour to Life dari Faber Castell

Assalamu'alaikum.

Spend time with those you love. One of these days you will say either, "I wish I had," or, "I'm glad I did."

Meluangkan waktu untuk bermain bersama anak di kala keseharian ibu sudah penuh dengan tugas rutinnya memang kadang terasa sulit. Kadang saya suka merasa, "Ah, ya sudahlah, mereka kan sudah puas main dengan teman-temannya di sekolah." Sampai suatu ketika, 3 tahun yang lalu, Safina yang saat itu berusia 7 tahun, protes. "Mom, make some time for me. You are so busy that we never play together anymore."



Itu adalah moment "Makjleb" yang sampai sekarang selalu saya ingat. Make some time, katanya. Ternyata di situ salah saya selama ini. Saya selalu menunggu punya waktu luang untuk bisa bermain bersama anak. Kalau pekerjaan sudah selesai sebelum mereka ngantuk, alhamdulillaah. Tapi seringnya pekerjaan di rumah tidak pernah ada habisnya. Sedih.  

Antara kebetulan atau tidak, 3 tahun yang lalu saya juga memulai hobi baru saya menekuni lettering art. Dari sana, saya mulai bisa "melupakan sejenak" pekerjaan rumah dan melakukan hobi yang bisa sekaligus menjadi bonding time dengan anak saya. Karena dalam melakukan lettering saya banyak bermain dengan marker dan cat, Safina ikut senang bisa ikut coret-coret. Sampai akhirnya sekarang ini dia sudah mulai berani mencoba melukis di atas kanvas. But mostly, kegiatan nyeni harian kami ya menggambar atau mewarnai. Makanya marker di rumah banyak sekali. 


Dari sekian banyak marker yang kami miliki, Faber Castell adalah merek favorit kami berdua. Dan ketika tahu Faber Castell meluncurkan permainan Augmented Reality (AR) Colour to Life yang dibundling dengan connector pen warna-warni favorit kami, bisa ditebak, yang girang bukan cuma anaknya tapi juga emaknya. Hahaha.

Colour to Life ini merupakan inovasi keren dari Faber Castell yang menggabungkan kegiatan mewarnai konvensional dengan teknologi Augmented Reality. Keduanya dekat dengan keseharian Safina dan saya; menggambar dan main gadget. Serasa mendapat paket komplit untuk bermain bersama. 


Dalam paket Colour to Life sudah dilengkapi dengan 20 buah connector pen Faber Castell, di mana menurut saya ini memberi nilai lebih. Karena biasanya dalam satu pak warna standard marker merek lain hanya memberi 12 warna. Kemudian ada satu coloring book berisi 15 gambar untuk diwarnai. Coloring book ini nanti yang bisa "dihidupkan" gambar karakternya dengan menggunakan scanner pada aplikasi Colour to Life yang bisa diunduh melalui Playstore dan Apstore. "This is so cool!" kata Safina.

Ada beberapa karakter dalam buku mewarnai Colour to Life dan kelimanya bisa menjadi games yang berbeda-beda melalui aplikasi di smartphone. Yang paling membuat saya exciting mencoba kegiatan Colour to Life ini adalah, saat saya mewarnai, saya menambahkan motif sendiri di pakaian karakter. Dan ketika saya scan melalui aplikasi, karakter yang seolah hidup dalam bentuk 3D memakai pakaian dengan motif seperti yang saya gambar. Wow! Keren!

Di mana bisa beli paket Colour to Life dari Faber Castell ini? Teman-teman bisa langsung memesan di Tokopedia. Dan cara mengunduh aplikasi Colour to Life bisa dilihat di sini

Supaya teman-teman nggak penasaran, bisa nonton keseruan saya dan Safina bermain Colour to Life di sini.